Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Tuhan dan Puan sedang Online, Tak Semua Harus Tentang Kita, Tentang Jalan

  • account_circle Filemon Pandu Wimastha
  • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
  • visibility 183
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tuhan dan Puan Sedang Online

Kucumbui minggu dijantung rindu

Ada sehelai cemburu yang gugur

Di dinding yang tak bercentang biru hanya dua garis abu-abu

yang muram yang begitu setia menunggu di bukit setia.

 

Aku tahu,

Mungkin kau sedang memulung harimu

Dalam kesibukan

Hingga serentetan pesanku kau abaikan.

Minggu yang kucumbui kali ini begitu rapuh,

Tanpa bayang-bayang pesanmu

Aku memutuskan untuk mengirim pesan puisi

Di hari minggu

Dan kutemui ternyata Tuhan dan Puan sedang online di sana.

 

Kopi dan kenangan kita di Masa lalu

Kita sama-sama membuka baju, aku membuka pengerat,

yang menopang dadamu.

Tanganmu, melingkari leherku. Meninggalkan jejak,

kecupan yang rayu.

Kau masih di sini, di antara uap yang menua

bersama napas.

Barangkali cinta, seperti kopi di malam hari: selalu hangat dan ingat.

 

Tak Semua Harus Tentang Kita

Kita pernah menjadi semacamΒ  berita kecil

Di sudut pantai

Di baca oleh Β angin

Lalu dilupakan Oleh hujan

 

Aku ingin memelukmu

Namun dunia menuntut perhatian

Dari mereka yang tak punya suara

Maaf, cintaku tidak setuli itu

Aku tak sanggup memuja sepasang mata

Sementara ribuan pasang lain

Di paksa menunduk

 

Cintamu hangat

Namun lebih hangat lagi

Amarah ibu-ibu di pasar

Yang menawar hidup

Dengan suara parauΒ  dan mata merah.

 

Aku lelah merangkai puisi

Tentang cemburu dan rindu

Sementara keadilan dan kemakmuran hanya berpihak

Bagi mereka yang berkuasa.

 

Jika aku diam saat kau berbicara

tentang masa depan kita

Bukan karena aku tak cinta

Namun aku hanya sedang berpikir

Bahwa pelukan tak selalu cukup

Untuk menutup bunyi perut yang kosong

 

Tak semua harus tentang kita

Kadang rindu harus menyingkir sebentar

Memberi jalan untuk mereka yang

Mencintai hidup

Tanpa pernah dicintai dunia

Jika kau masih mau tinggal

Tinggallah, bukan hanya di dadaku

Tapi di sisi mereka yang lemah

Dan mereka yang dilupakan oleh negara.

 

Cinta dan kebahagiaan

Cinta itu tanda bahwa kau pernah Β menjadi istimewa dan

bukan tanda bahwa kau pernah bahagia.

 

Tentang Jalan

Tuhan, jika ini rindu,

Biarlah ia menjadi jalan sunyi

Yang membawaku semakin dekat

Kepada-Mu.

 

Filemon Pandu Wimastha, yang akrab disapa Wima Wimastha, lahir di Boawae, Nagekeo, pada 13 Maret 2003. Ia merupakan seorang calon Imam Projo Keuskupan Agung Ende yang sedang menapaki jalan panggilan hidupnya dengan kesetiaan dan ketekunan. Sejak masa pendidikan di Seminari Toda Belu Mataloko, ia telah dibentuk dalam disiplin, doa, dan kehidupan persaudaraan yang menjadi dasar panggilannya.

Saat ini, Wima melanjutkan studi di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, sambil menjalani masa formasi di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret. Di sana, ia tidak hanya mengembangkan intelektualitasnya melalui filsafat, tetapi juga memperdalam kehidupan batin dan spiritualitasnya.

Selain dunia akademik dan pembinaan, Wima juga aktif dalam bidang seni, khususnya teater dan sastra. Ia dipercaya sebagai Ketua Kelompok Minat Teater Tanya periode 2025/2026, sebuah ruang kreatif yang menjadi wadah ekspresi dan refleksi kehidupan. Ia juga mencintai puisi serta menjadikannya sebagai medium kontemplasi. Di samping itu, ia menikmati olahraga sepak bola sebagai bagian dari keseimbangan hidupnya.

Sebagai pribadi, Wima dikenal sederhana, reflektif, dan mendalam. Ia memadukan kehidupan doa, pemikiran filsafat, dan ekspresi seni sebagai cara untuk memahami makna hidup, manusia, dan panggilan imamat yang sedang ia jalani.

 

  • Penulis: Filemon Pandu Wimastha
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 230
    • 2Komentar

    Oleh: Marselus Natar (Rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis novel berjudul: Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah, dan antologi cerpen berjudul: Usaha Membunuh Tuhan) Setiap cinta selalu punya cerita tentang bagaimana ia dimulai. Ada yang tumbuh dari pertemuan sederhana, dari percakapan singkat, dari perhatian kecil yang perlahan berubah menjadi rasa yang sulit […]

  • Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Di tengah hutan Wolobobo, jauh dari hiruk-pikuk ruang kelas, sebanyak 52 siswa baru SMAK St. Agustinus Langa memulai proses pembentukan diri melalui Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026. Mengusung konsep camping, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Alam menjadi ruang kelas, tenda menjadi tempat belajar kebersamaan, dan setiap tantangan […]

  • PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

    PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Gregorius Nggadung
    • visibility 556
    • 2Komentar

    PERJAMUAN MALAM Tak ada yang kau siapkan lagi Selain roti tawar yang disiram dan mekar Selain sumpah dan kemerdekaan yang kau janjikan Meredam di atas tumpukan buku Lelap di pangkuan tanganmu Β  Kau tak perlu datang lagi malam ini Cukup menyaksikan perjamuan yang getir ini Di bawah meja perjamuan Kukibarkan kata-kata Sehingga tak ada tulang-tulang […]

  • KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mataleza
    • visibility 382
    • 0Komentar

    Begitu tenang, membaca sastra adalah menakar keikhlasan. Ikhlas menimbang keadaan berdasakan elemen bahasa yang harus dipahami melalui ruang analisis itu. Hal ini jelas terlihat dan terdengar, ketika orang-orang begitu tabah melipat bahasa sastra ke dalam ruang teduh yang selalu menguji pemahaman. Hal ini senada dengan hasil proses kreatif yang ditunjukkan penulis sastra dan sastrawan Nusa […]

  • Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh

    Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 270
    • 7Komentar

    Hallo, teman-teman pembaca setia mataleza.com Senang kita bisa bertemu lagi di sini, di #Ruangrasa yang sudah cukup lama saya tidak bagikan. Saya yakin, di luar sana ada penantian penuh penasaran. Dan saya perlu meminta maaf jika tidak sering update secara berkala. Ya, maklum, bapak satu anak ini kadang sering menyibukkan diri dengan hal-hal remeh, misalnya […]

  • Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 684
    • 2Komentar

    Dalam karyanya β€œ21 Pelajaran untuk Abad ke-21”, Yuval Hoah Harari mengatakan β€œjika masa depan umat manusia diputuskan tanpa melibatkan anda, kerena anda sibuk memberi makan dan memakaikan pakaian anak anda, tetap saja anda dan anak anda tidak bisa lepas dari konsekuensinya. Ini memang sungguh tidak adil, tetapi siapa bilang sejarah itu adil?” (Harari, 2023). Namun […]

expand_less