Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

  • account_circle Aprianus Jebarus
  • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
  • visibility 222
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari

Rumah

Di sudut ini

hanya ada gumpalan asap yang menepi tanpa arah

menemani ingatan yang perlahan menari di bawah langit

yang tak lagi biru

suaramu mengalun indah dalam imaji

merajut kisah menjelma rindu tak berwujud

setiap belaian rambut hitammu adalah inspirasi

yang mengalun lembut dalam barisan

yang menjadikannya diksi paling favorit

dalam aroma kehangatan yang pernah ada

dan kau menyebutnya RUMAH

pun aku memanggilnya seperti itu.

2026

Rasa Yang Tak Sampai

Kepada ranting basah

kuceritakan ingin

yang belum sampai

pada kelopak indah itu

 

Pada setangkai bunga

kukabarkan pesan

tentang harap tak bertepi

 

Lewat celah dinding

kuukir namamu sepanjang jalan

Namun,

atmamu terlalu jauh untuk kutempuh

ada jeda yang menghentikan kisah

ada jarak yang memisahkan langkah

meruntuhkan rasa

hingga kata tak ‘kan

mampu mengejar kerinduan di tengah

gelombang perasaan yang mulai

rapuh.

2026

 

Hilang

Cuaca melamar di penghujung bulan

membawa isyarat yang tak pernah pasti

Gemuruh riuh berjalan tanpa arah

menjatuhkan bulir-bulir kenangan yang

membekas dalam awan

Getaran harap semakin menyatu,

menusuk dingin di samudera ingatan

Jemari mulai berlari, mencari cinta

Di antara air mata semesta yang

mengalir lurus

Menyimpan rahasia tentang ketulusan

yang hilang diterpa hujan.

2026

 

Untuk Apa Berdua

Hitam pekat menatap dengan tajam

Sendok mulai menari pada samudera gelas antik

menemani malam

menunggu hujan reda

Gumpalan asap menepi

mulai bertanya pada papan kayu yang enggan berpijak dari tempatnya

Mengapa sendiri lagi?

Ia tidak menjawab sepata kata pun

hanya terdiam tersenyum malu hingga beberapa saat

sebelum tegukan pertama mengalir menyejukkan kisah

Angin berhembus pelan, membisikkan kata

Membius kan aroma, mematikan obrolan

sambil berbisik

Untuk apa berdua

jika tak kan mampu

menyatukan harap yang sama.

2026

 

Aku

Beginilah caraku

menikmati hari tanpa tapi

berjalan menelusuri bebatuan

tanpa mengeluh

menerima semua keadaan tanpa pasrah

Dan semua kutuangkan lewat

kertas putih di laci meja

meracik huruf yang

ada dalam isi kepala penuh

menyajikannya dalam hati

penuh.

2026

  • Penulis: Aprianus Jebarus
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 437
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 488
    • 2Komentar

    Dalam karyanya “21 Pelajaran untuk Abad ke-21”, Yuval Hoah Harari mengatakan “jika masa depan umat manusia diputuskan tanpa melibatkan anda, kerena anda sibuk memberi makan dan memakaikan pakaian anak anda, tetap saja anda dan anak anda tidak bisa lepas dari konsekuensinya. Ini memang sungguh tidak adil, tetapi siapa bilang sejarah itu adil?” (Harari, 2023). Namun […]

  • Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 495
    • 6Komentar

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus Inspirasi: Kis 6:1-7; I Ptr 2:4-9 ; Yohanes 14:1-12 Malu bertanya sesat di jalan, Rajin bertanya disangka wartawan // Selamat wahai umat beriman. Mari beri senyuman yang menawan. Sakramen Pembaptisan sudah buat kita sejalan dan searah dengan Tuhan. Tor monitor penikmat […]

  • Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Yulius Riba
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Oleh: Yulius Riba Content Creator, Writer, Edukasi Sosial dan Politik.    Pekan ini, potret buram demokrasi kembali muncul dari ruang yang selama ini kita agungkan sebagai benteng nalar yakni kampus. Di Universitas Gadjah Mada, sebuah forum diskusi yang semula dirancang sebagai ruang diskursus publik antara tiga pejabat negara dan mahasiswa berakhir karena tindakan-tindakan yang justru […]

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 621
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul “Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai “beban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

  • Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Roy Wujon
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Oleh: Roy Wujon Mahasiswa IFTK Ledalero Dalam sistem negara demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers merupakan pilar penting yang patut dihargai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan pembatasan kritik publik melalui media, baik media massa konvensional maupun platform digital. Pembatasan tersebut sering kali dilakukan dengan dalih menjaga stabilitas, mencegah hoaks, atau melindungi […]

expand_less