Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: RD Chosmas Oswyn Koba:  Menjadi Cahaya di Tengah Perjalanan

  • account_circle Anjelina Roslin
  • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
  • visibility 74
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jangan Takut, Percaya Saja.”  (Markus 5:36).

Ada kalanya saya memandang sosok yang berdiri di depan altar itu bukan hanya seorang imam. Bagi umat dan banyak orang ia adalah imam yang memimpin perayaan ekaristi dan menjadi tempat untuk menemukan penguatan.

Namun, bagi saya, sosok itu memiliki arti yang jauh lebih dekat. Ia adalah sosok yang telah saya kenal jauh sebelum mengenakan jubah.

Ia adalah Romo Oswin.

Sebagai adiknya, saya mengenal Romo Oswin bukan pertama-tama sebagai imam.

Saya mengenalnya sebagai seorang kakak yang selalu membimbing adiknya dari kecil hingga tumbuh dewasa.

Dari dia saya melihat perjalanan hidup.

perjalanan yang tidak selalu berjalan mulus, tapi banyak pilihan, tantangan,dan keyakinan.

Dibalik jubah yang ia kenakan, ada perjalanan panjang yang tidak diketahui banyak orang.

Ada saat ia bertanya pada diri sendiri “kemana arah hidup yang akan saya jalani?”

Dari Sosok Yang Saya Kenal Hingga Menjadi Seorang Imam

Banyak kebersamaan yang telah kami lalui (19 tahun). Suka, duka, canda, tawa merupakan hal yang tak kunjung datang dan pergi. Walau kebersamaan kami dibatasi oleh jarak dan waktu, kasih sayang darinya kepada saya tidak pernah berubah.

Kadang rasa tak rela melepaskannya sebagai seorang imam masih ada, tapi rasa bangga melihatnya ditahbiskan menjadi gembala umat lebih besar dari itu semua.

Perjalanan yang dia lalui tidak mudah. Ada jalan yang terjal, ada langkah yang hampir menyerah. Tapi, saya tahu dia kuat.

“Kakak itu sangat nakal waktu kecil. Saking nakalnya, dia pernah digigit anjing di rumah temannya sampai di bawah ke rumah sakit. Setelah tiga bulan, digigit lagi anjing rabies jadi harus di vaksin rabies. Kalau ke sekolah tidak rewel, bisa urus sendiri hanya makanan saja yang bapa mama siapkan. Makanan kesukaan dia apa saja, intinya jangan daun pepaya. Waktu kecil dia suka bermain bola kaki dengan teman-temannya. Dia suruh bapak beli sepeda buat dia supaya ke sekolah dengan sepeda, lalu pulang sekolah dia kasih sepeda ke teman-temannya untuk latihan. Anaknya memang sangat nakal tapi selalu hormat dengan orang yang lebih tua.” Ujar Pak Ansel, ayah kami.

Ketika memandang masa-masa itu, saya sadar sebuah perjalanan besar seringkali berasal dari sesuatu yang sederhana.

Orang tentu tidak langsung tahu kemana kehidupan membawanya. Begitu pula Romo Oswin. Di hidupnya, muncul sebuah panggilan yang kemudian membuatnya menuju jalan imamat.

Ketika Sebuah Panggilan Mulai Tumbuh

Panggilan tidak dapat dipahami dari satu peristiwa, tetapi sebuah proses.

“Awalnya, dari SD kakak senang sekali lihat Romo di Gereja pakai jubah. Dalam hati dia bilang ‘saya nanti bisa tidak seperti ini.’ Akhirnya dia bilang di bapa, ‘Bapa, saya mau tes masuk seminari.’ Bapa izinkan intinya kemauan diri sendiri. Akhirnya dia ikut tes, mereka berdua tapi temannya tidak masuk. Kakak masuk di Seminari Maria Bunda Segala Bangsa Maumere. Tamat dari sana kakak masuk SMAK Frateran Ndao Ende, karena dia pikir panggilan itu sudah tidak ada. Ternyata di SMA kakak lihat Frater Kepala setiap hari pakai jubah, dia senang sekali. Akhirnya dia bilang ‘Bapa, saya mau tes lagi di seminari St. Paulus Mataloko.’ Setelah tes itu dia lolos, akhirnya masuk kelas persiapan atas (KPA), lanjutan dari SMA. Dari situ dua tahun, dia langsung ke Seminari Tinggi Penfui Kupang. Motivasi kakak itu, karena lihat romo-romo sering pakai jubah putih,jadi dia ingin seperti mereka.” Sambung Pak Ansel.

Keputusan itu tidaklah sederhana, butuh keberanian dan kesediaan memberikan diri.

Kadang kita takut untuk melangkah, padahal yang kita butuhkan adalah keberanian untuk memulai.

Sebuah Perjalanan Yang Belum Selesai

Menjadi imam bukanlah akhir dari perjalanan. Tahbisan bukanlah garis akhir.

Banyak kehidupan perlu didampingi. Banyak pengalaman yang akan terus membentuk diri. “Waktu di Seminari Tinggi, saat libur kakak pulang ke kampung. Dia pesan ke adik-adik di sekolah minggu, ‘Kalau sudah tamat sekolah SD atau SMP, jangan takut masuk seminari.’ Bapa selalu ingat pesan itu, karena jadi gambaran perjalanan kakak dari awal berani memilih jalan hidupnya. Tapi ingat, itu semua bukan akhir, dari sana perjalanan baru dimulai. Harus bisa hadapi apapun tantangannya.” Kenang Pak Ansel dengan penuh kebanggan.

Dan pada akhirnya, perjalanan menjadi imam bukanlah akhir, tetapi awal untuk terus melangkah dan melayani. Seperti pesan yang selalu diingatkan Pak Ansel, setiap pilihan pasti punya tantangan yang harus dihadapi. Bagi Romo Oswin, panggilan itu adalah perjalanan panjang untuk terus melangkah, dan menjadi cahaya bagi orang-orang yang ditemuinya.

Teruslah melangkah, Kak. Sejauh apapun perjalanan membawamu, setiap langkah yang kau tempuh selalu menjadi kebanggaan kami. Bukan karena jalanmu mudah, tapi karena kau tetap melangkah, meski rintangan menghadang di depan.

Ketika saya melihat Romo Oswin berdiri di depan altar, saya teringat pada sosok yang jauh telah saya kenal sebelum ia mengenakan jubah imam.

Kini ia berdiri di tengah umat dengan penuh tanggung jawab yang lebih besar. Berani tetap percaya ketika perjalanan hidupnya belum sepenuhnya terlihat.

“Jangan Takut, Percaya Saja”.

Kalimat itu menjadi pesan bagi dirinya sendiri untuk terus melangkah ketika perjalanan terasa berat.

Menjadi cahaya, bukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga menerangi perjalanan

orang-orang yang dipercayakan padanya.

Dari adikmu tersayang, Osin Koba

 

Tentang Penulis: Anjelina Roslin G. Koba. Mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  • Penulis: Anjelina Roslin
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 261
    • 0Komentar

    Kekalahan sering kali menjadi momok yang dihindari dalam dunia sepak bola. Namun, dalam kacamata strategi yang lebih luas, sebuah kekalahan adakalanya bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah bidak yang sengaja digeser demi memenangkan pertempuran yang lebih besar. Sudut pandang inilah yang menyeruak ketika penulis mencermati kekalahan 3-1 PSN Ngada dari Unaaha FC dalam laga pamungkas […]

  • MONIKA DI UJUNG NASIB

    MONIKA DI UJUNG NASIB

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Ando Sola
    • visibility 424
    • 2Komentar

    “Semua mereka melihatku seperti selembar rupiah yang bisa ditukar dengan kehormatan” Pada simpang tiga ujung desa Watu Ngadha, sekelompok anak kompleks duduk lingkar memainkan gitar tua. Mereka menyayikan lagu-lagu nostalgia, sambil menepuk dada dan mengerutkan dahinya. Mereka tenggelam pada setiap syair yang dinyanyikan. Aku tahu mereka sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Terdengar beberapa lagu yang […]

  • Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 260
    • 1Komentar

    suka sibuk pagi-pagi sekali di hari minggu, kami ke gereja. seperti orang-orang, kami berpakaian rapi. sebelum keluar pintu rumah, pastikan semua dalam keadaan siap, batin maupun pakaian. di pintu masuk gereja, semua mata mencari sumber bunyi kaki. lihat atas-bawah. di dalam gereja, ekaristi sebentar lagi mulai. masih ada yang sibuk menilai. sebentar sambut hosti, bikin […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 492
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • 𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚-𝗕𝗔𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗔𝗧𝗥𝗜𝗔𝗥𝗞𝗜?

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Helena Beraf
    • visibility 595
    • 0Komentar

    Ada sebuah kebiasaan dalam masyarakat tempat saya lahir dan tumbuh yakni; kecenderungan menjaga anak perempuan mereka. Mengapa perempuan? Rupanya atas dasar norma, sopan santun dan budaya, anak perempuan (anak gadis) dipandang sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu dijaga kehormatannya. Perempuan dapat merepresentasikan kehormatan keluarganya. Saya ingat betul ketika saya memasuki masa remaja awal, mama kerapkali […]

  • Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Maxi L. Sawung
    • visibility 330
    • 0Komentar

    Redup Aku akhirnya memilih agar tu(h)an ataupun siapa saja tidak merenggut luka milikku. Beberapa tangan datang mengetuk, beberapa tangan mencoba memeluk tapi tetap aku tutup pintu makam batu itu. Kau pernah sekali atau bahkan berkali-kali dengan buru-buru berlari agar lekas sampai ketika datang melayat lukaku. Sekadar menanyakan perihal masa penyembuhan atau bagaimana dengan bekas luka-luka […]

expand_less