Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kenapa Anak Muda Malas Jadi Petani, Padahal Peluang Dunia Pertanian Menjanjikan?

  • account_circle Kasianus Sebho
  • calendar_month 9 jam yang lalu
  • visibility 6
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di banyak daerah di Indonesia, terdapat satu fenomena yang sering dibicarakan tetapi jarang dipahami secara mendalam. Banyak petani yang berhasil membesarkan keluarga, membangun rumah, membeli lahan, hingga menyekolahkan anak-anak mereka sampai menjadi sarjana, pegawai negeri, pengusaha, guru, dokter, maupun profesi lainnya. Namun ketika anak-anak tersebut telah dewasa, tidak sedikit yang justru memilih meninggalkan sektor pertanian.

Fenomena ini sering memunculkan pertanyaan. Jika pertanian mampu membiayai pendidikan dan kehidupan keluarga, mengapa generasi muda justru enggan menjadi petani?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana persoalan pendapatan. Ada banyak faktor sosial, budaya, ekonomi, hingga perubahan gaya hidup yang memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap dunia pertanian.

Salah satu faktor yang paling terlihat adalah citra profesi petani itu sendiri. Sejak lama, petani sering digambarkan sebagai pekerjaan yang identik dengan panas matahari, lumpur, pekerjaan fisik yang berat, serta pendapatan yang tidak menentu. Gambaran tersebut tertanam cukup kuat di masyarakat. Bahkan tidak sedikit orang tua yang bekerja sebagai petani justru mendorong anak-anaknya mencari pekerjaan lain karena menganggap pekerjaan di sektor formal lebih bergengsi dan lebih aman.

Ironisnya, banyak anak petani tumbuh dengan mendengar nasihat agar belajar giat supaya tidak perlu menjadi petani seperti orang tuanya. Pesan tersebut disampaikan dengan niat baik, tetapi secara tidak langsung membentuk persepsi bahwa bertani adalah pilihan terakhir ketika seseorang gagal mendapatkan pekerjaan lain.

Selain persoalan citra, faktor ekonomi juga berperan besar. Banyak anak muda melihat hasil akhir yang diterima petani tanpa memahami proses akumulasi aset yang dimiliki generasi sebelumnya. Seorang petani senior yang saat ini terlihat sukses umumnya telah mengelola lahan selama puluhan tahun. Mereka memiliki sawah, kebun, ternak, jaringan pemasaran, pengalaman menghadapi risiko, dan modal yang dibangun secara bertahap.

Sementara itu, anak muda yang ingin memulai dari nol menghadapi tantangan berbeda. Harga lahan semakin mahal, biaya produksi meningkat, sementara akses modal tidak selalu mudah. Bagi sebagian generasi muda, pekerjaan di sektor lain terlihat lebih cepat menghasilkan pendapatan bulanan dibandingkan harus membangun usaha tani dari awal.

Perubahan gaya hidup juga menjadi faktor penting. Generasi muda saat ini hidup di era digital yang menawarkan berbagai pilihan pekerjaan baru. Profesi seperti kreator konten, desainer grafis, programmer, analis data, hingga pelaku bisnis digital menjadi semakin populer. Banyak pekerjaan tersebut dapat dilakukan dari rumah atau dari mana saja dengan koneksi internet.

Sebaliknya, kegiatan pertanian masih dipersepsikan sebagai pekerjaan yang mengharuskan seseorang hadir langsung di lahan setiap hari. Padahal kenyataannya, perkembangan teknologi pertanian modern telah mengubah banyak hal. Penggunaan drone, sensor tanah, aplikasi pemantauan cuaca, sistem irigasi otomatis, hingga pemasaran digital mulai diterapkan di berbagai daerah. Namun perubahan ini belum sepenuhnya diketahui oleh sebagian besar generasi muda.

Ada pula faktor ketidakpastian yang membuat anak muda ragu terjun ke sektor pertanian. Petani berhadapan dengan cuaca yang berubah, serangan organisme pengganggu tanaman, fluktuasi harga, hingga perubahan pasar. Risiko tersebut sering kali lebih terlihat dibandingkan peluang yang tersedia. Ketika terjadi gagal panen atau harga anjlok, informasi tersebut cepat menyebar dan membentuk persepsi negatif terhadap dunia pertanian.

Di sisi lain, kisah sukses petani sering tidak mendapatkan ruang publik yang sama besar. Padahal banyak petani hortikultura, petani benih, petani buah, peternak, maupun pelaku agribisnis yang mampu memperoleh pendapatan cukup tinggi dan mengembangkan usaha hingga berskala besar.

Menariknya, jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya banyak anak muda tidak menolak sektor pertanian. Mereka lebih cenderung menolak model pertanian konvensional yang dianggap berat dan kurang menarik. Ketika pertanian dikemas dalam bentuk bisnis modern, agritech, pertanian presisi, hidroponik, pertanian organik, atau pemasaran berbasis digital, minat generasi muda mulai terlihat meningkat.

Fenomena munculnya petani milenial di berbagai daerah menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata pada sektor pertanian, melainkan pada cara sektor tersebut dipersepsikan dan diperkenalkan kepada generasi muda. Banyak lulusan perguruan tinggi pertanian maupun nonpertanian yang mulai melihat peluang baru dalam bisnis benih, budidaya buah premium, ekspor komoditas pertanian, produksi pupuk organik, hingga jasa teknologi pertanian.

Fakta bahwa banyak petani mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga sukses sebenarnya menunjukkan satu hal yang jarang dibahas. Pertanian telah menjadi fondasi ekonomi jutaan keluarga Indonesia selama beberapa generasi. Keberhasilan anak-anak petani memperoleh pendidikan yang lebih tinggi merupakan bukti bahwa sektor ini memiliki kemampuan menciptakan nilai ekonomi yang nyata.

Namun bagi generasi muda, keputusan memilih pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh pendapatan. Faktor gengsi sosial, lingkungan pergaulan, peluang karier, akses teknologi, kenyamanan kerja, dan harapan masa depan ikut membentuk pilihan mereka. Karena itulah, meskipun dunia pertanian memiliki peluang besar, daya tariknya di mata anak muda sering kali kalah oleh persepsi yang telah terbentuk bertahun tahun

 

  • Penulis: Kasianus Sebho
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Wima Wimastha
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Oleh: Frater Wima Wimastha adalah Frater tingkat III di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret, keuskupan Agung Ende dan mahasiswa semester 6 di Institute Filsafat katolik dan Kreatif ledalero(IFTK).   Di era digital, informasi tidak lagi bergerak seperti arus sungai yang tenang dan searah. Ia menyerupai ombak yang terus memecah, berbalik, dan membentuk pantai-pantai baru […]

  • Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 174
    • 6Komentar

    Sebelum teman-teman mataleza.com lanjutkan membaca keseluruhan tulisan berikut ini, perlu saya sampaikan bahwa, tidak semua laki-laki demikian, tetapi pengalaman perempuan yang mengalami manipulasi adalah kenyataan yang tidak boleh diperkecil atau diabaikan. Luka mereka nyata. Selamat membaca! *** Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah pesan dari seorang teman. Ia perempuan, tinggal jauh di seberang. Jarak memisahkan […]

  • Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Oleh: 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠 Politisi dan Pemerhati Global Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak. Disiplin Pajak Adalah Bentuk Solidaritas Sosial, Bukan Penindasan terhadap Rakyat Kecil .. Perdebatan mengenai Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025 yang mengaitkan akses pembelian BBM bersubsidi dengan kepatuhan membayar Pajak Kendaraan Bermotor […]

  • NADIEM: Siapa yang Order?

    NADIEM: Siapa yang Order?

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Nury Sybli
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Rabu, 13 Mei 2026. Pengadilan Tipikor Jakarta berubah jadi panggung absurditas hukum. Mantan Mendikbudristek, dituntut 18 tahun penjara, denda Rp.1 miliar, plus uang pengganti Rp5,6 triliun subsider 9 tahun kurungan. Kalau ditotal, hukumannya seperti ingin mengubur seseorang hidup-hidup: 27,5 tahun. “Ini adalah hari yang sangat, sangat, sangat mengecewakan,” kata Nadiem seusai sidang. Dan memang, siapa […]

  • Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Pater Marsel Koka, RCJ
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Marsel Koka, RCJ (Pastor dari Konggregasi Rogasionis Hati Yesus Maumere) Di sela-sela masa akhir liburan, saya berkesempatan mengunjungi kembali sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil selama enam tahun: SDN Riominsi, yang dahulu kami kenal sebagai SDK Terong Kedong. Sekolah kecil ini berada di Kampung Latung, Desa Benteng Tawa V, Kecamatan […]

  • Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 526
    • 2Komentar

    Dalam karyanya “21 Pelajaran untuk Abad ke-21”, Yuval Hoah Harari mengatakan “jika masa depan umat manusia diputuskan tanpa melibatkan anda, kerena anda sibuk memberi makan dan memakaikan pakaian anak anda, tetap saja anda dan anak anda tidak bisa lepas dari konsekuensinya. Ini memang sungguh tidak adil, tetapi siapa bilang sejarah itu adil?” (Harari, 2023). Namun […]

expand_less