Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kenapa Anak Muda Malas Jadi Petani, Padahal Peluang Dunia Pertanian Menjanjikan?

  • account_circle Kasianus Sebho
  • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
  • visibility 60
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di banyak daerah di Indonesia, terdapat satu fenomena yang sering dibicarakan tetapi jarang dipahami secara mendalam. Banyak petani yang berhasil membesarkan keluarga, membangun rumah, membeli lahan, hingga menyekolahkan anak-anak mereka sampai menjadi sarjana, pegawai negeri, pengusaha, guru, dokter, maupun profesi lainnya. Namun ketika anak-anak tersebut telah dewasa, tidak sedikit yang justru memilih meninggalkan sektor pertanian.

Fenomena ini sering memunculkan pertanyaan. Jika pertanian mampu membiayai pendidikan dan kehidupan keluarga, mengapa generasi muda justru enggan menjadi petani?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana persoalan pendapatan. Ada banyak faktor sosial, budaya, ekonomi, hingga perubahan gaya hidup yang memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap dunia pertanian.

Salah satu faktor yang paling terlihat adalah citra profesi petani itu sendiri. Sejak lama, petani sering digambarkan sebagai pekerjaan yang identik dengan panas matahari, lumpur, pekerjaan fisik yang berat, serta pendapatan yang tidak menentu. Gambaran tersebut tertanam cukup kuat di masyarakat. Bahkan tidak sedikit orang tua yang bekerja sebagai petani justru mendorong anak-anaknya mencari pekerjaan lain karena menganggap pekerjaan di sektor formal lebih bergengsi dan lebih aman.

Ironisnya, banyak anak petani tumbuh dengan mendengar nasihat agar belajar giat supaya tidak perlu menjadi petani seperti orang tuanya. Pesan tersebut disampaikan dengan niat baik, tetapi secara tidak langsung membentuk persepsi bahwa bertani adalah pilihan terakhir ketika seseorang gagal mendapatkan pekerjaan lain.

Selain persoalan citra, faktor ekonomi juga berperan besar. Banyak anak muda melihat hasil akhir yang diterima petani tanpa memahami proses akumulasi aset yang dimiliki generasi sebelumnya. Seorang petani senior yang saat ini terlihat sukses umumnya telah mengelola lahan selama puluhan tahun. Mereka memiliki sawah, kebun, ternak, jaringan pemasaran, pengalaman menghadapi risiko, dan modal yang dibangun secara bertahap.

Sementara itu, anak muda yang ingin memulai dari nol menghadapi tantangan berbeda. Harga lahan semakin mahal, biaya produksi meningkat, sementara akses modal tidak selalu mudah. Bagi sebagian generasi muda, pekerjaan di sektor lain terlihat lebih cepat menghasilkan pendapatan bulanan dibandingkan harus membangun usaha tani dari awal.

Perubahan gaya hidup juga menjadi faktor penting. Generasi muda saat ini hidup di era digital yang menawarkan berbagai pilihan pekerjaan baru. Profesi seperti kreator konten, desainer grafis, programmer, analis data, hingga pelaku bisnis digital menjadi semakin populer. Banyak pekerjaan tersebut dapat dilakukan dari rumah atau dari mana saja dengan koneksi internet.

Sebaliknya, kegiatan pertanian masih dipersepsikan sebagai pekerjaan yang mengharuskan seseorang hadir langsung di lahan setiap hari. Padahal kenyataannya, perkembangan teknologi pertanian modern telah mengubah banyak hal. Penggunaan drone, sensor tanah, aplikasi pemantauan cuaca, sistem irigasi otomatis, hingga pemasaran digital mulai diterapkan di berbagai daerah. Namun perubahan ini belum sepenuhnya diketahui oleh sebagian besar generasi muda.

Ada pula faktor ketidakpastian yang membuat anak muda ragu terjun ke sektor pertanian. Petani berhadapan dengan cuaca yang berubah, serangan organisme pengganggu tanaman, fluktuasi harga, hingga perubahan pasar. Risiko tersebut sering kali lebih terlihat dibandingkan peluang yang tersedia. Ketika terjadi gagal panen atau harga anjlok, informasi tersebut cepat menyebar dan membentuk persepsi negatif terhadap dunia pertanian.

Di sisi lain, kisah sukses petani sering tidak mendapatkan ruang publik yang sama besar. Padahal banyak petani hortikultura, petani benih, petani buah, peternak, maupun pelaku agribisnis yang mampu memperoleh pendapatan cukup tinggi dan mengembangkan usaha hingga berskala besar.

Menariknya, jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya banyak anak muda tidak menolak sektor pertanian. Mereka lebih cenderung menolak model pertanian konvensional yang dianggap berat dan kurang menarik. Ketika pertanian dikemas dalam bentuk bisnis modern, agritech, pertanian presisi, hidroponik, pertanian organik, atau pemasaran berbasis digital, minat generasi muda mulai terlihat meningkat.

Fenomena munculnya petani milenial di berbagai daerah menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata pada sektor pertanian, melainkan pada cara sektor tersebut dipersepsikan dan diperkenalkan kepada generasi muda. Banyak lulusan perguruan tinggi pertanian maupun nonpertanian yang mulai melihat peluang baru dalam bisnis benih, budidaya buah premium, ekspor komoditas pertanian, produksi pupuk organik, hingga jasa teknologi pertanian.

Fakta bahwa banyak petani mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga sukses sebenarnya menunjukkan satu hal yang jarang dibahas. Pertanian telah menjadi fondasi ekonomi jutaan keluarga Indonesia selama beberapa generasi. Keberhasilan anak-anak petani memperoleh pendidikan yang lebih tinggi merupakan bukti bahwa sektor ini memiliki kemampuan menciptakan nilai ekonomi yang nyata.

Namun bagi generasi muda, keputusan memilih pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh pendapatan. Faktor gengsi sosial, lingkungan pergaulan, peluang karier, akses teknologi, kenyamanan kerja, dan harapan masa depan ikut membentuk pilihan mereka. Karena itulah, meskipun dunia pertanian memiliki peluang besar, daya tariknya di mata anak muda sering kali kalah oleh persepsi yang telah terbentuk bertahun tahun

 

  • Penulis: Kasianus Sebho
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda. Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang […]

  • Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 215
    • 6Komentar

    Sebelum teman-teman mataleza.com lanjutkan membaca keseluruhan tulisan berikut ini, perlu saya sampaikan bahwa, tidak semua laki-laki demikian, tetapi pengalaman perempuan yang mengalami manipulasi adalah kenyataan yang tidak boleh diperkecil atau diabaikan. Luka mereka nyata. Selamat membaca! *** Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah pesan dari seorang teman. Ia perempuan, tinggal jauh di seberang. Jarak memisahkan […]

  • BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Zaeni Boli
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Mesti bangga dengan karya sendiri, Produksi sebuah film bukanlah pekerjaan yang mudah dibutuhkan proses yang terkadang membuat kita hampir menyerah namun dengan tekad yang kuat akhirnya mewujud, ya akhirnya di tahun 2026 ini pada Bengkel Seni Milenial ( BSM ) angkatan ke 10 akhirnya mampu memproduksi film pendek yang diberi judul Cinta Jangan Dikejar, Sebuah […]

  • Puisi-puisi Alvares Keupung: Paket Cinta dari Laut, Whatsapp, Percakapan dengan Angin

    Puisi-puisi Alvares Keupung: Paket Cinta dari Laut, Whatsapp, Percakapan dengan Angin

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende. PAKET CINTA DARI LAUTAN Sewaktu aku mandi di lautan Sungguh, aku merasakan getaran cintanya Dia tak pernah mengingkari jati dirinya, setia memberi asin garamnya Laut memang pergi dan datang menghempas tepian Gelora suaranya bertebaran ke langit Namun tak pernah […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 122
    • 0Komentar

    8 Juni 2026 akan menjadi salah satu tanggal yang layak dikenang dalam perjalanan pendidikan di Boawae. Sore itu, Kotagoa Sport Area tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya pertandingan. Lapangan itu berubah menjadi panggung harapan, tempat lahirnya keberanian, kerja keras, dan mimpi-mimpi besar anak-anak. Sebanyak 27 tim dari berbagai Sekolah Dasar siap bertarung dalam cabang olahraga voli […]

  • Sudut Pandang: Antara Cangkul, Karung Jagung dan Toga

    Sudut Pandang: Antara Cangkul, Karung Jagung dan Toga

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Felisitas Tri Wulandari
    • visibility 84
    • 2Komentar

    Oleh: Felisitas Tri Wulandari (Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma)   Pukul enam pagi, ketika sebagian orang di kampung kami belum bangun sepenuhnya dari tidur, seorang lelaki paruh baya sudah memanggul karung jagung menuju tempat penggilingan. Keringat membasahi punggungnya jauh sebelum matahari sepenuhnya naik. Ia akan terus begitu sampai matahari benar benar tenggelam di ufuk barat, […]

expand_less