Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kenapa Anak Muda Malas Jadi Petani, Padahal Peluang Dunia Pertanian Menjanjikan?

  • account_circle Kasianus Sebho
  • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
  • visibility 19
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di banyak daerah di Indonesia, terdapat satu fenomena yang sering dibicarakan tetapi jarang dipahami secara mendalam. Banyak petani yang berhasil membesarkan keluarga, membangun rumah, membeli lahan, hingga menyekolahkan anak-anak mereka sampai menjadi sarjana, pegawai negeri, pengusaha, guru, dokter, maupun profesi lainnya. Namun ketika anak-anak tersebut telah dewasa, tidak sedikit yang justru memilih meninggalkan sektor pertanian.

Fenomena ini sering memunculkan pertanyaan. Jika pertanian mampu membiayai pendidikan dan kehidupan keluarga, mengapa generasi muda justru enggan menjadi petani?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana persoalan pendapatan. Ada banyak faktor sosial, budaya, ekonomi, hingga perubahan gaya hidup yang memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap dunia pertanian.

Salah satu faktor yang paling terlihat adalah citra profesi petani itu sendiri. Sejak lama, petani sering digambarkan sebagai pekerjaan yang identik dengan panas matahari, lumpur, pekerjaan fisik yang berat, serta pendapatan yang tidak menentu. Gambaran tersebut tertanam cukup kuat di masyarakat. Bahkan tidak sedikit orang tua yang bekerja sebagai petani justru mendorong anak-anaknya mencari pekerjaan lain karena menganggap pekerjaan di sektor formal lebih bergengsi dan lebih aman.

Ironisnya, banyak anak petani tumbuh dengan mendengar nasihat agar belajar giat supaya tidak perlu menjadi petani seperti orang tuanya. Pesan tersebut disampaikan dengan niat baik, tetapi secara tidak langsung membentuk persepsi bahwa bertani adalah pilihan terakhir ketika seseorang gagal mendapatkan pekerjaan lain.

Selain persoalan citra, faktor ekonomi juga berperan besar. Banyak anak muda melihat hasil akhir yang diterima petani tanpa memahami proses akumulasi aset yang dimiliki generasi sebelumnya. Seorang petani senior yang saat ini terlihat sukses umumnya telah mengelola lahan selama puluhan tahun. Mereka memiliki sawah, kebun, ternak, jaringan pemasaran, pengalaman menghadapi risiko, dan modal yang dibangun secara bertahap.

Sementara itu, anak muda yang ingin memulai dari nol menghadapi tantangan berbeda. Harga lahan semakin mahal, biaya produksi meningkat, sementara akses modal tidak selalu mudah. Bagi sebagian generasi muda, pekerjaan di sektor lain terlihat lebih cepat menghasilkan pendapatan bulanan dibandingkan harus membangun usaha tani dari awal.

Perubahan gaya hidup juga menjadi faktor penting. Generasi muda saat ini hidup di era digital yang menawarkan berbagai pilihan pekerjaan baru. Profesi seperti kreator konten, desainer grafis, programmer, analis data, hingga pelaku bisnis digital menjadi semakin populer. Banyak pekerjaan tersebut dapat dilakukan dari rumah atau dari mana saja dengan koneksi internet.

Sebaliknya, kegiatan pertanian masih dipersepsikan sebagai pekerjaan yang mengharuskan seseorang hadir langsung di lahan setiap hari. Padahal kenyataannya, perkembangan teknologi pertanian modern telah mengubah banyak hal. Penggunaan drone, sensor tanah, aplikasi pemantauan cuaca, sistem irigasi otomatis, hingga pemasaran digital mulai diterapkan di berbagai daerah. Namun perubahan ini belum sepenuhnya diketahui oleh sebagian besar generasi muda.

Ada pula faktor ketidakpastian yang membuat anak muda ragu terjun ke sektor pertanian. Petani berhadapan dengan cuaca yang berubah, serangan organisme pengganggu tanaman, fluktuasi harga, hingga perubahan pasar. Risiko tersebut sering kali lebih terlihat dibandingkan peluang yang tersedia. Ketika terjadi gagal panen atau harga anjlok, informasi tersebut cepat menyebar dan membentuk persepsi negatif terhadap dunia pertanian.

Di sisi lain, kisah sukses petani sering tidak mendapatkan ruang publik yang sama besar. Padahal banyak petani hortikultura, petani benih, petani buah, peternak, maupun pelaku agribisnis yang mampu memperoleh pendapatan cukup tinggi dan mengembangkan usaha hingga berskala besar.

Menariknya, jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya banyak anak muda tidak menolak sektor pertanian. Mereka lebih cenderung menolak model pertanian konvensional yang dianggap berat dan kurang menarik. Ketika pertanian dikemas dalam bentuk bisnis modern, agritech, pertanian presisi, hidroponik, pertanian organik, atau pemasaran berbasis digital, minat generasi muda mulai terlihat meningkat.

Fenomena munculnya petani milenial di berbagai daerah menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata pada sektor pertanian, melainkan pada cara sektor tersebut dipersepsikan dan diperkenalkan kepada generasi muda. Banyak lulusan perguruan tinggi pertanian maupun nonpertanian yang mulai melihat peluang baru dalam bisnis benih, budidaya buah premium, ekspor komoditas pertanian, produksi pupuk organik, hingga jasa teknologi pertanian.

Fakta bahwa banyak petani mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga sukses sebenarnya menunjukkan satu hal yang jarang dibahas. Pertanian telah menjadi fondasi ekonomi jutaan keluarga Indonesia selama beberapa generasi. Keberhasilan anak-anak petani memperoleh pendidikan yang lebih tinggi merupakan bukti bahwa sektor ini memiliki kemampuan menciptakan nilai ekonomi yang nyata.

Namun bagi generasi muda, keputusan memilih pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh pendapatan. Faktor gengsi sosial, lingkungan pergaulan, peluang karier, akses teknologi, kenyamanan kerja, dan harapan masa depan ikut membentuk pilihan mereka. Karena itulah, meskipun dunia pertanian memiliki peluang besar, daya tariknya di mata anak muda sering kali kalah oleh persepsi yang telah terbentuk bertahun tahun

 

  • Penulis: Kasianus Sebho
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Marianus Lako
    • visibility 158
    • 2Komentar

    Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan Perjalanan menuju Rindu dan Kenangan Apa itu sebuah kerinduan? Kalau tentang sakit dan pedih yang menyala paling berkaca-kaca tuk menyumbang luka? Apa itu kerelaan? Kalau tentang melepas tapi masih melekat Kalau tentang ikhlas tapi di dada memberat Kalau tentang mengenang tapi selalu merengkuh ketenangan Meo 2026 Gagasan Kesepian Apa pernah […]

  • Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Yeremias Laba Lein
    • visibility 311
    • 4Komentar

    TAK INGIN SEDANGKAL ITU Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sedangkan mencintaimu saja aku harus menyelam sedalam-dalamnya lautan asmaramu, berenang seluas-luasnya samudra di hatimu, dan melewati pasang surutnya air matamu   Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sebab aku ingin berlayar sejauh mungkin di lautan asmaramu, menjala cinta dan kasih sayang sebanyak mungkin […]

  • MONIKA DI UJUNG NASIB

    MONIKA DI UJUNG NASIB

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Ando Sola
    • visibility 383
    • 2Komentar

    “Semua mereka melihatku seperti selembar rupiah yang bisa ditukar dengan kehormatan” Pada simpang tiga ujung desa Watu Ngadha, sekelompok anak kompleks duduk lingkar memainkan gitar tua. Mereka menyayikan lagu-lagu nostalgia, sambil menepuk dada dan mengerutkan dahinya. Mereka tenggelam pada setiap syair yang dinyanyikan. Aku tahu mereka sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Terdengar beberapa lagu yang […]

  • PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    PERMEN: Bekerja Sama dan Sama-sama Bekerja, Renungan Harian Katolik 05 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 313
    • 2Komentar

    PERMEN edisi Selasa 5 Paskah – 05 MEI 2026 –  Bekerja Sama dan Sama-Sama Bekerja Inspirasi: Kis 14:19-28 ; Yohanes 14:27-31a Paulus dan Barnabas buat sesuatu yang membuka mata hati penikmat Permen akan pentingnya bekerja dalam tim. Yah, dalam perjalanan misi pewartaan, keduanya mengangkat para penatua jemaat untuk memimpin jemaat kristiani yang mereka dirikan. Mereka […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 383
    • 2Komentar

    “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.” Lima belas cerpen […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Panggung Kecil yang Menumbuhkan Mimpi Besar photo_camera 1

    Kotagoa Diamond Competition: Panggung Kecil yang Menumbuhkan Mimpi Besar

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Pada 15–16 Mei 2026, suasana di lingkungan SMPSK Kotagoa Boawae terasa berbeda. Panggung pentas dan halaman tengah sekolah yang biasanya dipenuhi tepuk tangan untuk merayakan prestasi peserta didik, kali ini berubah menjadi ruang kompetisi yang hidup dan penuh semangat. Anak-anak dari berbagai Sekolah Dasar hadir membawa keberanian, bakat, dan harapan mereka. Dalam rangka menyongsong pesta […]

expand_less