Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
  • visibility 218
  • comment 6 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sebelum teman-teman mataleza.com lanjutkan membaca keseluruhan tulisan berikut ini, perlu saya sampaikan bahwa, tidak semua laki-laki demikian, tetapi pengalaman perempuan yang mengalami manipulasi adalah kenyataan yang tidak boleh diperkecil atau diabaikan. Luka mereka nyata.

Selamat membaca!

***

Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah pesan dari seorang teman. Ia perempuan, tinggal jauh di seberang. Jarak memisahkan kami, tetapi saya bisa merasakan kepenatan yang merambat dari setiap kalimat yang ia tuliskan.

Saya tidak terkejut. Bukan karena saya terbiasa menerima pesan semacam itu, melainkan karena cerita tentang kekecewaan perempuan sering kali datang dengan pola yang hampir serupa: kecewa kepada seseorang, tetapi pada saat yang sama perlahan kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Pesan pertamanya singkat.

“Kak, boleh menulis tentang laki-laki yang manipulatif? Yang kalau buat salah tidak mau minta maaf. Diam saja, dan seolah-olah tidak pernah berbuat salah.”

Saya tidak langsung menyanggupi. Saya menjawab sependek mungkin.

“Saya akan usahakan jika bisa. Kalau memang ada kesempatan, saya akan coba sebisa saya.”

Beberapa saat kemudian, pesan lain masuk.

“Mereka merasa bahwa mereka adalah korban. Mereka marah ketika kita merespons apa yang mereka lakukan. Kira-kira itu laki-laki jenis apa? Saya capek dan lelah menghadapi manusia seperti itu. Ada trauma dalam diri saya. Apakah karena pergaulan atau pola hidup dalam rumah yang berantakan?”

Saya membaca pesan itu berulang kali.

Bukan karena tidak memahami maksudnya, tetapi karena ada detail-detail kecil yang kerap luput dari perhatian. Detail yang justru paling menyakitkan.

Tentang perempuan yang terus-menerus mempertanyakan dirinya sendiri setelah disakiti.

Tentang perempuan yang meminta maaf atas reaksi mereka terhadap luka yang diberikan orang lain.

Tentang perempuan yang diajari untuk mengerti, memahami, memaklumi, dan bertahan; tetapi jarang diajari bahwa dirinya juga berhak merasa marah, terluka, dan berkata, “Cukup.”

Barangkali yang paling menyedihkan bukanlah ketika seseorang berbuat salah lalu enggan meminta maaf. Yang paling menyedihkan adalah ketika korban dibuat percaya bahwa dirinya penyebab dari semua kekacauan itu.

Ia dianggap terlalu sensitif.

Terlalu banyak menuntut.

Terlalu emosional.

Terlalu dramatis.

Lalu perlahan ia mulai meragukan perasaannya sendiri, bahkan meragukan harga dirinya sendiri.

Padahal luka tetaplah luka, meskipun orang lain menolak mengakuinya.

Banyak perempuan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan kepatuhan tanpa ruang bertanya. Mereka hidup dalam rumah yang menganggap laki-laki selalu lebih tahu. Mereka dibesarkan dengan keyakinan bahwa perempuan yang baik adalah perempuan yang diam, mengalah, dan menjaga keutuhan hubungan apa pun harganya.

Mereka hidup dalam ketakutan, tetapi dipuji karena kesetiaannya.

Mereka bertahan dalam ketidakpastian, tetapi disebut perempuan kuat karena tidak pernah meninggalkan.

Mereka menghormati otoritas yang berada di atasnya, meskipun otoritas itu kadang melukai.

Mereka belajar menjadi “kelas kedua” dalam ruang-ruang yang seharusnya memperlakukan mereka sebagai manusia yang setara.

Dan karena itu, banyak perempuan akhirnya terbiasa memeluk penderitaan. Mereka mengira cinta memang harus sesakit itu. Mereka percaya bahwa bertahan adalah bukti ketulusan, meskipun harus kehilangan dirinya sendiri sedikit demi sedikit.

Padahal cinta tidak seharusnya membuat seseorang takut menjadi dirinya sendiri.

Cinta tidak meminta seseorang mengubur suaranya agar hubungan tetap bertahan.

Cinta tidak menjadikan permintaan maaf sebagai tanda kelemahan.

Cinta tidak tumbuh dari manipulasi, ancaman diam, rasa bersalah yang dipaksakan, atau permainan menjadi korban ketika diminta bertanggung jawab.

Kepada perempuan-perempuan yang sedang berada dalam kondisi demikian, ketahuilah: lelahmu adalah sesuatu yang nyata. Tangismu bukan tanda kelemahan. Marahmu bukan dosa. Kebingunganmu bukan bukti bahwa engkau tidak waras.

Engkau hanya terlalu lama diminta bertahan dalam situasi yang tidak sehat.

Tidak semua luka dapat sembuh dalam semalam. Trauma membutuhkan waktu, keberanian, bahkan bantuan dari orang-orang yang tepat untuk dipulihkan. Tetapi perjalanan menuju pulih selalu dimulai dari satu langkah kecil: percaya bahwa dirimu layak diperlakukan dengan hormat.

Engkau tidak dilahirkan untuk menjadi tempat pelampiasan luka orang lain.

Engkau tidak diciptakan untuk terus-menerus mengecilkan diri agar orang lain merasa besar.

Dan engkau tidak harus tinggal di tempat yang terus membuatmu mempertanyakan nilai dirimu sendiri.

Mungkin selama ini dunia terlalu sering memuji perempuan yang bertahan.

Namun sesekali, dunia juga perlu belajar menghormati perempuan yang memilih menyelamatkan dirinya sendiri.

Sebab mencintai orang lain adalah hal yang baik.

Tetapi mencintai diri sendiri hingga berani berkata, “Aku pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini,” adalah bentuk keberanian yang tidak kalah mulia.

***

Tulisan ini bukan ajakan untuk membenci laki-laki, melainkan undangan untuk membangun relasi yang sehat: relasi yang mengenal tanggung jawab, keberanian meminta maaf, kesediaan mendengar, dan penghormatan terhadap martabat satu sama lain. Sebab tidak ada cinta yang layak dipertahankan jika harga yang harus dibayar adalah hilangnya diri sendiri.

Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026

 

Fian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Saat ini menjadi teman belajar di SMPSK Kotagoa Boawae.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (6)

  • DIAN

    Sebagai perempuan pasti saya juga akan bertanya yg sama : laki² jenis apa ini? Apa mereka tidak malu dengan dirinya sendiri? Sumpah, itu sangat memalukan. Tp kenyataannya, ada sosok laki² yang seperti itu, dan cukup banyak.

    Jika saya menempatkan diri dalam posisi sebagai perempuan itu, saya mungkin hanya bisa berdo’a, suatu saat nanti saya bisa lepas dari orang seperti itu. Saya cukup sadar, kalau laki² seperti itu tidak pantas untuk dipertahankan, tapi dalam hati bilang saya sepertinya tidak bisa tanpa dia. Tapi itu hanya tentang waktu. Saya bahkan pernah berpikir jika saya akan bertahan sampai rasa sakit itu tidak akan bisa melukai saya sedikitpun. Ini hanya tentang waktu. Suatu saat nanti, perempuan itu akan merasa bahwa laki² itu tidak ada artinya sama sekali. Bahwa, dia ( perempuan ) bisa hidup lebih bahagia dengan dirinya sendiri dan keluarganya. Dia hanya perlu menunggu dan bertahan sebisa mungkin. Dan, saat itu tiba, perempuan akan mengambil resiko apapun untuk pergi dari hidupnya tanpa sedikitpun penyesalan.

    Balas13 Juni 2026 8:21 pm
    • Mataleza

      Semoga balasan komentar ini dibaca oleh teman teman di luar sana. Banyak belajar dari setiap pengalaman yang diterima.

      Balas17 Juni 2026 11:54 am
  • Rika

    Aku dulu sebelum menikah juga pernah dapat cowo yang sangat sangat dramatis parah, entah dia obses ke aku atau gimana pernah suatu malam dibuat takutt sampai merinding karna dia mondar mandir depan rumahku. Syukur bisa lepas dari dia dan menemukan pasangan yang amat sangat baik sedunia bonus anak laki-laki yang lucu dan menggemaskan wkwkwkkw

    Balas13 Juni 2026 12:15 am
  • Ratna

    Sangat mirip dgn yg saya rasakan kak, Cinta yg dimaksud bukan semata mata hanya dengan pasangan hidup, tetapi dengan keluarga, dan laki laki yg dimaksudkan adalah saudara sendiri. Didalam sebuah rumah yg sebelumnya menjadi tempat ternyaman untuk pulang, justru skrng sudah menjadi sangat asing. Kami saudari yg statusnya sebagai perempuan dipaksa untuk menjadi tulang punggung, dan laki laki hidupnya bebas walaupun sebenarnya sudah berkeluarga. Dan ketika kita saudari sebagai perempuan mulai mengungkapkan isi hati yg sudah tahan terlalu lama, kita dianggap tidak layak untuk berbicara, kita dianggap tidak menghargai mereka yg saudara, dan akhirnya kita perempuan yg tidak punya hak dalam rumah, akhirnya diusir. Disitu perempuan akhirnya memberanikan diri keluar dari rumah, memulai hidup dari nol. Tapi yg lebih sedihnya, orangtua (bapak dan mama) yg usianya sudah tidak sanggup bekerja lagi, dan mereka jadi terdampak juga….mama harus ikut dgn anak nona nya yg tempat tinggal belum jelas, bapaknya juga hidup sendiri hanya mengharapkan keluarga sekitar yg perhatikan. .ada saat saat tertentu perempuan itu merasa sangat tertekan dan bingung harus berbuat apa

    Balas12 Juni 2026 6:32 pm
    • Mataleza

      Ada sesuatu yang begitu menyakitkan jika hal hal baik dari dalam keluarga menjadi sumber masalah. Semoga, yang sedang dialami bisa segera diatasi.

      Balas12 Juni 2026 10:36 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 236
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Kamis Paskah ke-5 – 07 MEI 2026 – Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi Inspirasi: Kis 15:7-21 ; Yohanes 15:9-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kurang baik apa lagi Tuhan kita, ajak kita untuk tinggal dalam kasih-Nya, supaya sukacita kita menjadi penuh. Yah, kasih memang menjadi ukuran sejati kematangan rohani. Kasih […]

  • Proyek Food Estate dalam Nalar The Othering of Nature

    Proyek Food Estate dalam Nalar The Othering of Nature

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Benyamin Chintyano Meo
    • visibility 228
    • 0Komentar

    Oleh: Benyamin Chintyano Meo. Mahasiswa IFTK Ledalero Di tengah kecemasan global terhadap krisis iklim dan ancaman kelangkaan pangan, Indonesia mengambil langkah agresif melalui program Food Estate (Lumbung Pangan Nasional). Kebijakan ini digadang-gadang sebagai strategi hulu-hilir untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penanaman komoditas skala industri seperti padi, singkong, jagung, dan tebu. Namun, di balik narasi […]

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

  • Pau Cubarsí dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

    Pau Cubarsí dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Sepak bola selalu jatuh cinta kepada pencetak gol. Kita mengingat Diego Maradona karena menggiring bola melewati setengah lapangan. Kita mengenang Lionel Messi karena ribuan sentuhan yang membuat hukum gravitasi seolah kehilangan kuasa. Kita memuja Cristiano Ronaldo karena gol-gol yang lahir dari lompatan yang mustahil dilakukan manusia biasa. Jarang sekali kita pulang dari stadion sambil berkata, […]

  • MAXI SENO: SEORANG IMAM SVD YANG JUJUR, TULUS DAN PENUH TELADAN

    MAXI SENO: SEORANG IMAM SVD YANG JUJUR, TULUS DAN PENUH TELADAN

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Aurelio Morghan
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Oleh: Aurelio Morghan, SVD TUAN MAXI DI MATA SAYA Entah kenapa semalam saya tak bisa tidur. Bolak-balik, tutup mata tapi tetap tak bisa nyenyak. Saya sedikit gelisah. Tapi saya pikir ini efek karena saya bekerja lama di depan komputer. Ternyata Sabtu pagi waktu saya bangun, pesan dari beberapa umat Waibalun membuat saya harus menangis di […]

  • Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 284
    • 0Komentar

    Boawae, 2 Juni 2026– Suasana penuh haru dan syukur mewarnai acara pengumuman kelulusan siswa kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan orang tua siswa menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada pihak sekolah atas keberhasilan anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Pertama. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi […]

expand_less