Ketika Pistol Menjadi Properti: Simulakra dan Hiperrealitas dalam Cerpen “Aktor”
- account_circle Bertoldus Karinus Nurak
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Bertoldus Karinus Nurak. Mahasiswa Sastra Indonesia, Sanata Dharma, Yogyakarta
Pistol itu mungkin tidak pernah berisi peluru. Meski begitu, Pak Anton menggigil, Yusi menjatuhkan berkas-berkasnya, dan Aivi gemetar meraih telepon. Rasa takut mereka tidak menunggu kepastian apakah senjata itu asli. Di titik inilah cerpen “Aktor (‘Surprise’ Tengah Hari)” karya Endang Susanti Rustamaji menjadi lebih dari sekadar kisah kantor dengan akhir yang mengejutkan.
Cerita ini berporos pada seorang pengusaha yang yakin anaknya akan menjadi pembunuh. Keyakinan itu tidak lahir dari perbuatan si anak, melainkan dari selembar koran. Ketika Adam akhirnya muncul dengan pistol, tali rafia, dan tuntutan uang dua miliar, ramalan itu seakan terbukti. Lalu seorang sutradara masuk, memuji wajah Adam, dan mengajaknya syuting sinetron laga. Kekerasan tadi ternyata adegan, atau setidaknya dibaca begitu.
Bagi Jean Baudrillard, inilah ciri hiperrealitas: tanda dan citra tidak lagi menirukan kenyataan, melainkan mendahuluinya. Peta lebih dulu ada, lalu wilayah menyesuaikan diri. Dalam dunia seperti itu, pertanyaan tentang mana yang asli perlahan kehilangan gunanya.
Ketakutan yang Dirakit dari Koran
Pak Anton memanggil Aivi, menyodorkan berita pembunuhan, lalu membacakan analisis “pakar psikologi Amerika”: orang yang lewat dari dua puluh lima tahun tanpa pekerjaan cenderung subversif. Ia merangkainya dengan nama-nama legenda kriminal, yaitu Oswald, Chapman, dan Cunanan. Tak satu pun menyangkut Adam. Namun ketika matanya jatuh pada foto Andy de Silva di koran, ia menemukan alis, bibir, bahkan baju kotak-kotak yang “persis” milik anaknya.
Aivi mengingatkan bahwa Miami jauh sekali dari Indonesia. Kemiripan visual tetap menang atas jarak. Adam yang sungguh-sungguh, yang tempat kosnya pun tak diketahui ayahnya, digantikan oleh Adam versi koran. Mimpi buruk Pak Anton, tempat anaknya menodongkan pistol, terasa seperti cuplikan film, dan karena itu terasa lebih nyata daripada percakapan yang tak pernah terjadi di antara mereka.
Kantor sebagai Panggung
Jika koran memproduksi ketakutan, kantor memproduksi citra. Aivi direkrut lewat iklan di internet dan lima stasiun televisi, lalu dalam setengah tahun berganti posisi tiga kali. Pekerjaannya sebenarnya satu: menemani Pak Anton di seminar, golf, fashion show, bahkan kuis televisi yang tak ada kaitannya dengan perusahaan. Yang dijual adalah kehadirannya, bukan keahliannya.
Benda-benda pun bekerja sebagai tanda. Sepatu stiletto bermerek yang disebut “cendera mata” lebih mirip stempel kepemilikan. Press-release yang ditulis Aivi untuk menepis gosip tidak bertugas menjelaskan apa yang terjadi, melainkan menentukan apa yang boleh dipercaya. Baudrillard menyebut ini citra yang menutupi ketiadaan realitas: kita tak pernah tahu apakah ada yang sungguh perlu ditutupi.
Adam dan Naskah yang Sudah Ada
Adam tampak seperti satu-satunya orang yang menolak permainan itu. Ia membagikan jas, jam tangan, dan sepatunya kepada pengamen dan pemulung, lalu berjalan memakai sarung kumal. Tetapi penolakan itu tidak membawanya keluar dari sistem. Ia hanya pindah panggung.
Penyanderaan di kantor memakai resep yang dikenal siapa pun yang pernah menonton film aksi: pistol, tali rafia, mulut disumpal kain, tebusan tunai. Sesudahnya ia menaikkan kaki ke meja dan berpindah-pindah saluran televisi. Ia pelaku sekaligus penonton. Adam tentu menyimpan dendam, karena ia menuduh ayahnya membunuh ibunya, dan cerpen ini sengaja tak memberi tahu siapa yang benar. Tetapi luka itu tak punya bahasa lain selain bahasa sinema. Ketika semua pola kekerasan sudah dibakukan oleh tayangan, kemarahan yang tulus pun harus meminjam kostum.
Sutradara di Ambang Pintu
Puncaknya adalah kedatangan sang sutradara. Ia minta maaf karena mengganggu “acara Anda menonton TV”, mencocokkan wajah Adam dengan foto di tangannya, lalu mengaku sudah membaca surat lamarannya. Dua orang terikat di kursi tak membuatnya terkejut, seolah sandera hanyalah bagian lazim dari proses seleksi.
Yang menarik, tak ada yang berubah. Pistol, wajah, dan amarah yang sama, yang semenit sebelumnya dibaca sebagai ancaman, kini dibaca sebagai bakat. Hanya bingkainya yang bergeser. Pak Anton dan Yusi, yang masih terikat tali rafia, pelan-pelan berubah dari korban menjadi figuran dalam film yang tak pernah mereka bintangi.
Tidak Ada Luar
“Aktor” akhirnya menolak memberi pijakan di luar simulasi. Pemberontakan Adam berakhir sebagai kontrak enam puluh episode. Ketakutan Pak Anton, yang lahir dari koran, ditutup oleh seorang sutradara. Dan kita, para pembaca, tak pernah diberi tahu apakah pistol itu asli. Mungkin memang itu pesannya: di dunia yang dibentuk tanda, keaslian tak lagi ditentukan oleh benda, melainkan oleh siapa yang memegang kamera.
- Penulis: Bertoldus Karinus Nurak
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar