Breaking News
light_mode
Trending Tags

Hutan Gambut Hangus Terbakar

  • account_circle Maria Nopianti
  • calendar_month 20 jam yang lalu
  • visibility 25
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Maria Nopianti

Aroma sangit dan Siklus Rutin Kemarau

Bagi sebagian orang perubahan musim ditandai dengan angin muson timur yang kering, curah hujan yang rendah bahkan tidak ada hujan sama sekali, serta cuaca yang lebih panas. Namun bagi kami masyarakat Kalimantan, kemarau yang panjang menjadi penanda tersendiri yang telah tertanam kuat dalam ingatan kami “aroma sangit kayu yang terbakar dan pekatnya kabut asap”. Kebakaran hutan di kalimantan terjadi tidak hanya sekali dua kali saja, dari saya kecil hingga sekarang kebakaran hutan di kalimantan terjadi hampir setiap tahun. Peristiwa bencana ini secara bertahap membentuk cara pandang kita terhadap lingkungan, menciptakan memori traumatik yang terus berulang setiap kali udara mulai terasa hangat dan berdebu.

Kearifan Adat Dayak dan Rentes yang Dituduh

Kebakaran hutan terjadi disaat musim kemarau, dimana bersamaan dengan masyarakat adat membuka lahan untuk berladang yang dimana mereka melakukan pembakaran lahan secara terkendali menggunakan kearifan lokal seperti membuat sekat bakar atau parit batas api dalam bahasa dayak simpang kualan disebut “rentes” agar api tidak meluas. Tradisi berladang ini sejatinya dipandu oleh aturan adat yang sangat ketat, norma dan keberlanjutan lingkungan, serta rasa hormat yang mendalam terhadap tanah warisan leluhur agar keseimbangan alam tetap terjaga.

Fenomena kebakaran hutan di kalimantan telah menjadi bagian dari ritme kehidupan yang berulang atau sebuah siklus tahunan yang telah hadir sejak saya kecil hingga hari ini. Jumlah hutan yang terbakar tidak sedikit bahkan sampai ribuan hektar hutan dan lahan yang terbakar. Saat kebakaran hutan dan lahan terjadi yang disalahkan atas bencana ini pasti masyarakat adat, karena adanya narasi yang menyamakan tradisi berladang dengan api yang dilakukan masyarakat adat secara turun-temurun dengan kebakaran berskala besar. Padahal praktek membuka lahan dengan cara membakar secara terbatas dan terkontrol merupakan bagian dari kearifan lokal serta identitas kultural masyarakat adat dayak. Namun, aktivitas ini kerap disamakan atau dijadikan kambing hitam oleh pihak luar untuk mengalihkan perhatian dari pembukaan lahan skala luas secara ilegal oleh koperasi maupun koperasi besar yang mengeksploitasi sumber daya alam demi keuntungan sepihak tanpa memperdulikan ekosistem setempat.

Memori Kolektif dan Masa Kecil di Bawah Jelaga

Secara perlahan, peristiwa yang terjadi berulang kali ini membentuk apa yang disebut dengan memori kolektif. Ingatan tentang bencana ini tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah ataupun laporan statistik saja, melainkan tertanam dan hidup dalam ingatan bersama masyarakat yang mendiami pulau kalimantan. Memori kolektif ini diteruskan dari mulut ke mutu, mengendap dalam kesadaran publik sebagai bentuk trauma sosial yang sulit untuk dihilangkan. Dari generasi ke generasi, anak-anak tumbuh dengan kebiasaan yang sama “Melihat matahari yang awalnya kuning cerah perlahan berubah menjadi warna jingga, langit yang awalnya membiru perlahan berubah menjadi abu-abu buram bahkan gelap gulita karena saking tebalnya kabut asap yang melanda. Pengalam masa kecil di bawah langit yang tertutup jelaga ini menegaskan betapa krisisnya ekologis yang telah merenggut kebebasan anak-anak untuk menikmati udara segar.

Rusaknya Hutan Gambut dan Kerentanan Permukiman

Dampak dari kebakaran hutan di kalimantan sangatlah masif, ribuan hutan dan lahan gambut yang seharusnya berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem murni dan penyerap karbon dunia hangus terbakar begitu saja dalam hitungan hari. Api yang melahap hutan gambut tidak hanya merusak keanekaragaman hayati yang ada di hutan Kalimantan seperti flora dan fauna, tapi juga merayap ke dekat pemukiman warga. Ketakutan akan api yang mendekati permukiman bukan lagi bayangan abstrak melainkan ancaman nyata yang dirasakan masyarakat kalimantan.

Ancaman Kesehatan dan Solidaritas Relawan Simpang Hulu

Setiap kali musim kemarau tiba, kecemasan kolektif ini kembali muncul dalam ingatan mereka tentang bagaimana kekeringan yang melanda, seperti susahnya mendapatkan air bersih dan dampak dari kebakaran hutan terhadap kesehatan pernapasan, karena asap tebal dari kebakaran hutan mengandung partikel yang berbahaya seperti PM2.5 serta gas beracun yang memicu infeksi saluran pernapasan akut ISPA, serta paparan asap juga menyebabkan iritasi pada mata, hidung, hingga tenggorokan. Di Tengah krisis kesehatan dan kekeringan ini, ketahanan sosial masyarakat kembali diuji. Di kecamatan simpang hulu, aksentuasi solidaritas terlihat nyata melalui aksi relawan simpang hulu yang bergerak di garis depan. Para relawan ini turun tangan secara swadaya membantu memadamkan kobaran api yang mengancam kawasan permukiman, mendistribusikan air bersih ke desa-desa yang terdampak kekeringan, serta menyalurkan bantuan logistik untuk meredam beban masyarakat yang terisolasi asap kebakaran hutan.

Hilangnya Rasa Hidup dan Sejarah Sosial

Hutan gambut yang terbakar bukan sekedar kerusakan lingkungan hidup yang bisa kita lihat secara fisik semata saja, tapi melambangkan hilangnya ruang hidup dan memudarnya lanskap alam yang dulunya menjadi identitas tempat tinggal. Lahan yang dulunya hijau kini berganti menjadi hamparan arang hitam yang menyisakan trauma visual. Melalui pengulangan yang terjadi setiap tahunnya, serta perjuangan masyarakat adat dan relawan dalam bertahan hidup, kebakaran hutan dan lahan di kalimantan telah bertransformasi dari sekedar fenomena alam menjadi bagian dari sejarah sosial masyarakat.

  • Penulis: Maria Nopianti
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 322
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Selasa Paskah ke-6 – 12 Mei 2026 – Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur Inspirasi: Kis 16:22-34, Yoh 16:5-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kali ini Paulus dan Silas menunjukkan kualitas sebagai orang beriman dan pengikut Kristus. Keduanya di penjara tetapi hati mereka selalu merdeka dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Anggota tubuh […]

  • Memori Kolektif Gempa Flores 2026: Siapa yang Dicatat dan Siapa yang Diingat?

    Memori Kolektif Gempa Flores 2026: Siapa yang Dicatat dan Siapa yang Diingat?

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Novita Din
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Oleh: Novita Din, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma. Pendahuluan Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB, gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut juga memicu peringatan dini […]

  • Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    Melihat Manusia Berbahagia Tanpa Kepala

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 300
    • 2Komentar

    “Sekarang, kepalanya sudah pergi.” Apakah masuk akal jika manusia hidup bahagia tanpa kepala? Sebuah pertanyaan menohok yang tiba-tiba melonjak dari kepala ini ketika membaca sebuah judul novel, Cara Berbahagia Tanpa Kepala (selanjutnya: CBTK). Ini adalah sesuatu yang absurd, yang hidup dalam imajinasi. Tetapi hal ini perlu dan menarik untuk ditelisik lebih jauh. “Sebentar lagi, Sempati […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Deru Motor Pagi, Ada Lelaki yang Menitipkan Mimpi

    Sudut Pandang: Di Balik Deru Motor Pagi, Ada Lelaki yang Menitipkan Mimpi

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Linus Cahya Firmandika Damaris
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Oleh: Linus Cahya Firmandika Damaris Catatan tentang seorang guru yang pulang sebagai ayah Setiap pagi, sebelum rumah mulai ramai dengan aktivitas, biasanya saya sudah mendengar suara motor ayah. Suara itu sudah menjadi bagian dari keseharian saya sejak kecil. Setelah bersiap, ayah akan berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya. Di sekolah, ia menjalankan tugasnya sebagai seorang […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.544
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

  • Sudut Pandang: Melanjutkan Langkah di Bawah Bayang-Bayang Cinta Mereka photo_camera 2

    Sudut Pandang: Melanjutkan Langkah di Bawah Bayang-Bayang Cinta Mereka

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Maria Sonia Kari Langobelen
    • visibility 100
    • 3Komentar

    Pagi selalu datang seperti biasa. Matahari perlahan masuk melalui celah jendela, mulai terdengar suara yang tidak asing bagiku yang begitu menggema memenuhi kamarku. Suara itu selalu menjadi alarm yang selalu memastikan anak-anaknya tidak terlambat ke sekolah. Di sebuah desa yang terpencil, di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, hiduplah sepasang suami istri yang yang kehidupannya sangat […]

expand_less