Breaking News
light_mode
Trending Tags

Memori Kolektif Gempa Flores 2026: Siapa yang Dicatat dan Siapa yang Diingat?

  • account_circle Novita Din
  • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
  • visibility 44
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Novita Din, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma.

Pendahuluan

Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB, gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut juga memicu peringatan dini tsunami yang kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB. Peristiwa ini bukan hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan pengalaman yang akan diingat oleh masyarakat dalam waktu yang panjang.

Setelah bencana terjadi, informasi mengenai jumlah korban, kerusakan rumah, pengungsian, dan gempa susulan menjadi bagian penting dalam pemberitaan. Namun, di balik data tersebut, terdapat pengalaman manusia yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui angka. Bagaimana keluarga mengingat anggota mereka yang meninggal? Bagaimana warga memaknai kehilangan tempat tinggal? Dan apakah pengalaman mereka akan tetap diingat ketika pemberitaan mengenai bencana mulai berkurang?

Esai ini berpendapat bahwa memori kolektif gempa Flores tidak cukup dibangun melalui pencatatan resmi. Ingatan tentang bencana juga perlu mempertimbangkan pengalaman penyintas, terutama kelompok yang rentan dan keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Hal ini penting karena cara bencana dicatat akan memengaruhi cara masyarakat memahami kehilangan, menilai keadilan penanganan, dan mewariskan pengetahuan keselamatan kepada generasi berikutnya.

Negara Mengingat Bencana melalui Data

Dalam penanganan bencana, data resmi memiliki peran penting untuk menentukan kebutuhan bantuan, mengidentifikasi kerusakan, dan merencanakan pemulihan. BMKG mencatat gempa utama bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Sementara itu, pada 7 September 2026, BNPB melaporkan bahwa 51.591 rumah telah melalui proses verifikasi dan validasi dari 102.384 unit rumah yang menjadi sasaran pendataan awal di tujuh kabupaten terdampak. Angka tersebut menunjukkan bahwa pendataan kerusakan masih berlangsung dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Data resmi tidak hanya berfungsi sebagai informasi, tetapi juga menjadi dasar pengambilan keputusan. Rumah yang masuk kategori rusak berat, misalnya, dapat menjadi dasar pemberian bantuan pembangunan kembali. Sebaliknya, rumah yang belum terverifikasi berpotensi membuat pemiliknya harus menunggu kepastian bantuan. Karena itu, ketepatan dan keterbukaan pendataan sangat menentukan proses pemulihan masyarakat.

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika korban meninggal dibedakan berdasarkan penyebab kematiannya. Dalam data kebencanaan, pembedaan antara kematian langsung akibat gempa dan kematian tidak langsung dapat diperlukan untuk kepentingan analisis. Namun, kategori administratif tersebut tidak selalu menggambarkan keseluruhan pengalaman keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.

Bagi keluarga yang kehilangan orang tua, pasangan, atau anak ketika berada dalam situasi pengungsian, pengalaman kehilangan tidak hanya berkaitan dengan klasifikasi penyebab kematian. Mereka juga menghadapi perubahan kehidupan, kehilangan dukungan keluarga, dan kemungkinan kesulitan ekonomi setelah bencana. Oleh karena itu, data resmi perlu dipahami sebagai alat untuk menjelaskan kejadian, bukan sebagai satu-satunya cara untuk memahami penderitaan masyarakat.

Di sinilah muncul pertanyaan kritis: apakah sistem pendataan sudah cukup untuk menangkap kebutuhan keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, termasuk mereka yang kematiannya tidak dikategorikan sebagai akibat langsung gempa? Pertanyaan ini tidak berarti bahwa klasifikasi resmi harus dihapus. Sebaliknya, klasifikasi tersebut perlu disertai penjelasan yang transparan serta mekanisme bantuan yang mempertimbangkan kebutuhan nyata masyarakat terdampak.

Ingatan Warga: Ketakutan dan Kehilangan dalam Kehidupan Sehari-hari

Berbeda dengan laporan resmi yang menggunakan angka dan kategori, ingatan warga terbentuk melalui pengalaman sehari-hari. Gempa terjadi ketika sebagian besar masyarakat masih tidur. BMKG melaporkan bahwa guncangan dirasakan kuat di sejumlah wilayah, termasuk Mbay dan Aesesa di Kabupaten Nagekeo. Peringatan dini tsunami juga mendorong masyarakat di wilayah yang terancam untuk menjauhi pantai dan melakukan evakuasi sesuai arahan yang berlaku.

Dalam keadaan seperti itu, pengalaman warga tidak hanya berkaitan dengan kuatnya guncangan, tetapi juga dengan keputusan yang harus diambil dalam waktu singkat. Mereka perlu menyelamatkan diri, mencari anggota keluarga, dan menentukan tempat yang lebih aman. Pengalaman tersebut dapat membentuk ingatan bersama mengenai bahaya, keselamatan, dan pentingnya kesiapsiagaan.

Bagian yang harus dilengkapi dengan wawancara nyata: Ceritakan pengalaman seorang warga ketika gempa terjadi. Tanyakan apa yang pertama kali dilakukan, siapa yang dicari, ke mana mereka menyelamatkan diri, dan apa yang paling diingat hingga sekarang. Setelah memperoleh jawaban, masukkan satu atau dua kalimat kutipan langsung beserta nama atau identitas narasumber yang disetujui, lokasi wawancara, dan tanggal wawancara.

Pengalaman juga berlanjut setelah warga meninggalkan rumah. Pengungsian menjadi ruang tempat masyarakat menghadapi persoalan baru, mulai dari keterbatasan tempat tinggal hingga kebutuhan makanan, air bersih, kesehatan, dan pendidikan anak. Dalam situasi tersebut, warga tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga membangun hubungan sosial dengan saling membantu dan berbagi kebutuhan.

Pada 24 Agustus 2026, BNPB melaporkan bahwa 84 kepala keluarga atau 237 jiwa penyintas yang sebelumnya mengungsi di GOR Samador, Maumere, mulai kembali ke rumah masing-masing setelah kondisi rumah dipastikan aman untuk ditempati. Informasi ini menunjukkan bahwa proses pemulihan berlangsung secara bertahap dan tidak dialami secara seragam oleh semua warga.

Namun, angka kepulangan pengungsi belum cukup untuk menjelaskan apakah kehidupan mereka telah kembali seperti sebelumnya. Kembali ke rumah tidak selalu berarti kembali pada keadaan yang sama. Sebagian warga mungkin masih menghadapi kerusakan tempat tinggal, kehilangan sumber pendapatan, atau rasa takut ketika merasakan getaran.

Karena itu, pengalaman penyintas perlu didokumentasikan agar pemulihan tidak hanya dinilai dari jumlah warga yang meninggalkan pengungsian, tetapi juga dari kemampuan mereka membangun kembali kehidupan.

Gempa Susulan dan Ingatan yang Belum Selesai

Gempa Flores juga memperlihatkan bahwa bencana tidak selalu berakhir ketika guncangan utama berhenti. Pada 8 September 2026 pukul 11.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 13.591 aktivitas gempa susulan sejak gempa utama pada 15 Agustus, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Data tersebut memperlihatkan panjangnya rangkaian aktivitas kegempaan setelah peristiwa utama.

Bagi masyarakat, situasi ini dapat membuat rasa aman sulit dipulihkan. Rumah yang masih berdiri belum tentu langsung terasa aman untuk ditempati. Aktivitas sehari-hari pun dapat dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap kemungkinan guncangan berikutnya. Meskipun jumlah gempa susulan merupakan informasi teknis, dampaknya terhadap kehidupan warga perlu dipahami melalui pengalaman mereka sendiri.

Di sinilah pentingnya kesaksian penyintas. Data BMKG dapat menjelaskan frekuensi dan kekuatan gempa susulan, tetapi tidak dapat menggantikan cerita warga tentang bagaimana mereka tidur, bekerja, atau merawat anak di tengah ketidakpastian.

Bagian yang perlu dilengkapi dengan wawancara: Tanyakan kepada penyintas apakah mereka masih takut kembali ke rumah setelah mengalami gempa susulan, bagaimana mereka menjalani aktivitas sehari-hari, dan apa yang membantu mereka merasa aman. Jangan menyimpulkan bahwa semua warga mengalami ketakutan yang sama. Gunakan jawaban narasumber sebagai dasar untuk menjelaskan pengalaman yang benar-benar mereka alami.

Ingatan tentang gempa dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan satu tanggal, yaitu 15 Agustus 2026. Ingatan tersebut dapat terus terbentuk selama masyarakat menghadapi dampak kerusakan, proses pemulihan, dan perubahan kehidupan setelah bencana.

Pemulihan Fisik dan Pewarisan Ingatan

Pemerintah telah menjalankan berbagai langkah pemulihan bagi masyarakat terdampak. Pada 1 Oktober 2026, Kepala BNPB melakukan kunjungan ke Flores untuk meninjau penyediaan hunian sementara dan perkembangan pemulihan. BNPB juga melaporkan pembangunan hunian sementara di tujuh kabupaten terdampak. Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana berlanjut setelah masa tanggap darurat.

Meskipun demikian, pembangunan kembali rumah dan fasilitas umum tidak otomatis menjamin bahwa pengalaman warga akan menjadi bagian dari ingatan bersama. Bangunan dapat diperbaiki, jalan dapat dibuka kembali, dan kegiatan ekonomi dapat berangsur pulih. Namun, pengalaman kehilangan dan pengetahuan yang diperoleh masyarakat selama bencana memerlukan upaya tersendiri agar tidak hilang begitu saja.

Ingatan tersebut dapat diwariskan melalui cerita keluarga, dokumentasi kesaksian, kegiatan pendidikan kebencanaan, arsip komunitas, atau peringatan yang diselenggarakan masyarakat. Tidak semua upaya harus berbentuk monumen. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa pengalaman penyintas terdokumentasi secara bertanggung jawab dan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Untuk menentukan apakah pemerintah daerah atau komunitas telah merencanakan monumen maupun peringatan khusus gempa Flores 2026, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap pengumuman resmi dan keterangan pihak terkait. Tanpa bukti tersebut, tidak tepat menyatakan bahwa rencana semacam itu tidak ada.

Bagi masyarakat Flores, pewarisan ingatan dapat menjadi bagian dari pendidikan keselamatan. Anak-anak dan generasi muda perlu mengetahui cara menghadapi gempa, memahami peringatan tsunami, mengenali jalur evakuasi, dan memeriksa informasi dari sumber resmi. Dengan demikian, ingatan tidak berhenti sebagai cerita tentang penderitaan masa lalu, tetapi menjadi pengetahuan yang dapat mengurangi risiko pada masa depan.

Siapa yang Belum Terdengar?

Salah satu persoalan dalam pemberitaan bencana adalah perbedaan antara pihak yang paling sering memberikan informasi dan pihak yang paling banyak mengalami dampak. Lembaga pemerintah dan lembaga teknis memiliki akses terhadap data serta kewenangan untuk menjelaskan perkembangan penanganan. Sementara itu, pengalaman warga sering kali muncul melalui laporan singkat tentang korban, kerusakan, atau kebutuhan bantuan.

Kelompok seperti perempuan yang merawat keluarga di pengungsian, lansia, anak-anak, penyandang disabilitas, serta warga di wilayah yang sulit dijangkau perlu mendapat perhatian dalam dokumentasi bencana. Kebutuhan mereka tidak selalu sama, sehingga pengalaman mereka tidak seharusnya diwakili oleh satu gambaran umum tentang penyintas.

Namun, keberadaan kelompok-kelompok tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa mereka tidak diberi ruang dalam pemberitaan gempa Flores. Untuk menunjukkan adanya ketimpangan suara, diperlukan pemeriksaan terhadap berita yang diterbitkan media, misalnya dengan membandingkan jumlah dan jenis sumber yang dikutip: pejabat, tenaga kesehatan, relawan, serta warga terdampak.

Jika pemberitaan lebih banyak berisi keterangan pejabat daripada kesaksian penyintas, hal itu dapat menjadi dasar untuk mempertanyakan keseimbangan narasi media. Sebaliknya, jika media telah menyediakan ruang bagi warga, analisis perlu mengakui temuan tersebut dan menilai apakah pengalaman mereka disampaikan secara utuh atau hanya digunakan sebagai ilustrasi penderitaan.

Dengan pendekatan ini, kritik terhadap pemberitaan tidak sekadar menjadi dugaan. Kritik tersebut dapat dibangun berdasarkan bukti dan diarahkan pada upaya memperluas ruang bagi pengalaman masyarakat.

Kesimpulan

Gempa Flores 2026 menunjukkan bahwa bencana memiliki dua sisi yang saling berkaitan. Di satu sisi, data resmi dibutuhkan untuk menjelaskan skala kejadian, menentukan kebutuhan bantuan, dan mengarahkan pemulihan. Di sisi lain, pengalaman warga diperlukan untuk memahami bagaimana bencana mengubah kehidupan, hubungan keluarga, dan rasa aman masyarakat.

Pembedaan antara korban meninggal secara langsung dan tidak langsung memperlihatkan pentingnya kategori administratif, tetapi juga mengingatkan bahwa pengalaman kehilangan tidak selalu dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kategori tersebut. Karena itu, pencatatan resmi perlu dilengkapi dengan dokumentasi pengalaman penyintas dan penjelasan yang transparan mengenai dasar penetapan data serta bantuan.

Memori kolektif tidak terbentuk hanya karena suatu peristiwa tercatat dalam laporan pemerintah atau diberitakan media. Ingatan bersama terbentuk ketika pengalaman masyarakat didengar, didokumentasikan, dan diwariskan secara bertanggung jawab. Kesaksian warga, termasuk mereka yang jarang mendapat ruang dalam pemberitaan, menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang gempa Flores bukan hanya berapa banyak rumah yang rusak atau berapa banyak korban yang tercatat. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah pemulihan mampu menjangkau kebutuhan masyarakat secara adil dan apakah pengalaman mereka akan tetap diingat setelah perhatian publik beralih. Mengingat bencana berarti tidak hanya mengenang apa yang telah terjadi, tetapi juga memastikan bahwa pengalaman tersebut menjadi dasar untuk membangun masyarakat yang lebih siap, aman, dan peduli terhadap sesama.

Sumber

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 15 Agustus 2026. Gempa Bumi M7,7 – 30 km Timur Laut Mbay, Nagekeo, NTT. https://www.bmkg.go.id/gempabumi/berpotensi-tsunami/20260815073130

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 8 September 2026. Gempa Bumi M5,2 di 60 km Barat Laut Manggarai Timur, NTT.

https://www.bmkg.go.id/gempabumi/20260908114256

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 24 Agustus 2026. Sebanyak 84 KK Pengungsi GOR Samador Kembali ke Rumah Hari Ini, BNPB Percepat Pemulihan Hunian Penyintas Gempa M7,7 Flores.

https://www.bnpb.go.id/berita/sebanyak-84-kk-pengungsi-gor-samador-kembali-ke-rumah-hari-ini-bnpb-percepat-pemulihan-hunian-penyintas-gempa-m77-flores

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 7 September 2026. Sebanyak 51.591 Rumah Pascagempa M7,7 Flores Telah Diverifikasi.

https://www.bnpb.go.id/berita/sebanyak-51591-rumah-pascagempa-m77-flores-telah-diverifikasi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 2 Oktober 2026. Kepala BNPB Pastikan Percepatan Realisasi Bantuan Stimulan Pascabencana untuk NTT. https://ppid.bnpb.go.id/berita/kepala-bnpb-pastikan-percepatan-realisasi-bantuan-stimulan-pascabencana-untuk-ntt-F3px

 

  • Penulis: Novita Din
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    Ini Puisi Apa? Toko Kecantikan dan Puisi-Puisi Lainnya

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 265
    • 2Komentar

    ini puisi apa?  ibu bangun tidur. bapak ke sawah. adik menangis cari bapak. saya cari batang pisang. pagi, selalu sibuk di setiap detik kami. ada rindu-dendam yang tak tuntas pada bunga mimpi. rumah yang lain, ayam-ayam berebut makanan. adik ikut tertawa. saya sibuk mengeja suara babi kelaparan. lalu, lewatlah segerombolan masa lalu di kepala saya. […]

  • Siklon Tropis Seroja melalui Kesaksian Warga Sumba Timur

    Siklon Tropis Seroja melalui Kesaksian Warga Sumba Timur

    • calendar_month 21 jam yang lalu
    • account_circle Monica Cinderela
    • visibility 11
    • 0Komentar

    Oleh: Monica Cinderela   Badai yang Tidak Merenggut Nyawa Siklon Tropis Seroja menghantam Nusa Tenggara Timur pada 4–5 April 2021. Di Sumba Timur, badai itu tidak merenggut satu pun nyawa, tetapi ia merenggut hampir segala hal lain: rumah, kebun, jalan, terang, dan rasa aman. Bupati Sumba Timur saat itu, Khristofel Praing, menyebut sedikitnya 5.000 rumah […]

  • Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 262
    • 0Komentar

    Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan. Manusia […]

  • Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 560
    • 6Komentar

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus Inspirasi: Kis 6:1-7; I Ptr 2:4-9 ; Yohanes 14:1-12 Malu bertanya sesat di jalan, Rajin bertanya disangka wartawan // Selamat wahai umat beriman. Mari beri senyuman yang menawan. Sakramen Pembaptisan sudah buat kita sejalan dan searah dengan Tuhan. Tor monitor penikmat […]

  • Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang menjunjung tinggi spirit fair play. Laga krusial semifinal Liga 4 Nasional yang mempertemukan Pesik Kuningan dan PSN Ngada di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (8/7), seharusnya menjadi panggung pembuktian taktik dan talenta. Namun sayang seribu sayang, sorotan utama justru bergeser dari aksi […]

  • Sudut Pandang: Di Antara Cinta dan Perjuangan, Kisah Pierre Tandean

    Sudut Pandang: Di Antara Cinta dan Perjuangan, Kisah Pierre Tandean

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Patricius Aldi
    • visibility 201
    • 2Komentar

    Oleh: Patricius Aldi, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma   “Cinta yang sudah sampai pada tahap paling dekat dengan bahagia, hanya untuk direnggut oleh satu malam kelam dalam sejarah bangsa.” Rencana hidup terkadang tidak sesuai ekspetasi kita. Begitu pula dengan pernikahan, ada yang pernikahannya batal karena hati yang berubah, dan ada yang batal karena maut datang memisahkan seperti kisah Pierre Tendean dan tunangannya. Pierre Andries Tendean lahir di Jakarta, 21 Februari 1939, putra seorang dokter berdarah […]

expand_less