Sudut Pandang: Dekonstruksi Makna Kesunyian dan Keluarga dalam Cerpen Jendela Tua Karya Iyut Fitra
- account_circle Agustina Dwi Purwaningsih.
- calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Agustina Dwi Purwaningsih. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma
Pendahuluan
Cerpen Jendela Tua karya Iyut Fitra menggambarkan kehidupan seorang ibu tua yang mengalami kesepian setelah suaminya meninggal dan anak-anaknya memilih tinggal di rantau. Ibu tua tersebut tinggal di rumah gadang yang menyimpan banyak kenangan tentang keluarganya. Ia berharap kepulangan anak-anak, menantu, dan cucunya saat Lebaran dapat mengakhiri kesunyiannya. Namun, harapan itu justru menghadirkan kekecewaan karena keluarganya telah mengalami perubahan dalam bahasa, sikap, dan kebiasaan. Cerpen ini dapat dikaji menggunakan teori dekonstruksi Jacques Derrida untuk membongkar makna yang dianggap tetap dan memperlihatkan pertentangan di dalam teks. Melalui pendekatan ini, kesunyian, kebahagiaan, rumah, dan keluarga tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang memiliki makna tunggal.
Menurut materi teori dekonstruksi Derrida, dekonstruksi merupakan upaya membongkar sistem pemikiran yang dianggap stabil dan mutlak. Derrida memandang bahwa bahasa memiliki makna yang tidak sepenuhnya tetap karena makna terbentuk melalui hubungan dan perbedaan dengan tanda-tanda lain. Oleh karena itu, sebuah teks dapat mengandung kontradiksi yang membuat maknanya terbuka terhadap berbagai penafsiran. Dalam cerpen Jendela Tua, pertentangan tersebut terlihat melalui harapan ibu tua terhadap keluarganya yang berlawanan dengan kenyataan ketika mereka benar-benar pulang.
Pembahasan
Pertentangan pertama terdapat pada makna keluarga sebagai sumber kebahagiaan. Secara umum, keluarga dipandang sebagai tempat memperoleh kasih sayang, kenyamanan, dan kebersamaan. Pandangan tersebut terlihat dalam harapan ibu tua yang percaya bahwa kepulangan anak-anaknya akan menghilangkan kesunyian. Ia membayangkan bahwa rumahnya akan kembali ramai dan kerinduannya akan terobati. Namun, anggapan tersebut justru dibongkar ketika anak-anaknya datang. Ibu tua tidak menemukan kebahagiaan yang diharapkannya, melainkan perasaan asing dan terluka. Dalam teks disebutkan bahwa yang ditemukannya adalah “sebuah siksaan baru yang bernama keasingan”. Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa kehadiran keluarga tidak selalu menghasilkan kedekatan emosional. Keluarga yang secara fisik hadir justru dapat terasa jauh ketika nilai, kebiasaan, dan cara pandangnya tidak lagi sejalan.
Pertentangan kedua muncul dalam oposisi antara rumah gadang dan rantau. Rumah gadang digambarkan sebagai simbol kekokohan, warisan, dan kehidupan keluarga di kampung, sedangkan rantau menjadi ruang yang menawarkan kehidupan baru bagi anak-anak ibu tua. Pada awalnya, rumah gadang dianggap sebagai tempat yang menyimpan kebahagiaan dan kenangan masa lalu. Akan tetapi, rumah yang luas dan memiliki kekayaan tersebut tidak mampu menghilangkan kesepian penghuninya. Hal ini terlihat ketika ibu tua mempertanyakan makna rumah gadang yang megah, tanah, sawah, dan tanaman berlimpah jika jiwanya tetap larut dalam kesunyian. Sebaliknya, rantau yang dianggap menjauhkan anak-anak dari kampung ternyata juga menjadi tempat mereka membangun kehidupan sendiri. Dekonstruksi menunjukkan bahwa rumah tidak selalu berarti kehangatan, sebagaimana rantau tidak selalu berarti keterasingan. Keduanya memiliki makna yang berubah sesuai pengalaman dan hubungan antarmanusia.
Pertentangan berikutnya terdapat pada oposisi antara masa lalu dan masa kini. Masa lalu dalam ingatan ibu tua dipenuhi kebahagiaan ketika ia mengajak anak-anaknya ke sawah, bermain di sungai, menangkap capung, dan makan bersama. Kenangan tersebut menjadi gambaran keluarga yang dekat dan harmonis. Sebaliknya, masa kini memperlihatkan hubungan yang renggang karena anak-anak telah terbiasa dengan kehidupan kota. Ibu tua berharap masa lalu dapat terulang melalui kepulangan mereka, tetapi harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Dekonstruksi memperlihatkan bahwa masa lalu tidak dapat dianggap sebagai gambaran kebahagiaan yang sepenuhnya utuh, sebab kenangan itu terbentuk dari sudut pandang ibu tua. Perubahan anak-anak menunjukkan bahwa waktu tidak hanya mengubah keadaan, tetapi juga mengubah cara manusia memahami keluarga dan rumah.
Selain itu, cerpen ini membongkar oposisi antara kehadiran dan ketidakhadiran. Pada awal cerita, ketidakhadiran anak-anak menjadi penyebab utama kesunyian ibu tua. Ia meyakini bahwa kehadiran mereka akan menghilangkan kesepian. Akan tetapi, ketika anak-anak pulang, kesunyian tersebut tidak benar-benar lenyap. Mereka memang hadir secara fisik, tetapi kedekatan emosional yang diharapkan tidak terwujud. Sebaliknya, Upik, anak tetangga yang masih duduk di kelas enam sekolah dasar, justru menjadi sosok yang menemani keseharian ibu tua. Hal ini memperlihatkan bahwa kehadiran tidak selalu menjamin kedekatan, sementara seseorang yang bukan anggota keluarga inti dapat memberikan bentuk kebersamaan yang berarti. Dengan demikian, makna keluarga tidak hanya ditentukan oleh hubungan darah, tetapi juga oleh perhatian dan kehadiran emosional.
Pada bagian akhir, ibu tua menyatakan, “Pada akhirnya kita memang tak akan dapat mengelak dari kesendirian. Rindu hanyalah sebatas keinginan.” Pernyataan tersebut seolah-olah menjadi kesimpulan bahwa kesendirian merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Namun, melalui dekonstruksi, pernyataan itu tidak harus dipahami sebagai kebenaran mutlak. Kesendirian dalam cerpen dapat dibaca sebagai akibat dari perubahan hubungan, perbedaan pengalaman, dan harapan yang tidak terpenuhi. Sikap ibu tua yang kembali menatap Upik setelah menangis juga memperlihatkan bahwa kehidupan tidak sepenuhnya tertutup oleh kesedihan. Masih terdapat kemungkinan hubungan dan perhatian di luar keluarga yang selama ini ia rindukan.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis tersebut, cerpen Jendela Tua memperlihatkan bahwa makna keluarga, rumah, kebahagiaan, dan kesendirian tidak bersifat tunggal atau tetap. Hal yang dianggap sebagai sumber kebahagiaan dapat berubah menjadi sumber luka, sedangkan sesuatu yang dianggap sebagai penyebab kesepian belum tentu sepenuhnya menjelaskan pengalaman seseorang. Melalui teori dekonstruksi Derrida, cerpen ini mengajak pembaca mempertanyakan anggapan umum tentang keluarga dan kebersamaan. Pada akhirnya, kesunyian ibu tua bukan sekadar akibat anak-anak yang pergi, melainkan juga akibat perubahan yang membuat hubungan mereka tidak lagi memiliki makna yang sama.
- Penulis: Agustina Dwi Purwaningsih.
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar