Sudut Pandang: Ketika Perempuan Jawa Menolak Nrima: Dari Kamar Babu Pariyem ke Dagangan Rokok Rara Mendut
- account_circle Sanggi Na
- calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Sanggi Na, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma.
Pernahkah Anda membayangkan apa yang akan terjadi jika Pariyem dan Rara Mendut duduk bersama di satu meja warung kopi?
Pariyem, tokoh utama dalam prosa liris Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG, mungkin akan tersenyum manis, meminum teh hangatnya, dan bercerita betapa bahagianya ia menjadi babu di rumah seorang priyayi Jogja. Ia tidak dendam meski dihamili anak majikannya dan tak dinikahi. Bagi Pariyem, nrima (menerima nasib) dan lega-lila (ikhlas) adalah kunci kedamaian batin.
Sementara di seberang meja, Rara Mendut mungkin akan menatap Pariyem dengan dahi berkerut. Tokoh legenda dari pesisir Pati ini adalah kebalikan total dari Pariyem. Ketika hendak dijadikan selir oleh Tumenggung Wiraguna—seorang panglima perang Mataram yang tua dan berkuasa—Mendut menolak mentah-mentah. Ketika diancam pajak harian yang mencekik, Mendut bukannya menyerah, ia justru berjualan rokok klobot bekas isapan bibirnya dengan harga melambung tinggi.
Dua perempuan, dua zaman, dan dua sikap yang bertolak belakang. Namun, jika kita menyelami keduanya lebih dalam, kisah mereka bukan sekadar cerita fiksi atau romansa tragis, melainkan cermin besar tentang bagaimana kekuasaan dan kelas sosial bekerja di sekitar kita.
Penjara Halus Bernama “Posisikan Diri”
Karl Marx, seorang pemikir sosial ternama, pernah menjelaskan bahwa kelas penguasa tidak hanya mengontrol uang dan sumber daya, tetapi juga mengontrol cara pikir masyarakatnya. Pemikir lain bernama Antonio Gramsci menyebutnya sebagai hegemoni—sebuah kondisi di mana orang yang ditindas tidak merasa sedang ditindas, melainkan menganggap ketimpangan itu sebagai hal yang “wajar dan memang sudah takdirnya.”
Dunia Pariyem adalah contoh sempurna dari hegemoni ini. Majikannya tidak pernah memukul atau menyiksa Pariyem. Mereka bahkan bersikap “sangat baik” dengan mengakui anak yang dikandung Pariyem sebagai keturunan priyayi. Namun, di balik kebaikan itu, sang majikan memberikan batas tegas: “Pekerjaanmu tak berubah, sebagai biasa.”
Pariyem tetap menjadi babu yang membersihkan meja makan. Uniknya, Pariyem tidak merasa dieksploitasi. Ia merasa bahagia dan terharu karena menganggap dirinya sudah “diterima seperti keluarga sendiri.” Di sinilah hegemoni bekerja dengan sangat halus: ia membuat sebuah ketimpangan kelas terlihat begitu harmonis dan penuh kasih sayang.
Fenomena ini terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Bukankah kita sering mendengar kalimat manis seperti “Di perusahaan ini kita adalah keluarga”? Namun, di balik narasi kekuasaan berkedok “keluarga” itu, sering kali pekerja merasa bersalah jika ingin menuntut hak istirahat, lembur yang dibayar, atau gaji yang layak. Pariyem menunjukkan bagaimana kita kadang diajarkan untuk menikmati ketimpangan atas nama kesopanan dan kepasrahan.
Rara Mendut dan Jurus Merampas Kembali Otoritas
Jika Pariyem mewakili sikap pasrah yang menenangkan, Rara Mendut datang membawa badai. Mendut paham betul bahwa bagi penguasa feodal Mataram, tubuh perempuan dari daerah taklukan hanyalah upeti atau piala kemenangan.
Ketika sistem budaya (hegemoni) gagal membengkokkan pendirian Mendut, penguasa menggunakan cara klasik: penindasan ekonomi. Mendut diwajibkan membayar denda harian yang sangat tinggi.
Di sinilah letak kecerdasan Rara Mendut. Ia tidak mengemis belas kasihan. Ia pergi ke pasar dan membalikkan logika kapital. Mendut tahu bahwa para lelaki di pasar menginginkan tubuh dan pesonanya. Maka, ia menjual rokok klobot yang diolesi air liurnya sendiri. Rokok bekas isapannya laku keras dengan harga mahal.
Tindakan Mendut sebenarnya sangat subversif: jika penguasa ingin mengambil tubuhnya secara gratis atas nama hak feodal, Mendut merampas kembali hak atas tubuhnya, mengomersialkannya secara mandiri, dan menggunakan uangnya untuk membayar pajak. Secara simbolis, Mendut sedang “membeli kembali” kemerdekaannya dari tangan penguasa dengan usahanya sendiri.
Ketika akhirnya ia memilih menusukkan keris ke dadanya sendiri setelah kekasihnya dibunuh, itu bukanlah tanda kekalahan. Itu adalah jeritan penolakan terakhir: ia lebih baik menghancurkan tubuhnya sendiri daripada membiarkan tubuh itu dimiliki oleh sistem yang menindasnya.
Mempertanyakan Kembali “Kewajaran” Kita
Membaca Pariyem dan Rara Mendut hari ini bukanlah tentang memilih siapa yang lebih hebat atau siapa yang lebih Jawa. Pariyem mengajari kita tentang keteguhan hati dan ketenangan batin dalam menghadapi badai hidup, sementara Rara Mendut memberi kita keberanian untuk mempertanyakan batas-batas yang dipaksakan oleh orang lain.
Pelajaran terpenting dari kedua tokoh ini adalah keberanian untuk merefleksikan diri kita sendiri. Apakah rasa puas dan nyaman yang kita rasakan saat ini benar-benar lahir dari kebebasan kita? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang menjadi “Pariyem-Pariyem modern” yang tanpa sadar telah terbiasa dan dimobilisasi oleh struktur yang tidak adil?
Sebuah kebahagiaan pribadi tentu patut dihargai. Namun, kebahagiaan seseorang tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa aturan main di sekitarnya sudah adil. Kadang, kita perlu sedikit keberanian Rara Mendut untuk berhenti sekadar nrima, dan mulai bertanya: Apakah tatanan ini benar-benar adil untuk kita semua?
- Penulis: Sanggi Na
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar