Tersingkirkan sebelum Prahara: Jejak Seni, Cinta dan Hilang tak kembali
- account_circle Vitus Eriksan Tambayong
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Vitus Eriksan Tambayong
Ada ironi dalam kisah Njoto. Ia membantu membangun sebuah partai yang pernah dihantam begitu keras setelah Madiun 1948, tetapi beberapa belas tahun kemudian partai itu justru membawanya ke pusat kekuasaan. Ia menjadi salah satu wajah intelektual PKI, duduk sebagai menteri dalam kabinet Sukarno, menulis di surat kabar, berbicara tentang kebudayaan, dan berdiri di samping D.N. Aidit serta M.H. Lukman sebagai salah satu dari tiga tokoh utama partai.
Namun dibalik kegemilangan PKI, tidak hanya terbatas pada ingenuitas Aidit saja, tetapi juga oleh kekuatan intelektual dan kekuatan disiplin internal partai. Masuklah The Three Musketeers PKI yang juga dikenal sebagai “Trisula PKI” yaitu D.N. Aidit, M.H Lukman dan Njoto. Aidit sebagai ketua umum PKI berurusan dalam bidang ideologi dan “muka” daripada PKI, M.H Lukman sebagai kepala disiplin internal partai, dan Njoto sebagai kepala intelektual Partai. Ketiga serangkai, Trisula tersebut ini merupakan sebuah kekuatan yang tidak terhentikan dalam perkembangan PKI sebagai kekuatan nasional dibawah kepemimpinan Presiden Sukarno.
Tetapi, yang menjadi keprihatinan ketika kita mendengar Njoto adalah pertama hilangnya dia pasca tragedi berdarah 65 dan sengsara keluarganya, kedua adalah bahwa bahkan sebelum meletusnya G30S, Njoto pun telah disingkirkan oleh jajaran tertinggi partai yang ia dampingi menuju kejayaan dengan penuh cinta kasih, bahkan oleh temannya sendiri. Bagaimanakah cerita tokoh kita bisa mencapai titik ini? Njoto lahir pada 12 Januari 1927 di Jember sebagai seorang keturunan ningrat solo, menunjukkan fakta bahwa keturunan seseorang belum tentu menentukan haluan hidupnya kelak, sebagai keturunan bangsawan pun sudah menunjukkan sikap melawannya sejak kecil, terutama ketika kerabatnya berkunjung untuk sowan Njoto kecil memilih untuk kabur bersepeda dan nongkrong di pemandian umum Tasnan. Ketika zaman pendudukan Jepang, Njoto pun dikirim sang ayah untuk belajar di MULO di Solo dimana ia melahap buku-buku berat berbahasa asing karya Karl Marx, Stalin, Lenin dalam usianya yang muda.
Memasuki masa Revolusi Nasional, Njoto yang baru berusia 16 tahun sudah dngan berani terlibat dalam perebutan senjata dari tentara Jepang di Surabaya, Bangil dan Jember, sehingga berkat bakat dan keberaniannya dia pun ditunjuk sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili PKI di Banyuwangi, walaupun batas umur minimal adalah 18 tahun, dia menulisnya dua tahun lebih tua daripada sebenarnya. Pada 1947, di Yogyakarta, Njoto pun bertemu dengan D.N Aidit dan M.H. Lukman, mereka bertiga pun kelak membentuk kepemimpinan muda PKI dan membangkitkan PKI pasca-peristiwa Madiun 1948 yang melumpuhkan partai menjadi pemenang terbesar keempat di pemilu 1955.
Dalam partai, Njoto memegang kendali Departemen Agitasi dan Propaganda (Depagitrop) sebagai pemimpin redaksi koran Harian Rakyat, serta memprakarsai berdirinya Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang walaupun mengusung doktrin “politik sebagai panglima”, diarahkan Njoto untuk lebih bersifat fleksibel dan membela independensi seniman, dimana ia menolak untuk “memerahkan” seluruh Lekra, dan ketika polemik plagiarisme novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Buya Hamka menggelegar, ia menyarankan agar Lekra tidak “menghancurkan” ulama dan sastrawan senior tersebut. Sehingga kalau kita kerap mengenal orang-orang komunis sebagai seorang fanatik yang terbutakan oleh ideologinya, Njoto memberikan udara segar, karena walaupun dia memeluk Marxisme-Leninisme dengan tekun, ia memilih untuk menolak memusuhi semua hak yang bertema “kapitalis” secara membabi buta, terutama ketika dia memutuskan juga untuk menyelamatkan film The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway dari daftar haram kubu intelektual kiri.
Kelak, semuanya yang berjaya akan memiliki akhirnya, dan akhir kejayaan Njoto bermula bahkan sebelum Prahara 1965, dimulai di Moskow, ketika Njoto memilih untuk menjalin hubungan asmara dengan seorang mahasiswa penerjemah bernama Rita. Hubungan terlarang ini memicu penyelidikan dari pimpinan partai, dimana Rita dicurigai sebagai agen rahasia KGB, dan ketika Njoto berniat menikahi rita dan meninggalkan istrinya, Soetarni, dianggap sebagai pencemaran citra partai yang tidak bisa diterima. Sehingga sidang internal PKI mengadili Njoto, dan melucuti semua jabatannya di PKI dan dijatuhi skorsing.
Setelah peristiwa G30S, Njoto segera mengungsikan istri dan anak-anaknya dari rumah dinas mereka, selama beberapa bulan Njoto hidup berpindah-pindah dari tempat persembunyian satu ke yang lain, dan terakhir dikabarkan “menghilang” pada akhir bulan Desember 1965, ketika Njoto ditangkap tentara seusai meninggalkan kantor menteri. Keluarga Njoto turut menanggung akibat politik dari kehancuran PKI. Soetarni dipenjara tanpa proses peradilan yang terbuka, sementara anak-anak mereka dipisahkan dan sebagian kemudian menyembunyikan identitas keluarga mereka untuk menghindari stigma sebagai ‘anak PKI’.
Mungkin pada akhirnya, kisah Njoto bukanlah cerita tentang seorang komunis yang baik ataupun seorang komunis yang jahat. Sejarah terlalu rumit untuk dibagi sesederhana itu.
Ia adalah seorang manusia yang pernah percaya pada sebuah gagasan akan indonesia yang lebih baik menurut kepercayaannya, ikut membangun sebuah partai yang menurutnya memperjuangkan gagasan tersebut, mencintai buku, musik, kebudayaan, dan politik, lalu pada akhirnya harus melihat bagaimana sebagian dari dunia yang ia bangun hancur runtuh di depan matanya. Ia bahkan sempat tersingkir dari lingkaran partainya sendiri sebelum partai itu benar-benar dihancurkan.
Yang tersisa kemudian bukan hanya pertanyaan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Ada pertanyaan yang mungkin lebih sederhana: apa yang terjadi pada seorang manusia ketika keyakinan politik yang selama ini menjadi rumahnya tiba-tiba berubah menjadi tempat yang tidak lagi memberikan ruang untuknya?
Njoto tidak meninggalkan jawaban.
- Penulis: Vitus Eriksan Tambayong
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar