Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mayat yang Mengambang di Danau: Ketika Kesalehan Justru Membuat Kita Cuek

  • account_circle Yunia Melia Putri
  • calendar_month 10 jam yang lalu
  • visibility 14
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Yunia Melia Putri

Cerpen “Mayat yang Mengambang di Danau” karya Seno Gumira Ajidarma bercerita tentang Barnabas, seorang nelayan tua yang taat beribadah, dan Klemen, anaknya yang pulang dari sekolah teologi dengan kepala penuh pertanyaan. Konfliknya sederhana, yakni bapak yang percaya bahwa hidup benar berarti rajin ke gereja dan menyekolahkan anak jadi pendeta, versus anak yang melihat bahwa di luar sana darah mengotori bumi sementara orang sibuk memuja langit.

Sekilas ini cerita biasa tentang generasi tua versus generasi muda. Tapi kalau kita baca pakai teori dekonstruksi Derrida, ada sesuatu yang lebih mengganggu di dalamnya. Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang benar, bapak atau anak?” Melainkan: apakah kesalehan Barnabas itu benar-benar saleh, atau justru dari awal sudah mengandung benih ketidakpedulian yang membongkar dirinya sendiri?

Oposisi Biner yang Kelihatan Rapi

Barnabas hidup dalam tatanan yang jelas: Tuhan di atas, manusia di bawah; akhirat penting, dunia cuma sementara; doa lebih utama daripada tindakan. Dalam kerangka ini, dia ada di sisi “saleh,” dan Klemen yang pulang dengan pertanyaan-pertanyaan ada di sisi “berontak.” Tapi dekonstruksi nggak pernah percaya pada kerapian seperti itu. Tugasnya justru mencari celah di balik oposisi yang tampak stabil.

Celah itu ada di cara Barnabas bekerja

Perhatikan bagaimana Seno menggambarkan Barnabas menangkap ikan. Dia tahu betul ikan yang ditangkapnya akan disembelih, digoreng, dimakan wisatawan, lalu tulangnya dilempar ke ikan mas. Barnabas paham rantai konsumsi ini sampai detail terkecil. Tapi dia nggak pernah menghubungkan logika “hidup dimakan hidup” itu dengan imannya.

Di sinilah kesalehan Barnabas mulai retak. Kesalehannya berdiri di atas pengabaian sistematis terhadap kekerasan yang terjadi di sekitarnya. Bukan karena dia jahat—dia kerja keras, menabung puluhan tahun buat sekolah anaknya, sabar sama dunia. Tapi kebaikannya terkurung dalam kotak yang tertutup rapat: selama hari Minggu ke gereja dan anaknya jadi pendeta, dunia dianggap beres.

Kalimat Klemen Membongkar, Bukan Sekadar Menolak

Klemen bilang: “Apalah artinya memuja langit, tapi membiarkan darah mengotori bumi.”Kalau kita berhenti di kesimpulan “Klemen benar, Barnabas salah,” kita justru jatuh ke perangkap yang ingin dibongkar dekonstruksi. Karena dekonstruksi nggak tertarik pada kesimpulan “siapa yang menang.”

Yang lebih menarik: kalimat Klemen itu sebenarnya nggak menolak kesalehan ayahnya. Dia justru menunjukkan bahwa kesalehan itu sudah retak dari dalam. Barnabas bukan orang jahat. Tapi ketika Klemen bawa kabar tentang kampus dihancurkan tentara, orang-orang ditembak, masyarakat kacau, kabar itu nggak muat dalam kotak Barnabas. Kesalehannya rapuh bukan karena “salah,” tapi karena nggak pernah siap menghadapi penderitaan di luar dirinya sendiri.

Dalam bahasa Derrida: iman akhirat yang benar-benar radikal seharusnya membuat seseorang peka terhadap ketidakadilan di dunia sekarang. Kalau iman akhirat justru membuat orang cuek terhadap darah di bumi, maka iman itu sudah mengkhianati Tuhannya sendiri. Klemen bukan menyangkal Tuhan ayahnya, dia cuma menunjukkan bahwa Tuhan ayahnya sudah menyusut jadi berhala kecil yang cuma peduli ritual hari Minggu.

Patriarki yang menumpang pada kesalehan

Penelitian yang sudah ada menyebut “kekuasaan orang tua” sebagai salah satu temuan dekonstruktif cerpen ini. Itu benar, dan menarik untuk dikembangkan.

Harapan Barnabas supaya Klemen jadi pendeta bukan cuma semangat religius murni. Di situ ada investasi identitas, dia menabung puluhan tahun menangkap ikan buat biaya pendidikan anaknya. Jadi ketika Klemen mundur, yang ditolak bukan cuma sekolah teologi, tapi juga investasi makna seumur hidup ayahnya

Di sini dekonstruksi bekerja lebih dalam: kesalehan religius dan hasrat patriarkis itu saling menumpang, nggak bisa dipisahkan bersih. “Berbakti pada Tuhan” dan “pengen anak jadi orang hebat” itu dua sisi koin yang sama. Waktu Klemen bilang “apalah artinya memuja langit,” dia menghantam Tuhan ayahnya sekaligus ego ayahnya. Dan Barnabas? Dia diam. Kebisuan itu sendiri jejak dekonstruktif, sistem makna yang dulu terasa jelas, sekarang nggak mampu lagi memproduksi pembelaan yang meyakinkan.

Kesimpulan

Pembacaan dekonstruktif cerpen ini nggak memberi kesimpulan moral yang nyaman. Nggak ada “Barnabas bodoh, Klemen tercerahkan” itu cuma mengunci oposisi biner yang baru.

Yang bisa dikatakan: kata “saleh” dalam cerpen ini sudah dikosongkan dan diisi ulang. Kesalehan Barnabas itu tulus, tapi juga tertutup, terbatas, dan kebal terhadap darah di luar batasnya. Sementara “ketidaksalehan” Klemen justru lahir dari kesalehan yang lebih keras, kesalehan yang nggak mau doa menggantikan tindakan.

Cerpen ini nggak menyelesaikan konflik itu. Dia menggantungnya. Dan justru penggantungan itulah yang dihargai dekonstruksi: makna selalu dalam penangguhan, nggak pernah ada pengadilan terakhir yang bisa memutuskan siapa benar siapa salah.

Kalau harus disimpulkan satu kalimat: kritik terdalam cerpen ini bukan ditujukan ke tokoh tertentu, tapi ke bentuk iman yang menyamakan ritual dengan etika, dan menjadikan harapan akhirat sebagai dalih untuk cuek terhadap dunia sekarang. Bentuk ini bukan cacat pribadi Barnabas, dia risiko struktural yang bisa tumbuh di tradisi religius mana pun. Dekonstruksi cuma membuat risiko itu kelihatan di celah-celah teks.

 

  • Penulis: Yunia Melia Putri
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Ada orang yang mencintai sebuah tim karena sedang menjadi juara. Ada yang memilih karena mengikuti teman. Ada pula yang mencintainya karena semua orang di kampung melakukan hal yang sama. Saya tidak. Cinta saya kepada Spanyol lahir dari sebuah kebetulan yang sederhana. Tahun 2006, ketika informasi sepak bola belum semudah hari ini, saya melihat sebuah poster […]

  • PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    PERMEN: Perjuangan Pengusaha Anggur, Renungan Harian Katolik 06 Mei 2026

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 401
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Rabu Paskah ke-5 – 06 MEI 2026 – Perjuangan Pengusaha Anggur Inspirasi: Kis 15:1-6 ; Yohanes 15:1-8 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Penghiburan iman yang mandraguna kita terima dari Yesus sendiri ketika Yesus menggambarkan cinta segitiga antara Manusia, Yesus, dan Bapa-Nya. Allah Bapa digambarkan sebagai pengusaha anggur, Yesus adalah pohon anggur, […]

  • Sudut Pandang: Ibu, Sosok Sederhana denhan Cinta yang Luar Biasa

    Sudut Pandang: Ibu, Sosok Sederhana denhan Cinta yang Luar Biasa

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Julianti Monalisa
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Oleh : Julianti Monalisa Bertumbuh dari Sebuah Perpisahan Ibu saya lahir pada 17 April 1979 di Pekalongan, Jawa Tengah. Delapan tahun pertama hidupnya ia habiskan di sana, di tengah keluarga dan terutama nenek yang sangat dekat dengannya. Kedekatan itu bukan sekadar cerita yang saya dengar setelah dewasa. Bagi ibu, nenek adalah tempat ia merasa nyaman. […]

  • Tersingkirkan sebelum Prahara: Jejak Seni, Cinta dan Hilang tak kembali

    Tersingkirkan sebelum Prahara: Jejak Seni, Cinta dan Hilang tak kembali

    • calendar_month 9 jam yang lalu
    • account_circle Vitus Eriksan Tambayong
    • visibility 12
    • 0Komentar

    Oleh: Vitus Eriksan Tambayong Ada ironi dalam kisah Njoto. Ia membantu membangun sebuah partai yang pernah dihantam begitu keras setelah Madiun 1948, tetapi beberapa belas tahun kemudian partai itu justru membawanya ke pusat kekuasaan. Ia menjadi salah satu wajah intelektual PKI, duduk sebagai menteri dalam kabinet Sukarno, menulis di surat kabar, berbicara tentang kebudayaan, dan […]

  • Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Publikasi Politeknik St. Wilhelmus Boawae
    • visibility 237
    • 0Komentar

    NAGEKEO, 30 Maret 2026 – Politeknik St. Wilhelmus (PSW) mempertegas komitmennya dalam pembangunan masyarakat berbasis vokasi melalui kegiatan panen perdana wortel organik di Desa Lajawajo, Kabupaten Nagekeo, Senin (30/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Sekolah Vokasi Desa melalui pembuatan kebun percontohan (demplot) hortikultura di lahan milik desa. Sebagai desa binaan PSW, Desa Lajawajo menjadi […]

  • Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea photo_camera 1

    Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Wolowea, 23 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) menyelenggarakan Workshop Bamboo Go To School di SDK Bokogo, Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang memadukan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan budaya lokal dengan melibatkan anak-anak, guru, orang tua, serta Pemerintah Desa Wolowea. […]

expand_less