Breaking News
light_mode
Trending Tags

PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
  • visibility 101
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pesta Intan 75 Tahun SMPSK Kotagoa Boawae. 1 Agustus 1951 – 1 Agustus 2026

Ada peristiwa yang datang setiap tahun. Ada pula peristiwa yang hanya sekali diberi kesempatan untuk dirayakan dalam perjalanan sebuah lembaga.

Pesta Intan 75 tahun SMPSK Kotagoa Boawae adalah salah satunya. Ia bukan sekadar sebuah tanggal yang dicetak dalam kalender. Ia adalah perjalanan panjang yang telah melewati pergantian generasi, perubahan zaman, banyak cerita, air mata, tawa, perjuangan, pengorbanan, dan kesetiaan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari rumah besar ini.

Tujuh puluh lima tahun tidak datang dengan sendirinya. Ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam. Ada orang-orang yang pulang paling akhir. Ada yang datang lebih awal. Ada yang memikirkan hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah disebut dalam sambutan. Ada yang menyumbangkan tenaga, waktu, pikiran, bahkan materi. Ada pula yang mungkin tidak terlihat, tetapi diam-diam memastikan agar sesuatu tetap berjalan.

Sebab, sebuah perayaan besar selalu dibangun dari pekerjaan-pekerjaan kecil yang dilakukan dengan kesungguhan.

Mempersiapkan Pesta Intan bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Ia adalah perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum panggung utama berdiri dan sebelum ucapan selamat memenuhi halaman sekolah.

Kegiatan pra-intan telah berlangsung sejak 2025 dan terus berlanjut sampai 2026. Perlombaan akademik dan nonakademik, kegiatan siswa, persiapan berbagai agenda, koordinasi, rapat, latihan, pembenahan fasilitas, hingga persiapan perayaan puncak. Hampir tidak ada ruang untuk jeda. Energi terkuras. Waktu terbagi. Pikiran harus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

Namun, bukankah sesuatu yang besar memang selalu menuntut kesungguhan yang besar pula?Kami tidak ingin Pesta Intan ini berlangsung sekadar untuk mengatakan bahwa kami pernah merayakan 75 tahun. Kami ingin ia meninggalkan kesan. Kami ingin ada sesuatu yang berbeda. Dan sesuatu yang berbeda tidak pernah lahir dari persiapan yang biasa-biasa saja.

Karena itu, setiap detail perlu diperhatikan. Setiap kemungkinan perlu dipikirkan. Setiap kekurangan perlu dibenahi. Kami belajar bahwa pekerjaan besar tidak selalu membutuhkan banyak orang untuk memulainya, tetapi membutuhkan banyak hati yang bersedia bekerja bersama.

Dalam perjalanan itu, selalu ada hal-hal yang tidak pernah kami rencanakan. Ada pintu yang tiba-tiba terbuka. Ada pertolongan yang datang dari arah yang tidak disangka. Ada orang yang hadir ketika kami mulai kelelahan. Ada jalan keluar ketika kami merasa jalan mulai sempit. Mungkin di situlah kami belajar bahwa kerja yang baik tidak pernah berjalan sendirian.

Tuhan, semesta, dan sesama selalu menemukan cara untuk hadir dalam kerja-kerja yang dikerjakan dengan ketulusan. Tetapi di tengah seluruh kesibukan itu, ada satu hal yang tidak boleh kami lupakan: kelas. Anak-anak tetap harus belajar. Guru tetap harus mengajar. Pendidikan tetap menjadi jantung dari seluruh perjalanan ini.

Pesta boleh besar, tetapi tugas utama sebagai pendidik tidak boleh kehilangan tempatnya. Sebab sekolah bukan hanya tentang bagaimana sebuah perayaan dilaksanakan dengan meriah, tetapi tentang bagaimana anak-anak tetap mendapatkan pendidikan terbaik di tengah segala kesibukan yang kami jalani.

Lalu datang pertanyaan lain:

Bagaimana dengan Pekan Olahraga dan Seni Antar-SMP Tingkat Kecamatan Boawae?

Pertanyaan itu mungkin tidak perlu kami jawab dengan banyak kata. Biarlah hasil yang menjawabnya. Apakah kami tidur-tidur saja? Tentu tidak. Di tengah kesibukan mempersiapkan Pesta Intan, kami tetap mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi pertandingan. Kami mencari waktu yang tersisa. Kami menggunakan setiap kesempatan yang ada.

Karena kesempatan untuk berlatih tidak selalu datang dalam keadaan ideal. Kadang latihan dilakukan ketika tubuh sudah lelah. Kadang pikiran masih dipenuhi pekerjaan lain. Kadang waktu terasa terlalu sempit. Tetapi justru di sanalah komitmen diuji. Di SMPSK Kotagoa Boawae, kami hanya memiliki dua guru olahraga. Dua orang untuk mengatur banyak hal. Dua orang untuk memikirkan latihan, strategi, kondisi anak-anak, pertandingan, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Apakah itu mudah? Tentu tidak. Tetapi keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Keterbatasan justru mengajarkan kami tentang kerja tim.

Ada detail-detail kecil yang mungkin luput dari perhatian satu orang, tetapi bisa dilihat oleh orang lain. Ada pekerjaan yang terlalu berat jika dipikul sendiri, tetapi menjadi ringan ketika dikerjakan bersama. Maka, di sinilah kami belajar bahwa kemenangan tidak hanya lahir dari mereka yang berada di lapangan.

Kemenangan juga lahir dari mereka yang mempersiapkan pemainnya. Dari guru yang mendampingi. Dari teman yang memberi semangat. Dari mereka yang mengingatkan ketika strategi mulai keliru. Dari mereka yang bersedia melihat kekurangan dan memperbaikinya. Karena itu, setiap hari adalah kesempatan. Jangan biarkan satu hari berlalu tanpa sesuatu yang dipelajari. Gunakan setiap kesempatan untuk berlatih. Perbaiki teknik. Bangun mental. Baca permainan. Petakan strategi. Belajar dari lawan.

Dan yang paling penting, persiapkan tim sendiri. Jangan terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan. Jangan habiskan energi untuk memperdebatkan sesuatu yang tidak membuat tim menjadi lebih baik. Jangan sibuk memikirkan bagaimana membayar wasit. Jangan sibuk memikirkan bagaimana bermain curang. Jangan sibuk mencari alasan sebelum pertandingan dimulai.

Sebab, bagaimana mungkin sebuah tim berjalan menuju kemenangan jika selama proses persiapannya justru lebih banyak memikirkan hal-hal yang tidak berhubungan dengan peningkatan kualitas tim? Sibuklah berlatih. Sibuklah memperbaiki kekurangan. Sibuklah membangun mental. Sibuklah menyiapkan strategi.

Karena kemenangan yang sesungguhnya tidak dimulai ketika peluit pertandingan dibunyikan.

Kemenangan dimulai jauh sebelumnya, di lapangan latihan, di ruang kelas, dalam kedisiplinan, dalam kesabaran, dalam kesediaan untuk menerima kritik, dan dalam keberanian mengakui bahwa masih ada yang harus diperbaiki.

Kami mungkin gagal. Dan kegagalan itu tidak perlu disembunyikan. Sebab, kegagalan bukan akhir dari sebuah perjalanan.

Kegagalan adalah guru yang sering kali datang dengan cara yang tidak menyenangkan, tetapi membawa pelajaran yang paling jujur.

Pemenang sejati bukanlah mereka yang tidak pernah kalah. Pemenang sejati adalah mereka yang setelah kalah masih mau berdiri, mengevaluasi diri, belajar, lalu kembali berlatih.

Sebab, setiap kekalahan selalu membawa satu pertanyaan: Apa yang harus kami benahi? Bukan: Siapa yang harus kami salahkan?

Dan mungkin inilah makna yang lebih dalam dari seluruh perjalanan menuju Pesta Intan dan Pekan Olahraga dan Seni.

Kami sedang belajar bahwa sebuah lembaga tidak dibangun hanya oleh mereka yang berdiri di depan dan menerima tepuk tangan.

Ia dibangun oleh mereka yang bersedia bekerja ketika tidak ada yang melihat.

Ia dibangun oleh orang-orang yang tetap hadir ketika lelah.

Ia dibangun oleh mereka yang memilih memperbaiki daripada menyalahkan.

Ia dibangun oleh mereka yang percaya bahwa kerja bersama selalu lebih besar daripada ego pribadi.

Tujuh puluh lima tahun SMPSK Kotagoa Boawae akhirnya bukan hanya tentang usia. Ia adalah tentang ketahanan. Tentang kesetiaan. Tentang persaudaraan. Tentang kerja yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dan ketika suatu hari perayaan itu selesai, panggung dibongkar, spanduk diturunkan, lapangan kembali sunyi, dan semua orang kembali kepada rutinitas masing-masing, semoga yang tersisa bukan hanya foto dan kenangan.

Semoga yang tersisa adalah kesadaran bahwa kita pernah bekerja bersama untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri.

Bahwa kita pernah memberikan tenaga untuk rumah yang telah membesarkan begitu banyak generasi. Bahwa kita pernah menjadi bagian dari sejarah. Dan bahwa dalam keterbatasan sekalipun, kita tidak memilih untuk menyerah.

Sebab pada akhirnya, Pesta Intan bukan hanya tentang merayakan masa lalu.

Ia adalah cara kita menghormati mereka yang telah berjalan sebelum kita, mensyukuri mereka yang berjalan bersama kita, dan menyiapkan jalan bagi mereka yang akan berjalan setelah kita. Dan Pekan Olahraga dan Seni bukan semata-mata tentang siapa yang membawa pulang piala.

Ia adalah tentang bagaimana anak-anak belajar berjuang, bekerja sama, menerima kekalahan, menghargai lawan, dan memahami bahwa kemenangan paling penting adalah ketika mereka menjadi pribadi yang lebih baik daripada dirinya kemarin. Maka, mari terus bekerja. Mari terus berlatih. Mari terus belajar.
Karena sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang menang. Sejarah juga ditulis oleh mereka yang tidak pernah berhenti berusaha.

Dan 75 tahun adalah kesaksian bahwa SMPSK Kotagoa Boawae telah bertahan karena selalu ada orang-orang yang bersedia bekerja, mencintai, dan percaya.

Selamat Pesta Intan 75 Tahun SMPSK Kotagoa Boawae. Semoga rumah pendidikan ini tetap menjadi rumah bagi semua, tempat ilmu bertumbuh, karakter dibentuk, persaudaraan dirawat, dan harapan tidak pernah kehilangan jalan pulang. 1 Agustus 1951 – 1 Agustus 2026. Sekali dalam 75 tahun. Sekali dalam satu generasi. Tetapi kenangannya, semoga tinggal jauh lebih lama.

Catatan kejuaraan yang diraih selama Porseni 5-10 Agustus 2026 di Raja

Juara 1 Futsal Putri

Juara 1 Volly Putra

Juara 1 Volly Putri

Juara 1 Sepak bola

Juara 2 Tari Kreasi

Fian N, teman belajar bagi anak-anak di SMPSK KOTAGOA BOAWAE. Sejak tahun 2020-Sekarang menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile.

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan. Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia. Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai. Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang […]

  • Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 343
    • 2Komentar

    PENGAKUAN Gebby, katakan kita orang berdosa— bukan untuk mengadili, melainkan untuk meletakkan batu-batu luka di altar yang sama. Namamu gugur di kertas sunyi seperti hujan yang menyingkap rahasia tanah; aku menulis, lalu mengakui kebodohanku, mengumpulkan sisa-sisa kata yang terluka. Di matamu, kutemukan langit yang lain, yang merengkuh semua kesalahan, menyulapnya jadi debu yang lambat jatuh […]

  • Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar

    Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Katharina Tasik Busa
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Aku tidak ingat bagaimana rasanya tumbuh dalam pelukan ayah dan ibu setiap hari. Sejak kecil, aku dibesarkan oleh opa dan oma dari pihak ayah. Dari merekalah aku mengenal arti rumah, kasih sayang, dan perjuangan. Mereka memberiku makan, menyekolahkanku, dan berusaha memenuhi kebutuhanku. Untuk semua itu, aku sungguh bersyukur. Namun, di balik rasa syukur itu, ada […]

  • Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

    Ruang Rasa: Menikah Itu Indah. Sampai Tamu Pulang dan Lampu Pelaminan Dipadamkan.

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Ada satu pertanyaan yang usianya mungkin lebih tua daripada umur sebagian besar jomlo di negeri ini. “Kapan nikah?” Pertanyaan itu aneh. Ia terdengar seperti doa, tetapi sering kali terasa seperti ancaman. Diucapkan sambil tersenyum, tetapi meninggalkan perasaan seperti baru saja gagal memenuhi target hidup yang ditentukan orang lain. Yang lebih lucu lagi, sebagian orang yang […]

  • Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 495
    • 0Komentar

    Di tengah arus modernisasi dan pergeseran nilai-nilai tradisional, masyarakat Manggarai di Nusa Tenggara Timur masih mempertahankan sejumlah kearifan lokal yang sarat makna dan fungsi sosial. Salah satunya adalah konsep turuk empo, sebuah sistem genealogis yang menjadi penanda garis keturunan dalam masyarakat adat Manggarai. Konsep ini bukan sekadar alat penanda asal-usul, tetapi berperan besar dalam menjaga […]

  • PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 241
    • 3Komentar

    Permen edisi SENIN 5 PASKAH – 04 MEI 2026 – Katanya Sama Dengan Nyatanya Inspirasi: Kis 14:5-18 ; Yohanes 14:21-26 Penikmat permen yang berhikmat dalam Kristus. Mari pada hari ini kita mengalamatkan hati dan doa bagi para petugas pemadam kebakaran atas dedikasi mereka. Karena itu, hari ini dunia memberi perhatian khusus bagi mereka dengan merayakan […]

expand_less