Breaking News
light_mode
Trending Tags

Membongkar Oposisi Manusia dan Binatang Dalam Cerpen Mereka Bilang Saya Monyet karya Djenar Maesa Ayu

  • account_circle Samuel Piedro Nahak Manewain
  • calendar_month 12 jam yang lalu
  • visibility 7
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Samuel Piedro Nahak Manewain

Pendahuluan

Cerpen “Mereka Bilang Saya Monyet” menampilkan toko aku yang berkepala manusia, tetapi dicap monyet oleh orang-orang berkepala anjing, babi, kerbau, ular, gajah dan harimau. Penghakiman itu di dilakukan oleh makluk yang secara fisik jelas-jelas Binatang. Cerpen ini di kaji menggunakan teori dekonstruksi Jacques derrida yang menunjukan bahwa oposisi biner seperti manusia atau binatang, akal atau perasaan dan publik atau privat tidak perna stabil. Oposisi semacam itu selalu menyembunyikan hierarki dan bisa runtu dari dalam teksnya sendiri.

Oposisi Binner Dan Logosentrisme

Derida mengritik logosentrisme yaitu kecenderungan pemikiran barat menempatkan suatu kutub menempatkan akal, kehadiran, kebenaran di atas kutub lainya. Cerpen ini menampilkan hal yang sama. Orang-orang berkepala binatang menyatakan bahwa mereka manusia karena memiliki akal dan perasaan, sementara si aku hanyalah binatang. Mereka menertawakan klaim si aku bahwa ia punya hati dan otak. Bagi mereka, perasaan dan akal adalah hak istimewa yang menentukan siapa yang layak disebut manusia.

Namun definisi itu bermasalah sejak awal. Si aku bertanya mengapa mereka menertawakannya tanpa mempedulikan perasaanya, dan mengapa akal mereka tidak sampai pada pikiran bahwa ia tidak senang dijadikan bahan tertawaan. Pertanyaan ini membongkar klaim tersebut. Mereka yang mengaku berakal dan berperasaan justru tidak menunjukan keduanya, sedangkan si aku yang di anggap binatang justru merasakan sakit dan berpikir. Kategori yang dipakai untuk mengeksklusi si aku ternyata tidak berlaku bagi mereka yang menggunakannya.

Tubu Sebagai Penanda Yang Tidak Stabil

Dalam semiotika derrida, hubungan antar penanda dan pertanda tidak perna tetap. Dalam cerpen ini, kepala manusia tidak otomatis menandakan manusia dan kepala binatang tidak tidak otomatis menandakan binatang. Si aku berkepala manusia tetapi disebut monyet, sedangkan mereka berkepala binatang tetapi disebut manusia. Makan manusia ditentukan oleh siapa yang berkuasa menamai, bukan oleh hakikat apapun. Laki-laki berkepala buaya dan berekor kalajengking itu menyebut si aku binatang justru ketika ia sendiri tampil dengan wujud binatang.

Ketidakstabilan ini sampai pada toko itu sendiri. Dibagian awal, ia menatap bayangannya di cermin dan menyimpulkan bahwa ia berkaki dua dan berkepala manusia, tetapi menurut mereka saya adalah seekor binatang. Cermin yang semestinya menjamin identitas yang pasti justru memperlihatkan jarak antara jarak antara citra diri dan penilaian orang lain.

Publik atau privat dan logika supplement

Cerpen ini juga membongkar oposisi publik dan privat. Si kepala anjing tampil di muka umum sebagai penggemar orange juice yang tidak merokok, tetapi di belakang itu ia mengisap Ganja, minum cognac dan memakai kokain. Wajah manusiawi yang beradab ternyata hanyalah topeng. Dalam istilah Derrida yang di anggap sekunder perilaku tersembunyi ternyata menjadi syarat bagi yang di anggap utama citra publik. Citra bermoral hanya bisa berdiri dengan menyembunyikan apa yang ia tolak. Ia tidak murni, karena selalu mengandung jejak dari apa yang diusirnya.

Hal serupa tampak pada para toko berkepala binatang yang bergoyang, berteriak dan bersorak Ketika mabuk, lalu mengaku bahwa itu bukan perasaan, melainkan kemaluan. Si aku menduga mereka sedang diserang perasaan yang mereka namakan malu atau akal mereka sedang memerintah hati untuk membohongi perasaannya sendiri. Di sini oposisi akal atau perasaan kembali runtuh sebab akal ternyata bekerja untuk menekan perasaan dan perasaan itu terus merembes keluar.

Différance dan Makna yang Tertunda

Derrida memperkenalkan différance, yaitu makna yang selalu ditunda dan dibedakan, tidak pernah hadir secara penuh. Pada awal cerpen, si aku mengaku tidak mengerti apa itu “perasaan” yang dimaksud orang-orang itu. Ia hanya merasakan hatinya ngilu seperti disayat-sayat sembilu, dan bertanya apakah itu yang disebut perasaan. Definisi “perasaan” dan “akal” tidak pernah diberikan oleh siapa pun. Kata-kata itu hanya dilempar, saling merujuk, dan terus menunda maknanya. Karena itu pertanyaan si aku tentang apa yang sebenarnya sedang terlintas di kepala gajah tidak pernah dijawab. Mereka diam, mendengus, atau menggonggong, dan tidak ada yang mampu menjelaskan kriteria kemanusiaan yang mereka pegang.

Penutup

Pembacaan dekonstruktif terhadap cerpen “Mereka Bilang, Saya Monyet!” menunjukkan bahwa oposisi biner manusia atau binatang, akal atau perasaan, dan publik atau privat tidak berdiri pada fondasi yang kokoh. Para tokoh berkepala binatang yang menyebut diri manusia gagal membuktikan klaim mereka, sebab akal yang dibanggakan tidak mampu memahami perasaan orang lain, sedangkan perasaan yang diingkari justru merembes keluar ketika mereka mabuk, bergoyang, dan berteriak. Sebaliknya, tokoh aku yang dicap monyet justru menunjukkan kepekaan dan kemampuan bernalar melalui pertanyaan-pertanyaan kritisnya. Dengan demikian, hierarki yang menempatkan satu kutub di atas kutub lainnya runtuh dari dalam teks itu sendiri.

Cerpen ini juga tidak menyelesaikan persoalan dengan membalik hierarki, yakni menetapkan tokoh aku sebagai manusia sejati dan yang lain sebagai binatang. Teks justru membiarkan batas antar kategori tetap goyah dan tidak didefinisikan. Hal ini sejalan dengan gagasan Derrida bahwa makna tidak pernah hadir secara utuh, melainkan terus ditunda dan dibedakan (différance). Kategori “manusia” ternyata dibangun melalui pengucilan terhadap pihak lain, dan pengucilan tersebut tidak pernah sepenuhnya berhasil karena yang dikucilkan selalu meninggalkan jejak dalam diri pihak yang mengucilkan.

Akhirnya, cerpen ini dapat dipahami sebagai kritik terhadap cara masyarakat memberi label dan menentukan siapa yang layak disebut manusia. Dekonstruksi Derrida membantu menyingkap bahwa penilaian semacam itu bersifat arbitrer dan sarat kepentingan kekuasaan, sehingga identitas tidak semestinya ditentukan oleh penamaan pihak yang berkuasa.

 

 

  • Penulis: Samuel Piedro Nahak Manewain
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Ibu, Sosok Sederhana denhan Cinta yang Luar Biasa

    Sudut Pandang: Ibu, Sosok Sederhana denhan Cinta yang Luar Biasa

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Julianti Monalisa
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Oleh : Julianti Monalisa Bertumbuh dari Sebuah Perpisahan Ibu saya lahir pada 17 April 1979 di Pekalongan, Jawa Tengah. Delapan tahun pertama hidupnya ia habiskan di sana, di tengah keluarga dan terutama nenek yang sangat dekat dengannya. Kedekatan itu bukan sekadar cerita yang saya dengar setelah dewasa. Bagi ibu, nenek adalah tempat ia merasa nyaman. […]

  • Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Menit ke-67, papan skor menunjukkan Argentina 0, Mesir 2. Lionel Scaloni berdiri kaku di tepi lapangan. Di belakangnya, bangku cadangan Argentina senyap. Di depannya, sebelas pemain Mesir merayakan gol kedua seperti orang yang baru menemukan pintu keluar. Juara bertahan itu sedang dipermalukan oleh tim yang sepanjang laga hanya melepaskan empat tembakan. Kita tahu akhirnya: […]

  • Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 270
    • 0Komentar

    Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan. Manusia […]

  • Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.   TIGA RINDU Rindu ini tiba – tiba datang Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun Rindu ini […]

  • Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Anto Narasoma
    • visibility 297
    • 0Komentar

    SEJILID BUKU kubuka sejilid buku yang kemarin membawa aku melintasi segala kisah   dari ruang-ruang fisika dan format wajah-Nya yang teduh di atas sajadah kaulah gudang pengisi petak-petak di ruang kosong otakku   lalu kubuka lembaran yang tuntas kubaca karena dari titik ke titik belahan bumi ini adalah buku   maka segala kalimat panjang itu […]

  • Ilustrasi

    Jejak Sunyi yang Tak Pernah Pergi

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 1.174
    • 6Komentar

    Ada orang-orang yang hidupnya tidak banyak diceritakan, tetapi diam-diam membentuk dunia kecil di sekitar mereka dengan cara yang begitu berarti. Mereka tidak dikenal luas, tidak pula menonjolkan diri, tetapi kehadirannya menjadi akar, menguatkan, menopang, dan memberi kehidupan. Bapak Marianus Meze Ito, yang akrab disapa Marianus Rena, adalah salah satu dari mereka. Ia lahir pada 10 […]

expand_less