Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga
- account_circle Wicaksono
- calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
- visibility 91
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Wicaksono
Menit ke-67, papan skor menunjukkan Argentina 0, Mesir 2. Lionel Scaloni berdiri kaku di tepi lapangan. Di belakangnya, bangku cadangan Argentina senyap. Di depannya, sebelas pemain Mesir merayakan gol kedua seperti orang yang baru menemukan pintu keluar.
Juara bertahan itu sedang dipermalukan oleh tim yang sepanjang laga hanya melepaskan empat tembakan. Kita tahu akhirnya: gol menit 79, 83, dan 90 membalikkan segalanya, Argentina menang 3-2 dan melaju menghadapi Swiss. Tetapi hasil akhir selalu menyederhanakan cerita. Yang menarik justru apa yang terjadi di antara menit 67 dan 79, dua belas menit ketika satu tim memutuskan untuk berpikir ulang dan tim lainnya memutuskan untuk berdoa.
Laga semalam bukan sekadar drama. Ia pelajaran tentang bagaimana negara, seperti tim sepak bola, memilih cara bertahan hidup di lapangan yang tidak mereka kuasai.
Rencana Mesir sebetulnya berjalan nyaris sempurna. Blok rendah, penguasaan bola cukup 42 persen, semua serangan dialirkan ke satu alamat: Mohamed Salah. Gol pertama datang di menit 15 dari skema itu, gol kedua di menit 67. Untuk tim dengan sumber daya terbatas melawan raksasa, ini strategi yang rasional. Dan hampir berhasil.
Saya menonton laga itu sambil memikirkan politik luar negeri kita, sebab pada dasarnya Indonesia juga sedang parkir bus. Bebas-aktif dalam praktik hari ini berarti blok rendah: tidak memihak, tidak menyerang, menunggu bola liar.
Kita masuk BRICS pada Januari 2025 sambil tetap memproses aksesi OECD. Kita berunding tarif dengan Washington sambil menjaga Beijing tetap ramah. Dua sayap dijaga sekaligus, tidak ada yang benar-benar diserang.
Refleks itu terlihat jelas ketika eskalasi Timur Tengah pada Maret lalu sempat menutup Selat Hormuz, mengerek harga minyak dan menekan rupiah. Jawaban kita adalah jawaban bek: rapatkan barisan, amankan gawang, jangan kebobolan. Tidak salah. Negara menengah memang tidak dirancang untuk pressing tinggi terhadap kekuatan besar.
Masalahnya, parkir bus hanya menjaga keunggulan sampai menit 79. Setelah itu, tim yang hanya bisa bertahan akan kalah dari tim yang bisa mengubah bentuk. Bertahan adalah taktik, bukan tujuan. Tidak ada negara yang masuk buku sejarah karena berhasil tidak kebobolan.
Di lapangan, taktik yang dipilih Scaloni saat tertinggal dua gol justru bukan hal dramatis. Ia tidak membuang sistem, tidak panik, tidak mengganti kiper dengan penyerang. Ia menarik dua pemain pada menit 66, satu lagi pada menit 73, menggeser tempo, memperlebar lapangan. Tiga belas menit kemudian gol pertama datang. Scaloni membaca laga. Mesir, sejak unggul, hanya membaca papan skor, dan papan skor mengatakan semuanya baik-baik saja.
Taktik Mesir mirip dengan tabiat para pengambil kebijakan kita, terlalu sering membaca papan skor: angka survei kepuasan, tren media sosial, gejolak harga minggu ini. Respons pun bagai kejar-kejaran skor. Bantuan sosial dipercepat menjelang angka turun, pernyataan dikeluarkan setelah tagar naik. Ini reaksi, bukan strategi.
Membaca laga berarti membaca arus di bawah skor: kelas menengah yang menipis, deindustrialisasi dini, ruang fiskal yang menyempit, tatanan dunia yang sedang dibongkar ulang oleh rivalitas Amerika-Tiongkok. Skor hari ini bisa terlihat aman, arus laga bisa bercerita sebaliknya. Pelatih yang baik melakukan pergantian sebelum kebobolan, bukan sesudahnya.
Ada pelajaran lain, dan ini yang paling tidak nyaman. Mesir semalam adalah tim satu orang. Setiap bola panjang mencari Salah, setiap serangan balik menunggu Salah. Ketika Argentina akhirnya mengunci satu pemain itu, seluruh bangunan runtuh, dan Mesir tidak punya jawaban kedua.
Argentina sebaliknya. Messi ada di lapangan, tetapi yang membalikkan laga justru bangku cadangan. Para pemain yang masuk pada menit 66 dan 73 bukan sekadar kaki segar. Mereka bukti bahwa tim itu berlatih untuk skenario buruk, bahwa gol bisa lahir dari desain, bukan hanya dari keajaiban satu orang.
Politik Indonesia seperti taktik Mesir mengandalkan Salah. Institusi dibangun mengelilingi figur: koalisi dirajut lewat kesepakatan pribadi, kementerian bergerak menunggu arahan, birokrasi menoleh ke atas sebelum menoleh ke masalah. Selama figur kuat dan sehat, sistem tampak berjalan, persis seperti Mesir tampak menang sampai menit 79.
Bangku cadangan republik, kalau mau jujur, nyaris kosong. Kaderisasi partai macet di nama-nama lama, regenerasi birokrasi tersandera senioritas. Negara yang bergantung pada kehebatan individu sedang berjudi bahwa individu itu tidak pernah lelah, tidak pernah salah, dan tidak pernah pergi. Judi semacam itu selalu kalah. Hanya waktunya yang berbeda-beda.
Ada satu fakta yang mengganjal dari semua cerita dari laga ini: Indonesia tidak bermain di Piala Dunia 2026. Kita gugur di ronde keempat kualifikasi. Empat puluh delapan tim berlaga di Amerika, dan negara berpenduduk 280 juta ini menonton dari tribun.
Dalam percaturan geopolitik tidak ada tribun. Semua negara otomatis berada di lapangan, suka atau tidak. Pertanyaannya hanya apakah kita bermain dengan rencana atau sekadar berdiri di kotak penalti sendiri, berharap laga cepat selesai.
Mesir semalam kalah terhormat. Ia punya rencana, punya disiplin, dan hampir menang. Yang tidak ia punya adalah cara kedua bermain ketika rencana pertama habis. Empat kartu kuning di menit-menit akhir adalah potret tim yang kehabisan ide sebelum kehabisan waktu.
Bola itu bulat. Tetapi semalam Scaloni mengingatkan: bulat saja tidak cukup. Yang menentukan adalah siapa yang masih bisa berpikir pada menit ke-79.
- Penulis: Wicaksono
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar