Breaking News
light_mode
Trending Tags

SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

  • account_circle Redaksi Mataleza
  • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
  • visibility 438
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Malam itu, 26 April 2026,ย  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan.

Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, satu nama terus menggema: SMPSK Kotagoa Boawae. Mereka datang bukan hanya sebagai peserta, melainkan sebagai juara bertahan. Sebuah status yang bukan sekadar gelar, tetapi beban sekaligus kebanggaan yang harus dijaga.

Sejak peluit pertama turnamen dibunyikan, perjalanan mereka tak pernah benar-benar mudah. Setiap pertandingan adalah ujian. Setiap lawan adalah tantangan. Namun, Ronal dan kawan-kawan menolak untuk goyah. Di bawah arahan Coach Aris Lege, mereka bermain bukan hanya dengan strategi, tetapi dengan rasa, menghidupkan permainan yang mengalir, menyatu, dan penuh irama.

Umpan-umpan pendek yang cepat, pergerakan tanpa bola yang lincah, dan sentuhan yang presisi membuat permainan mereka tampak seperti sebuah tarian. Bukan tarian biasa, melainkan Toda Gu, tarian khas Boawae yang sarat makna dan kebersamaan. Di atas lapangan futsal, budaya itu hidup, menjadi gerak, menjadi strategi, menjadi identitas.

Dan akhirnya, tibalah malam penentuan itu. Di hadapan mereka berdiri lawan yang tak kalah tangguh: SMP St. Theresia Kupang, tim dari ibu kota provinsi yang datang dengan reputasi mentereng. Kemenangan demi kemenangan yang mereka raih sebelumnya membuat mereka tampak seperti mesin gol yang sulit dihentikan.

Pertandingan pun dimulai.

Sejak menit awal, tempo langsung meninggi. Serangan datang silih berganti, seakan kedua tim sepakat untuk tidak memberi ruang bernapas. Setiap bola yang bergulir membawa ancaman. Setiap peluang memicu jeritan penonton.

Gol demi gol tercipta. Skor terus berubah. Ketegangan menggantung di udara.

Ronal, sang kapten, tampil sebagai jantung permainan. Dengan ketenangan dan ketajamannya, ia mencetak dua gol penting, gol yang bukan hanya menambah angka, tetapi juga membakar semangat tim. Di sisi lain, Carli tak mau kalah. Dua gol darinya lahir dari kerja keras dan insting tajam di depan gawang. Dan ketika momen krusial datang, Farel muncul sebagai penentu, menyarangkan satu gol yang seolah mengunci harapan.

Namun, kemenangan itu tidak datang dengan mudah. SMP St. Theresia Kupang terus menekan. Mereka melawan hingga detik terakhir. Skor 5โ€“4 menjadi cermin betapa sengitnya laga tersebut, sebuah pertarungan yang tidak memberi ruang bagi kesalahan sekecil apa pun.

Ketika peluit panjang akhirnya dibunyikan, waktu seolah berhenti sesaat. Lalu, ledakan kegembiraan pun pecah. Para pemain SMPSK Kotagoa Boawae berpelukan, sebagian terjatuh di lapangan, larut dalam haru. Penonton bersorak, tepuk tangan menggema, dan malam itu menjadi milik mereka sepenuhnya. Dari pinggir lapangan, kegembiraan juga terlihat pada Bapak kepala sekolah dan bapak ibu guru dari SMPSK Kotagoa Boawae yang ikut menyaksikan pertandingan final.

Di pinggir lapangan, Coach Fani Dapa dari SMP St. Theresia Kupang hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Ia tahu, timnya telah memberikan segalanya. Namun, malam itu, mereka harus mengakui keunggulan lawan yang tampil lebih padu, lebih berani, dan lebih hidup.

Kemenangan ini bukan sekadar mempertahankan piala bergilir. Ia adalah pernyataan. Bahwa SMPSK Kotagoa Boawae bukan hanya tim kuat, tetapi juga tim yang memiliki jiwa-jiwa yang menari, berjuang, dan tak pernah menyerah.

Dan di bawah cahaya lampu Lapangan Mardiwiyata Ndao, satu hal menjadi jelas:
selama mereka masih menari dalam irama kebersamaan, takhta itu akan selalu mereka jaga.

Kotagoa, 2026

  • Penulis: Redaksi Mataleza
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi-puisi Alvares Keupung: Paket Cinta dari Laut, Whatsapp, Percakapan dengan Angin

    Puisi-puisi Alvares Keupung: Paket Cinta dari Laut, Whatsapp, Percakapan dengan Angin

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 81
    • 0Komentar

    Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya โ€œSang Penuturโ€, berdomisili di Ende. PAKET CINTA DARI LAUTAN Sewaktu aku mandi di lautan Sungguh, aku merasakan getaran cintanya Dia tak pernah mengingkari jati dirinya, setia memberi asin garamnya Laut memang pergi dan datang menghempas tepian Gelora suaranya bertebaran ke langit Namun tak pernah […]

  • KRISIS KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN INDONESIA YANG MASIH TERABAIKAN

    KRISIS KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN INDONESIA YANG MASIH TERABAIKAN

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle Noyaldista Lisan
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Oleh: Noyaldista Lisan Npm : 25201051 Kelas:2025B Program Studi: Keperawatan   Kesehatan reproduksi wanita merupakan salah satu aspek penting yang sering kali belum mendapatkan perhatian yang memadai di masyarakat. Padahal, kesehatan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seorang wanita untuk memiliki keturunan, tetapi juga mencakup kesehatan fisik, mental, dan sosial yang berhubungan dengan sistem reproduksi. […]

  • AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    AMBIVERT: Menelisik Kisah Tokoh Aku Melalui Kenyataan di Sekitar

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Aku ingin pamerkan setiap aktivitasku, sejak subuh hingga petang. Supaya mereka tidak mempermainkanku soal waktu, membuatku menunggu, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk berbenah. (Ia dan Mereka yang Berisik) Saya membuka tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah pernyataan dalam buku yang berjudul Ambivert. Dan persis buku inlah yang akan saya ulas seringkas mungkin sesuai kapasitas […]

  • Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Oleh: Fianย N “Lama bersama belum tentu berakhir di pelaminan.” Kita mungkin pernah mendengar ungkapan itu diucapkan dalam berbagai kesempatan. Ada yang menyampaikannya sebagai nasihat, ada pula yang mengatakannya dengan nada getir setelah mengalami sendiri pahitnya perpisahan. Karena terlalu sering terdengar, kalimat itu terkadang dianggap sebagai ungkapan biasa. Padahal, bagi sebagian orang, ia lahir dari pengalaman […]

  • Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Maxi L. Sawung
    • visibility 266
    • 0Komentar

    Redup Aku akhirnya memilih agar tu(h)an ataupun siapa saja tidak merenggut luka milikku. Beberapa tangan datang mengetuk, beberapa tangan mencoba memeluk tapi tetap aku tutup pintu makam batu itu. Kau pernah sekali atau bahkan berkali-kali dengan buru-buru berlari agar lekas sampai ketika datang melayat lukaku. Sekadar menanyakan perihal masa penyembuhan atau bagaimana dengan bekas luka-luka […]

  • DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Maria Makdalena
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Doa Di ujung harap aku berdoa, sembari mengatup penuh khusyuk. Bait demi bait mulai melantun. Seirama deru angin di siang itu. Di perhentian itu aku terdiam, riuhnya alam bergejolak mengiyakan seluruh ucapan yang terhenti di langit. Dalam lantunan doa yang dilafas, di seberang sana ada wanita janda sedang menangis. Ratapan demi ratapan mulai terdengar, adakah […]

expand_less