Breaking News
light_mode
Trending Tags

SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

  • account_circle Redaksi Mataleza
  • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
  • visibility 430
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan.

Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, satu nama terus menggema: SMPSK Kotagoa Boawae. Mereka datang bukan hanya sebagai peserta, melainkan sebagai juara bertahan. Sebuah status yang bukan sekadar gelar, tetapi beban sekaligus kebanggaan yang harus dijaga.

Sejak peluit pertama turnamen dibunyikan, perjalanan mereka tak pernah benar-benar mudah. Setiap pertandingan adalah ujian. Setiap lawan adalah tantangan. Namun, Ronal dan kawan-kawan menolak untuk goyah. Di bawah arahan Coach Aris Lege, mereka bermain bukan hanya dengan strategi, tetapi dengan rasa, menghidupkan permainan yang mengalir, menyatu, dan penuh irama.

Umpan-umpan pendek yang cepat, pergerakan tanpa bola yang lincah, dan sentuhan yang presisi membuat permainan mereka tampak seperti sebuah tarian. Bukan tarian biasa, melainkan Toda Gu, tarian khas Boawae yang sarat makna dan kebersamaan. Di atas lapangan futsal, budaya itu hidup, menjadi gerak, menjadi strategi, menjadi identitas.

Dan akhirnya, tibalah malam penentuan itu. Di hadapan mereka berdiri lawan yang tak kalah tangguh: SMP St. Theresia Kupang, tim dari ibu kota provinsi yang datang dengan reputasi mentereng. Kemenangan demi kemenangan yang mereka raih sebelumnya membuat mereka tampak seperti mesin gol yang sulit dihentikan.

Pertandingan pun dimulai.

Sejak menit awal, tempo langsung meninggi. Serangan datang silih berganti, seakan kedua tim sepakat untuk tidak memberi ruang bernapas. Setiap bola yang bergulir membawa ancaman. Setiap peluang memicu jeritan penonton.

Gol demi gol tercipta. Skor terus berubah. Ketegangan menggantung di udara.

Ronal, sang kapten, tampil sebagai jantung permainan. Dengan ketenangan dan ketajamannya, ia mencetak dua gol penting, gol yang bukan hanya menambah angka, tetapi juga membakar semangat tim. Di sisi lain, Carli tak mau kalah. Dua gol darinya lahir dari kerja keras dan insting tajam di depan gawang. Dan ketika momen krusial datang, Farel muncul sebagai penentu, menyarangkan satu gol yang seolah mengunci harapan.

Namun, kemenangan itu tidak datang dengan mudah. SMP St. Theresia Kupang terus menekan. Mereka melawan hingga detik terakhir. Skor 5–4 menjadi cermin betapa sengitnya laga tersebut, sebuah pertarungan yang tidak memberi ruang bagi kesalahan sekecil apa pun.

Ketika peluit panjang akhirnya dibunyikan, waktu seolah berhenti sesaat. Lalu, ledakan kegembiraan pun pecah. Para pemain SMPSK Kotagoa Boawae berpelukan, sebagian terjatuh di lapangan, larut dalam haru. Penonton bersorak, tepuk tangan menggema, dan malam itu menjadi milik mereka sepenuhnya. Dari pinggir lapangan, kegembiraan juga terlihat pada Bapak kepala sekolah dan bapak ibu guru dari SMPSK Kotagoa Boawae yang ikut menyaksikan pertandingan final.

Di pinggir lapangan, Coach Fani Dapa dari SMP St. Theresia Kupang hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Ia tahu, timnya telah memberikan segalanya. Namun, malam itu, mereka harus mengakui keunggulan lawan yang tampil lebih padu, lebih berani, dan lebih hidup.

Kemenangan ini bukan sekadar mempertahankan piala bergilir. Ia adalah pernyataan. Bahwa SMPSK Kotagoa Boawae bukan hanya tim kuat, tetapi juga tim yang memiliki jiwa-jiwa yang menari, berjuang, dan tak pernah menyerah.

Dan di bawah cahaya lampu Lapangan Mardiwiyata Ndao, satu hal menjadi jelas:
selama mereka masih menari dalam irama kebersamaan, takhta itu akan selalu mereka jaga.

Kotagoa, 2026

  • Penulis: Redaksi Mataleza
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Duka Pernikahan  dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Sella Suhardi
    • visibility 265
    • 5Komentar

    Duka Pernikahan (I) Aku pernah, pernah sekali mencintaimu Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar   Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap […]

  • Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Dr. Made Supriatma
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Made Supriatma, Peneliti masalah Sosial dan Politik (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Matinya Altruisme? Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi datang dari semua arah. Kemarin, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini. Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 229
    • 1Komentar

    Lara Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan. Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja. Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan […]

  • Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rein Lagang
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Oleh: Rein Lagang, Mahasiswa IFTK Ledalero.  Komunikasi tak hanya berfungsi menjadi alat penyampaian informasi, tetapi pula sebagai sarana untuk membangun ciri-ciri, menjaga kehormatan, serta mempertahankan korelasi sosial. Dalam setiap interaksi, individu sebenarnya sedang melakukan perundingan terhadap “wajah” (face), yaitu gambaran diri serta harga diri yg ingin dipertahankan di hadapan orang lain. Konsep ini dijelaskan secara […]

  • PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    PERMEN: Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur, Renungan Harian Katolik Edisi 12 Mei 2026

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 261
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Selasa Paskah ke-6 – 12 Mei 2026 – Roh Kudus: Kubur Niatan Kabur Inspirasi: Kis 16:22-34, Yoh 16:5-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kali ini Paulus dan Silas menunjukkan kualitas sebagai orang beriman dan pengikut Kristus. Keduanya di penjara tetapi hati mereka selalu merdeka dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Anggota tubuh […]

  • Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    Sudut Pandang: Orang Papua, Mari Banyak Membaca

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Maiton Gurik
    • visibility 163
    • 2Komentar

    Oleh: Maiton Gurik, Pegiat Literasi Papua (Sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Orang Papua tidak membaca buku, berarti kita membiarkan diri kita hanya berjalan dengan satu kaki. Kita hanya mengandalkan pengetahuan yang terbatas, sementara orang lain berjalan sudah sepuluh langkah dengan pengetahuan yang luas, mendalam, dan lengkap. Membaca buku berarti menemukan ide […]

expand_less