Breaking News
light_mode
Trending Tags

PERMEN: Kenaikan Yesus: Jaminan Bagi Gereja, Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan, Edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

  • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
  • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
  • visibility 326
  • comment 5 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERMEN edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan
14 Mei 2026 –
Kenaikan Yesus: Jaminan bagi Gereja Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan
Inspirasi: Kis 1:1-11, Ef 1:17-23, Matius 28:16-20

Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan.

Cerita-cerita tetang Yesus yang bangkit dari antara orang mati telah kita terima selama 40 hari. Yesus bangkit yang selanjutnya menampakkan diri, sungguh menambah keyakinan kita akan kemuliaan Allah. Kebangkitan Yesus menambah semarak dan menambah modal iman kita. Dari sinilah, kita dibangkitkan harapan. Kalau Yesus tidak bangkit sia-sialah hidup iman kita.
Bersamaan dengan itu, Hari ini kita Rayakan Hari Kenaikan Yesus ke Surga. Yesus dimuliakan di tempat Allah sendiri berada. Kalau kita pantau Firman Suci akhir-akhir ini, Yesus selalu bersabda bahwa Dia dan Bapa adalah satu. Di mana Bapa-Nya berada, Yesus berada.

Menariknya, kata-kata itu mendapat pemenuhan dan kemuliaan dalam peristiwa hari ini yang kita rayakan dengan gembira, Yesus naik ke Surga.

Yesus naik ke Surga menandakan bahwa Dialah manusia pertama yang naik ke Surga dan ikut serta dalam kemuliaan serta kekuasaan Bapa. Yesus naik ke Surga menandakan agar kita dapat ikut serta dalam kekuasaan yang mengalahkan maut dan dosa. Yesus naik ke Surga sebagai jaminan bahwa kita Gereja-Nya, akan mengikuti kemuliaan-Nya karena Yesus kepalanya sudah mendahului masuk Surga.
Yesus naik ke Surga menjadi jaminan bagi kita selaku Gereja Rumah Tangga dalam mencapai kemuliaan Surgawi. Dalam iman kita meyakini bahwa kemuliaan Surgawi dapat kita rasakan karena belas kasih Allah. Allah sungguh mengasihi kita dan tidak mau kita sendirian. Makanya, ada kisah tentang dua orang berpakaian putih yang dekat para murid ketika Yesus naik ke Surga. Yesus selalu mau dekat dengan kita pakai cara apa saja. Semoga kita juga mau dekat dengan Yesus dalam keadaan apa saja.

Selanjutnya, kemuliaan Surgawi dapat dirasakan ketika kita sungguh-sungguh menjalani hidup di bumi. Jadi, semakin kita sungguh-sungguh hidup di bumi, maka kita kian merasakan kemuliaan Surgawi. Memang, kemuliaan Surgawi yang paling sempurna dan paripurna bakal kita rasakan setelah kita wafat lalu bangkit. Namun kita dapat merasakan kemuliaan Surgawi itu sejak kita di bumi. Asalkan kita selalu berjuang untuk sungguh-sungguh di bumi karena dengan demikian kita akan dimuliakan. Semakin kita bekerja sungguh-sungguh semakin kita dimuliakan. Semakin kita berkata sungguh-sungguh semakin kita dimuliakan.

Bagaimana tanda kesungguhan itu dapat dirasakan? Bagaimana kesungguhan itu dapat kita tunjukkan. Yah, dengan dekat pada Tuhan. Yah, dengan kita mau berkarya dan mewartakan Tuhan. “… Jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu … !”

Ini berarti, sejak dipermandikan, kita telah mengambil bagian dalam Tri-tugas Kristus sebagai Imam, Nabi, dan Raja.

Sebagai Imam, kita telah dipanggil untuk menerima tanggung jawab membawa misi kekudusan kepada dunia. Dalam tugas dan perutusan kita itu kita mesti mewartakan Allah yang kudus. Allah yang senantiasa mencurahkan rahmat kekudusan kepada setiap orang yang percaya. Hidup suci di dalam Tuhan berarti kita mau secara sungguh menghayati kehidupan sesuai dengan perintah-perintah Tuhan. Hidup seturut Firman dan kehendakNya.

Sebagai Nabi, kita juga dipanggil untuk membawa misi kebenaran dan keadilan, karena Allah sendiri adalah Allah yang baik dan benar serta Allah yang adil. Kebenaran dan keadilan mesti menjadi semangat yang menjiwai seluruh hidup dan karya perutusan kita. Dengan misi sebagai seorang nabi kita juga perlu bertahan dalam setiap cobaan dan tantangan yang akan kita hadapi sebagai pengikut Kristus. Sebagai nabi Allah yang sejati, kita pun mesti siap menerima risiko/konsekuensi yang berat. Namun apapun risiko dari misi kita ini, kita tetap mempunyai satu harapan yang pasti bahwa Tuhan akan menyertai kita sampai akhir zaman. Tuhan tak akan membiarkan kita berjalan sendirian.

Sebagai Raja, kita juga dipanggil untuk membawa misi kepemimpinan yang sejati. Kepemimpinan yang terarah kepada karya pelayanan yang nyata kepada kebaikan dan kebahagiaan banyak orang. Misi ini juga serentak mengandung makna bahwa kita dipanggil untuk menjadi pemimpin atas diri kita sendiri. Memimpin diri berarti kita juga siap dan berani untuk melawan setiap bentuk keinginan dan nafsu diri yang menjerumuskan kita kepada dunia dosa dan kejahatan. Sudah waktunya kitai berani mengontrol diri dari kecenderungan untuk berbuat dosa dan mau menjadi setia di hadapan Tuhan sebagai anak-anak Allah yang merdeka.

Semoga kesungguhan hidup kita di bumi menambah kemuliaan Tuhan dan dengan itu kita pun dimuliakan.(mof)

  • Penulis: Rm. Laurensius Feto, P.r
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (5)

  • ,Hyasinta Mi

    Terima kasih renungan hari ini sangat menguatkan! Kenaikan Kristus merupakan kemenangan iman kita,kiranya Kristus senantiasa menjadi kepala setiap rumah tangga dan persekutuan gereja kita.Tuhan memberkati dan semoga sukses selalu.

    Balas17 Mei 2026 12:21 pm
  • Jo_Atu_Wea

    dulu kami di kampung bilang isi bombon, hari ini dan memang yang seharusnya adalah PERMEN;
    apapun sebutan atau kemasannya tapi isi atau esensi tidak berubah.
    leluya, leluya, leluya

    Balas16 Mei 2026 7:19 am
  • Nefi Dena

    Master Oyen selalu kerren dari dulu…
    Semoga kebangkitan Yesus Kristus juga membangkitkan semangat kita untuk hidup lebih baik kedepannya🤍

    Balas14 Mei 2026 11:37 pm
    • Mataleza

      Ade Nefi, terima kasih. Salam dan sehat selalu. Semoga nanti datang berkunjung lagi ker Perpustakaan Pondok Baca Mataleza Olakile.

      Balas15 Mei 2026 3:43 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 803
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul “Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai “beban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

  • Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Singkirkan dulu euforia kemenangan 2-0 Prancis atas Maroko di laga Piala Dunia dini hari tadi. Ada rangkaian peristiwa penting lain yang lebih menyita perhatian masyarakat, yaitu penggeledahan yang dilakukan Polri ke sejumlah tempat, pernyataan Kejaksaan Agung, dan penjelasan TNI. Peristiwa tersebut, meski penting dan menjadi perhatian publik, sebaiknya dibaca dengan hati-hati. Ini bukan […]

  • Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan) Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, […]

  • Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Melinda Kristy Setyarini
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Oleh: Melinda Kristy Setyarini Pagi belum sepenuhnya terang ketika bapakku sudah memulai harinya. Saat sebagian orang masih menikmati sisa tidur atau bersiap dengan pakaian rapi sebelum berangkat bekerja, bapak sudah lebih dahulu sibuk di peternakan bebek. Ada bebek-bebek yang harus diurus dan pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Setelah semuanya selesai, langkahnya berlanjut menuju sawah. Dari […]

  • Setelah Bertemu, Kami Berteman

    Setelah Bertemu, Kami Berteman

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Ada pertemuan yang sejak awal tidak pernah kita rencanakan. Ia datang begitu saja, seperti sebuah kebetulan kecil yang ternyata diam-diam sedang disiapkan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup. Begitulah saya mengingat pertemuan pertama dengan Abang Ruslan. Siang itu, di sebuah warung makan. Saya sedang duduk seorang diri, menikmati makanan sambil mungkin memikirkan banyak hal yang […]

  • Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 269
    • 0Komentar

    Kekalahan sering kali menjadi momok yang dihindari dalam dunia sepak bola. Namun, dalam kacamata strategi yang lebih luas, sebuah kekalahan adakalanya bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah bidak yang sengaja digeser demi memenangkan pertempuran yang lebih besar. Sudut pandang inilah yang menyeruak ketika penulis mencermati kekalahan 3-1 PSN Ngada dari Unaaha FC dalam laga pamungkas […]

expand_less