Breaking News
light_mode
Trending Tags

Api Melawan Api, Dibawah Langit Bumi Nyiur Melambai Tersimpan Luka Kekecewaan: Memori Kolektif Peristiwa Permesta Di Kota Tomohon, Sulawesi Utara 1957 – 1961

  • account_circle Ferdinand Fransesco
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 10
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Ferdinand Fransesco Palendeng, Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma

2 Maret 1957 adalah momen besar bagi masyarakat daerah khususnya wilayah Sulawesi, untuk menuntut keadilan terhadap pemerintah pusat. Akan tetapi, tuntutan bersifat damai harus dibalas dengan timah panas yang bergemuruh dengan dalih menumpas pemberontakan. Gerakan yang diperjuangkan dengan maksud keadilan akibat ketimpangan, malah dibalas dengan cara yang keras. Inilah kisah perjuangan bagaimana Permesta melawan Pemerintah Pusat, hingga akhirnya kembali kepangkuan ibu pertiwi dalam memori kolektif masyarakat Tomohon, khususnya dari sang penulis yang memiliki ikatan darah pejuang Permesta….

Akar Konflik

Ventje Sumual adalah putra Minahasa yang memproklamirkan berdirinya Dewan Manguni yang termasuk kedalam perlawanan melawan pemerintah pusat karena kekecewaan terhadap ketimpangan antara pusat dan daerah yang tidak adil. Konflik pusat daerah ini tidak lepas dari faktor kabinet liberal parlemen yang silih berganti dan membuat kebijakan yang cenderung mengistimewakan wilayah Jawa ketimbang daerah Timur khususnya Celebes yang justru dianaktirikan. Puncaknya saat era terpimpin, Bung Karno naik ke tampuk kekuasaan sebagai penguasa absolut dari sistem yang semi totaliter dengan pemerintahan tangan besi dari sang Proklamator.

“Oma, jadi dang cuman karna ketimpangan sampe – sampe so baku picah antara pusat deng daerah?” kata saya. “iyo, karna itu noh ngana pe opa sampe jadi tentara. Bilang sih mo berjuang for keadilan. oma baru baku dapa deng opa masih muda, kong kaweng di umur 19 taong deng oma ley waktu itu baru tau kalo opa ternyata kote tentara Permesta”. (“Nek, jadi hanya karena ketimpangan sampai terjadi konflik antara pusat dan daerah?”. “Iya, karena itu kakekmu jadi tentara. Katanya sih mau berjuang demi keadilan. Nenek ketemu dengan kakek sewaktu masih muda, terus menikah di umur 19 tahun dan saat itu nenek baru tau kalau kakek ternyata tentara Permesta”).

Teringat betul apa yang dikatakan almarhum nenek saya, sewaktu saya masih SMP ketika ia bercerita tentang bagaimana pengalaman hidupnya bersama dengan kakek dibawah bayang – bayang ancaman laras senapan. Narasi pemerintah yang selalu menyudutkan kelompok Permesta dengan dalih pemberontak, seolah – olah mengucilkan peran pejuang orang Minahasa yang juga punya andil dalam memperjuangkan kemedekaan Indonesia dulu. Namun, karena rasa kekecewaan berakhir dengan konflik yang menghasilkan ironi dalam catatan perjalanan bangsa Indonesia. Permesta yang terjadi di Sulawesi, adalah aksi nyata sebuah perjuangan menjadi cermin melawan ketidakadilan.

Terpukul Mundur dan Kembali Ke Ibu Pertiwi

Memasuki tahun 1959, posisi Permesta semakin terdesak, yang awalnya berpusat di Makassar kemudian berpindah ke Manado sebagai basis pertahanan utama. Dari sinilah realita harus menghantam bangsa Indonesia dimana pejuang Permesta ternyata mendapat dukungan diam – diam dari Amerika Serikat melalui CIA, setelah pesawat B29 yang dikemudikan Pilot AS Allen Pope, yang mengangkut persenjataan ditembak jatuh di Maluku. Berita ini sampai ke telinga tentara pusat yang saat itu ada di Manado, dimana kondisi Manado sudah kembali steril dari Permesta yang membuat Permesta harus masuk ke pedalaman dan menerapkan strategi Gerilya, dan menjadikan Tomohon sebagai basis pertahanan. Dari situ, muncul istilah dari tentara pusat yang menurut nenek saya katakan, tentara Permesta dijuluki sebagai ‘Antek Amerika’.

Tomohon yang selama ini dikenal sebagai kota bunga, kota pendidikan karena banyaknya sekolah, serta julukan lain yakni kota dengan pasar ekstrim karena menjual daging hewan yang aneh – aneh, ternyata punya sejarah kalau dulunya menjadi basis pertahanan Permesta dalam bergerilya. Ada suatu wilayah di Tomohon yang menjadi bukti konkrit jejak Permesta yang bahkan sampai saat ini masih ada dan bahkan rute gerilya Permesta, sudah berkembang menjadi jalan beraspal menuju sebuah kelurahan. Wilayah itu bernama Woloan.

Kelurahan Woloan saat ini, khususnya Woloan I menjadi lokasi bersejarah karena pernah menjadi tempat perundingan damai antara tentara Permesta yang diwakili Mayjend. Alex Kawilarang sedangkan TNI (tentara Pusat) diwakili oleh Mayjend Hidayat dan Brigjend A. Yani di Perkebunan Susupuan (saat ini masuk Kelurahan Woloan I) pada 14 April 1961. Sebenarnya sudah ada perpecahan internal Permesta dimana Alex Kawilarang menghendaki persatuan dan menyatakan bahwa gerakan daerah di Sulawesi adalah murni untuk menuntut keadilan otonomi daerah dari pusat, berbeda dengan Sumual yang menghendaki berdirinya negara baru didalam NKRI. Rekonsiliasi antara pusat dan daerah berlangsung damai selama bulan April 1961 setelah Permesta berhasil ditumpas dan banyak petinggi menyatakan kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Sumual awalnya menolak, namun tidak punya pilihan lain selain mengikuti bosnya yakni Alex Kawilarang untuk berdamai dengan pemerintah pusat, meski pada akhirnya dipenjaran dan kemudian menjadi seorang pengusaha. Untuk memperingati peristiwa Permesta pada 2 Maret 1957, berdirilah sebuah monumen dipinggir jalan dan sebuah arah penunjuk jalan sebagai simbol sejarah dan memori kelam akibat perpecahan dimasa lampau.

Memori Kolektif

Dari Tomohon, terbentuklah sebuah ingatan kolektif masyarakat atas pergerakan Permesta 1957. Keluarga penulis dalam hal ini memiliki garis keturunan Permesta dari kakek pihak Ibu. Kakek saya bernama Jan Sumendap (lebih akrab disapa Bapak/Opa Yan). Pengalaman kolektif ini diperoleh atas cerita almarhum nenek yang meninggal pada 17 Agustus 2024 lalu, yang dimana takdir seolah – olah berbicara bahwa akan dipertemukan dan menjadi pasangan seumur hidup. Nenek saya menikah pada umur 19 tahun, dan kakek memberikan mas kawin berupa kebun luas. Cerita nenek bahkan saat pernikahan berlangsung, mereka dijaga oleh teman – teman kakek yang harus berjaga karena pernikahan itu berlangsung di sekitar hutan karena di wilayah pinggiran kota tidak aman dari tentara Pusat (TNI).

Ingatan kolektif ini terbentuk bukan hanya dari cerita nenek tentang kakek yang dulunya adalah pejuang Permesta. Namun ternyata, kakek dari pihak Ayah (ayah dari ayah penulis) adalah seorang tentara juga. Kakek kedua, adalah tentara Pusat dengan pangkat Sersan. Ayah sering bercerita tentang kakek juga, tentang kehidupan yang keras serta ingatan kolektif tentang saudara kakek saya. Ayah bercerita kalau kakek dulunya adalah seorang sersan, dan kakak dari kakek adalah seorang pejuang Permesta juga yang sama dengan kakek dari pihak ibu. Namun ceritanya tidak begitu detail tentang kakaknya si kakek yang dimaksud Ayah. Nenek (ibu dari ibu penulis), pastinya sudah tahu betul tentang kakek dari ayah, karena kebetulan satu kompi dengan kakek Jan (Opa Yan Sumendap).

Ingatan kolektif ini, seakan – akan membuat penulis sadar kalau ternyata saya (penulis) memiliki darah keturunan Prajurit (jiwa korsa) dari ketiga kakek (kedua kakek dari pihak ayah, dan kakek dari pihak ibu), meskipun dua diantaranya adalah seorang mantan pejuang Permesta. Saat ini, ketiganya sudah pergi namun jasa – jasa mereka tidak akan pernah dilupakan oleh keluarga penulis bahwa keluarga penulis (saya) memiliki tragedi yang ironis sekaligus traumatis yang juga berkaitan dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia khususnya di Sulawesi Utara, di tanah Minahasa tepatnya di Tomohon yang menyimpan luka. Luka karena perbedaan keyakinan dari kakek dari pihak ayah yang berjuang untuk NKRI sedangkan dilain sisi, kakek dari pihak ibu (Opa Yan) yang justru berjuang membela keadilan akibat luka kecewa atas pemerintah pusat karena ketidakadilan yang ada.

Akhir Kata

“Aku adalah cucu dari tiga tentara. Aku memaknai perjuangan mereka bukan hanya dari ingatan kolektif keluarga akan peristiwa Permesta. Namun, hal itu menjadi pelajaran bagi saya dalam memahami dan memaknai perjuangan mereka agar supaya, kelak ketika saya memiliki cucu, aku akan mencegah itu semua agar tidak terjadi lagi tragedi yang membekas di ingatan secara kolektif baik antara teman, saudara, bahkan keluarga.”

Bangga memiliki jiwa korsa!

 

  • Penulis: Ferdinand Fransesco
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Ita Martadinata Haryono; Sebelum Dunia Mendengar

    Sudut Pandang: Ita Martadinata Haryono; Sebelum Dunia Mendengar

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Stefani Kurnia
    • visibility 75
    • 0Komentar

    “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.” (Lukas 8:17) Perjalanan hidup dan perjuangan sosok manusia tidak pernah ditentukan oleh berapa lama ia berada di dunia, melainkan seberapa besar nyala api keberanian yang ditinggalkannya. Di tengah gelapnya sejarah bangsa Indonesia pada […]

  • Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Di Rumah Tuhan Hujan pun turun, lalu aku berteduh di rumah-Nya. Kutatap langit, reda, lalu kupamit pulang. Namun hujan kembali mengguyur, seolah Dia hendak  berkata: ”Jangan pulang dulu, Aku masih rindu.” Aku singgah di perhentian terakhir,  dan di sana pun, Dia menyambut. Dengan lembut, tanpa suara, tapi hangat seperti peluk yang tak terlihat. Mungkin memang […]

  • Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus mengharukan. Dengan penuh rasa syukur, saya mengucapkan selamat kepada 207 cucu-cucuku yang cantik dan ganteng, Angkatan ke-72 SMPSK Kotagoa Boawae, yang hari ini dinyatakan lulus. Angka 207 ini terasa istimewa. Jika angka nol di tengah dihilangkan, lalu posisi angka 2 dan 7 ditukar, maka akan menjadi 72, sama […]

  • Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Publikasi Politeknik St. Wilhelmus Boawae
    • visibility 237
    • 0Komentar

    NAGEKEO, 30 Maret 2026 – Politeknik St. Wilhelmus (PSW) mempertegas komitmennya dalam pembangunan masyarakat berbasis vokasi melalui kegiatan panen perdana wortel organik di Desa Lajawajo, Kabupaten Nagekeo, Senin (30/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Sekolah Vokasi Desa melalui pembuatan kebun percontohan (demplot) hortikultura di lahan milik desa. Sebagai desa binaan PSW, Desa Lajawajo menjadi […]

  • Ilustrasi

    Jejak Sunyi yang Tak Pernah Pergi

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 1.179
    • 6Komentar

    Ada orang-orang yang hidupnya tidak banyak diceritakan, tetapi diam-diam membentuk dunia kecil di sekitar mereka dengan cara yang begitu berarti. Mereka tidak dikenal luas, tidak pula menonjolkan diri, tetapi kehadirannya menjadi akar, menguatkan, menopang, dan memberi kehidupan. Bapak Marianus Meze Ito, yang akrab disapa Marianus Rena, adalah salah satu dari mereka. Ia lahir pada 10 […]

  • Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Oleh: Filemon Pandu Wimastha (Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende)  Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. […]

expand_less