DARI LANGIT JERMAN KE LANGIT INDONESIA: JEJAK B. J. HABIBIE DAN MIMPI YANG TAK PERNAH SEDERHANA
- account_circle Laurensia Angelin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Laurensia Angelin
Bacharuddin Jusuf Habibie tidak hanya dikenal sebagai orang Indonesia yang mampu membuat pesawat. Dibalik sosok teknokrat dan presiden ketiga Republik Indonesia itu, terdapat perjalanan panjang tentang pendidikan, ambisi teknologi, dan sebuah bangsa yang sedang mencari arah.
Pada pagi 10 Agustus 1995, perhatian banyak orang tertuju pada sebuah pesawat di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Pesawat itu bukan sekadar benda yang hendak mengudara. Dibalik tubuh pesawat berwarna putih tersebut, terdapat sebuah proyek besar yang selama bertahun-tahun dibangun oleh industri dirgantara Indonesia. Namanya N-250 Gatotkaca.
Di Tengah suasana tegang, pesawat rancangan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) itu akhirnya meninggalkan landasan. Penerbangan perdananya berlangsung sekitar 55 menit dan menjadi salah satu momen penting dalam sejarah teknologi Indonesia. N-250 dirancang sebagai pesawat turboprop regional dengan kapasitas sekitar 50 penumpang dan menggunakan teknologi fly-by-wire. Keberhasilan penerbangan itu kemudian menjadi salah satu simbol ambisi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi negara yang mampu menciptakannya.
Di balik proyek tersebut berdiri seorang insinyur bernama Bacharuddin Jusuf Habibie. Namun, cerita Habibie sebenarnya tidak dimulai di Bandung. Jauh sebelum menjadi Menteri Riset dan Teknologi, pimpinan IPTN, apalagi Presiden Republik Indonesia, Habibie adalah seorang anak dari Parepare yang memiliki ketertarikan besar terhadap ilmu pengetahuan.
Dari Parepare Menuju Aachen
Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Ia tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi pendidikan dan keagamaan yang kuat. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa sejak kecil Habibie dikenal memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia kerap bertanya kepada ayahnya mengenai berbagai hal untuk menemukan jawaban atas rasa penasarannya.
Ketertarikannya pada ilmu pengetahuan kemudian membawanya meninggalkan Indonesia. Setelah menempuh pendidikan teknik di Bandung, Habibie melanjutkan pendidikan di RWTH Aachen, Jerman Barat, dengan bidang yang berkaitan dengan konstruksi pesawat terbang. Ia memperoleh gelar Diplom-Ingenieur pada 1960 dan menyelesaikan pendidikan doktoralnya pada 1965 dengan predikat summa cumlaude. Setelah itu, ia bekerja di industri penerbangan Jerman sebelum akhirnya kembali ke Indonesia pada dekade 1970-an.
Keputusan untuk kembali ke Indonesia menjadi salah satu titik paling penting dalam perjalanan hidupnya. Habibie sebenarnya telah memiliki karir yang mapan di Jerman. Namun, pada 1973, ia mendapat permintaan dari pemerintah Indonesia untuk kembali dan berkontribusi dalam pembangunan teknologi nasional. Setahun kemudian, ia pulang ke tanah air. Kepulangannya bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Ia membawa serta pengalaman dan pengetahuan mengenai industri penerbangan yang kemudian ingin diterapkannya di Indonesia.
Membangun Pesawat, Membangun Kepercayaan Diri
Setelah kembali ke Indonesia, Habibie mendapat kepercayaan untuk mengembangkan industri pesawat terbang nasional. Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berkembang menjadi IPTN. Bagi Habibie, industri pesawat bukan hanya persoalan membuat kendaraan untuk terbang. Pengembangan industri tersebut juga berkaitan dengan pembentukan sumber daya manusia dan kemampuan teknologi Indonesia.
Salah satu hasil paling ambisius dari gagasan tersebut adalah N-250. Rancangan N-250 pertama kali diperkenalkan IPTN pada Paris Air Show 1989. Beberapa tahun kemudian, prototipenya mulai diwujudkan hingga akhirnya melakukan penerbangan perdana pada 10 Agustus 1995. Pesawat tersebut menjadi kebanggaan karena sepenuhnya dirancang oleh putra-putri Indonesia dan menggunakan teknologi fly-by-wire. Pemerintah kemudian menetapkan tanggal penerbangan perdana N-250 sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Bagi masyarakat Indonesia saat itu, keberhasilan N-250 memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar keberhasilan sebuah pesawat untuk terbang. Ia menjadi simbol bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi sendiri. Habibie pun tidak berhenti pada N-250. Ia memiliki gagasan yang jauh lebih besar tentang pembangunan industri strategis dan penguasaan teknologi. Dalam pandangannya, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian penting dari pembangunan bangsa. Gagasan tersebut bahkan dituangkan dalam berbagai tulisan, salah satunya Ilmu Pengetahuan, Teknologi & Pembangunan Bangsa Menuju Dimensi Baru yang terbit pada 1995. Akan tetapi, mimpi besar tersebut berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih rumit. Krisis ekonomi Asia yang melanda Indonesia pada 1997-1998 turut menghantam industri nasional, termasuk IPTN. Proyek-proyek teknologi yang sebelumnya menjadi kebanggaan negara mulai menghadapi persoalan pendanaan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah N-250 mengudara, Indonesia justru memasuki salah satu krisis politik dan ekonomi terbesar dalam sejarah modernnya. Dan pada saat itulah perjalanan Habibie memasuki babak yang sama sekali berbeda.
Dari Teknokrat Menjadi Presiden
Pada 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri setelah lebih dari tiga dekade berkuasa. Wakil presidennya, B.J. Habibie, kemudian dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia. Pergantian tersebut terjadi ketika Indonesia berada dalam kondisi yang penuh ketidakpastian. Krisis ekonomi belum selesai, tuntutan reformasi semakin kuat, sementara kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah berada dalam kondisi yang rapuh.
Habibie yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai teknokrat kini harus berhadapan dengan persoalan politik. Ia tidak lagi hanya berbicara mengenai pesawat, teknologi, industri. Sebagai presiden, ia harus menentukan bagaimana Indonesia keluar dari masa transisi setelah runtuhnya Orde Baru. Masa pemerintahannya memang singkat, hanya sekitar 17 bulan. Namun, dalam waktu tersebut sejumlah perubahan politik penting terjadi. Pemerintahannya membuka ruang yang lebih besar bagi kebebasan pers, mempersiapkan pemilihan umum yang lebih demokratis, serta menghasilkan sejumlah undang-undang politik yang menjadi bagian dari proses Reformasi.
Pemilu 1999 menjadi salah satu tonggak penting. Pemilu yang dilaksanakan pada 7 Juni 1999 diikuti oleh 48 partai politik. Perubahan tersebut menunjukkan betapa cepat lanskap politik Indonesia berubah setelah berakhirnya Orde Baru. Disisi lain, pemerintahan Habibie juga tidak lepas dari kontroversi dan kritik. Keputusan mengenai Timor Timur, misalnya, menjadi salah satu persoalan paling berat yang harus dihadapinya. Karena itu, melihat Habibie hanya sebagai sosok “bapak demokrasi” ataupun bapak teknologi” akan membuat perjalanan sejarahnya terlalu sederhana. Habibie berada di antara dua dunia: dunia teknologi yang selama puluhan tahun menjadi bidang keahliannya dan dunia politik yang penuh tekanan ketika ia menjadi presiden dalam masa transisi.
Warisan yang Lebih Besar dari Sebuah Pesawat
N-250 akhirnya tidak berkembang menjadi industri pesawat komersial seperti yang dahulu diharapkan. Krisis ekonomi membuat pengembangan proyek tersebut terhenti. Namun, kegagalan itu tidak serta-merta menghapus makna dari apa yang pernah dibangun Habibie. Beberapa tahun kemudian, pesawat yang dahulu menjadi simbol ambisi teknologi Indonesia tersebut justru menjadi bagian dari koleksi Museum Pusat Dirgantara Mandala di Yogyakarta. Ia tidak lagi mengudara, tetapi tetap menyimpang cerita mengenai sebuah masa ketika Indonesia berusaha membuktikan bahwa kemampuan teknologi tidak harus selalu datang dari luar negeri.
Begitu pula dengan Habibie. Ia tidak dapat dipisahkan hanya dari keberhasilan atau kegagalan suatu proyek pesawat. Perjalanannya memperlihatkan bagaimana seorang manusia dapat membawa gagasan dari ruang pendidikan di Jerman ke industri teknologi Indonesia, lalu tiba-tiba harus memimpin sebuah negara yang sedang mengalami perubahan besar. Mungkin karena itu, warisan Habibie bukan hanya terletak pada pesawat yang pernah ia bangun atau jabatan yang pernah ia duduki. Warisannya juga berada pada keberanian untuk membayangkan sesuatu yang pada masanya terasa terlalu besar: bahwa Indonesia mampu menguasai ilmu pengetahuan, membangun teknologi sendiri, dan menentukan arah masa depannya.
Pesawat N-250 memang akhirnya berhenti terbang. Tetapi mimpi yang melahirkannya tidak harus ikut mendarat.
- Penulis: Laurensia Angelin
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar