Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Di Bawah Lampu Kos, Mimpi Tetap Menyala

  • account_circle Virginia Dedebupu Hanasbey
  • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
  • visibility 31
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kisah mahasiswa yang belajar tumbuh jauh dari rumah

Malam telah turun ketika sebagian besar rumah mulai mematikan lampunya. Namun, di sebuah kamar kos yang tidak terlalu luas, cahaya lampu masih menyala. Di atas meja terdapat laptop yang terbuka, beberapa buku kuliah, dan catatan tugas yang belum selesai.

Tidak ada suara keluarga yang memanggil untuk makan malam. Tidak ada pula suara orang tua yang mengingatkan untuk segera beristirahat. Yang terdengar hanya suara kendaraan dari kejauhan dan sesekali bunyi notifikasi dari telepon genggam.

Bagi sebagian mahasiswa, tinggal jauh dari rumah mungkin hanya berarti berpindah tempat tinggal. Namun, bagi mereka yang harus meninggalkan keluarga demi pendidikan, perpindahan itu juga berarti belajar menjalani banyak hal seorang diri.

Di kamar kos yang sederhana, mereka tidak hanya belajar tentang mata kuliah. Mereka juga belajar mengatur waktu, mengelola keuangan, menghadapi rasa rindu, menyelesaikan masalah sendiri, dan perlahan memahami arti menjadi dewasa.

Belajar Menjadi Dewasa dari Sebuah Kamar Kecil

Kehidupan mahasiswa di perantauan sering kali terlihat sederhana dari luar. Pergi kuliah, mengerjakan tugas, berkumpul dengan teman, kemudian kembali ke kos. Rutinitas tersebut terus berulang hampir setiap hari.

Namun, ada cerita yang tidak selalu terlihat di balik rutinitas tersebut. Ketika tinggal jauh dari keluarga, hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap biasa tiba-tiba menjadi tanggung jawab sendiri. Menentukan makanan yang akan dibeli, mengatur uang untuk kebutuhan sehari-hari, mencuci pakaian, menjaga kesehatan, hingga menghadapi masalah tanpa selalu bisa meminta bantuan keluarga. Dari situlah kemandirian perlahan tumbuh. Kamar kos akhirnya bukan sekadar tempat untuk tidur. Ia menjadi ruang untuk belajar, beristirahat, bercerita, sekaligus mengumpulkan kembali semangat setelah menjalani hari yang melelahkan.

Rindu yang Tidak Selalu Diucapkan

Jarak membuat komunikasi dengan keluarga berubah. Percakapan yang dahulu dapat dilakukan secara langsung kini sering kali hanya berlangsung melalui pesan singkat atau panggilan telepon.

Pertanyaan sederhana seperti, “Sudah makan?” atau “Bagaimana kuliahnya?” menjadi sesuatu yang terasa lebih berarti ketika berada jauh dari rumah. Ada kalanya rasa rindu datang tanpa pemberitahuan. Bisa ketika melihat keluarga lain sedang berkumpul, ketika mendengar suara orang tua melalui telepon, atau ketika sedang menghadapi hari yang berat.

Namun, kehidupan harus tetap berjalan. Tugas kuliah tetap harus dikerjakan. Kelas tetap harus dihadiri. Kegiatan bersama teman juga terus berlangsung. Karena itu, banyak mahasiswa perantauan belajar menyimpan rasa rindu tersebut sambil terus melangkah. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena ada sesuatu yang ingin diperjuangkan.

Antara Tugas, Uang, dan Waktu

Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang belajar di dalam ruang kelas. Ada banyak hal yang harus dipikirkan secara bersamaan.

Tugas yang datang silih berganti, jadwal kuliah yang padat, kegiatan organisasi, kebutuhan sehari-hari, hingga pengeluaran yang harus diperhitungkan menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Di perantauan, kemampuan mengatur keuangan menjadi salah satu pelajaran penting. Uang yang dimiliki harus dibagi untuk makan, transportasi, kebutuhan kuliah, dan keperluan lainnya.

Tidak jarang seorang mahasiswa harus berpikir berkali-kali sebelum membeli sesuatu. “Ini benar-benar perlu atau hanya ingin?”

Pertanyaan sederhana seperti itu perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari sana, mahasiswa belajar bahwa menjadi dewasa bukan berarti bebas melakukan apa saja. Menjadi dewasa berarti mulai memahami konsekuensi dari setiap keputusan.

Teman yang Menjadi Rumah Sementara

Jauh dari keluarga tidak berarti harus menjalani semuanya sendirian. Di lingkungan kampus dan tempat tinggal, teman sering kali menjadi orang yang hadir ketika keluarga berada jauh. Mereka menjadi tempat bertanya ketika tugas tidak dipahami, tempat bercerita ketika hari terasa berat, atau sekadar teman makan ketika rasa kesepian datang. Pertemanan di tanah rantau kemudian memiliki arti yang berbeda.

Mereka mungkin bukan keluarga yang memiliki hubungan darah, tetapi kehadiran mereka dapat membuat tempat yang awalnya terasa asing menjadi lebih familiar.

Sebuah ajakan sederhana untuk makan bersama dapat mengubah malam yang sepi. Sebuah pertanyaan sederhana, “Kamu nggak apa-apa?” dapat membuat seseorang merasa bahwa dirinya tidak sendirian.

Pulang yang Selalu Memiliki Arti

Bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga, kata “pulang” memiliki makna yang lebih dalam. Pulang bukan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pulang berarti kembali kepada orang-orang yang selama ini menjadi alasan untuk terus berjuang.

Ketika kesempatan untuk pulang datang, perjalanan tersebut terasa berbeda. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata. Bertemu keluarga, makan bersama, atau sekadar berada di rumah menjadi hal sederhana yang terasa sangat berharga.

Namun, setelah beberapa waktu, mahasiswa akan kembali ke tempat perantauan. Koper kembali ditutup.

Barang-barang kembali dimasukkan. Salam perpisahan kembali diucapkan. Kemudian perjalanan dimulai lagi.

Bukan karena rumah tidak dirindukan, tetapi karena masih ada mimpi yang harus dikejar.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa jauh dari rumah adalah sebuah perjalanan tentang melepaskan sekaligus mempertahankan. melepaskan kebiasaan untuk selalu bergantung pada keluarga, tetapi mempertahankan doa dan harapan yang mereka titipkan.

Kamar kos mungkin hanya memiliki dinding-dinding sederhana. Namun, di dalamnya terdapat banyak cerita: tentang tugas yang dikerjakan hingga larut malam, tentang makanan sederhana yang menjadi teman makan, tentang telepon dari rumah, tentang tawa bersama teman, dan tentang seseorang yang perlahan belajar menjadi dewasa.

Jarak memang membuat rumah terasa jauh. Tetapi, mungkin justru dari jarak itulah seseorang belajar memahami arti rumah. Sebab pada akhirnya, pulang bukan hanya tentang tempat yang dituju, melainkan tentang alasan mengapa seseorang terus berjalan.

  • Penulis: Virginia Dedebupu Hanasbey
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Kursi yang kini Hanya Menyisakan Kenangan

    Sudut Pandang: Kursi yang kini Hanya Menyisakan Kenangan

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Marselina Ardia Simenes
    • visibility 93
    • 2Komentar

    Tentang seorang ayah yang pendiam, sederhana, dan selalu punya cara untuk menunjukkan kasih sayang kepada anak perempuannya.  Ada banyak hal yang berubah setelah seseorang yang kita sayangi pergi. Rumah masih berada di tempat yang sama, aktivitas keluarga masih berjalan, dan hari-hari tetap berganti seperti biasanya. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda karena seseorang yang dahulu […]

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 123
    • 0Komentar

    8 Juni 2026 akan menjadi salah satu tanggal yang layak dikenang dalam perjalanan pendidikan di Boawae. Sore itu, Kotagoa Sport Area tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya pertandingan. Lapangan itu berubah menjadi panggung harapan, tempat lahirnya keberanian, kerja keras, dan mimpi-mimpi besar anak-anak. Sebanyak 27 tim dari berbagai Sekolah Dasar siap bertarung dalam cabang olahraga voli […]

  • SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 276
    • 0Komentar

    John Holt dalam bukunya yang berjudul, Mengapa Siswa gagal, menulis demikian: “Kita semua sepakat bahwa semua siswa harus berhasil, tetapi apakah kita memiliki pengertian yang sama mengenai keberhasilan itu? Saya sendiri berpendapat bahwa kesuksesan itu sebaiknya tidak diperoleh dengan gampang ataupun cepat dan mestinya tidak terjadi setiap saat. Sukses dalam pandanganku, menyiratkan keberhasilan seseorang mengulangi […]

  • Sudut Pandang: Sosok yang Diam-diam Menjadi Kekuatan

    Sudut Pandang: Sosok yang Diam-diam Menjadi Kekuatan

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Nopianti
    • visibility 27
    • 2Komentar

    Oleh: Maria Nopianti (Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma)  Di sebuah keluarga pasti memiliki sosok untuk tempat pulang, ada seseorang yang selalu hadir dengan kata-katanya yang lembut, ada juga yang menunjukkan kasih sayang pada anaknya melalui tindakan. Bagiku sosok itu iyalah Umak ba opak (bapak dan mamak), mereka adalah seseorang yang bukan hanya mengungkapkan perasaannya melalui […]

  • Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Oleh: 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠 Politisi dan Pemerhati Global Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak. Disiplin Pajak Adalah Bentuk Solidaritas Sosial, Bukan Penindasan terhadap Rakyat Kecil .. Perdebatan mengenai Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025 yang mengaitkan akses pembelian BBM bersubsidi dengan kepatuhan membayar Pajak Kendaraan Bermotor […]

expand_less