Setelah Nonton Daulat Pariyem, Saya Malah Kepikiran Karl Marx
- account_circle Waleed Ahmad Loun
- calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
- visibility 134
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Waleed Ahmad Loun
Biasanya, setelah menonton drama musikal, orang pulang sambil mengingat lagu atau adegan yang paling mengesankan. Saya malah pulang dengan satu pertanyaan tentang seorang perempuan yang tanpa canggung menyebut dirinya babu. Setelah mengandung anak majikannya, melahirkan, dan tidak menikah dengan laki-laki tersebut, ia kembali bekerja di rumah yang sama.
Perempuan itu bernama Pariyem, tokoh utama dalam pertunjukan Daulat Pariyem: Antara Nelangsa dan Mulia yang saya saksikan di Yogyakarta.
Di atas panggung, Pariyem tidak tampak sebagai perempuan yang gemar meratapi nasib. Ia justru jenaka, kadang agak nakal, terutama ketika menceritakan hubungannya dengan Den Baguse, anak majikannya. Ia bisa menggoda, bercanda, bahkan mengakui bahwa hubungan intim mereka terjadi atas keinginan keduanya.
Namun, suasana berubah ketika Pariyem hamil. Ia menangis menghadapi kenyataan bahwa hubungan tersebut tidak berakhir dengan perkawinan. Meski begitu, ia memilih mempertahankan kehamilannya. Baginya, anak yang akan lahir tidak bersalah atas keputusan orang tuanya.
Pada akhir pertunjukan, keluarga Den Baguse menerima anak tersebut. Anaknya tinggal bersama sang nenek di Wonosari, sementara Pariyem kembali bekerja sebagai babu. Tidak ada perkawinan, tidak pula perubahan kedudukan.
Kalau cerita semacam ini dijadikan sinetron, barangkali persoalannya masih bisa diperpanjang sampai belasan episode. Tetapi Pariyem rupanya tidak membutuhkan semua keributan itu. Ia bersedih, mengambil keputusan, lalu meneruskan hidup.
Saya justru penasaran dengan satu hal: mengapa ia begitu nyaman kembali menjadi babu?
Rasa penasaran itu membawa saya membuka kembali Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, prosa liris karya Linus Suryadi AG yang menjadi sumber pertunjukan tersebut.
Ternyata, Pariyem dalam karya aslinya memang bukan perempuan yang gemar mengeluhkan nasib. Ia berasal dari keluarga sederhana dan bekerja di rumah nDoro Kanjeng Cokro Sentono, seorang priyayi Yogyakarta. Pariyem tahu betul perbedaan antara bangsawan dan rakyat biasa, antara darah biru dan darah kebanyakan. Bahkan, pada awal pengakuannya, ia mengatakan, “Semua serba pakai kelas.”
Namun, kesadaran itu tidak membuatnya sibuk mempersoalkan kedudukannya. Pariyem justru berkali-kali memperlihatkan sikap nrima, lega-lila, dan krasan. Ia menghormati majikannya, menjalankan pekerjaannya, dan merasa betah dengan kehidupan tersebut.
Awalnya, saya mengira sikap semacam itu hanyalah bentuk kepasrahan. Akan tetapi, setelah mengikuti pengakuannya, rasanya terlalu mudah menyamakan nrima dengan menyerah. Bagi Pariyem, menerima keadaan juga berkaitan dengan ketenangan batin dan caranya menjalani hidup tanpa terus-menerus merasa kekurangan.
Lagi pula, menjadi pekerja rumah tangga bukan sesuatu yang memalukan. Martabat manusia tidak ditentukan oleh apakah ia bekerja di belakang meja kantor atau membersihkan meja makan orang lain.
Tetapi mengapa dalam dunia Pariyem, pekerjaan tersebut sekaligus menempatkannya pada kedudukan sosial yang berbeda dari keluarga majikannya?
Pertanyaan itulah yang mengingatkan saya pada Karl Marx.
Dalam pemikiran Marx, perbedaan kelas bukan sekadar soal siapa lebih kaya atau mempunyai pekerjaan lebih bergengsi. Yang juga penting adalah hubungan antarkelas: siapa menguasai sumber daya, siapa harus menjual tenaga kerjanya, dan bagaimana hubungan tersebut dipertahankan. Dalam tradisi pemikiran Marxis, ideologi juga menjadi perhatian karena nilai dan cara berpikir tertentu dapat membuat hubungan sosial yang tidak setara terlihat wajar.
Tentu, dunia priyayi Jawa tidak bisa begitu saja disamakan dengan masyarakat kapitalis yang dianalisis Marx. Namun, cara berpikir tersebut membantu saya melihat hubungan Pariyem dan keluarga majikannya dari sudut yang berbeda.
Pariyem tidak perlu dipaksa setiap hari untuk mengakui kedudukan keluarga Cokro Sentono. Ia sudah memahami tata krama yang berlaku, siapa yang dipanggil dengan gelar kehormatan, siapa yang dilayani, dan siapa yang melayani. Perbedaan itu begitu akrab dalam kehidupannya sehingga tidak selalu terasa sebagai sesuatu yang perlu dipersoalkan.
Di sinilah muncul pertanyaan yang lebih mengganggu: kalau seseorang telah terbiasa dengan kedudukannya, apakah itu berarti kedudukan tersebut memang sudah sewajarnya?
Saya tentu tidak ingin datang membawa teori Marx, lalu mengatakan kepada Pariyem bahwa kebahagiaannya sebenarnya palsu. Jangan-jangan, yang merasa paling tahu tentang kebahagiaan Pariyem justru orang yang sibuk menganalisis kehidupannya.
Namun, ada satu bagian novel yang membuat persoalan ini semakin menarik.
Keluarga Cokro Sentono tidak digambarkan sebagai majikan yang kejam. Mereka cukup memperhatikan Pariyem. Ketika kehamilannya diketahui, nDoro Kanjeng bahkan mengakui anak tersebut sebagai bagian dari keluarga dan menyatakan kesediaan untuk bertanggung jawab.
Dalam novel, nDoro Kanjeng menegaskan bahwa anak yang dikandung Pariyem adalah anak Ario, bukan anak tanpa ayah. Ia juga menyatakan bahwa Pariyem merupakan bagian dari keluarga mereka.
Sikap itu tentu patut dihargai. Namun, setelah memberikan pengakuan tersebut, nDoro Kanjeng juga mengatakan, “Pekerjaanmu tak berubah, seperti biasa.”
Saya berpikir cukup lama pada bagian ini.
Anak Pariyem diterima sebagai keturunan keluarga majikan, sementara ibunya tetap berada dalam kedudukan sebagai pekerja rumah tangga. Pariyem sendiri menggambarkan keadaan itu dengan menarik: secara lahiriah ia hanya babu, tetapi dalam batinnya ia merasa menjadi menantu keluarga tersebut.
Bukankah itu menarik? Pariyem diterima sebagai bagian dari keluarga, tetapi kedudukannya sebagai babu tidak berubah. Seolah-olah hubungan kekeluargaan dan perbedaan kelas bisa berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.
Saya jadi teringat ungkapan yang cukup sering kita dengar: pembantu rumah tangga sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
Kalimat itu terdengar hangat. Bisa jadi memang lahir dari kasih sayang yang tulus. Tetapi kalau sudah seperti keluarga, apakah pekerja tersebut juga mempunyai kebebasan yang sama? Bisakah ia menolak pekerjaan tambahan, menikmati waktu istirahat, atau menyampaikan keberatan tanpa merasa sedang mengecewakan orang yang telah berbaik hati kepadanya?
Belum tentu.
Kedekatan antara majikan dan pekerja tentu tidak otomatis berarti ada penindasan. Namun, kasih sayang juga tidak bisa menggantikan hak-hak pekerja. Orang bisa memperlakukan pekerjanya dengan baik tanpa harus mengubah hubungan sosial yang menempatkan dirinya sebagai majikan dan orang lain sebagai pekerja.
Begitu pula dengan Pariyem. Justru karena keluarga Cokro Sentono tidak digambarkan selalu bersikap buruk, perbedaan kelas itu terlihat berlangsung begitu biasa. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada pemberontakan, tetapi batas antara priyayi dan babu tetap terjaga.
Lantas, apakah kita harus menganggap Pariyem perempuan lemah karena ia menerima keadaan tersebut?
Saya rasa terlalu terburu-buru.
Baik dalam novel maupun pertunjukan Daulat Pariyem, Pariyem bukan perempuan yang tidak mengenal keinginannya sendiri. Ia berani mengungkapkan hasrat, menggoda Den Baguse, dan mengakui keterlibatannya dalam hubungan mereka. Ketika menghadapi kehamilan, ia pun tidak menjadikan ketiadaan perkawinan sebagai alasan untuk menganggap hidupnya telah berakhir.
Ia memilih menjadi ibu dan menerima tanggung jawab atas anaknya. Pilihan itu menunjukkan keteguhannya, meskipun menjadi ibu tentu bukan satu-satunya ukuran keberanian seorang perempuan.
Namun, ada persoalan yang tidak boleh dilupakan. Pariyem adalah pekerja rumah tangga, sedangkan Den Baguse merupakan anak majikannya. Hubungan yang mereka kehendaki bersama tidak otomatis membuat kedudukan keduanya setara.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa hubungan tersebut terjadi karena paksaan. Pariyem sendiri mengakui keinginannya. Tetapi persetujuan dua orang tidak berarti keduanya mempunyai kekuasaan dan menghadapi konsekuensi sosial yang sama.
Den Baguse tetap menjadi anak keluarga priyayi, sementara Pariyem menjalani kehamilan, melahirkan, menjadi ibu, dan kembali bekerja sebagai babu.
Barangkali inilah yang membuat Pariyem sulit dimasukkan ke dalam satu kategori. Ia mempunyai kehendak sendiri, tetapi kehidupannya tetap dibentuk oleh hubungan sosial yang lebih besar daripada dirinya. Ia bisa menerima pekerjaannya dengan tulus tanpa harus berarti bahwa kedudukan sosial yang melingkupinya sudah adil.
Tentu, Pariyem adalah tokoh sastra, bukan wakil seluruh perempuan Jawa atau semua pekerja rumah tangga. Namun, melalui pengakuannya, Linus Suryadi AG menghadirkan persoalan yang masih dekat dengan kehidupan kita: kapan penerimaan menjadi kebijaksanaan, dan kapan ia justru membuat ketimpangan terasa biasa?
Saya tidak merasa perlu menyuruh Pariyem meninggalkan pekerjaannya, membenci majikannya, atau menuntut perkawinan. Kalau ia memang bahagia, kebahagiaan itu patut dihormati.
Tetapi kebahagiaan seseorang tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa hubungan sosial yang membentuk kehidupannya sudah adil.
Saya datang untuk menonton drama musikal. Pulangnya, saya malah sibuk memikirkan Karl Marx dan kelas sosial.
Rupanya Pariyem yang nrima itu justru membuat saya sulit nrima begitu saja.
- Penulis: Waleed Ahmad Loun
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar