Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ketika Sabda Tuhan Hidup di Halaman SMPSK Kotagoa Boawae

  • account_circle Redaksi Mataleza
  • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
  • visibility 89
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Semarak Bulan Kitab Suci Nasional 2026 di SMPSK Kotagoa Boawae

Boawae, Nagekeo-NTT — Ada suasana yang berbeda di halaman tengah SMPSK Kotagoa Boawae, Nagekeo, pada Senin hingga Rabu, 28–30 September 2026. Biasanya halaman sekolah menjadi tempat siswa bercanda, bermain, atau sekadar melepas penat di sela-sela kegiatan belajar. Namun selama tiga hari itu, halaman sekolah berubah menjadi ruang untuk merayakan Sabda Tuhan.

Suara lantang peserta kuis Kitab Suci, lantunan mazmur, pembacaan Kitab Suci, tutur Kitab Suci, puisi, hingga renungan silih berganti memenuhi halaman tengah sekolah. Wajah-wajah siswa tampak bersemangat. Ada yang gugup sebelum tampil, ada yang berlatih berulang kali, ada pula yang dengan percaya diri berdiri di hadapan teman-temannya.

Semua berpadu dalam satu perayaan: puncak Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026.

Kegiatan ini merupakan rangkaian program Bidang Katoliksitas SMPSK Kotagoa Boawae yang berlangsung sepanjang bulan September. Tidak hanya berhenti pada perlombaan, semangat BKSN telah lebih dahulu dibangun melalui refleksi dan permenungan Sabda Tuhan setiap pagi.

Selama satu bulan, sebelum memulai aktivitas pembelajaran, para siswa diajak mendengarkan dan merefleksikan Sabda Tuhan. Dari sana, Kitab Suci perlahan tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya dibaca ketika ada tugas atau kegiatan keagamaan. Sabda Tuhan dihadirkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari warga sekolah.

Puncaknya kemudian dirayakan melalui berbagai perlombaan antarkelas pada 28–30 September 2026.

Dari Refleksi Pagi Menuju Panggung Perlombaan

Wakil Kepala Sekolah SMPSK Kotagoa Boawae, Bapak Damas Mite, menjelaskan bahwa kegiatan BKSN tahun ini dirancang agar semangat Kitab Suci tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan sejak awal September melalui refleksi setiap pagi. Para siswa kemudian mempersiapkan diri bersama wali kelas untuk mengikuti berbagai mata lomba yang telah ditentukan.

“Anak-anak semuanya kalian sudah luar biasa dalam satu bulan ini yang bertepatan dengan Bulan Kitab Suci Nasional 2026. Kalian merefleksikan setiap pagi setelah mendengarkan Sabda Tuhan dan mempersiapkan diri bersama wali kelas untuk setiap mata lomba yang akan dilangsungkan hari ini,” ujar Damas Mite.

Ia mengajak seluruh peserta untuk tidak tampil setengah hati.

“Harapannya harus terlibat aktif dan sungguh dalam menampilkan setiap tampilan yang sudah disiapkan. Jangan setengah-setengah, harus total. Karena yang dilombakan ini adalah tentang Sabda Tuhan,” lanjutnya.

Pesan tersebut menjadi semacam pengingat bahwa perlombaan BKSN bukan sekadar persoalan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, setiap siswa diberi kesempatan untuk berjumpa dengan Sabda Tuhan melalui cara yang dekat dengan dunia mereka: membaca, bernyanyi, bercerita, berpuisi, dan menyampaikan renungan.

Enam Mata Lomba, Satu Semangat

Ada enam mata lomba yang diselenggarakan dalam rangkaian puncak BKSN 2026. Setiap mata lomba disesuaikan dengan tingkat kelas, tetapi seluruh siswa tetap memiliki ruang untuk mengambil bagian.

Untuk siswa kelas VII, diselenggarakan Tutur Kitab Suci. Para peserta diajak menyampaikan kisah-kisah Kitab Suci dengan kemampuan bertutur dan penghayatan yang mereka miliki.

Sementara siswa kelas VIII mengikuti Baca Puisi Kitab Suci, sebuah bentuk ekspresi yang mempertemukan Sabda Tuhan dengan kekuatan bahasa dan rasa.

Bagi siswa kelas IX, tantangannya adalah Membawakan Renungan. Mereka tidak hanya dituntut memahami isi Kitab Suci, tetapi juga menyampaikan pesan yang dapat direnungkan oleh orang lain.

Selain itu, terdapat pula Kuis Kitab Suci, Mazmur, dan Membaca Kitab Suci yang melibatkan siswa dari kelas VII hingga kelas IX.

Enam mata lomba tersebut memperlihatkan bahwa Sabda Tuhan dapat dihidupi melalui berbagai cara. Ada yang menyampaikannya dengan suara, ada yang dengan kata-kata, ada yang melalui seni, dan ada pula yang mengolahnya menjadi sebuah permenungan.

Di sinilah BKSN di SMPSK Kotagoa Boawae menemukan bentuknya sendiri: Kitab Suci tidak hanya dipelajari, tetapi dirayakan dan dihidupi bersama.

Ketika Kitab Suci Turun dari Rak

Bagi sekolah, kegiatan BKSN memiliki tujuan yang lebih jauh daripada sekadar menyemarakkan kalender kegiatan keagamaan.

Program khusus Bidang Katoliksitas ini menjadi salah satu upaya untuk menanamkan nilai-nilai kekatolikan dalam diri peserta didik. Melalui kegiatan tersebut, para siswa diajak untuk mengenal, memahami, dan menghidupi Sabda Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Tema BKSN 2026, “Yesus Guru yang Penuh Kuasa,” menjadi dasar refleksi seluruh rangkaian kegiatan.

Yesus tidak hanya dikenal sebagai tokoh yang diceritakan dalam Kitab Suci. Ia dihadirkan sebagai Guru yang mengajar melalui kata-kata, tindakan, belas kasih, pengampunan, dan keberpihakan kepada manusia.

Karena itu, belajar Kitab Suci sesungguhnya bukan hanya tentang menghafal ayat atau memenangkan kuis. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apa yang berubah dalam hidup seseorang setelah mendengarkan Sabda Tuhan?

Pertanyaan itulah yang hendak dijawab melalui rangkaian BKSN di sekolah.

“Harapannya Kitab Suci tidak hanya disimpan, tidak hanya dirapikan di rak. Tetapi menjadi inspirasi, menjadi bahan bacaan yang meneguhkan iman dalam keadaan apa pun,” tegas Damas Mite.

Kalimat tersebut menjadi inti dari seluruh kegiatan.

Sebab sebuah Kitab Suci yang hanya tersimpan rapi di rak belum tentu mengubah kehidupan. Tetapi Sabda yang dibaca, direnungkan, dan diwujudkan dalam tindakan dapat menjadi kekuatan ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan, kebingungan, kegagalan, bahkan ketika harus memilih jalan hidup.

Dari Sekolah, Untuk Kehidupan

Tiga hari perlombaan akhirnya bukan sekadar menjadi penutup kegiatan BKSN. Ia menjadi semacam perayaan atas proses yang telah dijalani seluruh warga sekolah selama satu bulan.

Ada siswa yang belajar berani tampil di depan umum. Ada yang belajar bekerja sama dengan teman dan wali kelas. Ada yang menemukan keberanian untuk berbicara. Ada yang mulai mengenal lebih dekat kisah-kisah Kitab Suci. Ada pula yang mungkin untuk pertama kalinya menyadari bahwa membaca Sabda Tuhan dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Di tengah suara sorak dan tepuk tangan, pesan yang lebih besar perlahan tumbuh: Sabda Tuhan memiliki tempat dalam kehidupan sekolah.

BKSN 2026 di SMPSK Kotagoa Boawae akhirnya bukan hanya tentang lomba. Ia tentang bagaimana sebuah sekolah berusaha menghadirkan iman di tengah rutinitas pendidikan. Tentang bagaimana Kitab Suci tidak dibiarkan menjadi buku yang berdebu di rak, tetapi dibuka, dibaca, didengarkan, direnungkan, dan dibagikan.

Dari halaman tengah sekolah, Sabda itu menemukan suara. Dari suara anak-anak, Sabda itu menemukan keberanian. Dan dari kehidupan sehari-hari mereka, Sabda itu diharapkan menemukan bentuknya yang paling nyata: menjadi tindakan.

Sebab pada akhirnya, BKSN bukan hanya tentang seberapa banyak ayat yang mampu kita hafal, melainkan tentang seberapa jauh Sabda Tuhan mampu menuntun kita untuk hidup seperti Yesus, Sang Guru yang penuh kuasa.

  • Penulis: Redaksi Mataleza
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    Puisi-puisi Helena Lose Beraf: Pengakuan, Bahasa Sunyi dan Kau Yang berdenyut di Jantung Puisiku

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 355
    • 2Komentar

    PENGAKUAN Gebby, katakan kita orang berdosa— bukan untuk mengadili, melainkan untuk meletakkan batu-batu luka di altar yang sama. Namamu gugur di kertas sunyi seperti hujan yang menyingkap rahasia tanah; aku menulis, lalu mengakui kebodohanku, mengumpulkan sisa-sisa kata yang terluka. Di matamu, kutemukan langit yang lain, yang merengkuh semua kesalahan, menyulapnya jadi debu yang lambat jatuh […]

  • Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Roy Wujon
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Oleh: Roy Wujon Mahasiswa IFTK Ledalero Dalam sistem negara demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers merupakan pilar penting yang patut dihargai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan pembatasan kritik publik melalui media, baik media massa konvensional maupun platform digital. Pembatasan tersebut sering kali dilakukan dengan dalih menjaga stabilitas, mencegah hoaks, atau melindungi […]

  • Sudut Pandang: RD Chosmas Oswyn Koba:   Menjadi Cahaya di Tengah Perjalanan

    Sudut Pandang: RD Chosmas Oswyn Koba:  Menjadi Cahaya di Tengah Perjalanan

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Anjelina Roslin
    • visibility 147
    • 2Komentar

    “Jangan Takut, Percaya Saja.”  (Markus 5:36). Ada kalanya saya memandang sosok yang berdiri di depan altar itu bukan hanya seorang imam. Bagi umat dan banyak orang ia adalah imam yang memimpin perayaan ekaristi dan menjadi tempat untuk menemukan penguatan. Namun, bagi saya, sosok itu memiliki arti yang jauh lebih dekat. Ia adalah sosok yang telah […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Deru Motor Pagi, Ada Lelaki yang Menitipkan Mimpi

    Sudut Pandang: Di Balik Deru Motor Pagi, Ada Lelaki yang Menitipkan Mimpi

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Linus Cahya Firmandika Damaris
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Oleh: Linus Cahya Firmandika Damaris Catatan tentang seorang guru yang pulang sebagai ayah Setiap pagi, sebelum rumah mulai ramai dengan aktivitas, biasanya saya sudah mendengar suara motor ayah. Suara itu sudah menjadi bagian dari keseharian saya sejak kecil. Setelah bersiap, ayah akan berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya. Di sekolah, ia menjalankan tugasnya sebagai seorang […]

  • Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Oleh: 𝙇𝙚𝙤𝙥𝙤𝙡𝙙 𝙏𝙝𝙚𝙧𝙞𝙠 Politisi dan Pemerhati Global Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025: Keadilan Bukan Membebaskan Penunggak Pajak, Tetapi Melindungi Kepentingan Rakyat Banyak. Disiplin Pajak Adalah Bentuk Solidaritas Sosial, Bukan Penindasan terhadap Rakyat Kecil .. Perdebatan mengenai Pergub NTT Nomor 13 Tahun 2025 yang mengaitkan akses pembelian BBM bersubsidi dengan kepatuhan membayar Pajak Kendaraan Bermotor […]

  • Kenapa Anak Muda Malas Jadi Petani, Padahal Peluang Dunia Pertanian Menjanjikan?

    Kenapa Anak Muda Malas Jadi Petani, Padahal Peluang Dunia Pertanian Menjanjikan?

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Kasianus Sebho
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Di banyak daerah di Indonesia, terdapat satu fenomena yang sering dibicarakan tetapi jarang dipahami secara mendalam. Banyak petani yang berhasil membesarkan keluarga, membangun rumah, membeli lahan, hingga menyekolahkan anak-anak mereka sampai menjadi sarjana, pegawai negeri, pengusaha, guru, dokter, maupun profesi lainnya. Namun ketika anak-anak tersebut telah dewasa, tidak sedikit yang justru memilih meninggalkan sektor pertanian. […]

expand_less