Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pondok Baca Mataleza Olakile: Kami Mulai dari Mimpi

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Sabtu, 24 Okt 2026
  • visibility 46
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi.”

Fian N

Ada mimpi yang datang ketika kita terlelap. Ada pula mimpi yang justru tumbuh ketika kita terjaga, duduk diam di sudut kamar, membaca buku, atau bercakap-cakap tentang sesuatu yang mungkin dianggap terlalu sederhana oleh orang lain. Mimpi semacam ini tidak selalu menawarkan jalan yang mudah. Kadang-kadang, ia hanya hadir sebagai kegelisahan kecil yang terus mengetuk pikiran, sampai akhirnya kita memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Pondok Baca Mataleza Olakile bermula dari mimpi yang demikian.

Satu minggu sebelum berbagai aktivitas di luar rumah dibatasi akibat pandemi Covid-19 pada Maret 2020, kami bertiga; Fian N, Thomi, dan Zeno, mulai merencanakan sesuatu yang saat itu belum memiliki bentuk yang jelas. Kami ingin menghadirkan sebuah komunitas baca di Boawae, khususnya di Olakile, kampung tempat kami tinggal. Kami tidak memiliki gedung yang megah, rak buku yang tertata rapi, ataupun koleksi bacaan yang lengkap. Yang kami miliki hanyalah sejumlah buku, percakapan-percakapan sederhana, dan keyakinan bahwa sesuatu yang baik tidak harus menunggu keadaan menjadi sempurna untuk dimulai. Semua itu bermula dari sebuah pesan singkat melalui Messenger.

“Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno.

Saya menjawab bahwa buku politik yang saya miliki tidak banyak. Saat itu, saya menduga pertanyaannya berkaitan dengan buku-buku politik. Saya membayangkan bahwa anak muda seperti Zeno tentu sedang tertarik pada persoalan politik. Namun, dugaan saya ternyata keliru.

“Tidak, ame. Saya ini punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae, la.”

Saya terdiam sejenak. Ada rasa kaget yang bercampur dengan sesuatu yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti menemukan kembali sebuah mimpi lama yang pernah saya simpan di antara buku-buku dan kenangan selama kuliah. Mimpi itu sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya lama berdiam di kepala, menunggu kesempatan untuk diberi jalan.

Tanpa banyak pertimbangan, saya menjawab, “Kapan kita kumpul, ame?”

Barangkali, dari sekian banyak percakapan yang pernah kami lakukan, percakapan itulah yang kemudian membawa kami menuju perjalanan yang lebih panjang daripada yang dapat kami bayangkan saat itu. Dari kamar kecil, sebuah mimpi mulai menemukan bentuknya

Hari Selasa pun tiba. Kami berkumpul untuk membicarakan rencana yang sebelumnya hanya berputar-putar di dalam percakapan. Kami membawa gagasan masing-masing, mengeluarkan berbagai kemungkinan, dan membiarkan kepala kami dipenuhi ide-ide yang sesekali terdengar berlebihan, tetapi selalu menyenangkan untuk dibicarakan. Saya kemudian mengeluarkan buku-buku dari kamar.

Satu demi satu buku itu berpindah dari tempat penyimpanannya. Thomi dan Zeno tampak terkejut melihat jumlahnya.

“Kami tidak berpikir kalau ada buku sebanyak ini,” sahut Thomi sambil memperhatikan buku-buku yang telah dikeluarkan.

Bagi saya, buku-buku itu bukan sekadar tumpukan benda yang memenuhi kamar. Sebagian telah menemani perjalanan berpikir saya, membuka percakapan baru, memperkenalkan pemikiran yang berbeda, dan mengajari saya bahwa dunia jauh lebih luas daripada apa yang dapat dijangkau oleh mata.

Kini, buku-buku itu akan kami ajak menempuh perjalanan lain. Bukan lagi hanya menjadi teman baca seseorang, melainkan menjadi pintu masuk bagi orang lain untuk mengenal dunia yang lebih luas. Setelah mengumpulkan buku-buku tersebut, kami mulai memikirkan nama untuk komunitas yang sedang kami rintis.

Kami tidak ingin sekadar mempunyai nama yang terdengar bagus. Kami menginginkan nama yang menyimpan makna, memiliki kedekatan dengan kehidupan kami, dan dapat menjadi pengingat tentang alasan kami memulai semuanya.

Akhirnya, kami sepakat memilih nama Pondok Baca Mataleza.

Mataleza berarti matahari. Bagi kami, matahari adalah lambang cahaya yang menerangi kehidupan. Ia hadir tanpa banyak bicara, menyinari siapa saja, dan tidak memilih-milih siapa yang layak menerima cahayanya. Kami ingin Mataleza menjadi seperti itu.

Kami ingin menghadirkan cahaya pengetahuan di tempat kami tinggal, meskipun cahaya itu mungkin bermula dari ruang yang kecil dan dengan jumlah buku yang belum seberapa. Kami ingin anak-anak, remaja, dan siapa saja yang datang memiliki kesempatan untuk membaca, bertanya, berpikir, serta menemukan sesuatu yang baru tentang dirinya dan dunia di sekitarnya.

Kami juga memilih motto dalam bahasa daerah: “Mange Mai, Bo’o Tosi.”

Secara harfiah, ungkapan ini mengandung ajakan untuk datang ketika lapar dan pulang setelah kenyang. Namun, bagi kami, maknanya melampaui urusan perut. Rasa lapar yang kami maksud adalah rasa lapar akan pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman tentang kehidupan.

Datanglah ketika merasa lapar akan pengetahuan. Bacalah buku, berdiskusilah, bertanyalah, dan belajarlah bersama kami. Setelah mendapatkan sesuatu, jangan menyimpannya untuk diri sendiri. Bawalah pengetahuan itu kembali ke lingkunganmu, bagikan kepada orang lain, dan biarkan orang lain turut bertumbuh karenanya.

Sebab, pengetahuan tidak seharusnya berhenti pada satu kepala. Ia perlu bergerak, berpindah dari satu orang kepada orang lain, dan menemukan kehidupan baru melalui tindakan-tindakan sederhana.

Begitulah kami ingin Mataleza bertumbuh: bukan sekadar menjadi tempat menyimpan buku, melainkan tempat pengetahuan menemukan jalan untuk dibagikan. Buku, jendela dunia, dan perjalanan mengenal manusia. Kami percaya bahwa buku dapat mengubah cara seseorang memandang kehidupan.

Buku memang sering disebut sebagai jendela dunia. Namun, bagi saya, buku tidak hanya membuka jendela. Ia juga mengajak kita melangkah keluar, menyeberangi batas-batas yang selama ini membatasi imajinasi, dan memasuki kehidupan manusia yang mungkin tidak pernah kita jumpai secara langsung.

Melalui buku, kita dapat mengenal kehidupan masyarakat di belahan dunia lain. Kita dapat memahami pergulatan politik, menyelami pemikiran filsafat, mempelajari sejarah, mengenal agama dan kebudayaan, serta membaca pengalaman manusia yang hidup dalam keadaan berbeda dari kita.

Kita bisa tinggal di sebuah kampung kecil dan tetap memiliki kesempatan untuk menjelajahi dunia. Kita mungkin tidak memiliki cukup uang untuk bepergian ke berbagai tempat, tetapi buku dapat membawa kita melintasi ruang dan waktu. Ia mempertemukan kita dengan pemikiran yang berbeda, pengalaman yang asing, dan kenyataan yang selama ini tidak pernah kita bayangkan. Lebih dari itu, buku mengajari kita untuk tidak terburu-buru menghakimi orang lain.

Ketika membaca kisah seseorang yang hidup dalam kemiskinan, kita belajar memahami bahwa setiap orang memiliki pergulatan yang tidak selalu terlihat. Ketika membaca pengalaman masyarakat yang berbeda kebudayaan, kita belajar bahwa perbedaan tidak selalu harus berakhir dengan pertentangan. Ketika membaca kisah kehilangan, perjuangan, atau keberanian, kita menyadari bahwa ada banyak manusia yang diam-diam sedang berjuang untuk tetap berdiri.

Di situlah buku menjadi lebih dari sekadar sumber informasi. Ia dapat menjadi ruang perjumpaan dengan kemanusiaan.

Tentu, kami tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap orang yang membaca buku akan langsung berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Membaca pun membutuhkan keterbukaan pikiran, kemauan untuk merenungkan, dan keberanian untuk mempertanyakan kembali apa yang selama ini dianggap benar. Namun, kami percaya bahwa kebiasaan membaca dapat menyediakan jalan bagi seseorang untuk mengenal dirinya sendiri, memahami orang lain, dan memandang dunia dengan lebih luas.

Karena itu, jika suatu hari seseorang bertanya kepada kami mengapa sebuah pondok baca perlu hadir di kampung, kami ingin menjawab dengan sederhana: karena setiap orang berhak memperoleh kesempatan untuk mengenal dunia, termasuk mereka yang hidup jauh dari pusat-pusat pengetahuan.

Dan jika Anda belum percaya pada kekuatan buku, cobalah mengambil sebuah buku yang paling menarik perhatian Anda. Bukalah halaman pertamanya, lalu bacalah beberapa paragraf. Barangkali Anda akan tersenyum, tertawa, terdiam, atau justru menemukan pertanyaan yang selama ini tidak pernah terpikirkan.

Pada saat itu, Anda sedang memasuki sebuah dunia yang sebenarnya tidak sepenuhnya asing. Sebab, meskipun penulisnya tidak Anda kenal, pengalaman, kegelisahan, dan harapan yang ditulisnya mungkin sangat dekat dengan kehidupan Anda sendiri.

Kami memulai dari kampung, bukan dari kelimpahan

Pondok Baca Mataleza lahir bukan karena kami telah memiliki segala sesuatu yang dibutuhkan untuk membangun sebuah gerakan literasi. Sebaliknya, kami memulainya ketika banyak hal justru belum tersedia.

Kami tidak memiliki fasilitas yang lengkap. Koleksi buku masih terbatas. Ruang yang tersedia pun belum dapat dibandingkan dengan perpustakaan-perpustakaan yang memiliki sarana memadai. Kami juga harus belajar memahami bagaimana sebuah komunitas dapat bertahan, bagaimana kegiatan dapat terus berjalan, dan bagaimana menjaga semangat ketika kenyataan tidak selalu sesuai dengan rencana.

Namun, kami belajar bahwa memulai sesuatu tidak selalu berarti menunggu semua kebutuhan terpenuhi.

Ada kalanya kita harus berangkat dengan apa yang tersedia, sambil terus mencari cara untuk memperbaiki apa yang belum ada. Kami memulai dengan buku-buku yang kami miliki. Kami memulai dengan percakapan, dengan waktu yang dapat kami luangkan, dan dengan keyakinan bahwa sebuah perubahan tidak harus selalu dimulai melalui sesuatu yang besar. Kami hanyalah orang-orang biasa yang mencoba berbagi dari segala keterbatasan.

Kami bukan orang yang mengetahui segala hal. Kami juga bukan kelompok yang memiliki jawaban untuk setiap persoalan. Kami hanya percaya bahwa apa yang sedikit akan menjadi lebih berarti ketika dibagikan, dan apa yang sederhana dapat bertumbuh ketika dikerjakan bersama.

Dari Olakile, kami ingin menunjukkan bahwa kampung bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Keterbatasan fasilitas bukanlah alasan untuk menutup pintu pengetahuan. Jarak dari kota bukanlah ukuran tentang seberapa jauh seseorang dapat mengembangkan pikirannya.

Kami ingin kampung kami tetap menjadi kampung yang mencintai akar budayanya, tetapi tidak menutup diri terhadap pengetahuan baru. Kami ingin anak-anak tumbuh dengan mengenal cerita dari leluhurnya sekaligus memiliki kesempatan untuk membaca cerita dari berbagai belahan dunia.

Sebab, menjadi bagian dari kampung tidak berarti harus membatasi diri pada apa yang tersedia di sekitar kita. Kita dapat mencintai tanah tempat kita tumbuh sambil terus memperluas cara berpikir dan memperkaya pengalaman. Dari kampung yang tidak kampungan, kami memulai perjalanan ini.

Bagi kami, kalimat itu bukan sekadar permainan kata. Ia adalah pernyataan tentang martabat. Bahwa orang-orang dari kampung pun memiliki gagasan, kreativitas, dan kemampuan untuk mengambil bagian dalam perubahan. Bahwa dari tempat yang mungkin tidak banyak disebut orang, sesuatu yang berarti dapat mulai tumbuh.

Mataleza: ruang untuk membaca, menulis, dan saling mendengarkan

Seiring berjalannya waktu, kami semakin menyadari bahwa membangun budaya literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan buku. Buku memang penting, tetapi kebiasaan membaca membutuhkan ruang yang hidup, hubungan yang hangat, dan kesempatan untuk membicarakan apa yang telah dibaca.

Seseorang mungkin telah membaca sebuah cerita, tetapi pemahamannya dapat berkembang ketika ia menceritakan kembali isi cerita itu kepada orang lain. Seorang anak mungkin menemukan kata-kata baru dari sebuah buku, tetapi kata-kata itu akan semakin bermakna ketika ia berani menggunakannya untuk menulis, bertanya, atau mengungkapkan perasaannya.

Dari pemahaman itu, Mataleza terus berupaya membuka ruang bagi kegiatan membaca dan menulis, perjumpaan, serta pertukaran pengalaman.

Salah satu kegiatan yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan kami adalah Mataleza Baku Cerita, singkatan dari Baca Buku Tukar Cerita. Kegiatan ini dilaksanakan bersama Kelompok Membaca dan Menulis SMPSK Kotagoa Boawae. Melalui pertemuan rutin, buku tidak hanya dibaca, tetapi juga menjadi bahan percakapan. Para peserta mendapat kesempatan untuk berbagi pemahaman, menyampaikan pendapat, dan mendengarkan pengalaman teman-temannya.

Bagi kami, kegiatan seperti ini penting karena literasi bukan hanya tentang kemampuan mengeja kata dan memahami kalimat. Literasi juga menyangkut kemampuan menyimak, mengolah informasi, mengajukan pertanyaan, menyampaikan gagasan, serta menghargai perbedaan pendapat.

Kami ingin anak-anak dan remaja memahami bahwa mereka tidak harus menjadi orang yang paling pandai untuk mulai berbicara. Mereka boleh keliru ketika menyampaikan pendapat, boleh bertanya tentang sesuatu yang belum dipahami, dan boleh mengubah pandangan setelah mendengar penjelasan orang lain.

Di ruang semacam itu, membaca menjadi pengalaman bersama. Anak-anak belajar bahwa buku bukan barang yang harus ditakuti, tulisan bukan sesuatu yang hanya milik orang-orang hebat, dan pengetahuan bukan hak istimewa segelintir orang.

Kami juga percaya bahwa setiap anak memiliki cerita. Ada cerita tentang keluarga, persahabatan, sekolah, kampung, permainan tradisional, bahasa daerah, dan berbagai pengalaman kecil yang sering dianggap biasa oleh orang dewasa. Padahal, di dalam pengalaman sederhana itulah tersimpan kekayaan yang layak dicatat dan diwariskan.

Karena itu, membaca dan menulis bagi kami bukan dua kegiatan yang berdiri sendiri. Keduanya saling melengkapi. Membaca membantu kita mengenal pengalaman orang lain, sedangkan menulis memberi kesempatan kepada kita untuk menceritakan pengalaman sendiri.

Kami ingin Mataleza menjadi salah satu ruang tempat anak-anak berani berkata, “Saya punya cerita, dan cerita saya layak didengar.”

Merawat cahaya di tengah keterbatasan

Membangun komunitas literasi adalah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran. Semangat yang besar pada awal perjalanan tidak selalu menjamin bahwa semua kegiatan akan berjalan lancar. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi, ada fasilitas yang perlu diperbaiki, dan ada program yang pelaksanaannya bergantung pada waktu, tenaga, serta dukungan orang-orang yang terlibat.

Keterbatasan akses terhadap bahan bacaan masih menjadi salah satu tantangan yang kami hadapi. Buku-buku yang tersedia belum mampu menjangkau semua kebutuhan pembaca. Anak-anak membutuhkan cerita bergambar dan bacaan yang sesuai dengan usia mereka. Remaja membutuhkan cerita, puisi, pengetahuan, dan bacaan yang dekat dengan pergulatan hidup mereka. Masyarakat juga membutuhkan bahan bacaan yang beragam agar dapat belajar sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

Selain buku, ruang baca yang lebih layak, rak penyimpanan, meja, fasilitas pendukung, dan berbagai sarana kegiatan juga menjadi bagian dari kebutuhan kami. Kami menyadari bahwa cita-cita membangun ruang literasi yang nyaman membutuhkan perencanaan dan dukungan yang tidak sedikit.

Karena itu, kami terus menyimpan harapan untuk mengembangkan Pondok Baca Mataleza Olakile agar memiliki ruang yang lebih memadai. Kami membayangkan sebuah tempat berukuran sederhana, tempat anak-anak dapat duduk membaca tanpa merasa terganggu, tempat remaja dapat menulis dan berdiskusi, serta tempat masyarakat dapat datang untuk belajar dan berbagi pengalaman.

Kami membayangkan rak-rak yang dipenuhi buku cerita anak, novel remaja, kumpulan cerpen, puisi, pengetahuan umum, sejarah, kebudayaan, dan berbagai bacaan lain. Kami membayangkan anak-anak yang datang bukan karena diwajibkan, melainkan karena merasa menemukan sesuatu yang menyenangkan di dalam buku.

Kami juga membayangkan sebuah ruang yang tidak hanya dipenuhi suara halaman buku yang dibalik, tetapi juga suara tawa, pertanyaan, cerita, dan percakapan. Ruang yang memungkinkan anak-anak belajar tanpa merasa sedang dihakimi. Ruang yang memberi kesempatan kepada siapa saja untuk datang dengan segala keterbatasannya.

Harapan tersebut tentu tidak dapat diwujudkan hanya dengan membayangkannya. Kami membutuhkan kerja bersama, dukungan, dan kesediaan banyak pihak untuk mengambil bagian.

Namun, kami tidak ingin keterbatasan membuat kami berhenti bergerak. Selama masih ada yang dapat dikerjakan, sekecil apa pun itu, kami ingin terus melangkah. Jika hari ini kami hanya mampu mengadakan kegiatan membaca bersama, kami akan melakukannya. Jika esok ada kesempatan untuk menambah buku, kami akan merawatnya. Jika suatu hari ada sahabat yang bersedia membantu menyediakan ruang yang lebih layak, kami akan menyambutnya dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab.

Kami belajar bahwa merawat cahaya tidak selalu berarti membuat nyala api menjadi besar dalam waktu singkat. Kadang-kadang, merawat cahaya berarti melindunginya agar tidak padam ketika angin bertiup kencang.

Sebuah ajakan untuk berbagi

Kepada saudara, sahabat, kenalan, dan siapa saja yang membaca kisah ini, kami ingin menyampaikan bahwa Pondok Baca Mataleza Olakile masih terus bertumbuh. Kami masih belajar, masih berbenah, dan masih berusaha memperluas manfaat yang dapat kami berikan.

Kami tidak ingin menyembunyikan kenyataan bahwa ada banyak keterbatasan dalam perjalanan ini. Kami membutuhkan tambahan bahan bacaan, fasilitas pendukung, serta dukungan dari berbagai pihak agar kegiatan literasi dapat terus berlangsung dan menjangkau lebih banyak anak.

Karena itu, jika Anda memiliki buku-buku yang masih layak dibaca dan ingin membagikannya, kami akan menerimanya dengan senang hati. Buku cerita anak, novel remaja, kumpulan cerpen, puisi, buku pengetahuan, maupun bacaan bermutu lainnya dapat menjadi bagian dari perjalanan kami.

Bagi Anda yang ingin mendukung pengembangan fasilitas dan kegiatan, kami juga terbuka untuk membicarakan bentuk kerja sama yang sesuai dengan kebutuhan Mataleza.

Kami memahami bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan untuk datang langsung ke Olakile. Tidak semua orang juga memiliki kemampuan yang sama untuk memberikan bantuan. Karena itu, kami tidak ingin menjadikan ajakan ini sebagai beban bagi siapa pun.

Kami hanya ingin membuka sebuah kemungkinan: bahwa sesuatu yang berarti dapat kita kerjakan bersama-sama.

Mungkin bagi seseorang, satu buku yang tersimpan di rumah tidak lagi memiliki banyak arti. Namun, bagi seorang anak yang belum pernah membaca cerita serupa, buku itu dapat menjadi pengalaman baru. Mungkin bagi seseorang, sebuah rak buku hanyalah perabot biasa. Namun, bagi sebuah pondok baca yang sedang berkembang, rak itu dapat menjadi tempat bagi puluhan atau ratusan cerita untuk menemukan pembacanya.

Mungkin pula ada orang yang tidak dapat memberikan buku atau fasilitas, tetapi bersedia meluangkan waktu untuk membaca bersama anak-anak, mengajarkan keterampilan, membagikan pengalaman, atau sekadar datang dan mendengarkan cerita mereka. Semua itu dapat menjadi bagian dari gerakan literasi.

Kami percaya bahwa berbagi tidak selalu dimulai dari kelimpahan. Berbagi dapat dimulai ketika seseorang menyadari bahwa apa yang dimilikinya, sekecil apa pun, mungkin berguna bagi kehidupan orang lain.

Kami juga memahami bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang harus dijaga. Karena itu, setiap dukungan yang diberikan kepada Mataleza perlu diterima dengan tanggung jawab, digunakan sesuai tujuan, dan dirawat agar manfaatnya dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.

Kami tidak sedang membangun sesuatu untuk membuktikan bahwa kami mampu melakukan segalanya. Kami sedang berusaha membangun sebuah ruang agar semakin banyak orang memiliki kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan berbagi.

Jika Anda berkenan menjadi bagian dari perjalanan ini, pintu komunikasi kami terbuka.

Pondok Baca Mataleza Olakile

Kelurahan Olakile, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kode Pos 86462.

Kontak: Fian N (untuk pengiriman melalui Jakarta dan Surabaya)
Nomor HP: 082144147587

Fian N, sejak tahun 2020 menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Menerbitkan buku puisi dan Pengembangan diri. (2019-2025). Kurang lebih sudah enam buku. Jika ingin berkenalan lebih dekat, silakan bertemu di FB Fian N, IG @kedaikata25

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (2)

  • Rosalia Rindang

    Berawal dari sebuah perbincangan biasa,, yang jika di pandang dari kaca mata org biasa bhwa itu cuman sekedar omongan lepas, dan omongan lepas itu ternyata sudah pernah dimimpi kan oleh seorang Fian N,,,,Disini kita paham bhwa semua org bisa bermimpi tapi ini bukan mimpi yg sekedar tidur biasa,.
    Cerita yg sangat menginspirasi,,,, Semoga Pondok baca mataleza menjadi inspirasi untuk semua taman baca dan perpustakaan khususnya di kabupaten nagekeo,
    #slaamliterasiuntukkesejahteraaan#

    Balas24 Oktober 2026 6:07 pm
    • Mataleza

      Salam literasi, kaka guru. Terima kasih banyak yang sudah selalu support. Sehat dan terus menjadi baik

      Balas24 Oktober 2026 6:22 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Membaca Ulang “Heungbu dan Nolbu”: Benarkah si Miskin Selalu Suci dan si Kaya Selalu Jahat? 

    Membaca Ulang “Heungbu dan Nolbu”: Benarkah si Miskin Selalu Suci dan si Kaya Selalu Jahat? 

    • calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
    • account_circle Sanggi Na
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Oleh : Sanggi Na  Bagi siapa pun yang tumbuh dengan cerita rakyat, dongeng “Heungbu dan Nolbu” adalah salah satu kisah klasik yang paling membekas di ingatan. Sejak kecil, kita disodorkan pada sebuah narasi hitam-putih yang sangat rapi: Heungbu adalah lambang kesucian hati yang terjebak dalam kemiskinan, sedangkan Nolbu adalah simbol keserakahan yang hidup bergelimang harta. […]

  • Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Senin (27/7) jam 14.00 waktu setempat, akan berlangsung pertandingan Piala Soeratin U-17 Zona NTT 2026 antara PSN Ngada berhadapan dengan Persap Alor. Laga kedua tim di Grup D adalah sebuah pertandingan bersejarah yang akan selalu diingat. Ini adalah panggung pertemuan dua kiblat, dua mazhab sepak bola yang telah mengakar dalam urat nadi masyarakat Flobamorata. Sejak […]

  • Sudut Pandang: Ketika Perempuan Jawa Menolak Nrima: Dari Kamar Babu Pariyem ke Dagangan Rokok Rara Mendut

    Sudut Pandang: Ketika Perempuan Jawa Menolak Nrima: Dari Kamar Babu Pariyem ke Dagangan Rokok Rara Mendut

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Sanggi Na
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Oleh: Sanggi Na, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma. Pernahkah Anda membayangkan apa yang akan terjadi jika Pariyem dan Rara Mendut duduk bersama di satu meja warung kopi? Pariyem, tokoh utama dalam prosa liris Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG, mungkin akan tersenyum manis, meminum teh hangatnya, dan bercerita betapa bahagianya ia menjadi babu di rumah seorang […]

  • Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Oleh: JOHN ORLANDO, S.FIL (Alumni FFA UNWIRA) Bangsa ini seperti cermin retak: memantulkan wajah-wajah yang kadang membuat kita ingin tertawa getir. Keluarga, komunitas, budaya, kerja, negara. semuanya hadir, tapi tidak selalu memberi pelukan hangat. Anak muda berdiri di depan cermin itu, bertanya-tanya: apakah ini wajah masa depan, atau sekadar bayangan masa lalu yang enggan pergi? […]

  • Kanjuruhan 1 Oktober 2022:  Luka yang Tak Terlupakan

    Kanjuruhan 1 Oktober 2022: Luka yang Tak Terlupakan

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Oktavianus Bimo
    • visibility 16
    • 0Komentar

    Oleh: Oktavianus Bimo Dwi Nugrahanto Sepak bola merupakan salah satu olahraga yang sangat populer di Indonesia. Olahraga ini bukan hanya menjadi hiburan tetapi juga mampu menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Setiap pertandingan menghadirkan semangat, kebersamaan, dan rasa bangga bagi para pendukung tim. Namun apabila keamanan dan keselamatan penonton tidak menjadi prioritas, pertandingan dapat berubah […]

  • Ketika Cinta Menjadi Doa

    Ketika Cinta Menjadi Doa

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
    • visibility 172
    • 3Komentar

    Minggu pagi selalu datang dengan kesunyian yang suci. Cahaya matahari menembus jendela kaca kapela SanJuan, memantulkan warna-warna lembut yang jatuh di lantai seperti doa yang menjelma menjadi cahaya. Denting lonceng memanggil umat untuk berkumpul, dan di antara bangku-bangku kayu yang tertata rapi, Frater Arda kembali menemukan sosok yang diam-diam mengisi ruang batinnya. Gadis itu selalu […]

expand_less