Breaking News
light_mode
Trending Tags

SUARA DARI MASA LALU: ERUPSI KRAKATAU 1883 DALAM ARSIP SEJARAH

  • account_circle Laurensia Angelin
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 8
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Laurensia Angelin

Pada Agustus 1883, laut di sekitar Selat Sunda menjadi saksi dari salah satu bencana alam paling dahsyat dalam sejarah. Gunung Krakatau meletus, mengguncang wilayah di sekitarnya dan meninggalkan kehancuran yang jejaknya melampaui batas geografis. Gelombang laut menerjang pesisir, permukiman luluh lantak, dan kehidupan masyarakat berubah dalam sekejap. Namun, setelah dentuman terakhir mereda dan gelombang perlahan surut, bencana itu tidak sepenuhnya menghilang. Ia meninggalkan sesuatu yang lain, yakni catatan, laporan, surat, dan berita yang merekam kepingan-kepingan peristiwa tersebut. Melalui arsip-arsip itulah suara dari masa lalu masih dapat didengar hingga hari ini.

Arsip sejarah bukan sekadar kumpulan kertas tua yang tersimpan di antara rak-rak penyimpanan. Di dalamnya, terdapat jejak kehidupan manusia yang pernah berhadapan dengan peristiwa besar. Ada kejadian yang dicatat secara resmi, ada kesaksian yang diteruskan melalui pemberitaan, dan ada gejala alam yang diamati serta ditelaah oleh para ilmuwan. Setiap dokumen menyimpan cara tersendiri dalam memandang bencana. Karena itu, membaca arsip Krakatau bukan hanya upaya memahami apa yang terjadi pada tahun 1883, melainkan juga usaha menelusuri bagaimana peristiwa itu dicatat, disusun, dan diwariskan sebagai bagian dari ingatan bersama.

Arsip dan Jejak Kehancuran

Salah satu sumber yang merekam dampak letusan Krakatau ialah kumpulan dokumen Gunung Krakatau Meletus, 1883 yang diterbitkan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia pada 2003. Kumpulan ini memuat berbagai dokumen mengenai dampak bencana di sejumlah wilayah, termasuk Lampung, Banten, Batavia, Madura, Karawang, dan Palembang. Di dalamnya terdapat laporan, kesaksian dari kapten kapal, serta dokumen yang berkaitan dengan upaya pertolongan setelah bencana.

Keberadaan dokumen-dokumen tersebut memperlihatkan bahwa kehancuran Krakatau tidak berhenti pada peristiwa alam itu sendiri. Dampaknya menjalar ke kehidupan masyarakat, mengusik permukiman, mengganggu kegiatan pelayaran, dan menuntut tanggapan dari pihak-pihak yang berwenang. Di balik catatan administratif yang tampak kaku, tersimpan gambaran tentang sebuah wilayah yang harus menghadapi keadaan luar biasa. Laporan menjadi sarana untuk menyampaikan kabar mengenai kehancuran, sementara dokumen pertolongan menandai adanya usaha untuk merespon penderitaan yang ditimbulkan oleh bencana.

Meski demikian, arsip tidak selalu menghadirkan pengalaman manusia secara utuh. Dokumen resmi cenderung mencatat hal-hal yang dianggap perlu untuk dilaporkan, diperiksa, atau ditindaklanjuti. Tidak semua kesedihan dapat diterjemahkan menjadi angka, dan tidak semua kehilangan memperoleh tempat yang sama dalam catatan sejarah. Oleh sebab itu, arsip perlu dibaca dengan kesadaran bahwa apa yang tertulis merupakan bagian dari peristiwa, bukan keseluruhan pengalaman orang-orang yang mengalaminya.

Anyer dalam Pemberitaan Surat Kabar

Jejak kehancuran Krakatau juga ditemukan dalam pemberitaan surat kabar. Salah satunya ialah artikel Ceylon Observer tertanggal 2 Oktober 1883, berjudul “Details of the Destruction of Anjer by the Recent Volcanic Eruption in Sunda Strait.” Katalog koleksi Royal Society mencatat bahwa artikel tersebut memuat kesaksian mengenai kehancuran Anyer yang diterjemahkan dari Bataviaasch Handelsblad, surat kabar yang terbit pada 9 September 1883.

Melalui pemberitaan semacam ini, kabar mengenai bencana bergerak melampaui tempat terjadinya peristiwa. Kehancuran di pesisir Selat Sunda tidak lagi menjadi perkara yang hanya diketahui oleh penduduk setempat, tetapi turut hadir dalam ruang pemberitaan yang lebih luas. Surat kabar menjembatani jarak, membawa kabar tentang sebuah wilayah yang porak-poranda kepada pembaca yang berada jauh dari tempat kejadian.

Di sini, arsip surat kabar memperlihatkan bahwa ingatan tentang bencana terbentuk melalui proses penyampaian dan penyebaran informasi. Sebuah peristiwa dialami di satu tempat, diberitakan di tempat lain, kemudian disimpan sebagai dokumen yang dapat dibaca kembali oleh generasi berikutnya. Akan tetapi, berita yang sampai kepada pembaca juga telah melewati proses pemilihan, penerjemahan, dan penyusunan. Suara yang hadir dalam pemberitaan merupakan suara yang berhasil dicatat dan disebarkan, sedangkan pengalaman yang tidak masuk ke dalam berita berisiko tetap berada di luar jangkauan pembaca masa kini.

Krakatau dalam Catatan Ilmiah

Selain dokumen administratif dan pemberitaan surat kabar, letusan Krakatau juga menjadi objek penyelidikan ilmiah. Pada 1888, Komite Krakatau dari Royal Society menerbitkan laporan berjudul The Eruption of Krakatoa, and Subsequent Phenomena, disunting oleh G. J. Symons. Laporan ini membahas berbagai gejala yang berkaitan dengan letusan, mulai dari material yang terlontar, gelombang udara dan suara, gelombang laut akibat aktivitas seismik, hingga perubahan optis di atmosfer serta gejala magnetik dan kelistrikan.

Dalam laporan ilmiah, Krakatau hadir melalui pengamatan dan upaya untuk memahami hubungan antara berbagai gejala alam. Peristiwa yang sebelumnya mengguncang kehidupan manusia kemudian ditelaah melalui pencatatan, pengumpulan informasi, dan penyusunan penjelasan ilmiah. Bencana tidak hanya menjadi sesuatu yang dikenang karena kedahsyatannya, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan mengenai kekuatan alam dan dampaknya terhadap lingkungan.

Perbedaan antara laporan ilmiah dan catatan mengenai kehancuran manusia menunjukkan bahwa satu peristiwa dapat meninggalkan beragam jenis ingatan. Ilmu pengetahuan berusaha menjelaskan bagaimana gejala alam berlangsung, sedangkan dokumen mengenai dampak bencana membantu memperlihatkan wilayah dan kehidupan yang terkena akibatnya. Keduanya tidak harus saling menggantikan. Justru ketika dibaca berdampingan, keduanya membuka pemahaman yang lebih luas mengenai Krakatau, yakni sebagai peristiwa alam sekaligus pengalaman sejarah.

Arsip Sebagai Pembentuk Memori Kolektif

Ingatan kolektif tidak hanya tumbuh dari pengalaman yang dibagikan secara langsung, tetapi juga dari dokumen yang diwariskan dan dibaca kembali oleh generasi berikutnya. Dalam peristiwa Krakatau 1883, arsip menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, menjaga jejak bencana agar tidak hilang ditelan waktu. Melalui laporan resmi, pemberitaan surat kabar, dan kajian ilmiah, peristiwa tersebut terus hadir dalam ingatan masyarakat sebagai bagian dari sejarah.

Namun, arsip tidak pernah merekam masa lalu secara utuh. Setiap dokumen memiliki sudut pandang dan kepentingannya sendiri, sehingga ada pengalaman yang tercatat dan ada pula yang luput dari perhatian. Karena itu, membaca arsip berarti menelusuri bukan hanya apa yang tertulis, melainkan juga keheningan di baliknya. Dari sana, kita memahami bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan fakta, tetapi juga proses menafsirkan jejak yang ditinggalkan masa lalu.

Mendengar Suara dari Masa lalu

Lebih dari satu abad telah berlalu sejak Krakatau meletus, tetapi jejak kehancurannya masih bertahan dalam lembaran-lembaran arsip. Laporan, berita, dan catatan ilmiah menjadi saksi bisu atas peristiwa yang pernah mengguncang kehidupan manusia. Melalui dokumen-dokumen tersebut, masa lalu seolah menemukan jalannya untuk kembali hadir dan menyampaikan kisahnya kepada generasi masa kini.

Meskipun tidak mampu menghadirkan seluruh pengalaman mereka yang terdampak, arsip memberi kita kesempatan untuk mendekati masa lalu dengan lebih kritis. Di antara catatan yang tersimpan dan suara yang tak sempat diabadikan, kita belajar bahwa ingatan selalu memiliki batas. Krakatau pun terus hidup dalam sejarah, bukan hanya melalui kedahsyatan letusannya, tetapi juga melalui jejak-jejak yang mengajak kita memahami dan memaknai kembali peristiwa tersebut.

Daftar Pustaka

Arsip Nasional Republik Indonesia. (2003). Gunung Krakatau Meletus, 1883. Jakarta: ANRI. https://sejarah.dibi.bnpb.go.id/koleksi-sejarah-bencana/gunung-krakatau-meletus-1883/36?.

Ceylon Observer. (1883, Oktober 2). “Details of the Destruction of Anjer by the Recent Volcanic Eruption in Sunda Strait”. Royal Society Collection.

Krakatoa Committee of the Royal Society. (1888). The Eruption of Krakatoa, and Subsequent Phenomena: Report of the Krakatoa Committee of the Royal Society. London: Trubner & Co.

https://ia800704.us.archive.org/14/items/eruptionofkrakat00roya/eruptionofkrakat00roya.pdf.

  • Penulis: Laurensia Angelin
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

    PUISI-PUISI GREGORIUS NGGADUNG

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Gregorius Nggadung
    • visibility 588
    • 2Komentar

    PERJAMUAN MALAM Tak ada yang kau siapkan lagi Selain roti tawar yang disiram dan mekar Selain sumpah dan kemerdekaan yang kau janjikan Meredam di atas tumpukan buku Lelap di pangkuan tanganmu   Kau tak perlu datang lagi malam ini Cukup menyaksikan perjamuan yang getir ini Di bawah meja perjamuan Kukibarkan kata-kata Sehingga tak ada tulang-tulang […]

  • Sudut Pandang: Sepuluh Gol dalam Pertandingan yang Katanya Tidak Penting

    Sudut Pandang: Sepuluh Gol dalam Pertandingan yang Katanya Tidak Penting

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Pertandingan perebutan tempat ketiga biasanya diperlakukan seperti acara ramah-tamah setelah pemakaman. Dua tim baru saja gagal mencapai final, lalu diminta kembali memakai seragam, berbaris di lorong stadion, dan menunjukkan semangat untuk memperebutkan medali perunggu. Tidak ada anak kecil yang menempelkan poster di kamar sambil berbisik, “Kelak aku ingin finis ketiga.” Prancis dan Inggris tampaknya memahami […]

  • Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Pemerintahan Resmi Diterima di Desa Oesena: Wujud Nyata Integrasi Akademik dan Pengabdian Masyarakat

    Mahasiswa MBKM Program Studi Ilmu Pemerintahan Resmi Diterima di Desa Oesena: Wujud Nyata Integrasi Akademik dan Pengabdian Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 217
    • 0Komentar

    OESENA, 11 Mei 2026 — Sebanyak 16 mahasiswa/i Program Studi Ilmu Pemerintahan yang mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) secara resmi diterima oleh Kepala Desa Oesena beserta seluruh perangkat desa dalam kegiatan penerimaan dan pemaparan program kerja yang berlangsung di Kantor Desa Oesena pada Senin, 11 Mei 2026. Kegiatan ini menandai awal pelaksanaan program […]

  • DI BALIK ABU, JEJAK YANG TERTINGGAL, INGATAN YANG TAK PADAM DI MUSEUM PETILASAN MBAH MARIDJAN

    DI BALIK ABU, JEJAK YANG TERTINGGAL, INGATAN YANG TAK PADAM DI MUSEUM PETILASAN MBAH MARIDJAN

    • calendar_month 2 jam yang lalu
    • account_circle Marchelyna Dwi Satriani Permata Deya 
    • visibility 9
    • 0Komentar

    Oleh: Marchelyna Dwi Satriani Permata Deya  Tak semua peristiwa dalam hidup berakhir ketika waktu berjalan. Terkadang ada peristiwa yang meninggalkan bekas juga trauma lebih dalam daripada sekedar kerusakan fisik, yaitu ingatan yang selalu menetap dalam kehidupan manusia. Abu yang telah tersapu oleh hujan. pepohonan yang kembali tumbuh, juga rumah-rumah baru yang sudah berdiri tegak kembali […]

  • Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami photo_camera 1

    Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Desan Viktoria Aso
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Perjuangan seorang ayah petani dalam membesarkan tujuh anak, menghadapi kehilangan, dan menjaga harapan keluarganya.    Oleh: Maria Desan Viktoria Aso   Setiap keluarga memiliki cerita perjuangannya masing-masing. Ada keluarga yang hidup dengan segala kemudahan, tetapi ada juga keluarga yang harus melewati banyak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di balik kehidupan sebuah keluarga, biasanya terdapat sosok […]

  • Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Publikasi Politeknik St. Wilhelmus Boawae
    • visibility 237
    • 0Komentar

    NAGEKEO, 30 Maret 2026 – Politeknik St. Wilhelmus (PSW) mempertegas komitmennya dalam pembangunan masyarakat berbasis vokasi melalui kegiatan panen perdana wortel organik di Desa Lajawajo, Kabupaten Nagekeo, Senin (30/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Sekolah Vokasi Desa melalui pembuatan kebun percontohan (demplot) hortikultura di lahan milik desa. Sebagai desa binaan PSW, Desa Lajawajo menjadi […]

expand_less