Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

  • account_circle Aprianus Jebarus
  • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
  • visibility 288
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lara

Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan.

Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja.
Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata

Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan untuk aku miliki, sebab yang kamu lirik adalah sosok bayangan dalam tirai langkahmu.

Perihal aku mengagumimu, abaikan saja.
Anggap saja itu adalah sebuah euforia semata yang menemanimu menikmati hari hari mu yang lalu. Saat semua yang kau harapkan menghilang darimu

Biarkan aku berdiam diri menyembuhkan luka dengan balutan senyum tanpa tapi.

Belum Usai

Perihal cerita aku dan kamu yang dulu belum usai
Kutitipkan pesan dengan tinta emas pada dedaunan kering untuk kamu mengerti satu hal bahwa belaian rambutmu yang menawan masih tersimpan rapi dalam angan.

Belum pernah kusajikan, entah untuk apa ada kepada siapa.
Karena aku ingin kau kembali, kembali bertumbuh dan berjalan bersama, menjahit sobekkan dengan benang kasih

Hanya saja raguku masih membara, egoku masih setinggi awan hingga aku lupa cara menyampaikan rasa tanpa isyarat

Sebab kamu terlalu istimewa untuk aku yang sederhana.

Peluklah Dirimu

Sudahkah kamu merenung akan dirimu
Di kala air mata semesta menyelimuti hari yang kau lewati?
Bukan apa-apa, aku hanya memastikan kau berdiri tanpa ragu di antara godaan dunia ini.

Sudahkah kau meyakinkan dirimu
Bahwa pelukan yang kau rindukan hanya ada pada leganmu yang mungil
Tapi kau sama seperti awan yang menutupi indahnya langit biru, kau pun begitu selalu menutupi cahaya, berdiam pada ketidaknyamanan jalanmu.

Ketahuilah
Kau sendiri yang memahami deraian ombak yang menghantam ruang kecil pada relung hatimu yang mengalirkan keinginan untuk melangkah lebih jauh
Namun kau masih enggan berlabu dari sana tanpa sebab.

Ketauilah
Kau begitu sempurna, tapi sayang kau belum memahami dirimu sepenuhnya
Entah karena apa, tidak ada yang tahu.
Hanya,
Hanya jika kau bersedia
Kan kusiap ruang untuk kita duduk bersila, bercerita sembari mendengarkan lagu favoritmu

Kan kupastikan
Kau itu berarti
Kau itu sempurna
Peluklah erat tubuh
hingga kau paham betapa berharganya dirimu.

 

Aprianus Jebarus,Β Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari

  • Penulis: Aprianus Jebarus
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (1)

  • Naldy hamin

    Puisi yang bagus
    Tapi ada beberapa kata yang aku baca dan menurut ku tidak logis, tapi ini hanya isi hatiku untuk sang penulis teruslah berbentuk seperti apa yang hendak di bentuk(karakter)

    Bisakah buatkan puisi untuk. Dengan tema;
    AKU ANAK YANG BEKERJA DI BAWAH TERIKNYA MATAHARI

    Balas9 Mei 2026 4:16 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Dari Kampung Adat Ngegedhawe photo_camera 3

    Sudut Pandang: Dari Kampung Adat Ngegedhawe

    • calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
    • account_circle Firman Sabata
    • visibility 190
    • 0Komentar

    “Dengan melakukan pengayaan budaya lokal, kita akan makin lestari dan tentu sebagai bangsa yang besar tak akan terkikis oleh budaya bangsa luar. Ini penting, dan merupakan modal utama seluruh bangsa.” Ir. Soekarno Pagi hari di kaki Gunung Amegelu menyajikan pemandangan yang tenang. Kabut tipis perlahan terangkat dari puncak gunung, memperlihatkan rimbunnya vegetasi yang memagari kawasan […]

  • Sudut Pandang: Ketika Sunyi Tak Mampu Membisukan

    Sudut Pandang: Ketika Sunyi Tak Mampu Membisukan

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Paulina Bening Puspa Arum
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Oleh: Paulina Bening Puspa Arum Ada orang-orang yang pergi, lalu perlahan dilupakan. Nama mereka pernah disebut, wajah mereka pernah dikenal, tetapi waktu memiliki caranya sendiri untuk menghapus jejak. Ketika semakin sedikit orang yang mengingat kenangan pun perlahan menjadi samar. Bagi Pramoedya Ananta Toer, melupakan bukan perkara sederhana. Di Pulau Buru, tempat ia menjalani penahanan politik […]

  • Sudut Pandang: Melanjutkan Langkah di Bawah Bayang-Bayang Cinta Mereka photo_camera 2

    Sudut Pandang: Melanjutkan Langkah di Bawah Bayang-Bayang Cinta Mereka

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Maria Sonia Kari Langobelen
    • visibility 95
    • 3Komentar

    Pagi selalu datang seperti biasa. Matahari perlahan masuk melalui celah jendela, mulai terdengar suara yang tidak asing bagiku yang begitu menggema memenuhi kamarku. Suara itu selalu menjadi alarm yang selalu memastikan anak-anaknya tidak terlambat ke sekolah. Di sebuah desa yang terpencil, di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, hiduplah sepasang suami istri yang yang kehidupannya sangat […]

  • Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Beny K. Harman
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Oleh: BennyΒ K. Harman Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir. Pelarangan massal terhadap film ini bukan sekadar tindakan sensor birokratis yang kolot. Ini adalah ekspresi ketakutan […]

  • Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 231
    • 2Komentar

    Oleh: Marselus Natar (Rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis novel berjudul: Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah, dan antologi cerpen berjudul: Usaha Membunuh Tuhan) Setiap cinta selalu punya cerita tentang bagaimana ia dimulai. Ada yang tumbuh dari pertemuan sederhana, dari percakapan singkat, dari perhatian kecil yang perlahan berubah menjadi rasa yang sulit […]

  • Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami photo_camera 1

    Sudut Pandang: Keringat Ayah Adalah Harapan Kami

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Maria Desan Viktoria Aso
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Perjuangan seorang ayah petani dalam membesarkan tujuh anak, menghadapi kehilangan, dan menjaga harapan keluarganya. Β  Β Oleh: Maria Desan Viktoria Aso Β  Setiap keluarga memiliki cerita perjuangannya masing-masing. Ada keluarga yang hidup dengan segala kemudahan, tetapi ada juga keluarga yang harus melewati banyak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di balik kehidupan sebuah keluarga, biasanya terdapat sosok […]

expand_less