Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

  • account_circle Aprianus Jebarus
  • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
  • visibility 254
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lara

Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan.

Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja.
Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata

Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan untuk aku miliki, sebab yang kamu lirik adalah sosok bayangan dalam tirai langkahmu.

Perihal aku mengagumimu, abaikan saja.
Anggap saja itu adalah sebuah euforia semata yang menemanimu menikmati hari hari mu yang lalu. Saat semua yang kau harapkan menghilang darimu

Biarkan aku berdiam diri menyembuhkan luka dengan balutan senyum tanpa tapi.

Belum Usai

Perihal cerita aku dan kamu yang dulu belum usai
Kutitipkan pesan dengan tinta emas pada dedaunan kering untuk kamu mengerti satu hal bahwa belaian rambutmu yang menawan masih tersimpan rapi dalam angan.

Belum pernah kusajikan, entah untuk apa ada kepada siapa.
Karena aku ingin kau kembali, kembali bertumbuh dan berjalan bersama, menjahit sobekkan dengan benang kasih

Hanya saja raguku masih membara, egoku masih setinggi awan hingga aku lupa cara menyampaikan rasa tanpa isyarat

Sebab kamu terlalu istimewa untuk aku yang sederhana.

Peluklah Dirimu

Sudahkah kamu merenung akan dirimu
Di kala air mata semesta menyelimuti hari yang kau lewati?
Bukan apa-apa, aku hanya memastikan kau berdiri tanpa ragu di antara godaan dunia ini.

Sudahkah kau meyakinkan dirimu
Bahwa pelukan yang kau rindukan hanya ada pada leganmu yang mungil
Tapi kau sama seperti awan yang menutupi indahnya langit biru, kau pun begitu selalu menutupi cahaya, berdiam pada ketidaknyamanan jalanmu.

Ketahuilah
Kau sendiri yang memahami deraian ombak yang menghantam ruang kecil pada relung hatimu yang mengalirkan keinginan untuk melangkah lebih jauh
Namun kau masih enggan berlabu dari sana tanpa sebab.

Ketauilah
Kau begitu sempurna, tapi sayang kau belum memahami dirimu sepenuhnya
Entah karena apa, tidak ada yang tahu.
Hanya,
Hanya jika kau bersedia
Kan kusiap ruang untuk kita duduk bersila, bercerita sembari mendengarkan lagu favoritmu

Kan kupastikan
Kau itu berarti
Kau itu sempurna
Peluklah erat tubuh
hingga kau paham betapa berharganya dirimu.

 

Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari

  • Penulis: Aprianus Jebarus
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (1)

  • Naldy hamin

    Puisi yang bagus
    Tapi ada beberapa kata yang aku baca dan menurut ku tidak logis, tapi ini hanya isi hatiku untuk sang penulis teruslah berbentuk seperti apa yang hendak di bentuk(karakter)

    Bisakah buatkan puisi untuk. Dengan tema;
    AKU ANAK YANG BEKERJA DI BAWAH TERIKNYA MATAHARI

    Balas9 Mei 2026 4:16 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pau Cubarsí dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

    Pau Cubarsí dan Seni Bertahan yang Nyaris Terlupakan

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Sepak bola selalu jatuh cinta kepada pencetak gol. Kita mengingat Diego Maradona karena menggiring bola melewati setengah lapangan. Kita mengenang Lionel Messi karena ribuan sentuhan yang membuat hukum gravitasi seolah kehilangan kuasa. Kita memuja Cristiano Ronaldo karena gol-gol yang lahir dari lompatan yang mustahil dilakukan manusia biasa. Jarang sekali kita pulang dari stadion sambil berkata, […]

  • EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    EKSISTENSI BUDAYA dan PERSOALAN DALAM DUNIA KONTEMPORER

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Yohanes Jawang
    • visibility 593
    • 0Komentar

    Budaya merupakan bagian dari aspek kehidupan manusia yang tidak terpisahkan. Budaya juga merupakan bagian dari kreativitas akal budi manusia, yang dijaga terus-menerus, dan bahkan diperbarui seiring berjalannya waktu.  Budaya menjadi suatu aspek yang sangat penting dan bahkan mendapat tempat yang sangat penting. Oleh karena itu, budaya tanpa manusia adalah mustahil, sebaliknya manusia tanpa budaya akan […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 400
    • 2Komentar

    “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.” Lima belas cerpen […]

  • Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 237
    • 1Komentar

    suka sibuk pagi-pagi sekali di hari minggu, kami ke gereja. seperti orang-orang, kami berpakaian rapi. sebelum keluar pintu rumah, pastikan semua dalam keadaan siap, batin maupun pakaian. di pintu masuk gereja, semua mata mencari sumber bunyi kaki. lihat atas-bawah. di dalam gereja, ekaristi sebentar lagi mulai. masih ada yang sibuk menilai. sebentar sambut hosti, bikin […]

  • Puisi-puisi Tuhan dan Puan sedang Online, Tak Semua Harus Tentang Kita, Tentang Jalan

    Puisi-puisi Tuhan dan Puan sedang Online, Tak Semua Harus Tentang Kita, Tentang Jalan

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Tuhan dan Puan Sedang Online Kucumbui minggu dijantung rindu Ada sehelai cemburu yang gugur Di dinding yang tak bercentang biru hanya dua garis abu-abu yang muram yang begitu setia menunggu di bukit setia.   Aku tahu, Mungkin kau sedang memulung harimu Dalam kesibukan Hingga serentetan pesanku kau abaikan. Minggu yang kucumbui kali ini begitu rapuh, […]

  • Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    Fokus pada Satu Masalah, Jangan Serakah

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 225
    • 2Komentar

    Fokus pada satu tujuan. Jangan gegabah dalam memperlakukan sebuah persoalan. Sering kali, manusia terjebak pada rasa ingin lebih akan sesuatu yang masih belum pasti seperti apa akhirnya. Dalam hidup, kita sering tergoda untuk menangani banyak masalah sekaligus. Ada perasaan seolah kita harus selalu produktif, selalu cepat menyelesaikan segalanya, dan selalu tampil prima. Namun, ironisnya, justru […]

expand_less