Breaking News
light_mode
Trending Tags

Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

  • account_circle Aprianus Jebarus
  • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
  • visibility 229
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lara

Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan.

Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja.
Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata

Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan untuk aku miliki, sebab yang kamu lirik adalah sosok bayangan dalam tirai langkahmu.

Perihal aku mengagumimu, abaikan saja.
Anggap saja itu adalah sebuah euforia semata yang menemanimu menikmati hari hari mu yang lalu. Saat semua yang kau harapkan menghilang darimu

Biarkan aku berdiam diri menyembuhkan luka dengan balutan senyum tanpa tapi.

Belum Usai

Perihal cerita aku dan kamu yang dulu belum usai
Kutitipkan pesan dengan tinta emas pada dedaunan kering untuk kamu mengerti satu hal bahwa belaian rambutmu yang menawan masih tersimpan rapi dalam angan.

Belum pernah kusajikan, entah untuk apa ada kepada siapa.
Karena aku ingin kau kembali, kembali bertumbuh dan berjalan bersama, menjahit sobekkan dengan benang kasih

Hanya saja raguku masih membara, egoku masih setinggi awan hingga aku lupa cara menyampaikan rasa tanpa isyarat

Sebab kamu terlalu istimewa untuk aku yang sederhana.

Peluklah Dirimu

Sudahkah kamu merenung akan dirimu
Di kala air mata semesta menyelimuti hari yang kau lewati?
Bukan apa-apa, aku hanya memastikan kau berdiri tanpa ragu di antara godaan dunia ini.

Sudahkah kau meyakinkan dirimu
Bahwa pelukan yang kau rindukan hanya ada pada leganmu yang mungil
Tapi kau sama seperti awan yang menutupi indahnya langit biru, kau pun begitu selalu menutupi cahaya, berdiam pada ketidaknyamanan jalanmu.

Ketahuilah
Kau sendiri yang memahami deraian ombak yang menghantam ruang kecil pada relung hatimu yang mengalirkan keinginan untuk melangkah lebih jauh
Namun kau masih enggan berlabu dari sana tanpa sebab.

Ketauilah
Kau begitu sempurna, tapi sayang kau belum memahami dirimu sepenuhnya
Entah karena apa, tidak ada yang tahu.
Hanya,
Hanya jika kau bersedia
Kan kusiap ruang untuk kita duduk bersila, bercerita sembari mendengarkan lagu favoritmu

Kan kupastikan
Kau itu berarti
Kau itu sempurna
Peluklah erat tubuh
hingga kau paham betapa berharganya dirimu.

 

Aprianus Jebarus,Β Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari

  • Penulis: Aprianus Jebarus
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (1)

  • Naldy hamin

    Puisi yang bagus
    Tapi ada beberapa kata yang aku baca dan menurut ku tidak logis, tapi ini hanya isi hatiku untuk sang penulis teruslah berbentuk seperti apa yang hendak di bentuk(karakter)

    Bisakah buatkan puisi untuk. Dengan tema;
    AKU ANAK YANG BEKERJA DI BAWAH TERIKNYA MATAHARI

    Balas9 Mei 2026 4:16 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Maxi L. Sawung
    • visibility 261
    • 0Komentar

    Redup Aku akhirnya memilih agar tu(h)an ataupun siapa saja tidak merenggut luka milikku. Beberapa tangan datang mengetuk, beberapa tangan mencoba memeluk tapi tetap aku tutup pintu makam batu itu. Kau pernah sekali atau bahkan berkali-kali dengan buru-buru berlari agar lekas sampai ketika datang melayat lukaku. Sekadar menanyakan perihal masa penyembuhan atau bagaimana dengan bekas luka-luka […]

  • Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Oleh: Filemon Pandu Wimastha (Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende)Β  Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. […]

  • Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Roy Wujon
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Oleh: Roy Wujon Mahasiswa IFTK Ledalero Dalam sistem negara demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers merupakan pilar penting yang patut dihargai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan pembatasan kritik publik melalui media, baik media massa konvensional maupun platform digital. Pembatasan tersebut sering kali dilakukan dengan dalih menjaga stabilitas, mencegah hoaks, atau melindungi […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 429
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,Β  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.   TIGA RINDU Rindu ini tiba – tiba datang Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun Rindu ini […]

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

expand_less