Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mau Hidup Oleh Apa Kata Mereka (?)

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
  • visibility 304
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hidup adalah serentetan pengulangan yang kadang memaksa kita harus bertahan pun berserah, bukan menyerah. Entah setelahnya bagaimana manusia bisa melewati semuanya, itu adalah rahasia tersembunyi yang dimiliki oleh masing-masing pribadi.

Semesta menawarkan banyak godaan, dilematisme memeluk manusia dengan sungguh. Jatuhkan pilihan sekarang atau kau kehilangan segalanya. Dengan terpaksa, juga buru-buru, tanpa pijak pikir yang matang, manusia membuat keputusan dalam sekejap. Kebiasaan demikian bukan muncul dari luar, sebenarnya ia diam di dalam diri manusia. Jika sebelumnya manusia hidup dalam ketenangan, kebaikan, harmonis bersama segala yang ada di sekitar, tentu semua akan baik-baik saja ketika dihadapkan dengan banyak pilihan yang ditawarkan semesta. Ia tidak akan gegabah menetapkan keputusan, tenang dan terukur. Bukan sekadar puas setelahnya tetapi keputusan itu mampu menghidupkannya dalam ketenangan dan kedamaian untuk kenyataan selanjutnya.

Ketenangan tidak datang dalam waktu yang singkat. Ia dipelihara sejak lama, diperam dengan sungguh agar bisa memberikan manfaat ketika dibutuhkan. Ia membuat setiap individu menjadi lebih peka terhadap diri sendiri sebelum sampai kepada yang lain. Ketenangan itulah yang mendorong setiap pribadi untuk begerak lebih jauh dalam menjelajahi setiap kenyataan yang dihadiahkan Pemilik kehidupan. Ketenangan itu menghidupkan serentak mematikan. Menghidupkan daya juang untuk bertahan dalam goncangan arus kehidupan yang semakin kompleks akan kecemasan, kehilangan, ketakutan dan kepedihan yang mendalam. Ia mematikan ketika ada sebuah gelombang kecemburuan, kedengkian, dan kemarahan yang datang dari luar mampu dihadapi dengan sikap yang dingin, tidak buru-buru tetapi terukur. Hal ini membuat lawan yang ada di hadapannya menjadi tak berdaya. Ini Adalah kelebihan yang tidak semua dimiliki oleh setiap manusia. Hanya orang-orang tertentu, yang sudah siap dan mengidupkan pola seperti ini sejak lama. Ia dilatih, diasuh dan dibiarkan tumbuh dalam bimbingan sesuai iman yang diyakini.

Pada sebuah kesempatan, tepat pagi itu, langit cerah. Burung-burung gereja berkicauan merdu. Di jalanan, segerombolan anjing sedang berebutan buah advokat yang jatuh diterpa angin malam. Anjing-anjing itu tidak saling memedulikan. Saling berebutan. Saya yakin dari sekian banyak itu berasal dari rahim yang sama. Ya, namanya mempertahankan hidup dan berhadapan dengan sesuatu yang menggiurkan, status persaudaraan ditinggalkan. Yang hadir paling awal di sana adalah pertikaian. Cara mempertahankan hidup di tengah kompleksnya kehidupan ini adalah yang kuat bertahan dan mampu beradaptasi itulah pemenangnya. Dan jangan pernah mengharapkan kemenangan jika kau hanya berdiam diri tanpa ada perjuangan. Yang berjuang saja belum tentu dimenangkan apalagi hanya pasif saja.

Di hidup ini, kita, termasuk saya, tidak luput hidup dalam kebiasaan seperti itu. Saling sikut sebelum akhirnya peluk erat setelah ada sesuatu yang didapat. Ada saja kelakuan yang menjengkelkan sebelumnya. Ada saja tindakan yang menimbulkan pertikaian. Ada saja perkataan yang menyakitkan. Akhirnya di antara kita ada yang memilih mundur dan keluar dari gelanggang pertarungan. Bukan karena tidak sanggup, tetapi menghemat energi untuk pertarungan selanjutnya yang lebih fair. Jika kita tetap bertahan di gelanggang pertarungan yang demikian, di mana pemenangnya sudah ada sebelum pertarungan itu berlangsung. Adalah skenario yang sudah diatur sedemikian rupa dan pertarungan hanyalah gambaran formalitas atas sebuah kenyataan yang mengerikan. Untuk hal-hal demikian, jika dihadapkan dengan seleksi alam, akan gugur paling awal.

Saya pun sering mendengar kata-kata yang mereka berikan kepada saya saat berhadapan dengan sesuatu yang bagi saya sedikit kewalahan. “Kamu pasti bisa. Tidak perlu takut, ada kami di belakangmu.” Atau, “Hidup ini adalah sebuah pertarungan, jangan mundur atau kau akan kehilangan segalanya.”

Yang saya dengar, itu menguatkan. Yang saya heran, kenapa bukan mereka saja yang langsung berhadapan dengan situasi yang sedang saya almi? Atau karena itu adalah jatahnya saya? Menarik memang untuk ditelisik. Karena teori itu asyik namun kenyatannya, kau harus mengorbankan banyak hal sebelum mendapatkan hasil yang maksimal. Banyak yang menjadi korban atas perjuangan kita. Bukan hanya diri kita sendiri. Keluarga kita pun bisa ikut menjadi korban atas sebuah perlawanan yang kita berikan. Diintervensi dan masuk melalui banyak pintu. Ruang gerak dibatasi. Tetapi untuk sebuah kebaikan, selalu ada jalan keluar yang didapatkan, semesta tidak pernah diam saja terhadap sebuah kelaliman.

Ya, ketika kita mulai hidup oleh kata mereka, maka kita pada kesempatan yang sama akan kehilangan jati diri. Sebab, yang tahu semua kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam diri hanya kita sendiri. Orang-orang di sekitar hanya bisa menilai. Dari penilaian mereka, mereka yakin bahwa kita bisa. Tetapi nyatanya, kita hanya sedang mencoba agar tidak kehilangan momen. Bila berhadapan dengan kenyataan berikutnya yang kurang lebih sama, kita bisa menemukan jalan keluarnya. Belajar dari kenyataan sebelumnya.

Akhirnya, hiduplah dalam keharmonisan dengan diri sendiri, lingkungan sosial dan termasuk alam sekitar. Dan, mari sambut hari-hari baru dengan lebih waspada. Semoga selalu hidup dalam kedamaian dan melewati pertarungan-pertarungan di gelanggang kenyataan dengan penuh tanggung jawab. Setia dalam ketenangan dan tidak gegabah setelahnya.

Pondok Baca Mataleza, 2026

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Di sudut kota Rosario yang riuh dan berdebu, sebuah rumah sederhana berdiri tenang. Rumah itu tidak dibangun oleh arsitek terkenal, melainkan oleh tangan seorang ayah dan kakek yang percaya bahwa keluarga selalu membutuhkan tempat untuk pulang. Di sanalah, pada 24 Juni 1987, lahir seorang bocah bernama Lionel Andrés Messi, anak ketiga […]

  • KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mataleza
    • visibility 382
    • 0Komentar

    Begitu tenang, membaca sastra adalah menakar keikhlasan. Ikhlas menimbang keadaan berdasakan elemen bahasa yang harus dipahami melalui ruang analisis itu. Hal ini jelas terlihat dan terdengar, ketika orang-orang begitu tabah melipat bahasa sastra ke dalam ruang teduh yang selalu menguji pemahaman. Hal ini senada dengan hasil proses kreatif yang ditunjukkan penulis sastra dan sastrawan Nusa […]

  • 4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 210
    • 4Komentar

    Apa yang paling kau takuti saat bertemu teman-teman lama? Ini pertanyaan pembuka yang saya coba ajukan untuk diri sendiri sebagai pemberi stimulus. Tujuannya adalah agar saya bisa menulisnya sampai tuntas! Tepatnya tidak ke luar dari ide besar yang sudah didapatakan melalui judul di atas. Senin, 09 Desember 2024 tepat di jam 17:27 saya ditelepon oleh […]

  • Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    Sudut Pandang: Merawat Nalar di Tengah Kemarahan

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Yulius Riba
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Oleh: Yulius Riba Content Creator, Writer, Edukasi Sosial dan Politik.    Pekan ini, potret buram demokrasi kembali muncul dari ruang yang selama ini kita agungkan sebagai benteng nalar yakni kampus. Di Universitas Gadjah Mada, sebuah forum diskusi yang semula dirancang sebagai ruang diskursus publik antara tiga pejabat negara dan mahasiswa berakhir karena tindakan-tindakan yang justru […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 477
    • 2Komentar

    “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.” Lima belas cerpen […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Benteng Senyap: Mengeja Kasih dan Kegigihan yang Tak Terucap

    Sudut Pandang: Di Balik Benteng Senyap: Mengeja Kasih dan Kegigihan yang Tak Terucap

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Yumila Yumi
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Oleh: Yumila Yumi Nama : Ninoi Umur : 49 Tahun Tempat Tanggal Lahir : Desa.Gandrung, 23-04-1977 Domisili : Dambung Raya Wajah yang Menyembunyikan Semesta Ada jenis kasih sayang yang tidak lahir dalam wujud kata-kata manis atau dekapan yang hangat. Ia tumbuh dalam bentuk yang keras, mengeras seperti karang, namun berdiri paling kokoh menahan gelombang. Bagi […]

expand_less