Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mau Hidup Oleh Apa Kata Mereka (?)

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
  • visibility 307
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hidup adalah serentetan pengulangan yang kadang memaksa kita harus bertahan pun berserah, bukan menyerah. Entah setelahnya bagaimana manusia bisa melewati semuanya, itu adalah rahasia tersembunyi yang dimiliki oleh masing-masing pribadi.

Semesta menawarkan banyak godaan, dilematisme memeluk manusia dengan sungguh. Jatuhkan pilihan sekarang atau kau kehilangan segalanya. Dengan terpaksa, juga buru-buru, tanpa pijak pikir yang matang, manusia membuat keputusan dalam sekejap. Kebiasaan demikian bukan muncul dari luar, sebenarnya ia diam di dalam diri manusia. Jika sebelumnya manusia hidup dalam ketenangan, kebaikan, harmonis bersama segala yang ada di sekitar, tentu semua akan baik-baik saja ketika dihadapkan dengan banyak pilihan yang ditawarkan semesta. Ia tidak akan gegabah menetapkan keputusan, tenang dan terukur. Bukan sekadar puas setelahnya tetapi keputusan itu mampu menghidupkannya dalam ketenangan dan kedamaian untuk kenyataan selanjutnya.

Ketenangan tidak datang dalam waktu yang singkat. Ia dipelihara sejak lama, diperam dengan sungguh agar bisa memberikan manfaat ketika dibutuhkan. Ia membuat setiap individu menjadi lebih peka terhadap diri sendiri sebelum sampai kepada yang lain. Ketenangan itulah yang mendorong setiap pribadi untuk begerak lebih jauh dalam menjelajahi setiap kenyataan yang dihadiahkan Pemilik kehidupan. Ketenangan itu menghidupkan serentak mematikan. Menghidupkan daya juang untuk bertahan dalam goncangan arus kehidupan yang semakin kompleks akan kecemasan, kehilangan, ketakutan dan kepedihan yang mendalam. Ia mematikan ketika ada sebuah gelombang kecemburuan, kedengkian, dan kemarahan yang datang dari luar mampu dihadapi dengan sikap yang dingin, tidak buru-buru tetapi terukur. Hal ini membuat lawan yang ada di hadapannya menjadi tak berdaya. Ini Adalah kelebihan yang tidak semua dimiliki oleh setiap manusia. Hanya orang-orang tertentu, yang sudah siap dan mengidupkan pola seperti ini sejak lama. Ia dilatih, diasuh dan dibiarkan tumbuh dalam bimbingan sesuai iman yang diyakini.

Pada sebuah kesempatan, tepat pagi itu, langit cerah. Burung-burung gereja berkicauan merdu. Di jalanan, segerombolan anjing sedang berebutan buah advokat yang jatuh diterpa angin malam. Anjing-anjing itu tidak saling memedulikan. Saling berebutan. Saya yakin dari sekian banyak itu berasal dari rahim yang sama. Ya, namanya mempertahankan hidup dan berhadapan dengan sesuatu yang menggiurkan, status persaudaraan ditinggalkan. Yang hadir paling awal di sana adalah pertikaian. Cara mempertahankan hidup di tengah kompleksnya kehidupan ini adalah yang kuat bertahan dan mampu beradaptasi itulah pemenangnya. Dan jangan pernah mengharapkan kemenangan jika kau hanya berdiam diri tanpa ada perjuangan. Yang berjuang saja belum tentu dimenangkan apalagi hanya pasif saja.

Di hidup ini, kita, termasuk saya, tidak luput hidup dalam kebiasaan seperti itu. Saling sikut sebelum akhirnya peluk erat setelah ada sesuatu yang didapat. Ada saja kelakuan yang menjengkelkan sebelumnya. Ada saja tindakan yang menimbulkan pertikaian. Ada saja perkataan yang menyakitkan. Akhirnya di antara kita ada yang memilih mundur dan keluar dari gelanggang pertarungan. Bukan karena tidak sanggup, tetapi menghemat energi untuk pertarungan selanjutnya yang lebih fair. Jika kita tetap bertahan di gelanggang pertarungan yang demikian, di mana pemenangnya sudah ada sebelum pertarungan itu berlangsung. Adalah skenario yang sudah diatur sedemikian rupa dan pertarungan hanyalah gambaran formalitas atas sebuah kenyataan yang mengerikan. Untuk hal-hal demikian, jika dihadapkan dengan seleksi alam, akan gugur paling awal.

Saya pun sering mendengar kata-kata yang mereka berikan kepada saya saat berhadapan dengan sesuatu yang bagi saya sedikit kewalahan. “Kamu pasti bisa. Tidak perlu takut, ada kami di belakangmu.” Atau, “Hidup ini adalah sebuah pertarungan, jangan mundur atau kau akan kehilangan segalanya.”

Yang saya dengar, itu menguatkan. Yang saya heran, kenapa bukan mereka saja yang langsung berhadapan dengan situasi yang sedang saya almi? Atau karena itu adalah jatahnya saya? Menarik memang untuk ditelisik. Karena teori itu asyik namun kenyatannya, kau harus mengorbankan banyak hal sebelum mendapatkan hasil yang maksimal. Banyak yang menjadi korban atas perjuangan kita. Bukan hanya diri kita sendiri. Keluarga kita pun bisa ikut menjadi korban atas sebuah perlawanan yang kita berikan. Diintervensi dan masuk melalui banyak pintu. Ruang gerak dibatasi. Tetapi untuk sebuah kebaikan, selalu ada jalan keluar yang didapatkan, semesta tidak pernah diam saja terhadap sebuah kelaliman.

Ya, ketika kita mulai hidup oleh kata mereka, maka kita pada kesempatan yang sama akan kehilangan jati diri. Sebab, yang tahu semua kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam diri hanya kita sendiri. Orang-orang di sekitar hanya bisa menilai. Dari penilaian mereka, mereka yakin bahwa kita bisa. Tetapi nyatanya, kita hanya sedang mencoba agar tidak kehilangan momen. Bila berhadapan dengan kenyataan berikutnya yang kurang lebih sama, kita bisa menemukan jalan keluarnya. Belajar dari kenyataan sebelumnya.

Akhirnya, hiduplah dalam keharmonisan dengan diri sendiri, lingkungan sosial dan termasuk alam sekitar. Dan, mari sambut hari-hari baru dengan lebih waspada. Semoga selalu hidup dalam kedamaian dan melewati pertarungan-pertarungan di gelanggang kenyataan dengan penuh tanggung jawab. Setia dalam ketenangan dan tidak gegabah setelahnya.

Pondok Baca Mataleza, 2026

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 219
    • 6Komentar

    Sebelum teman-teman mataleza.com lanjutkan membaca keseluruhan tulisan berikut ini, perlu saya sampaikan bahwa, tidak semua laki-laki demikian, tetapi pengalaman perempuan yang mengalami manipulasi adalah kenyataan yang tidak boleh diperkecil atau diabaikan. Luka mereka nyata. Selamat membaca! *** Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah pesan dari seorang teman. Ia perempuan, tinggal jauh di seberang. Jarak memisahkan […]

  • Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    Dr. Made Supriatma: Matinya Altruisme? Serangan Terhadap Film Dokumenter Pesta Babi

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Dr. Made Supriatma
    • visibility 207
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Made Supriatma, Peneliti masalah Sosial dan Politik (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 ) Matinya Altruisme? Serangan terhadap film dokumenter Pesta Babi datang dari semua arah. Kemarin, beredar video Mama Yasinta yang mengatakan dia tidak mengijinkan video dirinya dipakai dalam dokumenter ini. Seperti yang dikatakan oleh dua sutradara film ini, kita […]

  • Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Ermelinda Evelyn Ndelo
    • visibility 226
    • 20Komentar

    Sebuah cerita tentang tradisi, masyarakat, dan janji para leluhur Kalau mendengar tentang kata Sumba, hal yang mungkin langsung terbayangkan adalah tentang sebuah pulau yang berisi padang rumbut, rumah adat, kuda, dan berbagai tradisi yang masih dijaga oleh masyarat setempat hingga saat ini. Sumba memang memiliki banyak sekali kebudayaan yang nenarik, dan salah satunya adalah Pasola. […]

  • Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Yeremias Laba Lein
    • visibility 345
    • 4Komentar

    TAK INGIN SEDANGKAL ITU Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sedangkan mencintaimu saja aku harus menyelam sedalam-dalamnya lautan asmaramu, berenang seluas-luasnya samudra di hatimu, dan melewati pasang surutnya air matamu   Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sebab aku ingin berlayar sejauh mungkin di lautan asmaramu, menjala cinta dan kasih sayang sebanyak mungkin […]

  • Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 275
    • 0Komentar

    Oleh: JOHN ORLANDO, S.FIL (Alumni FFA UNWIRA) Bangsa ini seperti cermin retak: memantulkan wajah-wajah yang kadang membuat kita ingin tertawa getir. Keluarga, komunitas, budaya, kerja, negara. semuanya hadir, tapi tidak selalu memberi pelukan hangat. Anak muda berdiri di depan cermin itu, bertanya-tanya: apakah ini wajah masa depan, atau sekadar bayangan masa lalu yang enggan pergi? […]

  • Sudut Pandang: Di Balik Mahkota Ada Indonesia: Jejak Pengabdian Hamengkubuwono IX

    Sudut Pandang: Di Balik Mahkota Ada Indonesia: Jejak Pengabdian Hamengkubuwono IX

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Oktavianus Bimo
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Oleh: Oktavianus Bimo Seorang Raja yang Memilih Jalan Pengabdian Ketika mendengar kata raja, yang sering muncul dalam pikiran adalah mahkota, istana, kekuasaan, dan kehidupan yang penuh kemewahan. Namun, gambaran tersebut tidak sepenuhnya berlaku bagi Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Ia memang seorang raja, tetapi perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa kekuasaan bukan hanya tentang memerintah. Bagi Hamengku Buwono […]

expand_less