Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mau Hidup Oleh Apa Kata Mereka (?)

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
  • visibility 267
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hidup adalah serentetan pengulangan yang kadang memaksa kita harus bertahan pun berserah, bukan menyerah. Entah setelahnya bagaimana manusia bisa melewati semuanya, itu adalah rahasia tersembunyi yang dimiliki oleh masing-masing pribadi.

Semesta menawarkan banyak godaan, dilematisme memeluk manusia dengan sungguh. Jatuhkan pilihan sekarang atau kau kehilangan segalanya. Dengan terpaksa, juga buru-buru, tanpa pijak pikir yang matang, manusia membuat keputusan dalam sekejap. Kebiasaan demikian bukan muncul dari luar, sebenarnya ia diam di dalam diri manusia. Jika sebelumnya manusia hidup dalam ketenangan, kebaikan, harmonis bersama segala yang ada di sekitar, tentu semua akan baik-baik saja ketika dihadapkan dengan banyak pilihan yang ditawarkan semesta. Ia tidak akan gegabah menetapkan keputusan, tenang dan terukur. Bukan sekadar puas setelahnya tetapi keputusan itu mampu menghidupkannya dalam ketenangan dan kedamaian untuk kenyataan selanjutnya.

Ketenangan tidak datang dalam waktu yang singkat. Ia dipelihara sejak lama, diperam dengan sungguh agar bisa memberikan manfaat ketika dibutuhkan. Ia membuat setiap individu menjadi lebih peka terhadap diri sendiri sebelum sampai kepada yang lain. Ketenangan itulah yang mendorong setiap pribadi untuk begerak lebih jauh dalam menjelajahi setiap kenyataan yang dihadiahkan Pemilik kehidupan. Ketenangan itu menghidupkan serentak mematikan. Menghidupkan daya juang untuk bertahan dalam goncangan arus kehidupan yang semakin kompleks akan kecemasan, kehilangan, ketakutan dan kepedihan yang mendalam. Ia mematikan ketika ada sebuah gelombang kecemburuan, kedengkian, dan kemarahan yang datang dari luar mampu dihadapi dengan sikap yang dingin, tidak buru-buru tetapi terukur. Hal ini membuat lawan yang ada di hadapannya menjadi tak berdaya. Ini Adalah kelebihan yang tidak semua dimiliki oleh setiap manusia. Hanya orang-orang tertentu, yang sudah siap dan mengidupkan pola seperti ini sejak lama. Ia dilatih, diasuh dan dibiarkan tumbuh dalam bimbingan sesuai iman yang diyakini.

Pada sebuah kesempatan, tepat pagi itu, langit cerah. Burung-burung gereja berkicauan merdu. Di jalanan, segerombolan anjing sedang berebutan buah advokat yang jatuh diterpa angin malam. Anjing-anjing itu tidak saling memedulikan. Saling berebutan. Saya yakin dari sekian banyak itu berasal dari rahim yang sama. Ya, namanya mempertahankan hidup dan berhadapan dengan sesuatu yang menggiurkan, status persaudaraan ditinggalkan. Yang hadir paling awal di sana adalah pertikaian. Cara mempertahankan hidup di tengah kompleksnya kehidupan ini adalah yang kuat bertahan dan mampu beradaptasi itulah pemenangnya. Dan jangan pernah mengharapkan kemenangan jika kau hanya berdiam diri tanpa ada perjuangan. Yang berjuang saja belum tentu dimenangkan apalagi hanya pasif saja.

Di hidup ini, kita, termasuk saya, tidak luput hidup dalam kebiasaan seperti itu. Saling sikut sebelum akhirnya peluk erat setelah ada sesuatu yang didapat. Ada saja kelakuan yang menjengkelkan sebelumnya. Ada saja tindakan yang menimbulkan pertikaian. Ada saja perkataan yang menyakitkan. Akhirnya di antara kita ada yang memilih mundur dan keluar dari gelanggang pertarungan. Bukan karena tidak sanggup, tetapi menghemat energi untuk pertarungan selanjutnya yang lebih fair. Jika kita tetap bertahan di gelanggang pertarungan yang demikian, di mana pemenangnya sudah ada sebelum pertarungan itu berlangsung. Adalah skenario yang sudah diatur sedemikian rupa dan pertarungan hanyalah gambaran formalitas atas sebuah kenyataan yang mengerikan. Untuk hal-hal demikian, jika dihadapkan dengan seleksi alam, akan gugur paling awal.

Saya pun sering mendengar kata-kata yang mereka berikan kepada saya saat berhadapan dengan sesuatu yang bagi saya sedikit kewalahan. “Kamu pasti bisa. Tidak perlu takut, ada kami di belakangmu.” Atau, “Hidup ini adalah sebuah pertarungan, jangan mundur atau kau akan kehilangan segalanya.”

Yang saya dengar, itu menguatkan. Yang saya heran, kenapa bukan mereka saja yang langsung berhadapan dengan situasi yang sedang saya almi? Atau karena itu adalah jatahnya saya? Menarik memang untuk ditelisik. Karena teori itu asyik namun kenyatannya, kau harus mengorbankan banyak hal sebelum mendapatkan hasil yang maksimal. Banyak yang menjadi korban atas perjuangan kita. Bukan hanya diri kita sendiri. Keluarga kita pun bisa ikut menjadi korban atas sebuah perlawanan yang kita berikan. Diintervensi dan masuk melalui banyak pintu. Ruang gerak dibatasi. Tetapi untuk sebuah kebaikan, selalu ada jalan keluar yang didapatkan, semesta tidak pernah diam saja terhadap sebuah kelaliman.

Ya, ketika kita mulai hidup oleh kata mereka, maka kita pada kesempatan yang sama akan kehilangan jati diri. Sebab, yang tahu semua kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam diri hanya kita sendiri. Orang-orang di sekitar hanya bisa menilai. Dari penilaian mereka, mereka yakin bahwa kita bisa. Tetapi nyatanya, kita hanya sedang mencoba agar tidak kehilangan momen. Bila berhadapan dengan kenyataan berikutnya yang kurang lebih sama, kita bisa menemukan jalan keluarnya. Belajar dari kenyataan sebelumnya.

Akhirnya, hiduplah dalam keharmonisan dengan diri sendiri, lingkungan sosial dan termasuk alam sekitar. Dan, mari sambut hari-hari baru dengan lebih waspada. Semoga selalu hidup dalam kedamaian dan melewati pertarungan-pertarungan di gelanggang kenyataan dengan penuh tanggung jawab. Setia dalam ketenangan dan tidak gegabah setelahnya.

Pondok Baca Mataleza, 2026

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang menjunjung tinggi spirit fair play. Laga krusial semifinal Liga 4 Nasional yang mempertemukan Pesik Kuningan dan PSN Ngada di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (8/7), seharusnya menjadi panggung pembuktian taktik dan talenta. Namun sayang seribu sayang, sorotan utama justru bergeser dari aksi […]

  • Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    Sudut Pandang: Argentina Tidak Lagi Bergantung pada Messi

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Giorgio Babo Moggi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Oleh: Giorgio Babo Moggi Kemenangan Argentina atas Swiss dengan skor 3-1 pada babak perempat final Piala Dunia 2026 menghadirkan satu kesimpulan penting. Tim asuhan Lionel Scaloni telah berevolusi menjadi kesebelasan yang mampu memenangkan pertandingan melalui kualitas kolektif, bukan lagi bertumpu sepenuhnya pada kecemerlangan Lionel Messi. Laga di Kansas City menjadi bukti bahwa sang juara bertahan […]

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 389
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

  • Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Teori Negosiasi Wajah Stella Ting -Toomey dan Gaya Komunikasi Rocky Gerung: Analisis Budaya Komunikasi di Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rein Lagang
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Oleh: Rein Lagang, Mahasiswa IFTK Ledalero.  Komunikasi tak hanya berfungsi menjadi alat penyampaian informasi, tetapi pula sebagai sarana untuk membangun ciri-ciri, menjaga kehormatan, serta mempertahankan korelasi sosial. Dalam setiap interaksi, individu sebenarnya sedang melakukan perundingan terhadap “wajah” (face), yaitu gambaran diri serta harga diri yg ingin dipertahankan di hadapan orang lain. Konsep ini dijelaskan secara […]

  • Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Rommy Makyn
    • visibility 204
    • 0Komentar

    (Rommy Makyn adalah seorang Frater tingkat 3 di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, keuskupan Larantuka dan mahasiswa prodi Ilmu Filsafat semester 6 di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero-Maumere) Film pada satu sisi berfungsi sebagai media hiburan, dan pada sisi lain sebagai medium refleksi dengan cara sunyi untuk berbicara atas realitas kehidupan manusia dalam […]

  • Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    Kosakata Dalam Hujan, Titik Imanku, Kemarau dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Anto Narasoma
    • visibility 242
    • 0Komentar

    SEJILID BUKU kubuka sejilid buku yang kemarin membawa aku melintasi segala kisah   dari ruang-ruang fisika dan format wajah-Nya yang teduh di atas sajadah kaulah gudang pengisi petak-petak di ruang kosong otakku   lalu kubuka lembaran yang tuntas kubaca karena dari titik ke titik belahan bumi ini adalah buku   maka segala kalimat panjang itu […]

expand_less