Breaking News
light_mode
Trending Tags

Setelah Bertemu, Kami Berteman

  • account_circle Redaksi Mataleza
  • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
  • visibility 132
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada pertemuan yang sejak awal tidak pernah kita rencanakan. Ia datang begitu saja, seperti sebuah kebetulan kecil yang ternyata diam-diam sedang disiapkan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup. Begitulah saya mengingat pertemuan pertama dengan Abang Ruslan.

Siang itu, di sebuah warung makan. Saya sedang duduk seorang diri, menikmati makanan sambil mungkin memikirkan banyak hal yang biasa memenuhi kepala. Tiba-tiba dua lelaki datang dan duduk tidak jauh dari tempat saya. Salah satunya langsung menyapa.

“Figo, dengan siapa? Sudah lama tidak bertemu.”

Saya menoleh. Sapaan itu membawa saya sebentar ke masa lalu. Figo adalah nama akrab saya sejak sekolah, singkatan dari nama lengkap yang kemudian menjadi semacam nama yang hanya dipakai oleh orang-orang yang mengenal saya dari perjalanan sebelumnya.

Tidak lama kemudian, saya diperkenalkan kepada temannya.

“Figo ini penulis. Sudah menerbitkan buku kumpulan puisi dan beberapa kumpulan tulisan lainnya.”

Saya hanya tersenyum. Dalam hati, saya merasa teman saya itu agak berlebihan memperkenalkan saya. Ada hal-hal tentang diri kita yang memang lebih nyaman diceritakan oleh waktu daripada oleh mulut sendiri.

“Saya Fian. Figo itu nama akrab sejak sekolah,” saya menjelaskan.

Lelaki di hadapan saya kemudian memperkenalkan diri.

“Saya Ruslan, asal Sumba. Belum lama bekerja di sini, di Nagekeo.”

Percakapan pun mengalir begitu saja, diselingi makan siang dan cerita-cerita kecil. Sampai kemudian muncul sebuah pertanyaan dari Abang Ruslan.

“Abang kenal Dustan Obe? Ledy Derosari?”

Saya menjawab santai bahwa saya mengenal keduanya, baik melalui media sosial maupun dalam kehidupan nyata.

Tidak ada yang istimewa dari percakapan siang itu. Tidak ada yang membuat kami berpikir bahwa pertemuan sederhana di sebuah warung makan akan membawa kami pada sebuah persahabatan yang panjang.

Kami kemudian berpisah. Saya melanjutkan perjalanan pulang. Tetapi ternyata, pertemuan itu tidak benar-benar selesai.

Pertemuan-pertemuan berikutnya mulai terjadi. Kami saling bertukar nomor telepon, saling mengikuti di media sosial, dan perlahan mulai mengenal satu sama lain lebih jauh. Dari sekadar kenal, kami menjadi teman bicara. Dari teman bicara, menjadi teman berdiskusi. Dari diskusi, kami menemukan kesamaan lain: buku.

Kami saling bertukar bacaan. Membicarakan buku yang sudah selesai dibaca. Mengoleksi buku fiksi dan nonfiksi. Sesekali berbicara tentang tulisan, kehidupan, pekerjaan, kegelisahan, dan banyak hal yang mungkin tidak selalu bisa diceritakan kepada semua orang. Pondok Baca Mataleza kemudian menjadi salah satu ruang yang mempertemukan kami lebih sering.

Dalam banyak kegiatan, saya melibatkan Abang Ruslan. Sebaliknya, ia pun mulai memperkenalkan saya kepada teman-temannya. Saya memperkenalkannya kepada teman-teman saya. Perlahan, lingkaran pertemanan kami beririsan. Teman-temannya menjadi teman saya, teman-teman saya menjadi teman dia.

Dan tanpa kami sadari, persahabatan itu mulai menemukan bentuknya sendiri. Bukan lagi sekadar dua orang yang kebetulan bertemu. Kami mulai menjadi bagian dari kehidupan satu sama lain.

Saya kemudian dikenalkan kepada kekasihnya, yang hari ini telah menjadi istrinya. Abang Ruslan juga semakin dekat dengan Fajar, anak saya, dan dengan istri saya. Rumah kami menjadi tempat berbagi cerita. Ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk membicarakan hal-hal serius, ada waktu untuk saling menguatkan ketika kehidupan tidak sedang baik-baik saja.

Kami belajar bahwa persahabatan tidak selalu dibangun oleh banyaknya waktu yang dihabiskan bersama, tetapi oleh kesediaan untuk hadir ketika seseorang membutuhkan.

Dalam susah, kami berbagi. Dalam senang, kami bersyukur bersama. Dalam kebingungan, kami berdiskusi.

Dalam keberhasilan, kami saling memberi selamat. Dan dalam setiap perjalanan, selalu ada doa yang kami titipkan satu sama lain.

Karena itu, ketika suatu hari Abang Ruslan menghubungi saya dan mengatakan bahwa ia akan melamar kekasihnya, kabar itu terasa seperti kabar dari seorang saudara sendiri. Pada waktu yang sama, Bapa sedang sakit dan dirawat di RSUD Bajawa.

Dalam kondisi tubuh yang semakin lemah, Bapa masih memikirkan banyak hal di luar dirinya. Salah satunya tentang Abang Ruslan.

“Ema miu ne usaha ia ke bantu Ruslan e, bapa beban.”

Kurang lebih begitulah pesan Bapa kepada saya, agar kami berusaha membantu Ruslan, karena ia merasa memiliki tanggung jawab dan tidak ingin menjadi beban.

Saya selalu menjawab, “Iya, sudah kami urus.” Kalimat sederhana itu hari ini terasa jauh lebih dalam.

Sebab Bapa tidak melihat Ruslan hanya sebagai seorang teman saya. Kedekatan yang dibangun selama ini telah membuat Ruslan seperti anak sendiri. Karena itu, ketika seorang anak hendak memulai kehidupan baru, tentu ada kegembiraan sekaligus tanggung jawab untuk ikut menguatkan.

Sayangnya, waktu tidak selalu memberi kita kesempatan untuk menyaksikan seluruh cerita sampai selesai. Bapa kemudian pergi untuk selamanya.

Setelah kepergian Bapa, Abang Ruslan datang ke rumah. Kami bertukar cerita. Tentang kehilangan. Tentang kehidupan. Tentang pernikahan. Tentang jalan yang hendak dipilih. Tentang resepsi. Tentang siapa yang akan diundang, bagaimana konsep acaranya, apa yang perlu dipersiapkan, dan banyak hal lainnya.

Saya bersyukur karena dalam proses itu Abang Ruslan mau terbuka dan mempercayakan banyak cerita kepada saya. Bagi saya, kepercayaan seperti itu bukan sesuatu yang kecil.

Sebab pernikahan bukan hanya tentang memilih tanggal, menentukan tempat, menyusun daftar tamu, atau menyiapkan pesta.

Pernikahan adalah keputusan besar untuk mempercayakan sebagian besar perjalanan hidup kepada seseorang.

Karena itu, saya selalu percaya bahwa keputusan-keputusan dalam pernikahan sebaiknya lahir dari percakapan yang panjang, kesediaan mendengar, dan kesepakatan bersama, bukan semata-mata dari kehendak salah satu pihak. Sebab setelah hari pernikahan selesai, kehidupan yang sesungguhnya justru baru dimulai.

Pesta akan berakhir. Tamu akan pulang. Foto-foto akan menjadi kenangan. Baju pengantin akan disimpan. Tetapi janji akan tetap tinggal.

Dan janji itulah yang setiap hari harus diterjemahkan menjadi kesetiaan, kesabaran, pengampunan, pengertian, dan kesediaan untuk terus memilih orang yang sama, bahkan ketika keadaan tidak selalu seperti yang diharapkan.

Jumat, 7 Agustus 2026, di Bajawa, Abang Ruslan akhirnya mengucapkan janji itu bersama Kaka Eni.

Hari yang selama ini kami bicarakan akhirnya tiba. Saya ikut bahagia. Dan entah mengapa, di tengah kebahagiaan itu saya teringat Bapa.

Saya membayangkan, seandainya Bapa masih ada, mungkin ia akan tersenyum melihat Ruslan yang dulu sering datang dan bercerita, kini berdiri sebagai seorang suami. Mungkin Bapa akan merasa lega karena salah satu anak yang pernah ia pikirkan dalam sakitnya telah sampai pada sebuah rumah baru. Saya memang tidak bisa hadir secara langsung dalam perayaan pernikahan itu. Ada kegiatan yang tidak dapat saya wakilkan.

Namun, ketidakhadiran tubuh tidak pernah berarti ketidakhadiran hati. Dari tempat saya berada, doa tetap saya lambungkan. Semoga Tuhan menjaga perjalanan baru ini.

Semoga Ruslan dan Eni tidak hanya menjadi pasangan ketika hidup sedang mudah, tetapi tetap saling menggenggam ketika hidup mulai menguji. Sebab pernikahan bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna.

Pernikahan adalah tentang dua manusia yang sama-sama tidak sempurna, tetapi bersedia belajar menjadi lebih baik karena cinta.

Ada hari ketika salah satu harus lebih banyak mengalah. Ada hari ketika salah satu harus lebih banyak memahami.

Ada hari ketika kata-kata mungkin tidak cukup, sehingga pelukan menjadi bahasa yang paling tepat. Ada hari ketika uang mungkin tidak banyak, tetapi rasa syukur harus tetap berlimpah.

Ada hari ketika masalah datang bertubi-tubi, tetapi keduanya harus mengingat bahwa mereka berada di sisi yang sama.

Dan pada akhirnya, semoga Ruslan dan Eni selalu menemukan jalan untuk pulang satu sama lain.

Terima kasih, Abang Ruslan, karena pernah hadir sebagai teman, kemudian tumbuh menjadi saudara dalam perjalanan hidup kami. Terima kasih karena telah mempercayakan begitu banyak cerita, kegembiraan, kegelisahan, dan rencana besar tentang kehidupan kepada kami.

Hari ini, ketika engkau memilih menetap pada satu hati, kami tidak hanya mengucapkan selamat atas sebuah pernikahan.

Kami sedang menyaksikan seorang sahabat memasuki babak baru kehidupannya.

Semoga pilihan itu menjadi pilihan yang terus diperbarui setiap hari.

Semoga cinta tidak berhenti pada janji yang diucapkan di hadapan altar, tetapi tumbuh menjadi kesetiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dan semoga ketika suatu hari usia mulai menua, rambut mulai memutih, langkah mulai melambat, dan banyak hal dalam hidup berubah, kalian masih bisa saling memandang dan berkata:

“Dari sekian banyak kemungkinan dalam hidup, ternyata aku tetap memilihmu.”

Selamat menempuh perjalanan baru, Abang Ruslan dan Kaka Eni.

Tanggung jawab kalian memang akan semakin besar. Tetapi semoga cinta, kesabaran, dan doa juga semakin besar.

Jadikan rumah bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi tempat di mana masing-masing merasa diterima, didengarkan, dihargai, dan dicintai.

Salam hangat dan doa dari kami sekeluarga.

Dan untuk Bapa yang telah lebih dahulu pergi, semoga dari keabadian sana ia tersenyum melihat kalian memulai perjalanan ini.

Fian N

  • Penulis: Redaksi Mataleza
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    Sudut Pandang: Scaloni, Salah, dan Seni Membaca Laga

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Menit ke-67, papan skor menunjukkan Argentina 0, Mesir 2. Lionel Scaloni berdiri kaku di tepi lapangan. Di belakangnya, bangku cadangan Argentina senyap. Di depannya, sebelas pemain Mesir merayakan gol kedua seperti orang yang baru menemukan pintu keluar. Juara bertahan itu sedang dipermalukan oleh tim yang sepanjang laga hanya melepaskan empat tembakan. Kita tahu akhirnya: […]

  • Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 387
    • 0Komentar

    Di Rumah Tuhan Hujan pun turun, lalu aku berteduh di rumah-Nya. Kutatap langit, reda, lalu kupamit pulang. Namun hujan kembali mengguyur, seolah Dia hendak  berkata: ”Jangan pulang dulu, Aku masih rindu.” Aku singgah di perhentian terakhir,  dan di sana pun, Dia menyambut. Dengan lembut, tanpa suara, tapi hangat seperti peluk yang tak terlihat. Mungkin memang […]

  • Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Di tengah hutan Wolobobo, jauh dari hiruk-pikuk ruang kelas, sebanyak 52 siswa baru SMAK St. Agustinus Langa memulai proses pembentukan diri melalui Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026. Mengusung konsep camping, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Alam menjadi ruang kelas, tenda menjadi tempat belajar kebersamaan, dan setiap tantangan […]

  • Sudut Pandang: Ibu, Sosok Sederhana denhan Cinta yang Luar Biasa

    Sudut Pandang: Ibu, Sosok Sederhana denhan Cinta yang Luar Biasa

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Julianti Monalisa
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Oleh : Julianti Monalisa Bertumbuh dari Sebuah Perpisahan Ibu saya lahir pada 17 April 1979 di Pekalongan, Jawa Tengah. Delapan tahun pertama hidupnya ia habiskan di sana, di tengah keluarga dan terutama nenek yang sangat dekat dengannya. Kedekatan itu bukan sekadar cerita yang saya dengar setelah dewasa. Bagi ibu, nenek adalah tempat ia merasa nyaman. […]

  • Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    Bangsa yang Sedang Bertumbuh, Anak Muda yang Sedang Gelisah

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle John Orlando, S.Fil
    • visibility 273
    • 0Komentar

    Oleh: JOHN ORLANDO, S.FIL (Alumni FFA UNWIRA) Bangsa ini seperti cermin retak: memantulkan wajah-wajah yang kadang membuat kita ingin tertawa getir. Keluarga, komunitas, budaya, kerja, negara. semuanya hadir, tapi tidak selalu memberi pelukan hangat. Anak muda berdiri di depan cermin itu, bertanya-tanya: apakah ini wajah masa depan, atau sekadar bayangan masa lalu yang enggan pergi? […]

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 495
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6     Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

expand_less