Setelah Bertemu, Kami Berteman
- account_circle Redaksi Mataleza
- calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
- visibility 92
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ada pertemuan yang sejak awal tidak pernah kita rencanakan. Ia datang begitu saja, seperti sebuah kebetulan kecil yang ternyata diam-diam sedang disiapkan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup. Begitulah saya mengingat pertemuan pertama dengan Abang Ruslan.
Siang itu, di sebuah warung makan. Saya sedang duduk seorang diri, menikmati makanan sambil mungkin memikirkan banyak hal yang biasa memenuhi kepala. Tiba-tiba dua lelaki datang dan duduk tidak jauh dari tempat saya. Salah satunya langsung menyapa.
“Figo, dengan siapa? Sudah lama tidak bertemu.”
Saya menoleh. Sapaan itu membawa saya sebentar ke masa lalu. Figo adalah nama akrab saya sejak sekolah, singkatan dari nama lengkap yang kemudian menjadi semacam nama yang hanya dipakai oleh orang-orang yang mengenal saya dari perjalanan sebelumnya.
Tidak lama kemudian, saya diperkenalkan kepada temannya.
“Figo ini penulis. Sudah menerbitkan buku kumpulan puisi dan beberapa kumpulan tulisan lainnya.”
Saya hanya tersenyum. Dalam hati, saya merasa teman saya itu agak berlebihan memperkenalkan saya. Ada hal-hal tentang diri kita yang memang lebih nyaman diceritakan oleh waktu daripada oleh mulut sendiri.
“Saya Fian. Figo itu nama akrab sejak sekolah,” saya menjelaskan.
Lelaki di hadapan saya kemudian memperkenalkan diri.
“Saya Ruslan, asal Sumba. Belum lama bekerja di sini, di Nagekeo.”
Percakapan pun mengalir begitu saja, diselingi makan siang dan cerita-cerita kecil. Sampai kemudian muncul sebuah pertanyaan dari Abang Ruslan.
“Abang kenal Dustan Obe? Ledy Derosari?”
Saya menjawab santai bahwa saya mengenal keduanya, baik melalui media sosial maupun dalam kehidupan nyata.
Tidak ada yang istimewa dari percakapan siang itu. Tidak ada yang membuat kami berpikir bahwa pertemuan sederhana di sebuah warung makan akan membawa kami pada sebuah persahabatan yang panjang.
Kami kemudian berpisah. Saya melanjutkan perjalanan pulang. Tetapi ternyata, pertemuan itu tidak benar-benar selesai.
Pertemuan-pertemuan berikutnya mulai terjadi. Kami saling bertukar nomor telepon, saling mengikuti di media sosial, dan perlahan mulai mengenal satu sama lain lebih jauh. Dari sekadar kenal, kami menjadi teman bicara. Dari teman bicara, menjadi teman berdiskusi. Dari diskusi, kami menemukan kesamaan lain: buku.
Kami saling bertukar bacaan. Membicarakan buku yang sudah selesai dibaca. Mengoleksi buku fiksi dan nonfiksi. Sesekali berbicara tentang tulisan, kehidupan, pekerjaan, kegelisahan, dan banyak hal yang mungkin tidak selalu bisa diceritakan kepada semua orang. Pondok Baca Mataleza kemudian menjadi salah satu ruang yang mempertemukan kami lebih sering.
Dalam banyak kegiatan, saya melibatkan Abang Ruslan. Sebaliknya, ia pun mulai memperkenalkan saya kepada teman-temannya. Saya memperkenalkannya kepada teman-teman saya. Perlahan, lingkaran pertemanan kami beririsan. Teman-temannya menjadi teman saya, teman-teman saya menjadi teman dia.
Dan tanpa kami sadari, persahabatan itu mulai menemukan bentuknya sendiri. Bukan lagi sekadar dua orang yang kebetulan bertemu. Kami mulai menjadi bagian dari kehidupan satu sama lain.
Saya kemudian dikenalkan kepada kekasihnya, yang hari ini telah menjadi istrinya. Abang Ruslan juga semakin dekat dengan Fajar, anak saya, dan dengan istri saya. Rumah kami menjadi tempat berbagi cerita. Ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk membicarakan hal-hal serius, ada waktu untuk saling menguatkan ketika kehidupan tidak sedang baik-baik saja.
Kami belajar bahwa persahabatan tidak selalu dibangun oleh banyaknya waktu yang dihabiskan bersama, tetapi oleh kesediaan untuk hadir ketika seseorang membutuhkan.
Dalam susah, kami berbagi. Dalam senang, kami bersyukur bersama. Dalam kebingungan, kami berdiskusi.
Dalam keberhasilan, kami saling memberi selamat. Dan dalam setiap perjalanan, selalu ada doa yang kami titipkan satu sama lain.
Karena itu, ketika suatu hari Abang Ruslan menghubungi saya dan mengatakan bahwa ia akan melamar kekasihnya, kabar itu terasa seperti kabar dari seorang saudara sendiri. Pada waktu yang sama, Bapa sedang sakit dan dirawat di RSUD Bajawa.
Dalam kondisi tubuh yang semakin lemah, Bapa masih memikirkan banyak hal di luar dirinya. Salah satunya tentang Abang Ruslan.
“Ema miu ne usaha ia ke bantu Ruslan e, bapa beban.”
Kurang lebih begitulah pesan Bapa kepada saya, agar kami berusaha membantu Ruslan, karena ia merasa memiliki tanggung jawab dan tidak ingin menjadi beban.
Saya selalu menjawab, “Iya, sudah kami urus.” Kalimat sederhana itu hari ini terasa jauh lebih dalam.
Sebab Bapa tidak melihat Ruslan hanya sebagai seorang teman saya. Kedekatan yang dibangun selama ini telah membuat Ruslan seperti anak sendiri. Karena itu, ketika seorang anak hendak memulai kehidupan baru, tentu ada kegembiraan sekaligus tanggung jawab untuk ikut menguatkan.
Sayangnya, waktu tidak selalu memberi kita kesempatan untuk menyaksikan seluruh cerita sampai selesai. Bapa kemudian pergi untuk selamanya.
Setelah kepergian Bapa, Abang Ruslan datang ke rumah. Kami bertukar cerita. Tentang kehilangan. Tentang kehidupan. Tentang pernikahan. Tentang jalan yang hendak dipilih. Tentang resepsi. Tentang siapa yang akan diundang, bagaimana konsep acaranya, apa yang perlu dipersiapkan, dan banyak hal lainnya.
Saya bersyukur karena dalam proses itu Abang Ruslan mau terbuka dan mempercayakan banyak cerita kepada saya. Bagi saya, kepercayaan seperti itu bukan sesuatu yang kecil.
Sebab pernikahan bukan hanya tentang memilih tanggal, menentukan tempat, menyusun daftar tamu, atau menyiapkan pesta.
Pernikahan adalah keputusan besar untuk mempercayakan sebagian besar perjalanan hidup kepada seseorang.
Karena itu, saya selalu percaya bahwa keputusan-keputusan dalam pernikahan sebaiknya lahir dari percakapan yang panjang, kesediaan mendengar, dan kesepakatan bersama, bukan semata-mata dari kehendak salah satu pihak. Sebab setelah hari pernikahan selesai, kehidupan yang sesungguhnya justru baru dimulai.
Pesta akan berakhir. Tamu akan pulang. Foto-foto akan menjadi kenangan. Baju pengantin akan disimpan. Tetapi janji akan tetap tinggal.
Dan janji itulah yang setiap hari harus diterjemahkan menjadi kesetiaan, kesabaran, pengampunan, pengertian, dan kesediaan untuk terus memilih orang yang sama, bahkan ketika keadaan tidak selalu seperti yang diharapkan.
Jumat, 7 Agustus 2026, di Bajawa, Abang Ruslan akhirnya mengucapkan janji itu bersama Kaka Eni.
Hari yang selama ini kami bicarakan akhirnya tiba. Saya ikut bahagia. Dan entah mengapa, di tengah kebahagiaan itu saya teringat Bapa.
Saya membayangkan, seandainya Bapa masih ada, mungkin ia akan tersenyum melihat Ruslan yang dulu sering datang dan bercerita, kini berdiri sebagai seorang suami. Mungkin Bapa akan merasa lega karena salah satu anak yang pernah ia pikirkan dalam sakitnya telah sampai pada sebuah rumah baru. Saya memang tidak bisa hadir secara langsung dalam perayaan pernikahan itu. Ada kegiatan yang tidak dapat saya wakilkan.
Namun, ketidakhadiran tubuh tidak pernah berarti ketidakhadiran hati. Dari tempat saya berada, doa tetap saya lambungkan. Semoga Tuhan menjaga perjalanan baru ini.
Semoga Ruslan dan Eni tidak hanya menjadi pasangan ketika hidup sedang mudah, tetapi tetap saling menggenggam ketika hidup mulai menguji. Sebab pernikahan bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna.
Pernikahan adalah tentang dua manusia yang sama-sama tidak sempurna, tetapi bersedia belajar menjadi lebih baik karena cinta.
Ada hari ketika salah satu harus lebih banyak mengalah. Ada hari ketika salah satu harus lebih banyak memahami.
Ada hari ketika kata-kata mungkin tidak cukup, sehingga pelukan menjadi bahasa yang paling tepat. Ada hari ketika uang mungkin tidak banyak, tetapi rasa syukur harus tetap berlimpah.
Ada hari ketika masalah datang bertubi-tubi, tetapi keduanya harus mengingat bahwa mereka berada di sisi yang sama.
Dan pada akhirnya, semoga Ruslan dan Eni selalu menemukan jalan untuk pulang satu sama lain.
Terima kasih, Abang Ruslan, karena pernah hadir sebagai teman, kemudian tumbuh menjadi saudara dalam perjalanan hidup kami. Terima kasih karena telah mempercayakan begitu banyak cerita, kegembiraan, kegelisahan, dan rencana besar tentang kehidupan kepada kami.
Hari ini, ketika engkau memilih menetap pada satu hati, kami tidak hanya mengucapkan selamat atas sebuah pernikahan.
Kami sedang menyaksikan seorang sahabat memasuki babak baru kehidupannya.
Semoga pilihan itu menjadi pilihan yang terus diperbarui setiap hari.
Semoga cinta tidak berhenti pada janji yang diucapkan di hadapan altar, tetapi tumbuh menjadi kesetiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dan semoga ketika suatu hari usia mulai menua, rambut mulai memutih, langkah mulai melambat, dan banyak hal dalam hidup berubah, kalian masih bisa saling memandang dan berkata:
“Dari sekian banyak kemungkinan dalam hidup, ternyata aku tetap memilihmu.”
Selamat menempuh perjalanan baru, Abang Ruslan dan Kaka Eni.
Tanggung jawab kalian memang akan semakin besar. Tetapi semoga cinta, kesabaran, dan doa juga semakin besar.
Jadikan rumah bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi tempat di mana masing-masing merasa diterima, didengarkan, dihargai, dan dicintai.
Salam hangat dan doa dari kami sekeluarga.
Dan untuk Bapa yang telah lebih dahulu pergi, semoga dari keabadian sana ia tersenyum melihat kalian memulai perjalanan ini.
Fian N
- Penulis: Redaksi Mataleza
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar