Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Di Balik Diamnya Seorang Bapak

  • account_circle Davianti Mil
  • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
  • visibility 131
  • comment 7 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Ketika  ia  masih  jauh,  ayahnya  telah  melihatnya,  lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” – Lukas 15:20

 

Saya memiliki sosok seorang ayah yang sangat keras tapi di balik kerasnya ini dia juga sosok seorang ayah yang sangat baik bahkan dia sangat menyayangi anak-anaknya, biarpun setiap hari dia sering memarahi kami sebagai anaknya akan tetapi seorang ayah juga pasti akan menunjukkan kasih sayang mereka melalui tindakan yang dia lakukan setiap hari. Dia juga tidak selalu mengatakan bahwa dirinya lelah, tidak selalu menceritakan setiap masalah yang sedang dihadapinya, bahkan sosok seorang ayah juga tidak pernah menunjukkan kesedihannya di depan keluarganya. Kita semua pasti memiliki pandangan yang berbeda-beda untuk memandang sosok seorang bapak. Bapak mungkin hanya dipandang sebagai kepala keluarga yang hanya bertugas untuk mencari nafkah, tapi seorang anak, saya sebagai anak bungsu, bapak adalah sosok yang sangat memiliki peran yang jauh lebih besar. Ia adalah seorang yang sangat berusaha untuk memastikan keluarganya tetap makan, anak-anaknya bisa mendaptkan pendidikan yang layak, bahkan dia juga selalu berusaha untuk keluarganya untuk mendapatkan kehidupan yang sangat baik. Bapak saya buk seseorang yang terkenal bahkan dia juga tidak memiliki gelar dibelakang namanya. Dia hanya sosok seorang bapak yang sangat sederhana yang diamana setiap hari dia hanya menjalani hidupnya dengan tagung jawab yang sangat besar bagi keluarganya. Namun, karena saya sering bersamannya maka saya mengenalnya, karena saya semakin sadar bahwa dibalik perjuanganya yang sangat panjang yang tidak selalu terlihat oleh anak-anaknya.

Bapak Laurensius Oka, dibalik senyumnya ini dia adalah sosok seorang ayah yang sangat tegas dan bertangung jawab bagi kelurganya. Biarpun banyak hal yang dia alami tapi dia tidak pernah menceritakan lelahnya itu. Bapakku Pahlawanku.

Masa lalu Seorang Bapak

Bapakku tumbuh dari keluarga yang sederhana. Dari kecil, ia sudah mengetahui atau sudah mengenal yang namanya kerja keras. Ia memiliki kehidupan yang tidak hanya memberikan hal yang mudah bagi dirinya sendiri. Banyak pengalaman yang dialamai selama dia hidup bahkan ia juga memiliki banyak tantang dalam kehidupannya. Dulu sebelum dia membangun keluarganya sendiri. Dia juga bertangung jawab untuk menafkai kedua orang tuanya, karena ia adalah anak pertama dari dari 8 bersaudara, dia membantu untuk mencari nafka buat kedua orang tuannya dan adik-adiknya. Masa muda orang tua kita pasti berbeda-beda. Bapak saya memiliki masa muda yang bisa dibilang kurang menyenanngkan karena masa muda seharusnya dapat diisi dengan banyaknya kesenangan justu baginya itu mengajarkannya tentang apa itu tanggung jawab. Ia juga belajar bahwa dalam kehidupan tidak hanya tentang mendapatkan apa yang harus kita inginkan, akan tetapi bapak saya ini ia belajar bagaiamana menjadi seseorang yang bertahan ketika suatu harapan yang tidak sesuai dengan harapan. Dulu ayah saya tidak kuliah ia hanya sekolah sampe ia lulus SMA, bukannya bapak saya tidak mau kuliah tetapi karena faktor ekonomi yang kurang maka dia tidak menempuh pendidikan tinggi, karena tidak melanjutkan peguruan tinggi maka saat itu ia memutuskan untuk mencari pekerjaan karena itu jalan salah satunya untuk membantu kehidupan keluargannya, yang saya masih ingat sampe sekarang bapak saya memiliki bakat yang tidak pernah saya ketahui sendiri, dimana dia bekerja sebagai fotografer.

Dengan adanya pekerjannya ini maka dia bisa membantu kelurganya. Dari pengalaman masa mudannya ini ia merupakan sosok seorang bapak yang kuat dan mandiri. Dia belajar untuk tidak mudah mengeluh dan tidak gampang untuk menghadapi kesulitan. Dan sampe sekarang bapak saya ini memiliki prinsip dari masa mudannya untuk menjalin dengan keluargannya dengan baik.

Perjuangan Bapak Mencari Nafkah

Di sini saya akan menceritakan bagaimana bapak saya bertagung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami setiap hari. Setelah bapak saya sudah berkeluarga ia memiliki tangung jawab yang semakin besar. Ia tidak hanya memikirkan kedua orang tuannya tetapi ia juga memikirkan keluarga yang harus dipenuhi kebutuhannya. Yang dimana ada anak-anak yang membutuhkan biaya untuk sekolah,makanan,pakaiaan, dan juga kebutuhaan lainnya. Setiap hari ia berusaha menjalankan pekerjaannya dengan sebaik mungkin. Pagi datang, ia bersiap untuk bekerja. Ketika orang lain mungkin masih menikmati waktu istirahat, ia sudah memikirkan bagaimana kebutuhan keluarga dapat terpenuhi. Dari itu juga saya memahami bawah perjuangan seorang bapak sering kali tidak terlihat.

Sisi yang Jarang Terlihat

Di balik sosoknya yang tegas, bapakku sebenarnya memiliki sisi yang sederhana. Ia dapat menikmati hal-hal kecil yang terkadang tidak kami sadari. Salah satu hal yang membuatku menyadari hal tersebut adalah kebiasaannya berada di rumah setelah bekerja. Setelah seharian menjalankan aktivitas, ia hanya membutuhkan waktu untuk beristirahat, berbicara dengan keluarga, atau melakukan kegiatan sederhana yang ia sukai. Terkadang kita menganggap hal-hal tersebut biasa saja. Namun, sekarang aku mulai memahami bahwa waktu bersama keluarga mungkin menjadi salah satu kebahagiaan yang ia miliki. Bapakku juga bukan orang yang mudah mengungkapkan perasaan. Jika merasa khawatir, ia mungkin tidak mengatakannya secara langsung.

Jika merasa bangga, ia mungkin hanya tersenyum atau memberikan pembicaran yang singkat. Dari situlah saya belajar setiap orang pasti berbeda-beda menunjukan bagaimana cara ia memberikan kasih sayang terhadap keluarganya.

Apa yang Saya Belajar dari Bapak Saya

Semakin bertambah usia, aku mulai melihat bapakku bukan hanya sebagai orang tua, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki rasa lelah, kekhawatiran, harapan, dan impiannya sendiri. Dulu, ketika masih kecil, aku mungkin hanya melihat apa yang diberikan bapak kepadaku. Aku melihat uang untuk sekolah, makanan di rumah, atau barang-barang yang dibutuhkan. Sekarang aku mulai berpikir lebih jauh: dari mana semua itu berasal?. Ada waktu, tenaga, dan pengorbanan yang diberikan untuk keluarga. Dari bapak aku belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa lelah. Menjadi kuat berarti tetap menjalankan tanggung jawab meskipun sedang menghadapi kesulitan. Saya juga belajar bahwa kesuksesan tidak selalu harus terlihat besar di mata orang lain. Menjadi seseorang yang mampu menjaga keluarga, bekerja dengan jujur, dan bertanggung jawab juga merupakan sebuah keberhasilan.

Bapakku mungkin bukan seorang pahlawan yang namanya tertulis dalam buku sejarah. Ia juga bukan seseorang yang dikenal oleh banyak orang. Namun, dalam kehidupanku, ia adalah salah satu sosok yang memiliki peran terbesar. Ada banyak perjuangannya yang mungkin belum mampu aku pahami sepenuhnya. Ada banyak rasa lelah yang mungkin tidak pernah ia ceritakan. Ada banyak pengorbanan yang mungkin baru kusadari ketika aku mulai dewasa. Kini aku mengerti bahwa di balik diamnya seorang bapak terdapat begitu banyak cerita. Di balik wajah lelahnya terdapat tanggung jawab yang ia pikul. Dan di balik ketegasannya terdapat harapan agar anak-anaknya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik. Saya mungkin tidak selalu mengatakan terima kasih kepadanya. Bahkan mungkin aku masih sering membuatnya kecewa atau tidak mengikuti nasihatnya. Tetapi satu hal yang ingin aku sampaikan adalah bahwa perjuangannya tidak pernah sia-sia.

Biodata Penulis: Davianti Mil, asal Manggarai-NTT

  • Penulis: Davianti Mil
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (7)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 261
    • 0Komentar

    Kekalahan sering kali menjadi momok yang dihindari dalam dunia sepak bola. Namun, dalam kacamata strategi yang lebih luas, sebuah kekalahan adakalanya bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah bidak yang sengaja digeser demi memenangkan pertempuran yang lebih besar. Sudut pandang inilah yang menyeruak ketika penulis mencermati kekalahan 3-1 PSN Ngada dari Unaaha FC dalam laga pamungkas […]

  • Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Roy Wujon
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Oleh: Roy Wujon Mahasiswa IFTK Ledalero Dalam sistem negara demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers merupakan pilar penting yang patut dihargai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan pembatasan kritik publik melalui media, baik media massa konvensional maupun platform digital. Pembatasan tersebut sering kali dilakukan dengan dalih menjaga stabilitas, mencegah hoaks, atau melindungi […]

  • Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Wima Wimastha
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Oleh: Frater Wima Wimastha adalah Frater tingkat III di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret, keuskupan Agung Ende dan mahasiswa semester 6 di Institute Filsafat katolik dan Kreatif ledalero(IFTK).   Di era digital, informasi tidak lagi bergerak seperti arus sungai yang tenang dan searah. Ia menyerupai ombak yang terus memecah, berbalik, dan membentuk pantai-pantai baru […]

  • MONIKA DI UJUNG NASIB

    MONIKA DI UJUNG NASIB

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Ando Sola
    • visibility 424
    • 2Komentar

    “Semua mereka melihatku seperti selembar rupiah yang bisa ditukar dengan kehormatan” Pada simpang tiga ujung desa Watu Ngadha, sekelompok anak kompleks duduk lingkar memainkan gitar tua. Mereka menyayikan lagu-lagu nostalgia, sambil menepuk dada dan mengerutkan dahinya. Mereka tenggelam pada setiap syair yang dinyanyikan. Aku tahu mereka sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Terdengar beberapa lagu yang […]

  • JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 250
    • 0Komentar

    Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)  Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit. Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. […]

  • Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut:  Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    Sudut Pandang: Pasal Karet, Pembungkaman Mulut: Tanggapan Kritis terhadap KUHP Baru dalam Perspektif Teori Komunikasi Lasswell

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Kristoforus Mage
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Kristoforus Mage, Mahasiswa semester 6, IFTK Ledalero. Undang-undang menjadi landasan konstruktif perpolitikan. Politik tanpa undang-undang dalam sebuah negara tidak lain adalah gejolak untuk menguasai dan dikuasai. Demikian halnya yang terjadi di Indonesia kini: begitu terpampang jelas bahwa undang-undang tidak didefinisikan secara tegas tentang apa yang dilarang, seolah hukum bukan lagi sebagai pagar pelindung, melainkan senjata […]

expand_less