Memori Kolektif Pembangunan Waduk Gajah Mungkur melalui Kisah Desa yang Tenggelam
- account_circle Melinda Kristy Setyarini
- calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Melinda Kristy Setyarini
Di Balik Hamparan Air
Ketika melihat Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, sebagian orang mungkin mengenalnya sebagai kawasan wisata, sumber irigasi, atau pengendali banjir Sungai Bengawan Solo. Namun, jauh sebelum air mengisi wilayah tersebut, ada rumah, sawah, pasar, serta jalan yang menjadi bagian dari keseharian penduduk. Sebagian desa itu kini tidak lagi terlihat. Pemandangan waduk membuat saya bertanya: ketika sebuah tempat berubah menjadi genangan air, bagaimana kisah kehidupan di dalamnya tetap diingat?
Waduk Gajah Mungkur dibangun pada masa Orde Baru untuk mendukung pengendalian banjir, pertanian, dan penyediaan listrik. Pembangunan pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an ini berkaitan dengan pemindahan penduduk dari puluhan desa. Arsip Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Wonogiri mencatat perpindahan warga dari 51 desa dalam peristiwa yang dikenal sebagai Bedhol Desa. Angka-angka itu menunjukkan skala pembangunan, tetapi belum menggambarkan seluruh pengalaman keluarga yang harus berpindah.
Bedhol Desa: Harapan dan Kegelisahan
Salah satu catatan dalam arsip Bedhol Desa mengisahkan keberangkatan warga Dukuh Karanglo, Pokoh Kidul, menuju Sitiung, Sumatra Barat, pada 24 November 1976. Di antara warga yang bersiap berangkat, terdapat kegembiraan, kesedihan, serta rasa ingin tahu tentang tempat tujuan. Dokumentasi tersebut mengingatkan bahwa perpindahan tidak dipahami secara seragam oleh semua orang.
Arsip yang memuat kembali laporan Kompas tahun 1976 juga mencatat keresahan akibat berubahnya rencana lokasi dan waktu keberangkatan. Sejumlah warga sudah tidak menanam karena mengira akan segera dipindahkan. Akibatnya, pengeluaran sehari-hari dan ketidakpastian penghidupan menjadi persoalan nyata. Dari sini saya melihat bahwa Bedhol Desa bukan hanya tentang meninggalkan rumah; warga juga harus memikirkan bagaimana keluarga mereka akan hidup di tempat baru.
Meski demikian, menganggap seluruh perpindahan sebagai pengalaman menyedihkan juga tidak tepat. Ada warga yang menyambut peluang untuk memulai kembali, sementara warga lain merasa berat meninggalkan tanah asal. Perbedaan tersebut penting: memori kolektif tidak mensyaratkan satu perasaan yang sama, tetapi terbentuk melalui pengalaman yang terus dibicarakan dan dimaknai dalam suatu kelompok.
Desa yang Hidup dalam Kesaksian
Kehidupan sebelum waduk dapat ditelusuri melalui cerita tentang Dusun Somoulun di Desa Sendang. Dalam pemberitaan detikJateng, Wuryatno, Kepala Desa Pokoh Kidul, mengenangnya sebagai kawasan perdagangan yang memiliki pasar dan pemberhentian kereta api kecil. Ingatan itu menampilkan Somoulun bukan hanya sebagai nama wilayah yang tergenang, melainkan tempat berlangsungnya kegiatan ekonomi dan pertemuan warga.
Kesaksian lain disampaikan Suparso, warga Wuryantoro, tentang Desa Ngungkingsari. Ia mengingat kegiatan pertanian menurut musim dan penjualan hasil panen di Pasar Wuryantoro. Sebagai dalang dan guru bahasa Jawa, ia juga mengenang berkurangnya wilayah tempatnya mengadakan pertunjukan wayang setelah sejumlah desa tidak lagi dihuni. Cerita itu memperlihatkan bahwa perubahan ruang membawa konsekuensi bagi pekerjaan, hubungan sosial, dan kegiatan budaya.
Bagi saya, dua kesaksian ini penting justru karena menghadirkan rincian keseharian yang tidak tampak dalam penjelasan teknis tentang waduk. Melalui ingatan warga, pembaca bisa membayangkan bagaimana sebuah tempat pernah berfungsi sebagai ruang bekerja, belajar, berdagang, dan berkesenian. Di sinilah pengalaman pribadi mulai memberi isi pada ingatan bersama tentang Wonogiri sebelum genangan.
Makam dan Jembatan sebagai Ruang Ingatan
Ketika air Waduk Gajah Mungkur surut pada Oktober 2026, sejumlah peninggalan lama kembali terlihat. Salah satunya adalah kompleks makam Sentono di wilayah bekas Desa Ngungkingsari. Pemberitaan mengenai kemunculan makam tersebut menegaskan bahwa dasar waduk pernah menjadi ruang permukiman dan kehidupan keluarga.
Makam bukan sekadar sisa bangunan. Tempat itu dapat mempertemukan cerita tentang leluhur dengan ingatan keluarga yang masih hidup. Kemunculannya membuka kesempatan bagi generasi sekarang untuk bertanya siapa yang pernah tinggal di sana dan bagaimana kehidupan mereka berlangsung. Namun, makna itu tidak muncul otomatis dari bendanya; ia menjadi memori kolektif ketika dibicarakan, dikenali, dan dihubungkan dengan kisah masyarakat.
Jejak lain ialah Jembatan Lengkong, peninggalan masa kolonial yang muncul lagi saat air surut. Dahulu jembatan ini menjadi bagian dari jalur pergerakan masyarakat sebelum kawasan sekitarnya tergenang. Jika makam menuntun ingatan ke hubungan keluarga, jembatan mengingatkan pada pergerakan orang dan keterhubungan antartempat.
Kedua peninggalan tersebut memperlihatkan bahwa ruang dapat menyimpan jejak sejarah, tetapi manusia yang memberi makna pada jejak itu. Karena itu, foto makam maupun jembatan dalam esai ini bukan hanya penghias tulisan: keduanya membantu pembaca memahami hubungan antara tempat yang berubah dan pengalaman warga yang masih dapat diceritakan.
Ingatan Siapa yang Terus Diceritakan?
Memori kolektif tidak berhenti pada ingatan para saksi. Cerita mereka dapat menjangkau generasi berikutnya melalui arsip, media, dokumentasi foto, dan percakapan keluarga. Misalnya, pemberitaan yang memuat kesaksian Suparso dan Wuryatno memungkinkan orang yang tidak mengalami Bedhol Desa mengenal kehidupan di desa yang kini tergenang. Namun, keberadaan media belum membuktikan bahwa setiap keluarga meneruskan cerita yang sama; hal itu masih memerlukan penelitian atau wawancara lebih lanjut.
Dari sini muncul pertanyaan yang paling mengusik saya: pengalaman siapa yang lebih mudah ditemukan dalam sejarah pembangunan? Manfaat waduk bagi pengairan dan pengendalian banjir penting untuk dicatat, tetapi demikian pula kisah mereka yang mesti meninggalkan lingkungan lama. Bila narasi pembangunan hanya berbicara tentang hasil infrastruktur, suara warga yang terdampak dapat mendapat ruang yang lebih sempit. Ini adalah risiko yang perlu dikaji, bukan kesimpulan bahwa semua pengalaman mereka telah dilupakan.
Perbedaan cara mengingat tidak harus dipertentangkan. Waduk dapat menjadi simbol perubahan yang bermanfaat sekaligus pengingat perpindahan dan penyesuaian kehidupan masyarakat. Arsip Bedhol Desa dan kesaksian warga memungkinkan kedua sisi itu dibaca bersama, tanpa memaksa pengalaman yang beragam menjadi satu cerita tunggal.
Desa Tenggelam, Kisah Tetap Hidup
Bagi saya, memahami sejarah Waduk Gajah Mungkur berarti melihat pembangunan dari dekat, melalui kehidupan orang-orang yang mengalaminya. Arsip keberangkatan, kenangan tentang pasar dan wayang, serta makam dan jembatan yang muncul saat air surut menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya disimpan dalam bangunan besar atau keputusan pemerintah.
Waduk Gajah Mungkur mungkin telah menenggelamkan puluhan desa, tetapi ingatan mengenai kehidupan di dalamnya tidak seharusnya ikut hilang. Menjaga kesaksian dan mempelajari jejak yang tersisa merupakan cara untuk memberi tempat bagi warga dalam sejarah pembangunan bukan sekadar sebagai angka yang dipindahkan, melainkan sebagai manusia dengan pengalaman yang pantas didengar.
- Penulis: Melinda Kristy Setyarini
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar