Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

  • account_circle Melinda Kristy Setyarini
  • calendar_month 57 menit yang lalu
  • visibility 10
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Melinda Kristy Setyarini

Pagi belum sepenuhnya terang ketika bapakku sudah memulai harinya. Saat sebagian orang masih menikmati sisa tidur atau bersiap dengan pakaian rapi sebelum berangkat bekerja, bapak sudah lebih dahulu sibuk di peternakan bebek. Ada bebek-bebek yang harus diurus dan pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Setelah semuanya selesai, langkahnya berlanjut menuju sawah. Dari peternakan bebek menuju hamparan sawah, begitulah pagi bapak hampir selalu dimulai.

Tidak ada meja kantor yang menunggunya. Tidak adaruangan berpendingin udara yang membuat pekerjaan terasa nyaman. Tidak ada pakaian formal atau seragam
yang menjadi tanda bahwa ia sedang bekerja. Yang ada hanyalah tanah, sawah, bebek, panas matahari, dan tubuh yang perlahan dipenuhi keringat.

Bagi orang lain, pemandangan itu mungkin terlihat biasa. Seorang petani pergi ke sawah, sementara seorang peternak mengurus hewan ternaknya. Namun, bagiku, rutinitas itu menyimpan cerita yang jauh lebih panjang. Di balik langkah bapak setiap pagi, ada tanggung jawab yang terus ia jalankan sebagai seorang kepala keluarga dan seorang bapak.

Jalan Hidup yang BerubahArah

Bapakku lahir pada 16 Juli 1974. Kini, di usianya yang ke-52 tahun, ia masih menjalani pekerjaan yang banyak mengandalkan tenaga. Pagi dimulai dari peternakan bebek, kemudian dilanjutkan ke sawah. Panas matahari yang semakin tinggi tidak membuat bapak begitu saja meninggalkan pekerjaannya. Selama masih ada yang harus diselesaikan, ia akan tetap mengerjakannya.

Namun, menjadi petani dan peternak bukanlah awal dari perjalanan hidupnya.

Sebelum tangannya terbiasa dengan tanah dan tubuhnya akrab dengan panas matahari, bapak pernah menempuh pendidikan tinggi hingga menjadi seorang sarjana. Gelar tersebut mungkin bagi sebagian orang menjadi bekal untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih nyaman. Namun, kehidupan tidak selalu membawa seseorang pada jalan yang telah direncanakan.

Jalan bapak kemudian berubah arah.

Ia menjalani kehidupan sebagai petani sekaligus peternak bebek.

Perubahan itu tidak membuatnya malu dengan pekerjaannya. Gelar yang pernah diperolehnya tidak membuat ia merasa lebih tinggi dari pekerjaan yang sekarang dijalani. Ia tidak membutuhkan

jabatan untuk membuktikan bahwa dirinya berharga. Baginya, pekerjaan tetaplah pekerjaan yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh.

Dari bapak, aku belajar bahwa seseorang tidak menjadi lebih rendah hanya karena pekerjaannya berbeda dari yang pernah dibayangkan. Bapak adalah seorang sarjana, tetapi ia juga seorang petani. Ia adalah seorang peternak, tetapi juga seorang kepala keluarga. Semua peran itu hidup dalam satu sosok yang sama.

Di Balik Keringat, Ada Tanggung Jawab

Menjadi petani dan peternak membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Di sawah, bapak berhadapan dengan panas yang semakin meninggi. Di peternakan, ada pekerjaan yang harus dilakukan sejak pagi. Tubuhnya berkeringat, tenaganya terkuras, dan rasa lelah tentu menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, aku jarang mendengar bapak mengeluhkan pekerjaannya.

Aku tahu, ada banyak hal yang dipikirkannya. Sebagai kepala keluarga, tanggung jawab bapak tidak berhenti ketika pekerjaan di sawah selesai. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Ada masa depan anak-anak yang harus dipikirkan.Ada pendidikan yang harus diperjuangkan.

Dulu, aku belum cukup dewasa untuk memahami semua itu. Namun, semakin bertambah usia, cara pandangku perlahan berubah.Aku mulai menyadari bahwa rutinitas yang dahulu terlihat biasa ternyata menyimpan banyak hal. Ada tenaga yang diberikan, waktu yang dikorbankan, dan tanggung jawab yang dipikul tanpa banyak dibicarakan. Bapak mungkin tidak selalu mengatakan bahwaia lelah. Tetapi tubuhnyayang berkeringat di bawah matahari sudahcukup banyak bercerita.

Ketegasan yang Tumbuh dari Kasih Sayang

Bapak bukan sosok yang selalu lembut dalam mendidik anak-anaknya. Ia cukup tegas. Nasihatnya terkadang disampaikan dengan serius dan membuat kami harus berpikir kembali mengenai apa yang telah kami lakukan. Namun, semakin dewasa, aku mulai memahami bahwa ketegasan itu tidak berarti kurangnya kasih sayang.

Bapak mengajarkan kami untuk tidak mudah menyerah. Ia ingin anak-anaknya berani mencoba hal-hal baru dan tidak takut mengambil kesempatan. Tetapi menurutnya, keberanian juga harus disertai dengan kebijaksanaan. Setiap keputusan perlu dipikirkan karena setiap pilihan akan membawa kami pada langkah berikutnya.

Nasihat-nasihat itu terasa semakin berarti ketika aku mengingat perjalanan hidup bapak sendiri. Ia pernah memiliki jalan hidup sebagai seorang sarjana, tetapi kemudian harus menjalani kehidupan yang berbeda. Dari pengalaman itulah mungkin ia belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan apayang telah direncanakan. Karenaitu, ia ingin anak-anaknyamemilikikeberanian untuk menghadapi perubahan, tetapi juga kemampuan untuk menentukan pilihan dengan bijak.

Perempuan Harus Bisa Berdiri Sendiri

Ada satu kalimat bapak yang sampai sekarang masih kuingat:

Perempuan itu harus memiliki pendidikan yang tinggi dan dapat bekerja sendiri agar kelak dia bisa berdiri sendiri.”

Kalimat itu sederhana, tetapi bagiku menyimpan harapan yang besar.

Bapak tidak hanya ingin anak perempuannya mendapatkan pendidikan karena sekolah adalah sebuah kewajiban. Ia ingin kami memiliki bekal untuk menentukan kehidupan sendiri. Ia ingin kami mampu bekerja, memiliki pilihan, dan tidak selalu bergantung kepada orang lain. Harapan itu bukan hanya disampaikan melalui kata-kata. Bapak juga berusaha mewujudkannya melalui pekerjaannya.

Aku dan saudara kembarku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Di balik kesempatan itu, ada bapak yang setiap pagi pergi ke peternakan, kemudian melanjutkan pekerjaannya di sawah. Ada tanah yang ia garap, ada bebek yang ia rawat, ada panas yang ia hadapi, dan ada keringat yang jatuh selama ia bekerja. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan kami untuk mendapatkan pendidikan. Bapak mungkin tidak pernah menyebutnya sebagai sebuah pengorbanan. Ia hanya melakukan apa yang menurutnya harus dilakukan sebagai seorang bapak.

Sawah yang Menjadi Saksi

Kini, ketika melihat bapak pergi ke sawah, pandanganku tidak lagi sama seperti dahulu.

Aku tidak hanya melihat seorang petani.

Aku melihat seorang manusia yang pernah menjadi sarjana, tetapi tidak pernah malu dengan jalan hidup yang dijalaninya. Aku melihat seorang kepala keluarga yang menjalankan tanggung jawabnya dengan caranya sendiri. Aku juga melihat seorang bapak yang mungkin tidak banyak berbicara tentang mimpi, tetapi setiap hari bekerja untuk membuka jalan bagi anak-anaknya.

Sawah menjadi salah satu tempat perjuangan itu berlangsung. Peternakan bebek menjadi tempat lain di mana harapan itu dipelihara. Dulu, sawah hanya terlihat sebagai tempat bapak bekerja. Sekarang, sawah menjadi tempat yang mengingatkanku pada perjuangan.

Di sana aku belajar bahwa kerja keras tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata besar. Terkadang, kerja keras hanya berupa seseorang yang bangun pagi, menyelesaikan pekerjaannya, lalu kembali pulang untuk keluarganya.

Bapak mengajarkanku bahwa kehidupan bisa membawa seseorang ke jalan yang berbeda dari rencana awal. Namun, perubahan jalan bukan berarti seseorang harus berhenti berjalan.

Panen yang Tidak Berupa Padi

Aku tidak tahu seperti apa kehidupan yang dahulu dibayangkan bapak ketika ia masih menjadi seorang sarjana. Aku juga tidak tahu mimpi apa yang pernah ia miliki untuk dirinya sendiri. Yang aku tahu, ia tidak membiarkan perubahan jalan hidup membuatnya berhenti berharap.

Justru dari kehidupannya sekarang, bapak mengajarkan kepada anak-anaknya untuk terus melangkah. Ia bekerja agar kami dapat belajar. Ia memberi nasihat agar kami berani mencoba. Ia mendidik kami agar mampu mengambil keputusan dengan bijak. Dan yang paling penting, ia ingin kami memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri.

Suatu hari nanti, ketika aku dan saudara kembarku telah mampu berdiri dengan kaki sendiri, mungkin bapak tidak lagi perlu melihat hasil sawah untuk mengetahui bahwa perjuangannya tidak sia-sia.

Sebab ada hasil lain yang jauh lebih besar daripada apa pun yang dapat dipanen dari tanah.

Di bawah terik matahari, ia memang menanam di sawah. Tetapi tanpa banyak yang menyadarinya, ia juga sedang menanam harapan di dalam hidup anak-anaknya.

Dan mungkin, bagi seorang bapak, itulah panen yang paling ia nantikan.

  • Penulis: Melinda Kristy Setyarini
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    KEHILANGAN YANG TAK TERGANTIKAN

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Stefen B
    • visibility 274
    • 2Komentar

    Namaku Martina Syukur. Orang biasa memanggilku Tina. Terlahir dari keluarga yang cukup berada dengan penghasilan yang bisa dibilang cukup, membuat aku merasa tak pernah berkekurangan. Semua kebutuhanku selalu terpenuhi. Aku juga memiliki saudara tetapi bukan sedarah. Namanya Tini. Dia adalah gadis kecil yang diadopsi oleh bapak dan mama dari sebuah panti asuhan setahun sebelum aku […]

  • Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    Ruang Rasa: Perempuan yang Diajari Bertahan

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 215
    • 6Komentar

    Sebelum teman-teman mataleza.com lanjutkan membaca keseluruhan tulisan berikut ini, perlu saya sampaikan bahwa, tidak semua laki-laki demikian, tetapi pengalaman perempuan yang mengalami manipulasi adalah kenyataan yang tidak boleh diperkecil atau diabaikan. Luka mereka nyata. Selamat membaca! *** Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah pesan dari seorang teman. Ia perempuan, tinggal jauh di seberang. Jarak memisahkan […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 122
    • 0Komentar

    8 Juni 2026 akan menjadi salah satu tanggal yang layak dikenang dalam perjalanan pendidikan di Boawae. Sore itu, Kotagoa Sport Area tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya pertandingan. Lapangan itu berubah menjadi panggung harapan, tempat lahirnya keberanian, kerja keras, dan mimpi-mimpi besar anak-anak. Sebanyak 27 tim dari berbagai Sekolah Dasar siap bertarung dalam cabang olahraga voli […]

  • Ibu di Kota

    Ibu di Kota

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 333
    • 0Komentar

    Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang? Sebelum […]

  • Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang  Terancam 

    Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang Terancam 

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Humberto Verbita
    • visibility 250
    • 0Komentar

    Oleh: Humberto Verbita Diskursus Film Dokumenter PESTA BABI bukan lagi sekedar tayangan tetapi menjadi sebuah movement, suatu gerakan mulai dari para akademisi, talk show saluran TV nasional, lahan edukasi-promosi-monetisasi dari para pegiat sosial media bahkan sampai level masyarakat akar rumput (grass root). Namun semua gerakan massive ini mendadak terguncang dengan video viral yang berisikan kesaksian […]

  • Ketika Cinta Menjadi Doa

    Ketika Cinta Menjadi Doa

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
    • visibility 157
    • 3Komentar

    Minggu pagi selalu datang dengan kesunyian yang suci. Cahaya matahari menembus jendela kaca kapela SanJuan, memantulkan warna-warna lembut yang jatuh di lantai seperti doa yang menjelma menjadi cahaya. Denting lonceng memanggil umat untuk berkumpul, dan di antara bangku-bangku kayu yang tertata rapi, Frater Arda kembali menemukan sosok yang diam-diam mengisi ruang batinnya. Gadis itu selalu […]

expand_less