Ketika Cinta Menjadi Doa
- account_circle Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
- calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
- visibility 74
- comment 3 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Minggu pagi selalu datang dengan kesunyian yang suci. Cahaya matahari menembus jendela kaca kapela SanJuan, memantulkan warna-warna lembut yang jatuh di lantai seperti doa yang menjelma menjadi cahaya. Denting lonceng memanggil umat untuk berkumpul, dan di antara bangku-bangku kayu yang tertata rapi, Frater Arda kembali menemukan sosok yang diam-diam mengisi ruang batinnya. Gadis itu selalu duduk di bangku ketiga dari depan. Dengan mata terpejam dan tangan terkatup, ia tampak begitu larut dalam doa, seakan seluruh dunia berhenti untuk memberi ruang bagi perjumpaannya dengan Tuhan. Namanya Elara, nama yang sederhana, namun sarat makna. Bagi Frater Arda, kehadiran Elara bukan sekadar kebetulan, melainkan sebuah misteri yang perlahan mengusik kedalaman panggilannya.
Suatu pagi setelah perayaan Ekaristi, Fr. Arda memberanikan diri menyapanya di halaman kapela. Angin pagi berembus lembut, membawa aroma bunga yang gugur di pafin.
“Selamat pagi, Elara,” sapa Fr. Arda dengan suara yang sedikit bergetar dan berserak. Elara menoleh dan tersenyum hangat. “Selamat pagi, Frater. Terima kasih atas pelayanannya dalam misa tadi. Bacaan yang Frater bacakan tadi sangat menyentuh.” Fr. Arda menunduk sejenak, mencoba menenangkan gelombang perasaannya. “Kadang saya merasa bahwa bukan saya yang membaca bacaan itu, melainkan Sabda itu sendiri yang sedang membentuk saya.” Elara mengangguk pelan. “Bukankah hidup memang seperti itu, Frater? Kita sering berpikir bahwa kita sedang menjalani hidup, padahal sebenarnya hiduplah yang sedang membentuk kita.” Fr. Arda menatap Elara dengan penuh perhatian. “Kata-kata itu mengingatkan saya pada pemikiran Søren Kierkegaard, bahwa hidup hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi harus dijalani dengan melangkah ke depan. Namun, melangkah ke depan sering kali berarti menghadapi pilihan yang tidak mudah.”
Elara terdiam sejenak sebelum bertanya dengan lembut, “Apakah Frater sedang menghadapi pilihan itu?” Arda menarik napas panjang. “Ya, Elara. Saya mulai menyadari bahwa hati manusia tidak selalu berjalan searah dengan panggilan yang diyakininya. Ada saat-saat ketika saya merasa bahwa Tuhan berbicara bukan hanya melalui doa, tetapi juga melalui kehadiran seseorang.” Elara menatap Arda dengan mata yang teduh. “Apakah kehadiran itu membawa Frater semakin dekat kepada Tuhan, atau justru menjauhkan?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, sarat makna. Arda menjawab dengan jujur, “Awalnya saya takut bahwa perasaan ini akan menjauhkan saya dari panggilan. Namun semakin saya merenungkannya, saya justru merasa bahwa cinta ini mengajarkan saya tentang makna pengorbanan dan ketulusan. Saya belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.” Elara tersenyum, meskipun ada kilau haru di matanya. “Cinta memang misteri, Frater. Santo Agustinus pernah berkata bahwa ukuran cinta adalah mencintai tanpa ukuran. Tetapi terkadang, mencintai juga berarti merelakan.” Arda menatap langit yang mulai cerah. “Elara, apakah kamu pernah merasa bahwa Tuhan menempatkan seseorang dalam hidup kita bukan untuk dimiliki, tetapi untuk mengajarkan sesuatu yang lebih dalam?”
Elara menjawab dengan suara yang hampir seperti bisikan, “Saya percaya demikian. Mungkin Tuhan mempertemukan dua jiwa agar keduanya belajar tentang makna kasih yang sejati—kasih yang tidak menuntut balasan.” Arda kemudian berkata dengan penuh kejujuran, “Elara, saya ingin kamu tahu bahwa kehadiranmu telah menjadi bagian dari perjalanan rohani saya. Setiap Minggu, ketika saya melihatmu berdoa, saya diingatkan bahwa iman bukan hanya tentang kata-kata, tetapi tentang penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan.” Elara menunduk, menahan haru. “Frater Arda, saya juga merasakan kedamaian setiap kali melihat Frater memakai jubah cokelat dan melayani. Ada keyakinan bahwa Tuhan bekerja melalui hidup Frater. Karena itu, saya percaya bahwa panggilan Frater adalah sesuatu yang indah dan harus dijaga.”
“Apakah kamu tidak pernah berharap akan kemungkinan lain?” tanya Arda dengan hati-hati. Elara terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Sebagai manusia, tentu saya memiliki harapan dan perasaan. Namun saya percaya bahwa cinta sejati tidak selalu berakhir dengan kebersamaan. Terkadang, cinta justru mencapai kepenuhannya ketika kita berani menyerahkannya kembali kepada Tuhan.” Arda merasakan keheningan yang penuh makna. “Kata-katamu mengingatkan saya pada konsep agape cinta yang memberi tanpa mengharapkan balasan. Mungkin inilah bentuk cinta yang sedang Tuhan ajarkan kepada kita.”
Elara mengangguk. “Jika cinta ini membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, maka biarlah ia menjadi doa yang hidup, bukan menjadi beban.” Angin pagi kembali berembus, membawa ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Arda akhirnya berkata dengan mantap, “Elara, terima kasih karena telah menjadi bagian dari perjalanan iman saya. Saya tidak tahu bagaimana masa depan akan terbentang, tetapi saya percaya bahwa Tuhan selalu menuntun setiap langkah kita.” Elara tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. “Terima kasih juga, Frater. Saya akan selalu mendoakan agar Frater setia pada panggilan yang telah Tuhan percayakan. Dan biarlah perasaan ini kita simpan sebagai rahmat, bukan sebagai penyesalan.” Beberapa saat kemudian, bunyi klaper kembali berdentang, seolah menegaskan keputusan yang telah mereka terima dengan penuh kedamaian. Mereka saling berpandangan untuk terakhir kalinya pagi itu, bukan sebagai dua insan yang terpisah oleh keadaan, tetapi sebagai dua jiwa yang dipersatukan oleh makna yang lebih tinggi.
Sejak hari itu, Elara tetap hadir setiap Minggu pagi, duduk di bangku yang sama dengan doa yang tak pernah berubah. Sementara itu, Frater Arda melanjutkan perjalanan panggilannya dengan hati yang telah dimurnikan oleh pengalaman mencintai. Ia kini memahami bahwa cinta bukanlah tentang memiliki, melainkan tentang memberi makna. Dan di antara doa serta rasa yang pernah bersemi, ia menemukan kebenaran sederhana: bahwa setiap cinta yang tulus pada akhirnya akan kembali kepada Sang Sumber Cinta itu sendiri.
2026
Tentang Penulis: Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD. Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA
Penulis juga merupakan seorang calon Imam/Biarawan Karmel OCD.
- Penulis: Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
- Editor: Redaksi Mataleza

Salam kenal Frater. Selamat menikmati jalan yang penuh cinta. Karena cinta sesungguhnya ada di Altar kehidupan yang siap dirayakan dengan sembah syukur dan Amin yang dibalas tunai. Maju terus dalam jalan panggilanmu… Slm doaku dan berkat Tuhan.
4 Mei 2026 4:56 pmDari kisah frater ini menyadarkan saya bahwa memang cinta tidak selamanya harus dimiliki, cinta yang benar-benar itu hanya datang dari Tuhan
28 April 2026 12:42 pmTerima kasih banyak. Semoga kisahnya Fr ini bermanfaat.
29 April 2026 11:29 am