DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya
- account_circle Maria Makdalena
- calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
- visibility 222
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Doa
Di ujung harap aku berdoa, sembari mengatup penuh khusyuk. Bait demi bait mulai melantun. Seirama deru angin di siang itu.
Di perhentian itu aku terdiam, riuhnya alam bergejolak mengiyakan seluruh ucapan yang terhenti di langit.
Dalam lantunan doa yang dilafas, di seberang sana ada wanita janda sedang menangis. Ratapan demi ratapan mulai terdengar, adakah doa paling pilu yang mampu menyayat hati Sang Bunda?
Doaku usai, namun dia dan mereka mulai berdatangan. Sembari membawa intensi berkepemilikan, Bunda mulai menadah. Tangis, tawa, marah, kecewa, benci dan haru melebur bersama tanah dan air yang mengalir.
Bunda, ditengah harap yang kulafas ini akankah menjadi doa paling lestari seindah mawar yang kuberi? Ataukah seperih duri yang tertanam di daging? Berharap kelak seluruh niat turut mekar seperti mawar yang tertanam di bawah tangga.
Harapku telah usai kulafaskan dan mereka tetap diam dalam keheningan waktu, inginku ucapkan salam pisah. Sampai bertemu kembali di harap mendatang, aku pulang.
Gua lembah karmel, April 2026
Air
Mereka bilang air itu murni, mampu menghidupkan segala yang kritis menuju ambang kematian.
Setenang jiwa yang damai, sesejuk itu air yang mengalir.
Air yang disangka tenang, terkadang mampu menenggelamkan bahkan menghanyutkan ribuan jiwa yang tersesat dari rumah pangkuan ibu.
Sesuci itu air yang dikandung bumi. Penuh sakral dan maut yang datang silih berganti.
Lembah karmel, April 2026
Tanah
Di sepanjang penapakan, banyak harap tertanam di sana. Terik matahari mulai membara, bongkahan tanah mulai terlihat. Kekeringan terus melanda.
Tanah yang kau bilang tempat kelahiran kini berganti nama menjadi tanah kematian. Segala perkara yang diangkara oleh mereka melebur bersama tanah yang kau pijak.
Perjalanan panjang tiada ujung, satu persatu dari mereka mulai lelah. Tertatih lalu tersungkur, harap yang redup tak lagi terdengar. Hanya nafas terakhir menjadi tanda pisah sebelum berakhir membumi bersama tanah.
Lembah karmel, April 2026
Sendal jepit
Anak kecil itu terus berlari menyusuri kali kecil. Ibu berlarian kesana kemari mengejar anak itu, ada yang tertinggal. Sendal jepit hadiah dari sang bapak sebagai salam pisah diakhir kiamatnya.
Sendal jepit itu sudah buruk rupa namun ibu terus menenteng tanpa menyarung. Seberharga itukah dia? Ataukah karna sendalnya mahal? Tulusnya hati menganggap kesakralannya ada, ada juga dengan segala keluh kesah meraung raung pasrah. Entah semiskin apa waktu itu, namun ini bukan sendal biasa, ini hadiah salam pisah. Kembali ibu berjalan tanpa alas kaki, sendalnya dengan setia digenggam erat.
Anak kecil mulai tertangkap namum sendal tak pernah dilepas. Katanya pelepas rindu untuk dia yang kau ambil kembali.
Lembah karmel, April 2026
Sabtu
Akhir pekan sudah tiba, mereka mulai bergegas untuk libur bersama. Ada yang jauh dan ada yang dekat.
Ada yang diam dirumah dan memilih untuk diam dalam keheningan. Ada yang suka euforia tanpa batas.
Semua yang terlihat bebas ada di hari itu
Lembah karmel, April 2026
Maria Makdalena, dengan nama pena Aksaramar, lahir di Malaysia, pada tahun 2000. Sehari-hari sebagai seorang Wiraswasta yang suka Menulis, travelling, nyanyi ( artis kamar mandi ). Alumni dari jurusan psikologi Unipa Maumere. Selain bekerja di yayasan yang bergerak di pemberdayaan wanita dan anak, dia juga aktif berwirausaha di bidang kuliner, ternak dan tani. Untuk mengenal lebih dekat dengan penulis, silakan di follow akun medsos di FB Mar Mkdlna, Instagram Mar Mkdlna dan Tiktok Aksaramar.
- Penulis: Maria Makdalena
- Editor: Fian N

Saat ini belum ada komentar