Breaking News
light_mode
Trending Tags

Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun

  • account_circle Redaksi Mataleza
  • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
  • visibility 373
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tiga tahun, bagi sebagian orang, mungkin hanya sepotong waktu yang lewat begitu saja dalam arus kehidupan. Namun bagi Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae, tiga tahun adalah kisah panjang yang penuh warna, tentang tawa yang tumbuh di lorong-lorong sekolah, tentang peluh yang jatuh di lapangan, tentang mimpi yang perlahan menemukan bentuknya.

Waktu memang berjalan cepat, apalagi ketika dijalani dengan hati yang riang. Tanpa terasa, hari-hari yang dulu dipenuhi langkah ragu saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini, kini telah menjelma menjadi kenangan yang hangat. Mereka datang sebagai anak-anak yang membawa rasa penasaran, lalu bertumbuh menjadi pribadi-pribadi muda yang lebih matang, lebih berani, dan lebih siap menghadapi dunia.

Perjalanan Angkatan 72 bukan sekadar rutinitas belajar di dalam kelas. Mereka telah menorehkan begitu banyak kisah yang patut dibanggakan. Di bidang akademik, mereka menunjukkan ketekunan dan semangat belajar yang luar biasa. Setiap nilai yang diraih bukan hanya angka, tetapi cerminan dari usaha, doa, dan disiplin yang mereka jaga. Sementara di bidang non-akademik, mereka hadir sebagai generasi yang aktif, kreatif, dan penuh semangat, menghidupkan nama sekolah melalui berbagai kompetisi, kegiatan ekstrakurikuler, hingga peristiwa-peristiwa kecil yang penuh makna.

Namun lebih dari itu, yang paling berharga dari perjalanan mereka adalah kebersamaan. Sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi telah menjadi rumah kedua. Di dalamnya, ada tawa yang dibagi tanpa syarat, ada air mata yang diam-diam dihapus oleh sahabat, ada lelah yang dipeluk oleh kehangatan kebersamaan. SMPSK Kotagoa Boawae telah menjadi ruang aman, tempat di mana setiap siswa diterima apa adanya, tempat di mana mereka belajar bahwa gagal bukanlah akhir, dan bahwa setiap usaha selalu layak dihargai.

Bagi para guru, khususnya para wali kelas, Angkatan 72 bukan sekadar peserta didik. Mereka adalah anak-anak yang tumbuh di bawah bimbingan, perhatian, dan kasih yang tulus. Setiap teguran yang diberikan, setiap nasihat yang diucapkan, bahkan setiap keheningan di kelas, semuanya menyimpan harapan agar mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Maka tak heran, ketika perpisahan ini tiba, ada rasa kehilangan yang tak bisa disembunyikan. Ada ruang yang terasa kosong, ada suara-suara yang akan dirindukan, ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang tak lagi sama.

Namun hidup memang selalu berjalan ke depan. Perpisahan bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju perjalanan yang lebih luas. Kini, jenjang pendidikan lanjutan telah menanti mereka di depan sana, dengan tantangan yang lebih besar, dengan mimpi yang harus diperjuangkan lebih sungguh-sungguh. Di titik ini, para guru hanya bisa memberikan satu hal yang paling tulus: doa.

Doa agar setiap langkah mereka dipermudah.

Doa agar setiap pintu yang tertutup digantikan dengan pintu yang lebih baik.

Doa agar mereka tidak pernah lupa dari mana mereka berasal.

Dan yang paling penting, doa agar mereka selalu menjadi pribadi yang rendah hati, kuat dalam menghadapi cobaan, serta setia pada nilai-nilai kebaikan yang telah mereka pelajari.

Angkatan 72 telah meninggalkan jejak. Bukan hanya dalam bentuk prestasi, tetapi juga dalam kenangan yang hidup di hati setiap orang yang pernah berjalan bersama mereka. Mereka telah menjadi bagian dari cerita besar SMPSK Kotagoa Boawae, cerita yang akan terus dikenang, diceritakan kembali, dan menjadi inspirasi bagi angkatan-angkatan berikutnya.

Selamat melangkah, Angkatan 72. Dunia menunggu kalian dan kami percaya, kalian akan menemukannya dengan cara yang luar biasa.

 

  • Penulis: Redaksi Mataleza
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    BSM Siap Nobar Film Karya Sendiri 

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Zaeni Boli
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Mesti bangga dengan karya sendiri, Produksi sebuah film bukanlah pekerjaan yang mudah dibutuhkan proses yang terkadang membuat kita hampir menyerah namun dengan tekad yang kuat akhirnya mewujud, ya akhirnya di tahun 2026 ini pada Bengkel Seni Milenial ( BSM ) angkatan ke 10 akhirnya mampu memproduksi film pendek yang diberi judul Cinta Jangan Dikejar, Sebuah […]

  • Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Ada orang yang mencintai sebuah tim karena sedang menjadi juara. Ada yang memilih karena mengikuti teman. Ada pula yang mencintainya karena semua orang di kampung melakukan hal yang sama. Saya tidak. Cinta saya kepada Spanyol lahir dari sebuah kebetulan yang sederhana. Tahun 2006, ketika informasi sepak bola belum semudah hari ini, saya melihat sebuah poster […]

  • Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    Sudut Pandang: Di Bawah Terik Matahari, Ia Menanam Harapan

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Melinda Kristy Setyarini
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Oleh: Melinda Kristy Setyarini Pagi belum sepenuhnya terang ketika bapakku sudah memulai harinya. Saat sebagian orang masih menikmati sisa tidur atau bersiap dengan pakaian rapi sebelum berangkat bekerja, bapak sudah lebih dahulu sibuk di peternakan bebek. Ada bebek-bebek yang harus diurus dan pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Setelah semuanya selesai, langkahnya berlanjut menuju sawah. Dari […]

  • 𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗜𝗧, 𝗣𝗜𝗢𝗡 𝗥𝗔𝗧𝗨𝗟𝗢𝗟𝗟𝗬 𝗨𝗦𝗨𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗦 𝗟𝗔𝗠𝗔𝗛𝗢𝗟𝗢𝗧

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Novel Mahar Gading telah resmi dipublikasikan pada Kamis (02/07/2026). Novel ini ditulis oleh Pion Ratulolly yang merupakan nama pena dari Muhammad Soleh Kadir. Novel ini berisi kisah asmara antara Arakian Sabon Ama dan Mutiara Belaon Bur’an. Kisah asmara keduanya harus berbenturan dengan tuntutan adat berupa mahar gading. Di sinilah pergulatan kisah keduanya mengalami konflik yang […]

  • Sudut Pandang: Di Bawah Lampu Kos, Mimpi Tetap Menyala

    Sudut Pandang: Di Bawah Lampu Kos, Mimpi Tetap Menyala

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Virginia Dedebupu Hanasbey
    • visibility 46
    • 0Komentar

    Kisah mahasiswa yang belajar tumbuh jauh dari rumah Malam telah turun ketika sebagian besar rumah mulai mematikan lampunya. Namun, di sebuah kamar kos yang tidak terlalu luas, cahaya lampu masih menyala. Di atas meja terdapat laptop yang terbuka, beberapa buku kuliah, dan catatan tugas yang belum selesai. Tidak ada suara keluarga yang memanggil untuk makan […]

  • Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Emanuel Boli Manuk
    • visibility 310
    • 0Komentar

    Oleh: Emanuel Boli Manuk, Mahasiswa Filsafat di IFTK Ledalero Pendahuluan: Latar belakang krisis 1998 sebagai cermin masa kini Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Sejarah ekonomi Indonesia menyimpan catatan kelam yang selalu menghantui setiap kali nilai tukar Rupiah mengalami guncangan: Krisis Moneter 1998. Pada masa itu, ketidakstabilan ekonomi yang dipicu oleh pelarian modal […]

expand_less