Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
  • visibility 237
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Martha Grimes pernah berkata, “kita tidak tahu siapa diri kita sampai kita melihat apa yang bisa kita lakukan.” Pertama kali membaca kutipan tersebut di sebuah buku yang berjudul Life Lessons yang ditulis oleh para pengarang Chicken Soup For The Soul, ada sesuatu yang mendorong saya untuk segera mengambil tindakan. Tindakan yang dimaksudkan di sini adalah yang pernah saya putuskan dulu dan yang akan saya lakukan di hari-hari yang akan datang.

Sejenak saya ditarik mundur jauh ke belakang. Kembali memanggil kenangan-kenangan atau momen-momen yang pernah terjadi berdasarkan keputusan, mulai saja. Yang paling awal tiba dan mengesan serta tetap tinggal sampai sekarang adalah menulis. Bukan mungkin tetapi ini sudah terjadi. Sudah banyak kali saya mengungkapkan tentang fakta ini. Di tahun 2014, saya memilih untuk belajar menulis. Perjalanan untuk memulainya adalah ketika menemukan sebuah catatan harian dari senior yang tergelatak di atas meja belajar di ruang belajar bersama.

Saya memastikan tidak ada siapa pun yang melihat saya ketika sedang membuka lembar-lembar catatan harian dari senior. Tidak ada yang benar-benar saya ingat tentang isi catatan harian tersebut. Secara garis besar yang saya temukan adalah catatan harian tentang hal-hal yang telah dilewati bersama orang-orang yang pernah membersamainya. “Wah, menarik sekali kisah-kisahnya. Dicatat dengan rapi, tanggal serta hari kejadiannya pun tidak luput dicatat juga. Sepertinya boleh saya coba hal baik ini.”

Saya menutup catatan harian tersebut. Saya mulai memikirkan, apa yang harus saya lakukan. Mengingat kejadian-kejadian masa kecil. Mengumpulkan kembali kepingan-kepingan memori yang tercecer itu. Satu per satu terkumpulkan. Bahan ceritanya ada, tetapi apakah saya memulai saja dulu tanpa memikirkan hal-hal yang paling teoretis dalam menulis? Jika saya mempelajari teorinya, maka saya akan membuang-buang waktu untuk mencari tahu dan mendalaminya lagi. Bagaimana kalau menulis dan sambil belajar? Saya memilih yang kedua. Menulis saja dulu sambil belajar.

Tapi kembali saya ingat, saya hampir tidak punya kebiasaan membaca yang baik. Bagaimana saya bisa menulis jika bank kata tidak memadai serta tidak diupdate? Lagi-lagi selalu ada pertanyaan yang bercokol di kepala. Ada sebuah toko buku di kota ini, saya akan ke sana di akhir pekan. Membawa rupiah secukupnya saja, berharap sedang dalam masa cuci gudang untuk mendapatkan buku-buku dengan harga terjangkau. Ya, hitung-hitung sambil memperbaiki gizi di kepala. Murah bukunya tetapi tidak dengan isi bukunya.

Saya membeli novel Zahir karya dari Paulo Coelho dan beberapa buku pengembangan diri lainnya. Selain novel Zahir, buku-buku yang lain saya beli dengan harga sangat ramah kantong, yang diobral di teras toko buku tersebut. Judul-judul buku yang lain tidak saya ingat sama sekali, karena lebih banyak dipinjam oleh teman-teman sampai tidak pernah dikembalikan.

Karena Zahir yang masih ada, saya pun mulai membaca dari halaman ke halaman. Saya sempat berhenti di halaman-halaman awal. Bagi saya, novel ini terlalu berat untuk saya yang baru mulai bangun kebiasaan membaca ini. Keluhan itu karena saya dihadapkan oleh sebuah pertanyaan yang ada di halaman-halaman awal yakni, tapi apakah sebenarnya kebebasan? Sungguh berat pertanyaan ini. Saya berhenti di sana. Sebab, ini bukan kebiasaan yang saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Ya, boleh jujur, bukan karena tidak membangun kebiasaan ini lebih awal atau tidak punya minat dalam membaca, jelas bahwa ketersediaan fasilitas atau literatur selain buku pelajaran di sekolah dasar dan menengah atas yang tidak ada, maka membaca buku literatur selain buku mata pelajaran, itu tidak ada di kalangan kami dengan orang tua petani, yang tidak punya akses untuk membeli sejenis majalah begitu seperti yang saya dengar dari cerita teman-teman yang sering membaca majalah anak ketika seusia saya masih sekolah dasar dan menengah dulu. Tapi, Zahir tetap juga saya selesaikan berdasarkan dorongan penasaran akan kisah-kisah selanjutnya.

Di momen ini saya pun teringat akan ungkapan dari Daisaku Ikeda yang bunyinya seperti ini, “Yang penting bukanlah bagaimana kalian jika dibandingkan dengan orang lain, tetapi bagaimana kalian jika dibandingkan dengan diri kalian kemarin. Jika kalian melihat bahwa kalian sudah maju meski hanya satu langkah, maka kalian sudah meraih satu kemenangan.” Saya menemukan ungkapan ini di sebuah buku yang berjudul, Untuk Pemimpin Masa Depan, Discussion on Youth.

Saya melihat diri saya yang kemarin, jika saya tidak mengambil jalan ini, maka saya tidak akan pernah berhasil menulis dan menerbitkan 4 buku puisi dan satu buah buku bergenre senandika. Saya tidak akan melihat diri saya yang rutin menulis setiap hari di akhir-akhir ini. Kebiasaan yang sudah saya putuskan untuk dimulai sejak tahun 2014 itu, mengalami pasang surut yang begitu berarti. Saya memaklumi hal tersebut karena saya tidak berada di sebuah lingkungan yang mendukung pilihan saya. Selain lingkungan, apakah saya mampu menghidupi diri saya dan keluarga melalui menulis di tengah keterbatasan akses ke tingkat yang lebih tinggi selain bergerak secara mandiri. Ya, sekali lagi, saya pun ingin mencoba dan terus mencoba.

Ketika saya melakukan perbandingan dengan orang lain, yang saya lihat adalah, dia bisa, lalu kenapa saya tidak? Saya melihatnya melalui kaca mata positif. Saya merasa iri jika orang bisa dan saya tidak. Saya menarik kesimpulan sementara, bahwa titik di mana dia berada sekarang adalah setelah dia memulai langkah awal yang penuh tantangan. Langkah pertama menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam sebuah usaha atau mewujudkan impian. Keberhasilannya sekarang adalah sekian banyak kegagalan yang pernah dialami sebelumnya.

Saya tidak hanya rutin menulis. Saya mulai bangun kebiasaan membaca buku. Membaca sebuah buku yang paling saya sukai, buku yang menunjang ide-ide dalam menulis, yang bisa dijadikan referensi dan buku-buku yang relevan dengan kenyataan di sekitar.

Oleh karena langkah awal yang sudah saya mulai, saya tidak lagi terlalu memikirkan untuk menjadi sukses dalam menulis untuk diri sendiri. Hal-hal baik yang sudah saya mulai wajib hukumnya saya berbagi kepada orang-orang yang punya minat tetapi keterbatasan akses terkhusus menjangkau lebih banyak bahan bacaan. Beberapa momen telah saya lakukan, membantu mereka dan menuai hasil yang cukup memuaskan. Saya sendiri bangga akan kemajuan ini. Banyak sekali di luar sana orang-orang yang memiliki minat yang sama, yang begitu serius. Saya sangat mendukung keinginan mereka-mereka itu. Besar harapan mereka bisa lebih berhasil dari yang pernah saya alami.

Lalu, apa yang harus saya lakukan ke depan? Apakah saya harus berhenti sekarang di sini? Apakah Anda sudah jauh melangkah dan menyelesaikan sebuah tugas? Jika belum, maka berbenahlah dan terus menjadi virus yang baik bagi orang-orang di sekitar.

Ingat, kita tidak akan pernah berhenti atau dihentikan jika tidak pernah memulai. Hal tersulit di hidup ini, yang saya alami adalah, saya tahu kapan harus memulai. Persis di saat itu saya pun bingung, ingin memulainya dari mana. Persis juga di sini, saya sudahi tulisan ini. Kita bisa bertemu lagi di kesempatan yang lebih aduhai dengan ide-ide segar berikutnya.

Selamat membaca, semoga segala hal dimudahkan. Terima kasih.

Pondok Baca Mataleza, 2026

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 366
    • 2Komentar

    Dalam karyanya “21 Pelajaran untuk Abad ke-21”, Yuval Hoah Harari mengatakan “jika masa depan umat manusia diputuskan tanpa melibatkan anda, kerena anda sibuk memberi makan dan memakaikan pakaian anak anda, tetap saja anda dan anak anda tidak bisa lepas dari konsekuensinya. Ini memang sungguh tidak adil, tetapi siapa bilang sejarah itu adil?” (Harari, 2023). Namun […]

  • Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Publikasi Politeknik St. Wilhelmus Boawae
    • visibility 134
    • 0Komentar

    NAGEKEO, 30 Maret 2026 – Politeknik St. Wilhelmus (PSW) mempertegas komitmennya dalam pembangunan masyarakat berbasis vokasi melalui kegiatan panen perdana wortel organik di Desa Lajawajo, Kabupaten Nagekeo, Senin (30/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Sekolah Vokasi Desa melalui pembuatan kebun percontohan (demplot) hortikultura di lahan milik desa. Sebagai desa binaan PSW, Desa Lajawajo menjadi […]

  • Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun 6:17 Play Button

    Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 224
    • 0Komentar

    Tiga tahun, bagi sebagian orang, mungkin hanya sepotong waktu yang lewat begitu saja dalam arus kehidupan. Namun bagi Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae, tiga tahun adalah kisah panjang yang penuh warna, tentang tawa yang tumbuh di lorong-lorong sekolah, tentang peluh yang jatuh di lapangan, tentang mimpi yang perlahan menemukan bentuknya. Waktu memang berjalan cepat, apalagi […]

  • Prihartini

    Prihartini

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 293
    • 2Komentar

    Kunang-kunang beterbangan kian kemari, sesekali hinggap di meja makan tua dari kayu mahoni, sesekali mendarat di kepala Prihartini yang tengah tenggelam dalam lamunan. Kesedihan terukir jelas pada wajah mudanya. Matanya merah, serupa tumpahan air sirih pinang di pelataran teras. Tak ada hujan air mata, hanya perih yang melumat habis kesadarannya. Ia seolah meluruh, tak berdaya […]

  • Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    Sudut Pandang: Sebab Hidup Adalah Rahmat yang Dirayakan Bersama

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Oleh: Filemon Pandu Wimastha (Seorang calon imam Katolik Keuskupan Agung Ende)  Sebagai calon Imam yang hidup dalam rahim sebuah komunitas homogen, saya perlahan menyadari bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi adalah kenangan yang menjelma kebiasaan, lalu tumbuh menjadi identitas bersama. […]

  • SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    SMPSK KOTAGOA BOAWAE DIAMOND COMPETITION

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 163
    • 0Komentar

    John Holt dalam bukunya yang berjudul, Mengapa Siswa gagal, menulis demikian: “Kita semua sepakat bahwa semua siswa harus berhasil, tetapi apakah kita memiliki pengertian yang sama mengenai keberhasilan itu? Saya sendiri berpendapat bahwa kesuksesan itu sebaiknya tidak diperoleh dengan gampang ataupun cepat dan mestinya tidak terjadi setiap saat. Sukses dalam pandanganku, menyiratkan keberhasilan seseorang mengulangi […]

expand_less