Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
  • visibility 308
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Martha Grimes pernah berkata, “kita tidak tahu siapa diri kita sampai kita melihat apa yang bisa kita lakukan.” Pertama kali membaca kutipan tersebut di sebuah buku yang berjudul Life Lessons yang ditulis oleh para pengarang Chicken Soup For The Soul, ada sesuatu yang mendorong saya untuk segera mengambil tindakan. Tindakan yang dimaksudkan di sini adalah yang pernah saya putuskan dulu dan yang akan saya lakukan di hari-hari yang akan datang.

Sejenak saya ditarik mundur jauh ke belakang. Kembali memanggil kenangan-kenangan atau momen-momen yang pernah terjadi berdasarkan keputusan, mulai saja. Yang paling awal tiba dan mengesan serta tetap tinggal sampai sekarang adalah menulis. Bukan mungkin tetapi ini sudah terjadi. Sudah banyak kali saya mengungkapkan tentang fakta ini. Di tahun 2014, saya memilih untuk belajar menulis. Perjalanan untuk memulainya adalah ketika menemukan sebuah catatan harian dari senior yang tergelatak di atas meja belajar di ruang belajar bersama.

Saya memastikan tidak ada siapa pun yang melihat saya ketika sedang membuka lembar-lembar catatan harian dari senior. Tidak ada yang benar-benar saya ingat tentang isi catatan harian tersebut. Secara garis besar yang saya temukan adalah catatan harian tentang hal-hal yang telah dilewati bersama orang-orang yang pernah membersamainya. “Wah, menarik sekali kisah-kisahnya. Dicatat dengan rapi, tanggal serta hari kejadiannya pun tidak luput dicatat juga. Sepertinya boleh saya coba hal baik ini.”

Saya menutup catatan harian tersebut. Saya mulai memikirkan, apa yang harus saya lakukan. Mengingat kejadian-kejadian masa kecil. Mengumpulkan kembali kepingan-kepingan memori yang tercecer itu. Satu per satu terkumpulkan. Bahan ceritanya ada, tetapi apakah saya memulai saja dulu tanpa memikirkan hal-hal yang paling teoretis dalam menulis? Jika saya mempelajari teorinya, maka saya akan membuang-buang waktu untuk mencari tahu dan mendalaminya lagi. Bagaimana kalau menulis dan sambil belajar? Saya memilih yang kedua. Menulis saja dulu sambil belajar.

Tapi kembali saya ingat, saya hampir tidak punya kebiasaan membaca yang baik. Bagaimana saya bisa menulis jika bank kata tidak memadai serta tidak diupdate? Lagi-lagi selalu ada pertanyaan yang bercokol di kepala. Ada sebuah toko buku di kota ini, saya akan ke sana di akhir pekan. Membawa rupiah secukupnya saja, berharap sedang dalam masa cuci gudang untuk mendapatkan buku-buku dengan harga terjangkau. Ya, hitung-hitung sambil memperbaiki gizi di kepala. Murah bukunya tetapi tidak dengan isi bukunya.

Saya membeli novel Zahir karya dari Paulo Coelho dan beberapa buku pengembangan diri lainnya. Selain novel Zahir, buku-buku yang lain saya beli dengan harga sangat ramah kantong, yang diobral di teras toko buku tersebut. Judul-judul buku yang lain tidak saya ingat sama sekali, karena lebih banyak dipinjam oleh teman-teman sampai tidak pernah dikembalikan.

Karena Zahir yang masih ada, saya pun mulai membaca dari halaman ke halaman. Saya sempat berhenti di halaman-halaman awal. Bagi saya, novel ini terlalu berat untuk saya yang baru mulai bangun kebiasaan membaca ini. Keluhan itu karena saya dihadapkan oleh sebuah pertanyaan yang ada di halaman-halaman awal yakni, tapi apakah sebenarnya kebebasan? Sungguh berat pertanyaan ini. Saya berhenti di sana. Sebab, ini bukan kebiasaan yang saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Ya, boleh jujur, bukan karena tidak membangun kebiasaan ini lebih awal atau tidak punya minat dalam membaca, jelas bahwa ketersediaan fasilitas atau literatur selain buku pelajaran di sekolah dasar dan menengah atas yang tidak ada, maka membaca buku literatur selain buku mata pelajaran, itu tidak ada di kalangan kami dengan orang tua petani, yang tidak punya akses untuk membeli sejenis majalah begitu seperti yang saya dengar dari cerita teman-teman yang sering membaca majalah anak ketika seusia saya masih sekolah dasar dan menengah dulu. Tapi, Zahir tetap juga saya selesaikan berdasarkan dorongan penasaran akan kisah-kisah selanjutnya.

Di momen ini saya pun teringat akan ungkapan dari Daisaku Ikeda yang bunyinya seperti ini, “Yang penting bukanlah bagaimana kalian jika dibandingkan dengan orang lain, tetapi bagaimana kalian jika dibandingkan dengan diri kalian kemarin. Jika kalian melihat bahwa kalian sudah maju meski hanya satu langkah, maka kalian sudah meraih satu kemenangan.” Saya menemukan ungkapan ini di sebuah buku yang berjudul, Untuk Pemimpin Masa Depan, Discussion on Youth.

Saya melihat diri saya yang kemarin, jika saya tidak mengambil jalan ini, maka saya tidak akan pernah berhasil menulis dan menerbitkan 4 buku puisi dan satu buah buku bergenre senandika. Saya tidak akan melihat diri saya yang rutin menulis setiap hari di akhir-akhir ini. Kebiasaan yang sudah saya putuskan untuk dimulai sejak tahun 2014 itu, mengalami pasang surut yang begitu berarti. Saya memaklumi hal tersebut karena saya tidak berada di sebuah lingkungan yang mendukung pilihan saya. Selain lingkungan, apakah saya mampu menghidupi diri saya dan keluarga melalui menulis di tengah keterbatasan akses ke tingkat yang lebih tinggi selain bergerak secara mandiri. Ya, sekali lagi, saya pun ingin mencoba dan terus mencoba.

Ketika saya melakukan perbandingan dengan orang lain, yang saya lihat adalah, dia bisa, lalu kenapa saya tidak? Saya melihatnya melalui kaca mata positif. Saya merasa iri jika orang bisa dan saya tidak. Saya menarik kesimpulan sementara, bahwa titik di mana dia berada sekarang adalah setelah dia memulai langkah awal yang penuh tantangan. Langkah pertama menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam sebuah usaha atau mewujudkan impian. Keberhasilannya sekarang adalah sekian banyak kegagalan yang pernah dialami sebelumnya.

Saya tidak hanya rutin menulis. Saya mulai bangun kebiasaan membaca buku. Membaca sebuah buku yang paling saya sukai, buku yang menunjang ide-ide dalam menulis, yang bisa dijadikan referensi dan buku-buku yang relevan dengan kenyataan di sekitar.

Oleh karena langkah awal yang sudah saya mulai, saya tidak lagi terlalu memikirkan untuk menjadi sukses dalam menulis untuk diri sendiri. Hal-hal baik yang sudah saya mulai wajib hukumnya saya berbagi kepada orang-orang yang punya minat tetapi keterbatasan akses terkhusus menjangkau lebih banyak bahan bacaan. Beberapa momen telah saya lakukan, membantu mereka dan menuai hasil yang cukup memuaskan. Saya sendiri bangga akan kemajuan ini. Banyak sekali di luar sana orang-orang yang memiliki minat yang sama, yang begitu serius. Saya sangat mendukung keinginan mereka-mereka itu. Besar harapan mereka bisa lebih berhasil dari yang pernah saya alami.

Lalu, apa yang harus saya lakukan ke depan? Apakah saya harus berhenti sekarang di sini? Apakah Anda sudah jauh melangkah dan menyelesaikan sebuah tugas? Jika belum, maka berbenahlah dan terus menjadi virus yang baik bagi orang-orang di sekitar.

Ingat, kita tidak akan pernah berhenti atau dihentikan jika tidak pernah memulai. Hal tersulit di hidup ini, yang saya alami adalah, saya tahu kapan harus memulai. Persis di saat itu saya pun bingung, ingin memulainya dari mana. Persis juga di sini, saya sudahi tulisan ini. Kita bisa bertemu lagi di kesempatan yang lebih aduhai dengan ide-ide segar berikutnya.

Selamat membaca, semoga segala hal dimudahkan. Terima kasih.

Pondok Baca Mataleza, 2026

 

 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Maria Makdalena
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Doa Di ujung harap aku berdoa, sembari mengatup penuh khusyuk. Bait demi bait mulai melantun. Seirama deru angin di siang itu. Di perhentian itu aku terdiam, riuhnya alam bergejolak mengiyakan seluruh ucapan yang terhenti di langit. Dalam lantunan doa yang dilafas, di seberang sana ada wanita janda sedang menangis. Ratapan demi ratapan mulai terdengar, adakah […]

  • Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    Puisi-puisi Marianus Lako: Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan, Gagasan Kesepian dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Marianus Lako
    • visibility 163
    • 2Komentar

    Perjalanan Menuju Rindu dan Kenangan Perjalanan menuju Rindu dan Kenangan Apa itu sebuah kerinduan? Kalau tentang sakit dan pedih yang menyala paling berkaca-kaca tuk menyumbang luka? Apa itu kerelaan? Kalau tentang melepas tapi masih melekat Kalau tentang ikhlas tapi di dada memberat Kalau tentang mengenang tapi selalu merengkuh ketenangan Meo 2026 Gagasan Kesepian Apa pernah […]

  • Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang  Terancam 

    Sudut Pandang: PESTA BABI – YASINTA MOIWEND dan Dark Psychology Para Babi yang Terancam 

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Humberto Verbita
    • visibility 230
    • 0Komentar

    Oleh: Humberto Verbita Diskursus Film Dokumenter PESTA BABI bukan lagi sekedar tayangan tetapi menjadi sebuah movement, suatu gerakan mulai dari para akademisi, talk show saluran TV nasional, lahan edukasi-promosi-monetisasi dari para pegiat sosial media bahkan sampai level masyarakat akar rumput (grass root). Namun semua gerakan massive ini mendadak terguncang dengan video viral yang berisikan kesaksian […]

  • Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    Oposisi Biner Yang Membunuh Logika: Dekonstruksi Narasi ‘Desa vs Dolar’ Dalam Komunikasi Krisis Pemerintah Prabowo

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Emanuel Boli Manuk
    • visibility 265
    • 0Komentar

    Oleh: Emanuel Boli Manuk, Mahasiswa Filsafat di IFTK Ledalero Pendahuluan: Latar belakang krisis 1998 sebagai cermin masa kini Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Sejarah ekonomi Indonesia menyimpan catatan kelam yang selalu menghantui setiap kali nilai tukar Rupiah mengalami guncangan: Krisis Moneter 1998. Pada masa itu, ketidakstabilan ekonomi yang dipicu oleh pelarian modal […]

  • Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    Mahar Waktu: Epik Cinta di Sumur Haran

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 185
    • 2Komentar

    Oleh: Marselus Natar (Rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis novel berjudul: Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah, dan antologi cerpen berjudul: Usaha Membunuh Tuhan) Setiap cinta selalu punya cerita tentang bagaimana ia dimulai. Ada yang tumbuh dari pertemuan sederhana, dari percakapan singkat, dari perhatian kecil yang perlahan berubah menjadi rasa yang sulit […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Panggung Kecil yang Menumbuhkan Mimpi Besar photo_camera 1

    Kotagoa Diamond Competition: Panggung Kecil yang Menumbuhkan Mimpi Besar

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Pada 15–16 Mei 2026, suasana di lingkungan SMPSK Kotagoa Boawae terasa berbeda. Panggung pentas dan halaman tengah sekolah yang biasanya dipenuhi tepuk tangan untuk merayakan prestasi peserta didik, kali ini berubah menjadi ruang kompetisi yang hidup dan penuh semangat. Anak-anak dari berbagai Sekolah Dasar hadir membawa keberanian, bakat, dan harapan mereka. Dalam rangka menyongsong pesta […]

expand_less