Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mengapa Menyerahnya Sekarang (?)

  • account_circle Fian N
  • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
  • visibility 271
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Martha Grimes pernah berkata, β€œkita tidak tahu siapa diri kita sampai kita melihat apa yang bisa kita lakukan.” Pertama kali membaca kutipan tersebut di sebuah buku yang berjudul Life Lessons yang ditulis oleh para pengarang Chicken Soup For The Soul, ada sesuatu yang mendorong saya untuk segera mengambil tindakan. Tindakan yang dimaksudkan di sini adalah yang pernah saya putuskan dulu dan yang akan saya lakukan di hari-hari yang akan datang.

Sejenak saya ditarik mundur jauh ke belakang. Kembali memanggil kenangan-kenangan atau momen-momen yang pernah terjadi berdasarkan keputusan, mulai saja. Yang paling awal tiba dan mengesan serta tetap tinggal sampai sekarang adalah menulis. Bukan mungkin tetapi ini sudah terjadi. Sudah banyak kali saya mengungkapkan tentang fakta ini. Di tahun 2014, saya memilih untuk belajar menulis. Perjalanan untuk memulainya adalah ketika menemukan sebuah catatan harian dari senior yang tergelatak di atas meja belajar di ruang belajar bersama.

Saya memastikan tidak ada siapa pun yang melihat saya ketika sedang membuka lembar-lembar catatan harian dari senior. Tidak ada yang benar-benar saya ingat tentang isi catatan harian tersebut. Secara garis besar yang saya temukan adalah catatan harian tentang hal-hal yang telah dilewati bersama orang-orang yang pernah membersamainya. β€œWah, menarik sekali kisah-kisahnya. Dicatat dengan rapi, tanggal serta hari kejadiannya pun tidak luput dicatat juga. Sepertinya boleh saya coba hal baik ini.”

Saya menutup catatan harian tersebut. Saya mulai memikirkan, apa yang harus saya lakukan. Mengingat kejadian-kejadian masa kecil. Mengumpulkan kembali kepingan-kepingan memori yang tercecer itu. Satu per satu terkumpulkan. Bahan ceritanya ada, tetapi apakah saya memulai saja dulu tanpa memikirkan hal-hal yang paling teoretis dalam menulis? Jika saya mempelajari teorinya, maka saya akan membuang-buang waktu untuk mencari tahu dan mendalaminya lagi. Bagaimana kalau menulis dan sambil belajar? Saya memilih yang kedua. Menulis saja dulu sambil belajar.

Tapi kembali saya ingat, saya hampir tidak punya kebiasaan membaca yang baik. Bagaimana saya bisa menulis jika bank kata tidak memadai serta tidak diupdate? Lagi-lagi selalu ada pertanyaan yang bercokol di kepala. Ada sebuah toko buku di kota ini, saya akan ke sana di akhir pekan. Membawa rupiah secukupnya saja, berharap sedang dalam masa cuci gudang untuk mendapatkan buku-buku dengan harga terjangkau. Ya, hitung-hitung sambil memperbaiki gizi di kepala. Murah bukunya tetapi tidak dengan isi bukunya.

Saya membeli novel Zahir karya dari Paulo Coelho dan beberapa buku pengembangan diri lainnya. Selain novel Zahir, buku-buku yang lain saya beli dengan harga sangat ramah kantong, yang diobral di teras toko buku tersebut. Judul-judul buku yang lain tidak saya ingat sama sekali, karena lebih banyak dipinjam oleh teman-teman sampai tidak pernah dikembalikan.

Karena Zahir yang masih ada, saya pun mulai membaca dari halaman ke halaman. Saya sempat berhenti di halaman-halaman awal. Bagi saya, novel ini terlalu berat untuk saya yang baru mulai bangun kebiasaan membaca ini. Keluhan itu karena saya dihadapkan oleh sebuah pertanyaan yang ada di halaman-halaman awal yakni, tapi apakah sebenarnya kebebasan? Sungguh berat pertanyaan ini. Saya berhenti di sana. Sebab, ini bukan kebiasaan yang saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Ya, boleh jujur, bukan karena tidak membangun kebiasaan ini lebih awal atau tidak punya minat dalam membaca, jelas bahwa ketersediaan fasilitas atau literatur selain buku pelajaran di sekolah dasar dan menengah atas yang tidak ada, maka membaca buku literatur selain buku mata pelajaran, itu tidak ada di kalangan kami dengan orang tua petani, yang tidak punya akses untuk membeli sejenis majalah begitu seperti yang saya dengar dari cerita teman-teman yang sering membaca majalah anak ketika seusia saya masih sekolah dasar dan menengah dulu. Tapi, Zahir tetap juga saya selesaikan berdasarkan dorongan penasaran akan kisah-kisah selanjutnya.

Di momen ini saya pun teringat akan ungkapan dari Daisaku Ikeda yang bunyinya seperti ini, β€œYang penting bukanlah bagaimana kalian jika dibandingkan dengan orang lain, tetapi bagaimana kalian jika dibandingkan dengan diri kalian kemarin. Jika kalian melihat bahwa kalian sudah maju meski hanya satu langkah, maka kalian sudah meraih satu kemenangan.” Saya menemukan ungkapan ini di sebuah buku yang berjudul, Untuk Pemimpin Masa Depan, Discussion on Youth.

Saya melihat diri saya yang kemarin, jika saya tidak mengambil jalan ini, maka saya tidak akan pernah berhasil menulis dan menerbitkan 4 buku puisi dan satu buah buku bergenre senandika. Saya tidak akan melihat diri saya yang rutin menulis setiap hari di akhir-akhir ini. Kebiasaan yang sudah saya putuskan untuk dimulai sejak tahun 2014 itu, mengalami pasang surut yang begitu berarti. Saya memaklumi hal tersebut karena saya tidak berada di sebuah lingkungan yang mendukung pilihan saya. Selain lingkungan, apakah saya mampu menghidupi diri saya dan keluarga melalui menulis di tengah keterbatasan akses ke tingkat yang lebih tinggi selain bergerak secara mandiri. Ya, sekali lagi, saya pun ingin mencoba dan terus mencoba.

Ketika saya melakukan perbandingan dengan orang lain, yang saya lihat adalah, dia bisa, lalu kenapa saya tidak? Saya melihatnya melalui kaca mata positif. Saya merasa iri jika orang bisa dan saya tidak. Saya menarik kesimpulan sementara, bahwa titik di mana dia berada sekarang adalah setelah dia memulai langkah awal yang penuh tantangan. Langkah pertama menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam sebuah usaha atau mewujudkan impian. Keberhasilannya sekarang adalah sekian banyak kegagalan yang pernah dialami sebelumnya.

Saya tidak hanya rutin menulis. Saya mulai bangun kebiasaan membaca buku. Membaca sebuah buku yang paling saya sukai, buku yang menunjang ide-ide dalam menulis, yang bisa dijadikan referensi dan buku-buku yang relevan dengan kenyataan di sekitar.

Oleh karena langkah awal yang sudah saya mulai, saya tidak lagi terlalu memikirkan untuk menjadi sukses dalam menulis untuk diri sendiri. Hal-hal baik yang sudah saya mulai wajib hukumnya saya berbagi kepada orang-orang yang punya minat tetapi keterbatasan akses terkhusus menjangkau lebih banyak bahan bacaan. Beberapa momen telah saya lakukan, membantu mereka dan menuai hasil yang cukup memuaskan. Saya sendiri bangga akan kemajuan ini. Banyak sekali di luar sana orang-orang yang memiliki minat yang sama, yang begitu serius. Saya sangat mendukung keinginan mereka-mereka itu. Besar harapan mereka bisa lebih berhasil dari yang pernah saya alami.

Lalu, apa yang harus saya lakukan ke depan? Apakah saya harus berhenti sekarang di sini? Apakah Anda sudah jauh melangkah dan menyelesaikan sebuah tugas? Jika belum, maka berbenahlah dan terus menjadi virus yang baik bagi orang-orang di sekitar.

Ingat, kita tidak akan pernah berhenti atau dihentikan jika tidak pernah memulai. Hal tersulit di hidup ini, yang saya alami adalah, saya tahu kapan harus memulai. Persis di saat itu saya pun bingung, ingin memulainya dari mana. Persis juga di sini, saya sudahi tulisan ini. Kita bisa bertemu lagi di kesempatan yang lebih aduhai dengan ide-ide segar berikutnya.

Selamat membaca, semoga segala hal dimudahkan. Terima kasih.

Pondok Baca Mataleza, 2026

Β 

Β 

  • Penulis: Fian N
  • Editor: Gregorius Nggadung

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 369
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

  • Ilustrasi

    Jejak Sunyi yang Tak Pernah Pergi

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 734
    • 6Komentar

    Ada orang-orang yang hidupnya tidak banyak diceritakan, tetapi diam-diam membentuk dunia kecil di sekitar mereka dengan cara yang begitu berarti. Mereka tidak dikenal luas, tidak pula menonjolkan diri, tetapi kehadirannya menjadi akar, menguatkan, menopang, dan memberi kehidupan. Bapak Marianus Meze Ito, yang akrab disapa Marianus Rena, adalah salah satu dari mereka. Ia lahir pada 10 […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 227
    • 1Komentar

    Lara Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan. Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja. Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan […]

  • Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Katarina Sindona Tanis
    • visibility 52
    • 2Komentar

    Oleh: Katarina Sindona Tanis Program Studi: Keperawatan Menurut saya kesehatan mental itu bukanlah suatu kemewahan, tetapi kesehatan mental adalah fondasi dari segala aspek kehidupan, termasuk belajar, berteman, bahkan untuk bertahan hidup. Bagi remaja kesehatan mental yang baik itu bukan berarti “tidak sakit jiwa” tetapi mampu mengelola emosi, membangun hubungan yang lebih sehat, dan menghadapi stres. […]

  • Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh

    Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 171
    • 7Komentar

    Hallo, teman-teman pembaca setia mataleza.com Senang kita bisa bertemu lagi di sini, di #Ruangrasa yang sudah cukup lama saya tidak bagikan. Saya yakin, di luar sana ada penantian penuh penasaran. Dan saya perlu meminta maaf jika tidak sering update secara berkala. Ya, maklum, bapak satu anak ini kadang sering menyibukkan diri dengan hal-hal remeh, misalnya […]

  • Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Maxi L. Sawung
    • visibility 260
    • 0Komentar

    Redup Aku akhirnya memilih agar tu(h)an ataupun siapa saja tidak merenggut luka milikku. Beberapa tangan datang mengetuk, beberapa tangan mencoba memeluk tapi tetap aku tutup pintu makam batu itu. Kau pernah sekali atau bahkan berkali-kali dengan buru-buru berlari agar lekas sampai ketika datang melayat lukaku. Sekadar menanyakan perihal masa penyembuhan atau bagaimana dengan bekas luka-luka […]

expand_less