Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar

  • account_circle Katharina Tasik Busa
  • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
  • visibility 113
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Aku tidak ingat bagaimana rasanya tumbuh dalam pelukan ayah dan ibu setiap hari.

Sejak kecil, aku dibesarkan oleh opa dan oma dari pihak ayah. Dari merekalah aku mengenal arti rumah, kasih sayang, dan perjuangan. Mereka memberiku makan, menyekolahkanku, dan berusaha memenuhi kebutuhanku. Untuk semua itu, aku sungguh bersyukur.

Namun, di balik rasa syukur itu, ada ruang kosong yang terus tumbuh bersamaku. Ruang yang tidak pernah berhasil diisi oleh apa pun. Ruang itu bernama kesempatan untuk didengar.

Sejak kecil aku terbiasa mendengar orang-orang dewasa berbicara tentang hidupku, tentang keluargaku, bahkan tentang ibuku. Anehnya, hampir semua cerita yang kudengar selalu bernada buruk. Nama ibuku seolah hanya hadir sebagai alasan untuk menyalahkan, menghakimi, atau mengingat luka-luka lama.

Aku mendengarkan semuanya dalam diam.

Bukan karena aku percaya begitu saja, tetapi karena aku tidak pernah diberi kesempatan untuk bertanya.

Aku ingin berkata bahwa setiap cerita pasti memiliki lebih dari satu sisi. Aku ingin percaya bahwa tidak ada manusia yang hanya berisi kesalahan. Aku ingin mengenal ibuku melalui hatiku sendiri, bukan semata-mata dari penilaian orang lain.

Tetapi setiap kali aku mencoba membuka mulut, kalimat yang sama selalu lebih dulu datang.

“Diam… Anak kecil tidak tahu apa-apa.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagiku, ia seperti pintu yang terus ditutup sebelum aku sempat masuk.

Lama-kelamaan aku belajar memendam semuanya. Aku menyimpan pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Aku menelan air mata yang tidak pernah sempat menjadi kata-kata. Aku memilih diam, bukan karena tidak memiliki pendapat, tetapi karena aku sadar suaraku dianggap tidak penting.

Yang paling menyakitkan sebenarnya bukan ketika orang-orang berbicara buruk tentang ibuku.

Yang paling menyakitkan adalah ketika tidak seorang pun bertanya bagaimana perasaanku sebagai anak yang mendengar semua itu.

Seolah-olah menjadi anak berarti tidak memiliki hak untuk merasa terluka.

Padahal setiap kata yang diucapkan orang dewasa jatuh tepat di hati seorang anak yang masih belajar memahami dunia.

Aku tidak pernah ingin melawan siapa pun. Aku hanya ingin didengar. Aku tidak pernah meminta dilahirkan dalam keluarga yang penuh luka. Aku juga tidak pernah memilih untuk tumbuh jauh dari kedua orang tuaku. Semua itu terjadi sebelum aku cukup besar untuk memahami apa arti kehilangan.

Namun anehnya, akulah yang sering diminta menerima semuanya tanpa bertanya. Orang-orang dewasa berharap anak mampu memahami keadaan mereka. Mereka berharap anak mengerti alasan di balik setiap keputusan. Tetapi mengapa mereka begitu jarang berusaha memahami apa yang dirasakan seorang anak?

Aku diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua. Dan aku percaya itu. Tetapi bukankah menghormati juga berarti menjaga hati yang lebih muda? Bukankah menjadi dewasa berarti mampu memilih kata-kata yang tidak meninggalkan luka di hati seorang anak?

Aku tidak pernah ingin menjadi hakim bagi keluargaku. Aku tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Itu bukan tugasku.

Yang kutahu hanyalah aku mencintai keluargaku. Aku mencintai opa dan oma yang telah membesarkanku. Aku juga mencintai ayah dan ibuku dengan caraku sendiri. Aku tidak ingin dipaksa memilih siapa yang harus kucintai atau siapa yang harus kubenci. Karena cinta seorang anak tidak pernah berkesudahan kepada semua pihak.

Kini aku mulai mengerti bahwa luka tidak selalu meninggalkan darah. Ada luka yang tumbuh perlahan setiap kali suara seorang anak dipatahkan sebelum sempat didengarkan.

Ada luka yang terus hidup ketika seorang anak dipaksa memikul konflik orang dewasa yang bukan diciptakannya.

Aku berharap, suatu hari nanti, lebih banyak orang dewasa berhenti hanya berbicara tentang anak, lalu mulai benar-benar mendengarkan anak. Sebab seorang anak bukan sekadar pendengar dalam kisah orang dewasa.

Ia juga memiliki kisahnya sendiri. Ia memiliki air mata yang sering tidak terlihat. Ia memiliki perasaan yang sama berharganya. Dan ia memiliki suara yang pantas didengar. Mungkin suaraku tidak lantang. Mungkin kisahku tidak akan mengubah masa lalu.

Tetapi aku percaya, setiap keberanian seorang anak untuk bersuara adalah langkah kecil menuju dunia yang lebih ramah bagi mereka. Karena seorang anak tidak membutuhkan jawaban untuk semua pertanyaannya. Sering kali, yang ia butuhkan hanyalah satu orang yang mau berhenti sejenak, menatap matanya, lalu berkata,

 

“Aku mendengarmu.”

 

Oleh: Katharina Tasik Busa

Tutor Sebaya Plan Indonesia PIA Nagekeo. Siswa SMA NEGERI Dua Boawae.ย 

 

  • Penulis: Katharina Tasik Busa
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: ๐—”๐—ž๐—จ ๐—•๐—˜๐—•๐—ข

    Sudut Pandang: ๐—”๐—ž๐—จ ๐—•๐—˜๐—•๐—ข

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 42
    • 0Komentar

    1/ Hari Rabu. Detukeli berkabut dan dingin. Angin bergerak lambat. Jarum jam dinding di ruang makan bergerak menuju pukul 07.30 pagi. Saya sedang meneguk segelas susu di ruang makan ketika pintu depan diketuk dan disusul teriakan ‘selamat pagi.’ Dari dalam ruangan itu, saya membalas ‘halo’, lalu melangkah mendekati pintu. “๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜›๐˜ถ๐˜ข (Pater), selamat pagi.” Mama […]

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 381
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

  • Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Singkirkan dulu euforia kemenangan 2-0 Prancis atas Maroko di laga Piala Dunia dini hari tadi. Ada rangkaian peristiwa penting lain yang lebih menyita perhatian masyarakat, yaitu penggeledahan yang dilakukan Polri ke sejumlah tempat, pernyataan Kejaksaan Agung, dan penjelasan TNI. Peristiwa tersebut, meski penting dan menjadi perhatian publik, sebaiknya dibaca dengan hati-hati. Ini bukan […]

  • Ibu di Kota

    Ibu di Kota

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 273
    • 0Komentar

    Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang? Sebelum […]

  • Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 507
    • 6Komentar

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus Inspirasi: Kis 6:1-7; I Ptr 2:4-9 ; Yohanes 14:1-12 Malu bertanya sesat di jalan, Rajin bertanya disangka wartawan // Selamat wahai umat beriman. Mari beri senyuman yang menawan. Sakramen Pembaptisan sudah buat kita sejalan dan searah dengan Tuhan. Tor monitor penikmat […]

expand_less