Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar

  • account_circle Katharina Tasik Busa
  • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
  • visibility 148
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Aku tidak ingat bagaimana rasanya tumbuh dalam pelukan ayah dan ibu setiap hari.

Sejak kecil, aku dibesarkan oleh opa dan oma dari pihak ayah. Dari merekalah aku mengenal arti rumah, kasih sayang, dan perjuangan. Mereka memberiku makan, menyekolahkanku, dan berusaha memenuhi kebutuhanku. Untuk semua itu, aku sungguh bersyukur.

Namun, di balik rasa syukur itu, ada ruang kosong yang terus tumbuh bersamaku. Ruang yang tidak pernah berhasil diisi oleh apa pun. Ruang itu bernama kesempatan untuk didengar.

Sejak kecil aku terbiasa mendengar orang-orang dewasa berbicara tentang hidupku, tentang keluargaku, bahkan tentang ibuku. Anehnya, hampir semua cerita yang kudengar selalu bernada buruk. Nama ibuku seolah hanya hadir sebagai alasan untuk menyalahkan, menghakimi, atau mengingat luka-luka lama.

Aku mendengarkan semuanya dalam diam.

Bukan karena aku percaya begitu saja, tetapi karena aku tidak pernah diberi kesempatan untuk bertanya.

Aku ingin berkata bahwa setiap cerita pasti memiliki lebih dari satu sisi. Aku ingin percaya bahwa tidak ada manusia yang hanya berisi kesalahan. Aku ingin mengenal ibuku melalui hatiku sendiri, bukan semata-mata dari penilaian orang lain.

Tetapi setiap kali aku mencoba membuka mulut, kalimat yang sama selalu lebih dulu datang.

“Diam… Anak kecil tidak tahu apa-apa.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagiku, ia seperti pintu yang terus ditutup sebelum aku sempat masuk.

Lama-kelamaan aku belajar memendam semuanya. Aku menyimpan pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Aku menelan air mata yang tidak pernah sempat menjadi kata-kata. Aku memilih diam, bukan karena tidak memiliki pendapat, tetapi karena aku sadar suaraku dianggap tidak penting.

Yang paling menyakitkan sebenarnya bukan ketika orang-orang berbicara buruk tentang ibuku.

Yang paling menyakitkan adalah ketika tidak seorang pun bertanya bagaimana perasaanku sebagai anak yang mendengar semua itu.

Seolah-olah menjadi anak berarti tidak memiliki hak untuk merasa terluka.

Padahal setiap kata yang diucapkan orang dewasa jatuh tepat di hati seorang anak yang masih belajar memahami dunia.

Aku tidak pernah ingin melawan siapa pun. Aku hanya ingin didengar. Aku tidak pernah meminta dilahirkan dalam keluarga yang penuh luka. Aku juga tidak pernah memilih untuk tumbuh jauh dari kedua orang tuaku. Semua itu terjadi sebelum aku cukup besar untuk memahami apa arti kehilangan.

Namun anehnya, akulah yang sering diminta menerima semuanya tanpa bertanya. Orang-orang dewasa berharap anak mampu memahami keadaan mereka. Mereka berharap anak mengerti alasan di balik setiap keputusan. Tetapi mengapa mereka begitu jarang berusaha memahami apa yang dirasakan seorang anak?

Aku diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua. Dan aku percaya itu. Tetapi bukankah menghormati juga berarti menjaga hati yang lebih muda? Bukankah menjadi dewasa berarti mampu memilih kata-kata yang tidak meninggalkan luka di hati seorang anak?

Aku tidak pernah ingin menjadi hakim bagi keluargaku. Aku tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Itu bukan tugasku.

Yang kutahu hanyalah aku mencintai keluargaku. Aku mencintai opa dan oma yang telah membesarkanku. Aku juga mencintai ayah dan ibuku dengan caraku sendiri. Aku tidak ingin dipaksa memilih siapa yang harus kucintai atau siapa yang harus kubenci. Karena cinta seorang anak tidak pernah berkesudahan kepada semua pihak.

Kini aku mulai mengerti bahwa luka tidak selalu meninggalkan darah. Ada luka yang tumbuh perlahan setiap kali suara seorang anak dipatahkan sebelum sempat didengarkan.

Ada luka yang terus hidup ketika seorang anak dipaksa memikul konflik orang dewasa yang bukan diciptakannya.

Aku berharap, suatu hari nanti, lebih banyak orang dewasa berhenti hanya berbicara tentang anak, lalu mulai benar-benar mendengarkan anak. Sebab seorang anak bukan sekadar pendengar dalam kisah orang dewasa.

Ia juga memiliki kisahnya sendiri. Ia memiliki air mata yang sering tidak terlihat. Ia memiliki perasaan yang sama berharganya. Dan ia memiliki suara yang pantas didengar. Mungkin suaraku tidak lantang. Mungkin kisahku tidak akan mengubah masa lalu.

Tetapi aku percaya, setiap keberanian seorang anak untuk bersuara adalah langkah kecil menuju dunia yang lebih ramah bagi mereka. Karena seorang anak tidak membutuhkan jawaban untuk semua pertanyaannya. Sering kali, yang ia butuhkan hanyalah satu orang yang mau berhenti sejenak, menatap matanya, lalu berkata,

 

“Aku mendengarmu.”

 

Oleh: Katharina Tasik Busa

Tutor Sebaya Plan Indonesia PIA Nagekeo. Siswa SMA NEGERI Dua Boawae. 

 

  • Penulis: Katharina Tasik Busa
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Pater Marsel Koka, RCJ
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Marsel Koka, RCJ (Pastor dari Konggregasi Rogasionis Hati Yesus Maumere) Di sela-sela masa akhir liburan, saya berkesempatan mengunjungi kembali sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil selama enam tahun: SDN Riominsi, yang dahulu kami kenal sebagai SDK Terong Kedong. Sekolah kecil ini berada di Kampung Latung, Desa Benteng Tawa V, Kecamatan […]

  • Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    Sudut Pandang: Ketika Tanah Sumba Menunggu Nale: Kisah Pasola dan Janji Leluhur

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Ermelinda Evelyn Ndelo
    • visibility 77
    • 8Komentar

    Sebuah cerita tentang tradisi, masyarakat, dan janji para leluhur Kalau mendengar tentang kata Sumba, hal yang mungkin langsung terbayangkan adalah tentang sebuah pulau yang berisi padang rumbut, rumah adat, kuda, dan berbagai tradisi yang masih dijaga oleh masyarat setempat hingga saat ini. Sumba memang memiliki banyak sekali kebudayaan yang nenarik, dan salah satunya adalah Pasola. […]

  • Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    Di Rumah Tuhan, Rindu yang Kupelajari dari Rumah dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Filemon Pandu Wimastha
    • visibility 374
    • 0Komentar

    Di Rumah Tuhan Hujan pun turun, lalu aku berteduh di rumah-Nya. Kutatap langit, reda, lalu kupamit pulang. Namun hujan kembali mengguyur, seolah Dia hendak  berkata: ”Jangan pulang dulu, Aku masih rindu.” Aku singgah di perhentian terakhir,  dan di sana pun, Dia menyambut. Dengan lembut, tanpa suara, tapi hangat seperti peluk yang tak terlihat. Mungkin memang […]

  • Sudut Pandang: 𝗔𝗞𝗨 𝗕𝗘𝗕𝗢

    Sudut Pandang: 𝗔𝗞𝗨 𝗕𝗘𝗕𝗢

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Selo Lamatapo
    • visibility 217
    • 0Komentar

    1/ Hari Rabu. Detukeli berkabut dan dingin. Angin bergerak lambat. Jarum jam dinding di ruang makan bergerak menuju pukul 07.30 pagi. Saya sedang meneguk segelas susu di ruang makan ketika pintu depan diketuk dan disusul teriakan ‘selamat pagi.’ Dari dalam ruangan itu, saya membalas ‘halo’, lalu melangkah mendekati pintu. “𝘌𝘮𝘢 𝘛𝘶𝘢 (Pater), selamat pagi.” Mama […]

  • Duka Pernikahan  dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Sella Suhardi
    • visibility 329
    • 5Komentar

    Duka Pernikahan (I) Aku pernah, pernah sekali mencintaimu Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar   Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap […]

  • PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    PESTA INTAN, PORSENI, dan KERJA yang TAK SELALU TERLIHAT

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Pesta Intan 75 Tahun SMPSK Kotagoa Boawae. 1 Agustus 1951 – 1 Agustus 2026 Ada peristiwa yang datang setiap tahun. Ada pula peristiwa yang hanya sekali diberi kesempatan untuk dirayakan dalam perjalanan sebuah lembaga. Pesta Intan 75 tahun SMPSK Kotagoa Boawae adalah salah satunya. Ia bukan sekadar sebuah tanggal yang dicetak dalam kalender. Ia adalah […]

expand_less