Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh
- account_circle Fian N
- calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
- visibility 155
- comment 7 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hallo, teman-teman pembaca setia mataleza.com
Senang kita bisa bertemu lagi di sini, di #Ruangrasa yang sudah cukup lama saya tidak bagikan. Saya yakin, di luar sana ada penantian penuh penasaran. Dan saya perlu meminta maaf jika tidak sering update secara berkala. Ya, maklum, bapak satu anak ini kadang sering menyibukkan diri dengan hal-hal remeh, misalnya mengumpulkan niat membaca agar bisa menulis dengan lebih baik di setiap harinya.
Tapi, sebelum teman-teman lanjut membaca, berikut saya sertakan link berupa bentuk dukungan untuk kegiatan di Komunitas Pondok Baca Mataleza dalam menyambut tahun ajaran baru bagi peserta didik tahun 2026/2027: silakan klik atau tekan pada tulisan di bawah ini.
Selamat membaca, semoga memberikan banyak hal positif untuk teman-teman. Pada kesempatan ini, tema yang diangkat tidak jauh-jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Ia begitu dekat dan ada di dalam setiap hidup kita. Selamat membaca, semoga betah sampai akhir.
***
Ada satu hal yang sering kali kita abaikan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern: kemampuan untuk benar-benar peka terhadap sesama. Kepekaan dan rasa peduli bukan sekadar sifat tambahan yang membuat seseorang terlihat “baik,” melainkan fondasi yang membentuk manusia menjadi lebih utuh. Tanpa itu, kita bisa saja menjadi makhluk yang cerdas, sukses, bahkan berpengaruh, tetapi kosong di dalam. Pertanyaan yang menghantui saya adalah: apa gunanya semua pencapaian jika hati kita hampa, tidak mampu merasakan derita orang lain, atau bahkan menutup mata terhadap realitas yang ada di sekitar kita?
Saya masih ingat satu pengalaman sederhana yang mengubah cara pandang saya tentang kepedulian. Suatu sore, di jalan pulang menuju kontrakan, saya melihat seorang anak kecil duduk di pinggir jalan, berjualan ikan. Tangannya yang mungil memegang ikat ikan segar, matanya sayu tapi tetap berusaha tersenyum kepada setiap orang yang lewat sambil terus menawarkan jualannya. Awalnya, saya hanya berjalan cepat, pura-pura sibuk. Namun, beberapa langkah kemudian, ada sesuatu yang sepertinya sebuah bisikan. “Apakah kau tidak melihatnya? Apakah kau begitu sibuk dengan dirimu hingga melupakan bahwa di depan matamu ada manusia lain yang sedang berjuang?”
Saya pun kembali menghampiri anak itu, membeli satu ikat ikan, dan mengajaknya sedikit berbincang. Namanya Lita, usianya baru sepuluh tahun, dan ia membantu orang tuanya mencari nafkah karena ayahnya sedang sakit (itu dari ceritanya, tapi entah benar atau tidak, ssaya tidak perlu mencari tahu). Dari pertemuan singkat itu, saya menyadari satu hal penting: sering kali kita lupa bahwa di balik wajah asing yang kita temui di jalan, ada kisah panjang yang penuh pergulatan, ada air mata yang tak selalu terlihat, dan ada harapan yang rapuh. Kepekaan tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari keberanian untuk berhenti sejenak, melihat, terlibat dan mendengarkan.
Kepekaan adalah kemampuan membaca tanda-tanda yang sering kali tersembunyi di balik permukaan. Seseorang mungkin berkata, “Aku baik-baik saja,” padahal sorot matanya berteriak meminta pertolongan. Seseorang mungkin tertawa keras, padahal di dalam dirinya ada jurang kesepian yang dalam. Dan seseorang mungkin tampak kuat di hadapan kita, padahal ia nyaris runtuh dalam diam.
Rasa peduli, di sisi lain, adalah keberanian untuk bertindak setelah kita peka. Tanpa peduli, kepekaan hanya akan berakhir sebagai rasa iba sesaat yang tidak mengubah apa pun. Namun dengan peduli, kepekaan menjadi energi yang mengalir: tangan yang terulur, kata yang menenangkan, atau bahkan kehadiran diam yang memberi rasa aman. Inilah yang membuat manusia menjadi utuh, tidak hanya sibuk membangun dirinya sendiri, tetapi juga hadir sebagai cahaya bagi orang lain.
Namun, saya harus jujur: tidak mudah untuk selalu peka dan peduli. Ada banyak momen di mana saya memilih menutup mata. Ego sering berbisik, “Itu bukan urusanmu. Fokus saja pada dirimu sendiri. Kau sudah cukup sibuk dengan masalahmu.” Dan benar, hidup saya pun tidak selalu mudah, ada pekerjaan yang menumpuk, ada target yang mengejar, ada kegelisahan pribadi yang menghantui. Banyak persoalan yang tak pernah terselesaikan.
Di titik inilah konflik batin muncul. Apakah saya harus mengutamakan diri sendiri, ataukah membuka hati untuk orang lain? Saya belajar bahwa menjadi manusia bukan berarti kita harus sempurna menolong semua orang. Tidak! Menjadi manusia berarti berani membuat keputusan yang berimbang: merawat diri sendiri agar tetap utuh, sekaligus membuka ruang untuk peduli. Saya menemukan bahwa justru dalam memberi, hati saya ikut disembuhkan. Peduli tidak menguras energi, tetapi justru mengisinya dengan makna.
Kehidupan modern sering menjerumuskan kita dalam jebakan individualisme. Kita hidup di era di mana orang lebih sibuk memotret makanan daripada berbagi makanan dengan yang lapar. Kita sibuk memotret duka orang ketimbang terlibat dalam berbagi penguatan. Kita terbiasa memamerkan kebaikan di media sosial, tetapi lupa melakukannya dalam keseharian yang nyata. Saya sendiri tidak luput dari dilema ini: apakah kepedulian saya tulus, atau sekadar ingin terlihat baik di mata orang lain?
Pertanyaan ini cukup tajam, menghujam ke dalam diri, tetapi penting. Karena kepedulian sejati tidak selalu butuh sorotan atau jangkauan luas. Ia justru tumbuh dalam keheningan, dalam doa yang dipanjatkan untuk orang lain, dalam perhatian kecil yang tidak pernah diunggah ke mana-mana. Dunia mungkin tidak melihat, tetapi hati kita tahu.
Saya sampai pada kesimpulan sementara bahwa kepekaan dan rasa peduli adalah jalan panjang yang harus ditempuh setiap hari. Tidak ada titik selesai. Kita akan selalu diuji: ketika melihat orang tua kesulitan membawa barang belanjaannya, ketika mendengar kabar teman yang diam-diam sedang berjuang melawan depresi karena kehilangan orang-orang terdekatnya, ketika menemukan tetangga yang hidup serba kekurangan. Apakah kita akan membantu? Ataukah kita akan berlalu begitu saja?
Menjadi manusia yang utuh berarti belajar melihat, mendengar, dan merasakan lebih dalam. Utuh bukan berarti tidak retak, tetapi justru mampu merangkul retakan diri dan orang lain dengan kelembutan. Utuh berarti kita tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi menjadi bagian dari denyut kenyataan yang lebih luas bersama orang-orang di sekitar kita.
Saya percaya, setiap kali kita memilih untuk peka dan peduli, kita sedang mengisi bagian diri kita yang kosong. Kita sedang menulis kisah kemanusiaan yang lebih indah. Kita sedang melangkah, pelan tapi pasti, menuju keutuhan yang sejati.
Akhirnya, hidup akan selalu menawarkan pilihan: menjadi manusia yang sibuk dengan dirinya sendiri, atau menjadi manusia yang utuh dengan membuka hati bagi sesama. Kepekaan dan rasa peduli mungkin tampak sederhana, tetapi justru itulah yang membuat hidup kita bermakna. Saya memilih, meski sering jatuh dan gagal untuk terus belajar peka, untuk terus berani peduli. Karena pada akhirnya, bukan seberapa besar harta atau jabatan yang kita kumpulkan yang akan dikenang, melainkan seberapa dalam hati kita menyentuh hati orang lain.
Pondok Baca Mataleza Olakile, 2026
Alfianus Nggoa (Fian N) selain suka menulis dan membaca juga suka kamu. Sejak tahun 2020 sampai saat ini masih setia menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza Olakile. Menjadi pengajar di SMPSK Kotagoa Boawae.
- Penulis: Fian N
- Editor: Redaksi Mataleza

Benar sekali ade, dunia sekarang harus saling peduli dan lebih peka thd sesama. Seperti sy selalu bilang ke orang rumah ; kalau kepasar untuk belanja, utamakan belanja ke pedagang kecil atau ke orang pribumi/asli setempat. Jgan melulu belanja ke org pendatang, krna dibalik wajah² yg kesulitan menjual barang dagangannya, pasti ada keluarga yang sedang tunggu dirumah, bahkan mungkin sedang tahan lapar atau sakit. Makasih ade, menginspirasi.
13 Juni 2026 8:37 pmDibaca pada 01.59, karena raga sudah lelah bergulat dengan tuntutan rutinitas harian. Tulisan yang inspiratif. Ada ciri refleksi sunyi di tengah dunia yang ribut dengan aneka perjuangan menyambung hidup. Ini “homili” yang menggugah berdasarkan sabda bahagia Yesus pada aspek sosial. Semoga kita jadi lebih peka dan akhirnya, more than words bisa berbelarasa dengan yang sungguh membutuhkannya.❤️
30 Mei 2026 2:09 amBapa guru, Terima kasih sudah berbagi, menambahkan kejernihan rasa melalui komentar ini.
30 Mei 2026 5:16 amKeren2 pak guru .Cerita ini sangat dalam karena mengingatkan bahwa menjadi manusia yang utuh bukan soal terlihat hebat di depan orang lain, tetapi soal masih memiliki hati yang peka dan peduli terhadap sesama. Di tengah kehidupan sekarang yang membuat banyak orang sibuk dengan diri sendiri, tulisan ini seperti mengajak kita kembali sadar bahwa perhatian kecil, mendengar orang lain, dan memahami rasa seseorang adalah bentuk kemanusiaan yang mulai hilang. Cerita ini sederhana, tetapi maknanya kuat karena menyentuh sisi emosional dan membuat pembaca merenungkan kembali bagaimana cara kita memperlakukan orang lain.
29 Mei 2026 9:55 pmKaka Oin, Terima kasih. Mari sama sama saling peduli yang datangnya dari hati. Karena, sesuatu yang berasal dari hati akan sampai juga ke hati. Semoga makin banyak hal baik diperlakukan dengan baik
29 Mei 2026 9:59 pmPoinnya adalah bukan seberapa besar harta yang kita kumpulkan yang akan dikenang, melainkan seberapa dalam hati kita menyentuh hati orang lain.
29 Mei 2026 8:01 pm“Sesuatu yang dari hati akan sampai ke hati.”
Semoga lebih banyak orang punya hati seperti ini.
Mantap p guru, Tulisan yang bagus.
Sesuatu yang datang dari hati tidak akan pernah menyakiti, ia adalah obat. Semoga setiap hati dijamah oleh kasih.
29 Mei 2026 8:42 pm