Breaking News
light_mode
Trending Tags

π—‘π—’π—©π—˜π—Ÿ 𝗠𝗔𝗛𝗔π—₯ π—šπ—”π——π—œπ—‘π—š π—§π—˜π—Ÿπ—”π—› π—§π—˜π—₯π—•π—œπ—§, π—£π—œπ—’π—‘ π—₯π—”π—§π—¨π—Ÿπ—’π—Ÿπ—Ÿπ—¬ π—¨π—¦π—¨π—‘π—š 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 π—•π—˜π—Ÿπ—œπ—¦ π—Ÿπ—”π— π—”π—›π—’π—Ÿπ—’π—§

  • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
  • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Novel Mahar Gading telah resmi dipublikasikan pada Kamis (02/07/2026). Novel ini ditulis oleh Pion Ratulolly yang merupakan nama pena dari Muhammad Soleh Kadir.

Novel ini berisi kisah asmara antara Arakian Sabon Ama dan Mutiara Belaon Bur’an. Kisah asmara keduanya harus berbenturan dengan tuntutan adat berupa mahar gading. Di sinilah pergulatan kisah keduanya mengalami konflik yang bertubi-tubi.

Novel setebal 410 halaman ini tidak hanya berisi kisah romantisme. Tapi juga berisi pengetahuan tentang sistem perkawinan di Lamaholot, khususnya mahar gadis Lamaholot berupa gading. Selain itu, ada juga sejarah kemunculan gading sebagai mahar. Serta, nilai-nilai moral di balik gading sebagai mahar. Ada juga tentang dampak positif dan negatif mahar gading terhadap pasangan suami istri pasca menikah.

Agnetis Da Noa, seorang kolega pendidik, menyebut mahar gading di buku ini bukan sekadar latar. Tapi merupakan masalah utama yang menggerakkan napas cerita. Demikianlah, sebuah isu lokal dikemas dengan begitu apik oleh penulis yang merupakan guru pada SMPN 1 Adonara Timur ini.

Menurut Pion, dalam prakata buku ini, dirinya tidak menulis dari ruang hampa. Benih ceritanya tumbuh sejak 2017. Ia baru merajut naskah ini dari 2023 sampai 2026 ini. Selama tiga tahun berturut-turut ini dirinya menulis pada setiap bulan Ramadhan.

β€œNovel ini adalah sebuah gugatan terhadap rasa kemanusiaan yang perlahan bergeser,” tulis Prof. Simon Sabon Ola dalam prolognya. Guru Besar Undana itu menilai karya ini sukses mengurai kebuntuan cara pandang tentang cinta, adat, dan agama yang kerap dianggap bertolak belakang.

Sementara bagi jurnalis Yurgo Purab, novel ini adalah asupan bergizi yang menarik pembaca dari hiruk-pikuk menuju takzim. Gaya penulisannya pun unik. Kalimatnya pendek-pendek. Bernas. Tidak bertele-tele. Penulis Djafar Doel AH memuji penggunaan metafora yang begitu teliti dan menggugah kesadaran. Pion memang sengaja menyajikan narasi yang lincah agar pembaca bisa meresapi setiap konflik tanpa kehilangan napas.

Di balik kisah cinta tokoh utamanya, Ara dan Muti, terselip pesan transformasi budaya. Ony Tukan dari Simpasio Institute melihat buku ini sebagai ruang diskusi untuk mendaur ulang nilai tradisi agar tetap relevan di zaman modern.
Kini, Mahar Gading telah siap menghuni rak buku Anda. Ia hadir untuk mengingatkan kita semua. Bahwa ketaatan pada adat dan kesalehan agama bisa berjalan beriringan jika ditopang keikhlasan cinta.

β€œNovel ini mengajarkan kepada kita bahwa sehitam apapun masa lalumu, masa depanmu masih terlalu putih,” pungkas penyair Ary Toekan dalam endorsement-nya. Sebuah undangan bagi siapa saja untuk kembali pulang ke akar identitas, lewat sebatang gading yang melegenda.

Bagi Anda yang berminat untuk membaca keseluruhan isi buku ini, silakan memesan melalui bagian promosi. Nomor kontak resminya 0852-3916-3535. Atau, dapat menghubungi langsung penulis melalui Facebook Muhammad Soleh Kadir.

  • Penulis: Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    Kembali ke Tempat Mimpi-mimpi itu Bermula

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Pater Marsel Koka, RCJ
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Oleh: Pater Marsel Koka, RCJ (Pastor dari Konggregasi Rogasionis Hati Yesus Maumere) Di sela-sela masa akhir liburan, saya berkesempatan mengunjungi kembali sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil selama enam tahun: SDN Riominsi, yang dahulu kami kenal sebagai SDK Terong Kedong. Sekolah kecil ini berada di Kampung Latung, Desa Benteng Tawa V, Kecamatan […]

  • PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    PERMEN: Katanya Sama dengan Nyatanya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 205
    • 3Komentar

    Permen edisi SENIN 5 PASKAH – 04 MEI 2026 – Katanya Sama Dengan Nyatanya Inspirasi: Kis 14:5-18 ; Yohanes 14:21-26 Penikmat permen yang berhikmat dalam Kristus. Mari pada hari ini kita mengalamatkan hati dan doa bagi para petugas pemadam kebakaran atas dedikasi mereka. Karena itu, hari ini dunia memberi perhatian khusus bagi mereka dengan merayakan […]

  • Kelulusan Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Menjaga Semangat Belajar

    Kelulusan Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Menjaga Semangat Belajar

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Boawae – Suasana penuh syukur dan kebersamaan mewarnai pengumuman kelulusan peserta didik kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae tahun pelajaran 2025/2026. Dalam sambutannya, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae, Bapak Yoman Kaju, menegaskan bahwa momen kelulusan bukanlah sekadar acara seremonial, melainkan puncak dari perjalanan panjang yang telah ditempuh para siswa selama tiga tahun terakhir. Menurutnya, kehadiran seluruh keluarga […]

  • Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    Ruang Rasa: Apakah Aku Bertahan karena Cinta, atau Hanya karena Takut Memulai Kembali?

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Oleh: FianΒ N “Lama bersama belum tentu berakhir di pelaminan.” Kita mungkin pernah mendengar ungkapan itu diucapkan dalam berbagai kesempatan. Ada yang menyampaikannya sebagai nasihat, ada pula yang mengatakannya dengan nada getir setelah mengalami sendiri pahitnya perpisahan. Karena terlalu sering terdengar, kalimat itu terkadang dianggap sebagai ungkapan biasa. Padahal, bagi sebagian orang, ia lahir dari pengalaman […]

  • DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    DOA, AIR, TANAH dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Maria Makdalena
    • visibility 249
    • 0Komentar

    Doa Di ujung harap aku berdoa, sembari mengatup penuh khusyuk. Bait demi bait mulai melantun. Seirama deru angin di siang itu. Di perhentian itu aku terdiam, riuhnya alam bergejolak mengiyakan seluruh ucapan yang terhenti di langit. Dalam lantunan doa yang dilafas, di seberang sana ada wanita janda sedang menangis. Ratapan demi ratapan mulai terdengar, adakah […]

  • Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun 6:17 Play Button

    Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Jejak yang Tak Sekadar Tiga Tahun

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 287
    • 0Komentar

    Tiga tahun, bagi sebagian orang, mungkin hanya sepotong waktu yang lewat begitu saja dalam arus kehidupan. Namun bagi Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae, tiga tahun adalah kisah panjang yang penuh warna, tentang tawa yang tumbuh di lorong-lorong sekolah, tentang peluh yang jatuh di lapangan, tentang mimpi yang perlahan menemukan bentuknya. Waktu memang berjalan cepat, apalagi […]

expand_less