Breaking News
light_mode
Trending Tags

๐‹๐€๐Œ๐€๐”๐‘๐ˆ, ๐’๐„๐๐”๐€๐‡ ๐๐Ž๐•๐„๐‹ (๐˜พ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™‡๐™š๐™ฅ๐™–๐™จ ๐™ฉ๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™‰๐™ค๐™ซ๐™š๐™ก ๐™†๐™š๐™™๐™ช๐™– ๐™๐™ž๐™ฃ๐™˜๐™š ๐˜ฝ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ค๐™ฃ๐™–)

  • account_circle Selo Lamatapo
  • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
  • visibility 211
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Selasa sampai Jumat yang lalu, saya kunjungi stasi-stasi di pedalaman di paroki kami di Alenquer-Amazon, untuk rayakan misa bersama umat. Pedalaman di sini jauh dari kebisingan, penuh dengan keheningan.

Karena itu, saya gunakan kesempatan ini untuk baca karya kedua Kaka Fince Bataona, ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช, ‘istri’ dari ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ง๐˜ข, karya pertamanya.

“Ada ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ง๐˜ข, maka harus ada ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช supaya arah ๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ bisa dikendalikan, (๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช, 124).”

***

Melalui Wa, saya kirimkan komentar setelah ia sampaikan bahwa ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช sudah terbit. “Akhirnya, ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ง๐˜ข tak ‘melaut’ sendirian. Ada ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช yang kini menemaninya dalam doa, cinta, dan kesetiaan mengarungi lautan luas.”

Selanjutnya, catatan pendek di bawah ini adalah catatan lepas pembacaan saya atas novel ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช.

๐Ÿฌ๐Ÿญ. ‘๐—”๐—ฟ๐˜€๐—ถ๐—ฝ’ ๐—•๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ

Novel ini dibagi dalam empat bagian cerita. Bagian satu, dua, dan tiga, masing-masing dengan judul ๐˜—๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ, ๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ, ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ฐ adalah ‘pembuka cerita’ yang mengenalkan tokoh-tokoh cerita, situasi, dan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa.

Fince Bataona menggunakan alur campuran (maju dan mundur) untuk mengisahkan peristiwa-peristiwa dalam novel ini. Ia membuka cerita dengan menuturkan ritual dan kebiasaan-kebiasaan orang-orang kampung berkabung atas meninggalnya Ema Lisa, salah satu tokoh dalam novel ini. Ia melukiskan pengalaman duka tersebut dan menarasikan ritual-ritual perkabungan, juga menyertakan kebiasaan-kebiasaan umum para tokoh dalam lingkungan hidup mereka, (dalam hal ini, Lamalera sebagai latar tempat).

Secara umum, bagian ini menekankan keharmonisan dalam hidup bersama, menampilkan keterikatan yang kuat dengan tradisi dan budaya, dan sekaligus memberi pesan yang kuat kepada pembaca untuk boleh membayangkan apa jadinya bila tradisi dan budaya itu mulai diabaikan, dilupakan, bahkan (mungkin) dihapus karena perkembangan zaman.

Saya terbawa dalam peristiwa-peristiwa yang dilukiskan dengan bahasa sederhana, tidak ‘berbunga-bunga’; dengan bahasa keseharian yang dekat dan padat isinya: keseharian hidup tokoh utama Ina sebagai penenun, karakter tokoh-tokoh perempuan yang ditampilkan apa adanya โ€”baik maupun buruknyaโ€”sebagai orang kampung (saling menolong, suka omong orang lain, kerja keras, tanggung jawab, dan sebagainya).

Semua karakter itu dilukiskan dengan bahasa apa adanya. Sehingga usai membaca tiga bagian awal ini, satu hal yang melekat di kepala saya adalah Fince Bataona sedang ‘mengarsipkan’ kebiasaan-kebiasaan hidup, tradisi, budaya Lamalera untuk generasi-generasi penerus, khususnya orang-orang Lamalera dan di sekitarnya.

Saya tiba-tiba teringat Thomas Berry, Sejarawan dari Amerika. Dia pernah menyinggung tentang ‘Modifikasi Budaya’ dalam pandangannya tentang ekologi: relasi antara alam dan manusia.

Bahwa, manusia modern kerap memodifikasi budaya untuk kepentingan pribadi. Sebagai misal, dalam budaya-budaya tertentu, ada pandangan bahwa alam adalah saudara yang harus dijaga, dilestarikan.

Namun, dalam perkembangan selanjutnya, manusia modern memodifikasi budaya dengan mengubah pandangan atau pola pikir mereka dari alam sebagai saudara menjadi alam sebagai objek yang harus ‘dikuras’.

Saya pikir, Fince Bataona tidak ingin warisan leluhur itu dimodifikasi sesuai keinginan, apa lagi keinginan yang merugikan. Karena itu, melalui ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช, ia menulis apa adanya tentang tradisi dan budaya di Lamalera: ritual kematian, ritual sebelum penangkapan ikan, ritual masuk minta (pernikahan adat), kebiasaan-kebiasaan dan aneka ritual lainnya.

Bagi saya, bila kelak ada upaya ‘memodifikasi budaya’ (ke arah yang merugikan), novel ๐˜“๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช dapat dibaca kembali untuk membalikkan pembelokan itu. Novel ini akan menjadi pengingat setiap orang untuk kembali ke ‘jalur’.

๐Ÿฌ๐Ÿฎ. ๐—ž๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ ๐—”๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ, ๐—ž๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—น๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ ๐—ฅ๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—บ

Sebagai lanjutan dari tiga bagian awal yang menekankan tradisi dan budaya sebagai unsur yang melekat kuat pada setiap tokoh, pada bagian keempat dari novel ini, Fince Bataona memadukan kisah masa lalu dan masa kini tokoh utama cerita. Bagian ini juga menjadi bagian akhir.

Fince Bataona mengisahkan Ina (tokoh utama cerita) sebagai perempuan kampung yang melanjutkan pendidikannya (kuliah) di Kupang. Ia terlahir dari keluarga sederhana, ayahnya adalah seorang yang bekerja sehari-hari sebagai pembuat sampan untuk para pelaut, ibunya adalah penenun yang berwatak keras dan berkarakter kuat.

Sebaik apa pun ia dibentuk dalam keluarganya di kampung, Ina toh pada akhirnya jatuh dalam pelukan lelaki kota bernama Adrian. Ia hamil di luar nikah. Celakanya, lelaki itu memilih menghilang usai menyuruhnya menggugurkan anak dalam kandungan itu.

Ina harus berhenti kuliah dan memilih kembali ke kampung untuk memulai hidup baru, termasuk siap menanggung segala bentuk ‘sanksi’ sosial. Ia memilih membesarkan anak itu dengan tetap berbesar hati menghadapi segala situasi yang ada di kampung.

Sampai pada akhirnya, sahabat lamanya, Ama, berani menerima kenyataan hidup Ina dan ingin menikahinya. Meski pada akhirnya keduanya menikah, bagi saya, tegangan konflik (antara ibu Ama dengan kenyataan hidup Ina sebagai janda, antara keluarga besar Ina dan Ama) yang diciptakan Fince Bataona di klimaks cerita ini amat menarik.

Bayangkan, seorang perempuan (Ina) yang tidak selesai kuliah, pulang karena hamil, ditinggal laki-laki yang tidak bertanggung jawab, lalu tiba-tiba atas nama cinta lama, rasa yang pernah tumbuh, Ama ingin menikahinya dan hidup semati dengannya? Apa kata orang-orang kampung? Bagaimana Ina dan Ama menghadapi semua itu?

Saya menyelesaikan kisah ini, dan membayangkan Ama adalah tokoh ‘jelmaan’ dari jawaban Yesus atas pertanyaan Petrus: “Berapa kali saya harus mengampuni, apakah tujuh kali?”

“Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali.”

Pengampunan itu berulang-ulang, sebanyak-banyaknya, sebagaiman manusia jatuh berulangkali dalam pencobaan dan dosa. Berulangkali agar manusia tahu, bahwa hidup itu berharga. Ama (mungkin) melanjutkan pesan Yesus itu.

Terlepas dari itu semua, saya ingin membaca kisah itu lebih jauh dalam relasi antara kampung (Ina) dan kota (Adrian).

Ina adalah simbol kampung penuh tradisi, budaya. Keterlepasan relasi, kelupaan budaya berarti kehancuran.

Adrian adalah kota, gambaran perkembangan dunia, penuh manipulasi, tipu-daya, tak bertanggung jawab, simbol keserakahan dan keegoisan, (bila kita kaitkan dengan bagian awal novel maka ia dinamakan manusia modern yang memodifikasi budaya untuk kepentingan pribadi, kesenangan pribadi, lalu lari dan tak bertanggung jawab atas kenyataan sesudahnya).

Keputusan Fince Bataona untuk menetapkan tokoh utama Ina pulang ke kampung adalah sebuah seruan untuk kembali ke akar, kembali ke rahim; sebuah seruan untuk tidak memanipulasi budaya, tidak memodifikasi budaya hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu (kepentingan yang merugikan).

Keputusan Fince Bataona untuk melukiskan tokoh Ama menerima Ina apa adanya adalah sebuah panggilan untuk menerima, bukan menolak; sebuah seruan untuk berjalan bersama-sama, bukan ‘merusakkan’ lalu pergi tanpa rasa tanggung jawab.

Pada akhirnya, novel ini menyimpan banyak pesan kemanusiaan, dan dapat dimaknai lebih dalam.

Silakan pesan di Kaka Fince Bataona.

 

๐ด๐‘™๐‘’๐‘›๐‘ž๐‘ข๐‘’๐‘Ÿ-๐ด๐‘š๐‘Ž๐‘ง๐‘œ๐‘›, ๐‘€๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘ก 2026.

 

๐’๐ž๐ฅ๐จ ๐‹๐š๐ฆ๐š๐ญ๐š๐ฉ๐จ

  • Penulis: Selo Lamatapo
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus mengharukan. Dengan penuh rasa syukur, saya mengucapkan selamat kepada 207 cucu-cucuku yang cantik dan ganteng, Angkatan ke-72 SMPSK Kotagoa Boawae, yang hari ini dinyatakan lulus. Angka 207 ini terasa istimewa. Jika angka nol di tengah dihilangkan, lalu posisi angka 2 dan 7 ditukar, maka akan menjadi 72, sama […]

  • Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh

    Ruang Rasa: Kepekaan dan Rasa Peduli-Jalan Menjadi Manusia yang Lebih Utuh

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 203
    • 7Komentar

    Hallo, teman-teman pembaca setia mataleza.com Senang kita bisa bertemu lagi di sini, di #Ruangrasa yang sudah cukup lama saya tidak bagikan. Saya yakin, di luar sana ada penantian penuh penasaran. Dan saya perlu meminta maaf jika tidak sering update secara berkala. Ya, maklum, bapak satu anak ini kadang sering menyibukkan diri dengan hal-hal remeh, misalnya […]

  • Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Katarina Sindona Tanis
    • visibility 76
    • 2Komentar

    Oleh: Katarina Sindona Tanis Program Studi: Keperawatan Menurut saya kesehatan mental itu bukanlah suatu kemewahan, tetapi kesehatan mental adalah fondasi dari segala aspek kehidupan, termasuk belajar, berteman, bahkan untuk bertahan hidup. Bagi remaja kesehatan mental yang baik itu bukan berarti “tidak sakit jiwa” tetapi mampu mengelola emosi, membangun hubungan yang lebih sehat, dan menghadapi stres. […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 355
    • 2Komentar

    โ€œKita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.โ€ Lima belas cerpen […]

  • Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Halo, teman-teman. Apa kabar? Salam jumpa lagi bersama saya di Ruang Rasa. Pada kesempatan ini saya akan berbagi sebuah tulisan yang saya kembangkan dari salah satu postingan di Facebook. Sebelum teman-teman membaca tulisan di bawah ini lebih lanjut, perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini murni hanyalah respon atas postingan tersebut. Mungkin saja di luar sana […]

  • Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    Sudut Pandang: Larangan Nobar Pesta Babi dan Perebutan Makna Teknologi di Era Digital: Perspektif Teori Strukturasi Adaptif

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Wima Wimastha
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Oleh: Frater Wima Wimastha adalah Frater tingkat III di Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret, keuskupan Agung Ende dan mahasiswa semester 6 di Institute Filsafat katolik dan Kreatif ledalero(IFTK). ย  Di era digital, informasi tidak lagi bergerak seperti arus sungai yang tenang dan searah. Ia menyerupai ombak yang terus memecah, berbalik, dan membentuk pantai-pantai baru […]

expand_less