Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

  • account_circle Rommy Makyn
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 186
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(Rommy Makyn adalah seorang Frater tingkat 3 di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, keuskupan Larantuka dan mahasiswa prodi Ilmu Filsafat semester 6 di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero-Maumere)

Film pada satu sisi berfungsi sebagai media hiburan, dan pada sisi lain sebagai medium refleksi dengan cara sunyi untuk berbicara atas realitas kehidupan manusia dalam menjalankan keseharian bersama dengan lain. Seiring perkembangan zaman, terutama pada masyarakat modern, film menjadi salah satu bentuk komunikasi massa yang menyampaikan cerita, simbol visual, dialog, dan alur. Di samping itu, film juga menyiratkan simbol, gagasan, nilai, kritik sosial dan pengelaman batin yang perlahan membentuk kesadaran manusia untuk menelisik lebih jauh kedalaman makna atas kegelisahan manusia yang kian masif. Oleh sebab itu, sebuah film menyajikan berbagai aspek estetika dan  makna sosial yang dikandungnya.

Menurut Denis McQuail (2010), media massa memiliki fungsi penting dalam membentuk persepsi publik melalui inteperetasi sosial terhadap realitas yang sedang terjadi. Media juga membentuk cara manusai memahami dunia, mengenali diri, bahkan memandang orang lain sebagai satu kesatuan yang utuh. Dalam konteks ini film bukan hanya sebagai media hiburan semata, tetapi teks sosial yang dapat dibaca melalui kacamata komunikatif dan filosofis. Hal ini dapat membuka ruang peleburan manusia untuk  memaknai pengalaman hidup.

Salah satu film yang menarik untuk dikaji dalam perspektif komunikasi adalah Pesta Babi. Film ini menghadirkan makna secara narasi yang memperlihatkan kehidupan sosial yang dipenuhi simbol status, eksklusivitas kelompok, serta pola interaksi yang mencerminkan dinamika kekuasaan. Kehidupan tampak berjalan normal, tetapi di balik normalitas itu tersembunyi relasi kekuasaan yang bekerja secara halus dan simbolik. Manusai  lagi hanya hidup dalam dunia material, tetapi juga dalam dunia representasi; yang dicari bukan lagi sekadar keberadaan melainkan pengakuan, yang dipertahankan bukan sekadar relasi melainkan citra. Hal semacam ini menunjukan bahwa simbol lebih penting daripada esensi. Fenomena yang muncul dalam film ini relevan dengan kehidupan sosial modern. Dalam masyarakat kontemporer, posisi sosial tidak lagi hanya ditentukan oleh faktor ekonomi atau jabatan formal, tetapi juga oleh akses, citra, jaringan sosial, dan simbol pengakuan. Dalam konteks inilah, film Pesta Babi dapat dibaca sebagai representasi mengenai bagaimana manusia membangun identitas, legitimasi sosial melalui simbol, serta bagaimana manusia yang akan terus berusaha menemukan eksistensinya di tengah dunia simbolik.

Untuk memahami fenomena tersebut, teori Interaksionisme Simbolik digunakan sebagai landasan analisis. Teori ini relevan karena berfokus pada pembentukan makna melalui interaksi sosial, dalam  proses komunikasi dan pertukaran makna antarmanusia.

Interaksionisme Simbolik merupakan teori yang dikembangkan oleh George Herbert Mead dan kemudian dipopulerkan oleh Herbert Blumer. Menurut Blumer (1969), manusia bertindak berdasarkan makna yang dimiliki sesuatu bagi dirinya. Makna tersebut tidak lahir secara alamiah, melainkan tumbuh melalui interaksi sosial dan terus berubah melalui interpretasi. Dalam pandangan ini, manusia bukan makhluk yang sekadar bereaksi terhadap dunia, tetapi makhluk yang menafsirkan dunia. Setiap tindakan sosial selalu melibatkan proses pemaknaan. Bahasa, gesture, simbol, dan ekspresi menjadi medium yang memungkinkan manusia membangun realitas bersama. Secara ontologis, Interaksionisme Simbolik memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang bersifat intersubjektif. Dunia sosial tidak berdiri secara independen dari manusia, melainkan dibangun melalui hubungan antarmanusia. Karena itu, kehidupan sosial sesungguhnya merupakan jaringan makna yang terus dinegosiasikan.

Pesta sebagai Ritual Pengakuan Sosial

Simbol utama dalam film ini adalah pesta. Secara literal, pesta hanyalah ruang pertemuan dan perayaan. Namun dalam film Pesta Babi, pesta menjelma menjadi ritual sosial yang sarat makna. Pesta bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang legitimasi. Tidak semua orang dapat hadir di dalamnya. Kehadiran seseorang dalam ruang tersebut menjadi simbol pengakuan sosial. Ada batas-batas tak kasatmata yang memisahkan siapa yang diterima dan siapa yang berada di luar lingkaran. Dalam perspektif Interaksionisme Simbolik, simbol memperoleh kekuatannya karena dipahami bersama. Pesta menjadi penting bukan karena bentuk fisiknya, tetapi karena makna sosial yang dilekatkan padanya. Ia menjadi tanda status, akses, dan kedekatan relasi. Secara filosofis, pesta dalam film ini menggambarkan kerinduan manusia akan pengakuan. Manusia ingin dilihat, diterima, dan dianggap memiliki arti. Namun ironi muncul ketika pengakuan itu bergantung pada simbol-simbol eksternal yang rapuh dan sementara. Sebagaimana dijelaskan oleh Littlejohn, Foss, dan Oetzel (2017), komunikasi bukan hanya proses penyampaian pesan, tetapi juga pembentukan realitas sosial. Dalam konteks ini, pesta menjadi bahasa sosial yang memproduksi identitas dan legitimasi.

Babi dan Simbol Hasrat Manusia

Selain pesta, simbol lain yang dominan ialah babi. Dalam banyak tradisi budaya, babi sering diasosiasikan dengan kerakusan, konsumsi berlebihan, dan ambiguitas moral. Dalam film ini, babi tampil bukan hanya sebagai objek konsumsi, tetapi sebagai metafora atas hasrat manusia yang tak pernah selesai. Manusia modern sering hidup dalam logika konsumsi. Ia mengonsumsi bukan lagi demi kebutuhan, tetapi demi citra dan pengakuan sosial. Apa yang dimiliki seseorang perlahan berubah menjadi ukuran nilai dirinya. Melalui simbol babi, film memperlihatkan bagaimana manusia dapat terjebak dalam kenikmatan material dan kehilangan refleksi terhadap makna hidup yang lebih mendalam. Hasrat menjadi sesuatu yang terus bergerak tanpa akhir. Semakin dipenuhi, semakin ia menuntut lebih banyak. Secara eksistensial, kondisi ini menunjukkan kegelisahan manusia modern: keinginan untuk terus diterima dan diakui dalam struktur sosial tertentu.

Bahasa dan Kesunyian dalam Relasi Sosial

Aspek menarik lainnya dalam film ini adalah penggunaan dialog dan bahasa tubuh. Percakapan antar tokoh sering kali tampak biasa, tetapi sesungguhnya menyimpan struktur relasi yang kompleks. Beberapa tokoh tampil dominan melalui cara berbicara, kontrol percakapan, dan ekspresi tubuh. Sementara tokoh lain terlihat lebih berhati-hati dan menyesuaikan diri. Bahkan diam dalam film ini memiliki makna simbolik. Bahasa tidak pernah benar-benar netral. Ia membawa kepentingan, posisi sosial, dan relasi kuasa. Dalam Interaksionisme Simbolik, manusia selalu menafsirkan tindakan orang lain sebelum meresponsnya. Karena itu, komunikasi menjadi arena negosiasi makna. Film ini menunjukkan bahwa sering kali manusia menyembunyikan dirinya di balik bahasa. Percakapan menjadi topeng sosial yang menutupi kecemasan, ketakutan, dan kebutuhan akan penerimaan.

Normalitas yang Dibangun Bersama

Film Pesta Babi juga memperlihatkan bagaimana suatu perilaku dapat dianggap normal karena terus direproduksi dalam lingkungan sosial. Menurut Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1966), realitas sosial dibangun melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Sesuatu yang awalnya merupakan hasil tindakan manusia kemudian tampak sebagai kenyataan objektif yang diterima begitu saja. Dalam film ini, pola interaksi tertentu perlahan menjadi kebiasaan kolektif. Manusia menerima realitas sosial bukan karena selalu benar, tetapi karena terbiasa hidup di dalamnya. Di sinilah letak paradoks kehidupan sosial: manusia membangun sistem simbolik, tetapi pada akhirnya ia sendiri terjebak di dalam sistem tersebut.

Film Pesta Babi memperlihatkan bahwa manusia hidup dalam dunia simbol dan pencarian makna. Ia tidak hanya mengejar kebutuhan material, tetapi juga pengakuan, legitimasi, dan eksistensi sosial. Secara eksistensial, manusia selalu ingin menemukan arti dirinya melalui relasi dengan orang lain. Namun ketika hidup terlalu berorientasi pada simbol eksternal, manusia perlahan kehilangan kedalaman refleksi terhadap dirinya sendiri. Relasi sosial kemudian menjadi instrumentalis. Individu dipandang berdasarkan akses, manfaat, dan citra yang dimilikinya. Dalam kondisi seperti ini, manusia berisiko kehilangan autentisitas dirinya. Film ini pada akhirnya memperlihatkan kesepian manusia modern: hidup di tengah keramaian simbol, tetapi sering kehilangan makna yang sejati.

 

https://saweria.co/pondokbacamataleza20

 

Daftar Pustaka

Buku

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The Social Construction of Reality. New York: Anchor Books.

Blumer, H. (1969). Symbolic Interactionism: Perspective and Method. California: University of California Press.

Bungin, B. (2006). Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana.

Littlejohn, S. W., Foss, K. A., & Oetzel, J. G. (2017). Theories of Human Communication. Long Grove: Waveland Press.

McQuail, D. (2010). McQuail’s Mass Communication Theory. London: Sage.

Mead, G. H. (1934). Mind, Self, and Society. Chicago: University of Chicago Press.

Sobur, A. (2004). Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sartre, J. P. (1956). Being and Nothingness. New York: Philosophical Library.

 

Jurnal

Aini, N., Taufani, E. M., & Hafizh, M. A. (2024). Analisis Interaksionisme Simbolik Tokoh-Tokoh dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap. MAUIZOH: Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi.

Hikmah. (2017). Analisis Wacana; Interaksionisme Simbolik. El-Hikam.

Hutapea, E. (2016). Identifikasi Diri Melalui Simbol-Simbol Komunikasi. Bricolage: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi.

Mutiaz, I. R. (2019). Konstruksi Realitas Simbolik Generasi Milenial Melalui Tema Fantasi Selebgram di Media Sosial. Jurnal Sosioteknologi.

Virginia, P. (2022). Karakter Animasi Kecerdasan Emosional sebagai Media Komunikasi Interaksionisme Simbolik. Jurnal Komunikasi Global.

 

 

 

  • Penulis: Rommy Makyn
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kamu Sedang Membaca Sebuah Kitab Yang Tak Suci

    Kamu Sedang Membaca Sebuah Kitab Yang Tak Suci

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 262
    • 0Komentar

    Oleh: Fian N Judul: Sebuah Kitab Yang Tak Suci Penulis: Puthut EA Tebal: vi + 88 hlm Penerbit: Mojok Cetakan: IV, 2017 ISBN: 978-602-1318-57-7 Sudah lama tidak ada derit berirama dari ranjang-ranjang kami. Ya, bahkan kami lupa bagaimana berciuman dengan baik. (Seseorang di Sebuah Sudut) Sepuluh kumpulan cerita yang terangkum dalam Sebuah Kitab Yang Tak […]

  • Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan. Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia. Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai. Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang […]

  • Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    Haru dan Syukur Warnai Kelulusan Siswa Kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 248
    • 0Komentar

    Boawae, 2 Juni 2026– Suasana penuh haru dan syukur mewarnai acara pengumuman kelulusan siswa kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan orang tua siswa menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada pihak sekolah atas keberhasilan anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Pertama. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi […]

  • Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Katarina Sindona Tanis
    • visibility 76
    • 2Komentar

    Oleh: Katarina Sindona Tanis Program Studi: Keperawatan Menurut saya kesehatan mental itu bukanlah suatu kemewahan, tetapi kesehatan mental adalah fondasi dari segala aspek kehidupan, termasuk belajar, berteman, bahkan untuk bertahan hidup. Bagi remaja kesehatan mental yang baik itu bukan berarti “tidak sakit jiwa” tetapi mampu mengelola emosi, membangun hubungan yang lebih sehat, dan menghadapi stres. […]

  • Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea photo_camera 1

    Bambu Masuk Sekolah: Cara Kreatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari Rayakan Hari Anak Nasional di Wolowea

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Wolowea, 23 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) menyelenggarakan Workshop Bamboo Go To School di SDK Bokogo, Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang memadukan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan budaya lokal dengan melibatkan anak-anak, guru, orang tua, serta Pemerintah Desa Wolowea. […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.249
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

expand_less