Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Kegelisahan Manusia dalam Film Pesta Babi: Sebuah Tinjauan Interaksionisme Simbolik

  • account_circle Rommy Makyn
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 188
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(Rommy Makyn adalah seorang Frater tingkat 3 di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, keuskupan Larantuka dan mahasiswa prodi Ilmu Filsafat semester 6 di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero-Maumere)

Film pada satu sisi berfungsi sebagai media hiburan, dan pada sisi lain sebagai medium refleksi dengan cara sunyi untuk berbicara atas realitas kehidupan manusia dalam menjalankan keseharian bersama dengan lain. Seiring perkembangan zaman, terutama pada masyarakat modern, film menjadi salah satu bentuk komunikasi massa yang menyampaikan cerita, simbol visual, dialog, dan alur. Di samping itu, film juga menyiratkan simbol, gagasan, nilai, kritik sosial dan pengelaman batin yang perlahan membentuk kesadaran manusia untuk menelisik lebih jauh kedalaman makna atas kegelisahan manusia yang kian masif. Oleh sebab itu, sebuah film menyajikan berbagai aspek estetika dan  makna sosial yang dikandungnya.

Menurut Denis McQuail (2010), media massa memiliki fungsi penting dalam membentuk persepsi publik melalui inteperetasi sosial terhadap realitas yang sedang terjadi. Media juga membentuk cara manusai memahami dunia, mengenali diri, bahkan memandang orang lain sebagai satu kesatuan yang utuh. Dalam konteks ini film bukan hanya sebagai media hiburan semata, tetapi teks sosial yang dapat dibaca melalui kacamata komunikatif dan filosofis. Hal ini dapat membuka ruang peleburan manusia untuk  memaknai pengalaman hidup.

Salah satu film yang menarik untuk dikaji dalam perspektif komunikasi adalah Pesta Babi. Film ini menghadirkan makna secara narasi yang memperlihatkan kehidupan sosial yang dipenuhi simbol status, eksklusivitas kelompok, serta pola interaksi yang mencerminkan dinamika kekuasaan. Kehidupan tampak berjalan normal, tetapi di balik normalitas itu tersembunyi relasi kekuasaan yang bekerja secara halus dan simbolik. Manusai  lagi hanya hidup dalam dunia material, tetapi juga dalam dunia representasi; yang dicari bukan lagi sekadar keberadaan melainkan pengakuan, yang dipertahankan bukan sekadar relasi melainkan citra. Hal semacam ini menunjukan bahwa simbol lebih penting daripada esensi. Fenomena yang muncul dalam film ini relevan dengan kehidupan sosial modern. Dalam masyarakat kontemporer, posisi sosial tidak lagi hanya ditentukan oleh faktor ekonomi atau jabatan formal, tetapi juga oleh akses, citra, jaringan sosial, dan simbol pengakuan. Dalam konteks inilah, film Pesta Babi dapat dibaca sebagai representasi mengenai bagaimana manusia membangun identitas, legitimasi sosial melalui simbol, serta bagaimana manusia yang akan terus berusaha menemukan eksistensinya di tengah dunia simbolik.

Untuk memahami fenomena tersebut, teori Interaksionisme Simbolik digunakan sebagai landasan analisis. Teori ini relevan karena berfokus pada pembentukan makna melalui interaksi sosial, dalam  proses komunikasi dan pertukaran makna antarmanusia.

Interaksionisme Simbolik merupakan teori yang dikembangkan oleh George Herbert Mead dan kemudian dipopulerkan oleh Herbert Blumer. Menurut Blumer (1969), manusia bertindak berdasarkan makna yang dimiliki sesuatu bagi dirinya. Makna tersebut tidak lahir secara alamiah, melainkan tumbuh melalui interaksi sosial dan terus berubah melalui interpretasi. Dalam pandangan ini, manusia bukan makhluk yang sekadar bereaksi terhadap dunia, tetapi makhluk yang menafsirkan dunia. Setiap tindakan sosial selalu melibatkan proses pemaknaan. Bahasa, gesture, simbol, dan ekspresi menjadi medium yang memungkinkan manusia membangun realitas bersama. Secara ontologis, Interaksionisme Simbolik memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang bersifat intersubjektif. Dunia sosial tidak berdiri secara independen dari manusia, melainkan dibangun melalui hubungan antarmanusia. Karena itu, kehidupan sosial sesungguhnya merupakan jaringan makna yang terus dinegosiasikan.

Pesta sebagai Ritual Pengakuan Sosial

Simbol utama dalam film ini adalah pesta. Secara literal, pesta hanyalah ruang pertemuan dan perayaan. Namun dalam film Pesta Babi, pesta menjelma menjadi ritual sosial yang sarat makna. Pesta bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang legitimasi. Tidak semua orang dapat hadir di dalamnya. Kehadiran seseorang dalam ruang tersebut menjadi simbol pengakuan sosial. Ada batas-batas tak kasatmata yang memisahkan siapa yang diterima dan siapa yang berada di luar lingkaran. Dalam perspektif Interaksionisme Simbolik, simbol memperoleh kekuatannya karena dipahami bersama. Pesta menjadi penting bukan karena bentuk fisiknya, tetapi karena makna sosial yang dilekatkan padanya. Ia menjadi tanda status, akses, dan kedekatan relasi. Secara filosofis, pesta dalam film ini menggambarkan kerinduan manusia akan pengakuan. Manusia ingin dilihat, diterima, dan dianggap memiliki arti. Namun ironi muncul ketika pengakuan itu bergantung pada simbol-simbol eksternal yang rapuh dan sementara. Sebagaimana dijelaskan oleh Littlejohn, Foss, dan Oetzel (2017), komunikasi bukan hanya proses penyampaian pesan, tetapi juga pembentukan realitas sosial. Dalam konteks ini, pesta menjadi bahasa sosial yang memproduksi identitas dan legitimasi.

Babi dan Simbol Hasrat Manusia

Selain pesta, simbol lain yang dominan ialah babi. Dalam banyak tradisi budaya, babi sering diasosiasikan dengan kerakusan, konsumsi berlebihan, dan ambiguitas moral. Dalam film ini, babi tampil bukan hanya sebagai objek konsumsi, tetapi sebagai metafora atas hasrat manusia yang tak pernah selesai. Manusia modern sering hidup dalam logika konsumsi. Ia mengonsumsi bukan lagi demi kebutuhan, tetapi demi citra dan pengakuan sosial. Apa yang dimiliki seseorang perlahan berubah menjadi ukuran nilai dirinya. Melalui simbol babi, film memperlihatkan bagaimana manusia dapat terjebak dalam kenikmatan material dan kehilangan refleksi terhadap makna hidup yang lebih mendalam. Hasrat menjadi sesuatu yang terus bergerak tanpa akhir. Semakin dipenuhi, semakin ia menuntut lebih banyak. Secara eksistensial, kondisi ini menunjukkan kegelisahan manusia modern: keinginan untuk terus diterima dan diakui dalam struktur sosial tertentu.

Bahasa dan Kesunyian dalam Relasi Sosial

Aspek menarik lainnya dalam film ini adalah penggunaan dialog dan bahasa tubuh. Percakapan antar tokoh sering kali tampak biasa, tetapi sesungguhnya menyimpan struktur relasi yang kompleks. Beberapa tokoh tampil dominan melalui cara berbicara, kontrol percakapan, dan ekspresi tubuh. Sementara tokoh lain terlihat lebih berhati-hati dan menyesuaikan diri. Bahkan diam dalam film ini memiliki makna simbolik. Bahasa tidak pernah benar-benar netral. Ia membawa kepentingan, posisi sosial, dan relasi kuasa. Dalam Interaksionisme Simbolik, manusia selalu menafsirkan tindakan orang lain sebelum meresponsnya. Karena itu, komunikasi menjadi arena negosiasi makna. Film ini menunjukkan bahwa sering kali manusia menyembunyikan dirinya di balik bahasa. Percakapan menjadi topeng sosial yang menutupi kecemasan, ketakutan, dan kebutuhan akan penerimaan.

Normalitas yang Dibangun Bersama

Film Pesta Babi juga memperlihatkan bagaimana suatu perilaku dapat dianggap normal karena terus direproduksi dalam lingkungan sosial. Menurut Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1966), realitas sosial dibangun melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Sesuatu yang awalnya merupakan hasil tindakan manusia kemudian tampak sebagai kenyataan objektif yang diterima begitu saja. Dalam film ini, pola interaksi tertentu perlahan menjadi kebiasaan kolektif. Manusia menerima realitas sosial bukan karena selalu benar, tetapi karena terbiasa hidup di dalamnya. Di sinilah letak paradoks kehidupan sosial: manusia membangun sistem simbolik, tetapi pada akhirnya ia sendiri terjebak di dalam sistem tersebut.

Film Pesta Babi memperlihatkan bahwa manusia hidup dalam dunia simbol dan pencarian makna. Ia tidak hanya mengejar kebutuhan material, tetapi juga pengakuan, legitimasi, dan eksistensi sosial. Secara eksistensial, manusia selalu ingin menemukan arti dirinya melalui relasi dengan orang lain. Namun ketika hidup terlalu berorientasi pada simbol eksternal, manusia perlahan kehilangan kedalaman refleksi terhadap dirinya sendiri. Relasi sosial kemudian menjadi instrumentalis. Individu dipandang berdasarkan akses, manfaat, dan citra yang dimilikinya. Dalam kondisi seperti ini, manusia berisiko kehilangan autentisitas dirinya. Film ini pada akhirnya memperlihatkan kesepian manusia modern: hidup di tengah keramaian simbol, tetapi sering kehilangan makna yang sejati.

 

https://saweria.co/pondokbacamataleza20

 

Daftar Pustaka

Buku

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The Social Construction of Reality. New York: Anchor Books.

Blumer, H. (1969). Symbolic Interactionism: Perspective and Method. California: University of California Press.

Bungin, B. (2006). Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana.

Littlejohn, S. W., Foss, K. A., & Oetzel, J. G. (2017). Theories of Human Communication. Long Grove: Waveland Press.

McQuail, D. (2010). McQuail’s Mass Communication Theory. London: Sage.

Mead, G. H. (1934). Mind, Self, and Society. Chicago: University of Chicago Press.

Sobur, A. (2004). Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sartre, J. P. (1956). Being and Nothingness. New York: Philosophical Library.

 

Jurnal

Aini, N., Taufani, E. M., & Hafizh, M. A. (2024). Analisis Interaksionisme Simbolik Tokoh-Tokoh dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap. MAUIZOH: Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi.

Hikmah. (2017). Analisis Wacana; Interaksionisme Simbolik. El-Hikam.

Hutapea, E. (2016). Identifikasi Diri Melalui Simbol-Simbol Komunikasi. Bricolage: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi.

Mutiaz, I. R. (2019). Konstruksi Realitas Simbolik Generasi Milenial Melalui Tema Fantasi Selebgram di Media Sosial. Jurnal Sosioteknologi.

Virginia, P. (2022). Karakter Animasi Kecerdasan Emosional sebagai Media Komunikasi Interaksionisme Simbolik. Jurnal Komunikasi Global.

 

 

 

  • Penulis: Rommy Makyn
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    Ruang Rasa: Ketika Harus Kuat di Tengah Ketidakadilan

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang, luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kadang muncul perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak dihargai atau dianggap berbeda. Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah komentar di salah satu tulisan yang […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 356
    • 2Komentar

    “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.” Lima belas cerpen […]

  • Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus mengharukan. Dengan penuh rasa syukur, saya mengucapkan selamat kepada 207 cucu-cucuku yang cantik dan ganteng, Angkatan ke-72 SMPSK Kotagoa Boawae, yang hari ini dinyatakan lulus. Angka 207 ini terasa istimewa. Jika angka nol di tengah dihilangkan, lalu posisi angka 2 dan 7 ditukar, maka akan menjadi 72, sama […]

  • Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    Puisi-puisi Harsandi Pratama Putra

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Harsandi Pratama Putra
    • visibility 235
    • 0Komentar

    Kepada Rindu Bernama Kenangan Gigilnya rindu malam ini adalah dingin yang paling menusuk Hujan kenangan datang, membasahi sela-sela ingatan Setelah tak menemukan temu dan pelukan yang hangat Di dada yang sesak ini, setiap sepi datang mengunjungi tubuhku Aku mati-matian menenangkan nyerinya sendirian. 2026 Setiap Malam Kepalaku Penuh Kecamuk Oleh Peperangan Aku ingin reda Dari luka […]

  • Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 210
    • 1Komentar

    suka sibuk pagi-pagi sekali di hari minggu, kami ke gereja. seperti orang-orang, kami berpakaian rapi. sebelum keluar pintu rumah, pastikan semua dalam keadaan siap, batin maupun pakaian. di pintu masuk gereja, semua mata mencari sumber bunyi kaki. lihat atas-bawah. di dalam gereja, ekaristi sebentar lagi mulai. masih ada yang sibuk menilai. sebentar sambut hosti, bikin […]

  • Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    Sudut Pandang: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Katarina Sindona Tanis
    • visibility 76
    • 2Komentar

    Oleh: Katarina Sindona Tanis Program Studi: Keperawatan Menurut saya kesehatan mental itu bukanlah suatu kemewahan, tetapi kesehatan mental adalah fondasi dari segala aspek kehidupan, termasuk belajar, berteman, bahkan untuk bertahan hidup. Bagi remaja kesehatan mental yang baik itu bukan berarti “tidak sakit jiwa” tetapi mampu mengelola emosi, membangun hubungan yang lebih sehat, dan menghadapi stres. […]

expand_less