Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

  • account_circle Emil E Wakei
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 80
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan)

Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, dusun, dan masa depan anak cucu. Ketegasan itu lahir dari pengalaman. Ia tahu bagaimana izin turun tanpa musyawarah, bagaimana ekskavator datang sebelum persetujuan, dan bagaimana janji kesejahteraan berubah menjadi pos aparat.

Karena rekam jejaknya jelas, maka ketika tiba-tiba muncul sebuah video yang menunjukkan Mama Yosinta berubah sikap, kejanggalan itu langsung terasa. Orang yang sudah berjalan jauh demi sebuah penolakan tidak akan berbalik tanpa sebab. Sebab itu mudah dibaca. Pihak lain memanfaatkan dua celah yang paling rentan: kondisi ekonomi dan trauma. Hidup di kampung dengan beban keluarga tidak ringan. Harga barang naik, akses kesehatan mahal, anak harus sekolah. Dalam keadaan seperti itu, tawaran uang bukan sekadar angka. Ia adalah tekanan. Lalu ada trauma. Bertahun-tahun rakyat berhadapan dengan proses hukum yang melelahkan dan bayang-bayang pendekatan militer setiap kali bersuara. Trauma tidak hilang. Ia tidur di tubuh. Ketika dibangunkan dengan intimidasi halus, ia bisa membuat orang memilih diam atau mengucapkan kalimat yang diminta. Maka video yang beredar itu bukan bukti “kesadaran baru”. Ia adalah potret ketakutan yang dipaksa bicara.

Situasi ini tidak boleh dibiarkan menggantung. Cara melawannya hanya satu: ambil kembali kendali atas narasi. Ajak Mama Yosinta berdiri bersama beberapa tokoh adat yang terekam dalam film Pesta Babi. Berdiri di atas tanahnya sendiri, menatap kamera tanpa perantara, lalu nyatakan sikap bersama. Pertama, tegaskan bahwa seluruh isi film Pesta Babi adalah fakta. Film itu merekam perampasan ruang hidup di Merauke, pembukaan hutan di Boven Digoel, hilangnya dusun sagu karena konsesi, dan suara mama-mama yang menolak sejak hari pertama. Kedua, klarifikasi bahwa video Mama Yosinta yang sebelumnya beredar dibuat dalam situasi intimidasi. Sampaikan bahwa ada tekanan ekonomi yang dimanfaatkan dan ada rasa traumatik berhadapan dengan hukum serta aparat. Pernyataan kolektif penting karena satu suara mudah dibeli dan dipelintir. Suara bersama lebih sulit dibungkam. Ia menutup ruang bagi pihak yang mau mengadu domba tokoh dengan rakyatnya.

Apa yang terjadi pada Mama Yosinta adalah cermin dari pola lama yang masih dipakai hari ini. Inilah wajah baru kolonialisme: ia kalah bersaing di ranah fakta, maka ia bermain di ranah tekanan. Ia tidak bisa lagi menyebut Tanah Papua sebagai tanah kosong karena kamera sudah masuk ke kampung, data satelit sudah merekam deforestasi, dan mama-mama sudah bersaksi sampai ke MK. Ketika fakta tidak bisa dibantah, maka yang dibantah adalah orangnya. Tokoh dilemahkan, narasi diputar, dukungan palsu diciptakan. Tujuannya satu: agar proyek jalan terus, agar konsesi aman, agar tanah adat pindah tangan dengan stempel “persetujuan masyarakat”.

Karena itu sikap kita harus tegas sejak awal. Tanah Papua bukan tanah kosong. Di atasnya ada marga, ada sejarah, ada batas dusun, ada pohon yang ditanam tete nene. Jangan pernah lepaskan tanah adat kepada negara dalam bentuk dan kepentingan apa pun. Nama bisa berganti: PSN, food estate, investasi hijau, ketahanan pangan, HGU. Tetapi pola tetap sama: tanah diambil, rakyat dipinggirkan, janji tinggal di baliho. Sekali tanah lepas, yang kembali bukan kesejahteraan. Yang kembali hanya program CSR, pembagian sembako, dan penjagaan bersenjata.

Film Pesta Babi adalah dokumen. Ia bukan fitnah. Ia adalah arsip tentang apa yang sedang terjadi. Membiarkan film itu dibunuh dengan video klarifikasi rekayasa berarti membiarkan sejarah ditulis oleh pemodal. Membela Mama Yosinta berarti membela hak untuk berkata tidak. Jika hari ini Mama Yosinta ditekan, maka besok bisa siapa saja. Jika hari ini satu suara dibeli, maka besok satu kampung bisa disewa.

Jalan keluarnya ada di tangan kita. Hidupkan kembali fakta film itu di para-para adat, di gereja, di kelas, di diskusi kampus, di media sosial. Dampingi Mama Yosinta dan tokoh-tokoh lain agar tidak berjalan sendiri. Kawal setiap proses perizinan di kampung. Tolak tanda tangan di atas kertas kosong. Catat setiap nama yang datang membawa uang dan janji. Kolonialisme hanya menang kalau kita diam dan terpecah. Ia akan kalah kalau kita bersuara bersama dan menjaga tanah seperti menjaga napas. Kohao

Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan
Kokoda, 24 Mei 2026 || 03:09

 

Dukung Pondok Baca Mataleza Olakile dengan donasi ke sini

  • Penulis: Emil E Wakei
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 244
    • 11Komentar

    PERMEN edisi Senin Paskah ke-6 – 11 Mei 2026 – Pesona Roh Kudus dalam Komitmen Misioner Inspirasi: Kis 16:11-15; Yohanes 15:26-16:4a   Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Paulus begitu semangat untuk mencari dan menemui para pengikut Kristus. Hari-hari ini kita mendengar kisahnya bahwa Paulus ke sini-lah, ke sana-lah; ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, Makedonia-lah, […]

  • Duka Pernikahan  dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Sella Suhardi
    • visibility 232
    • 3Komentar

    Duka Pernikahan (I) Aku pernah, pernah sekali mencintaimu Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar   Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap […]

  • Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan

    Puisi: Matahari, Lolong, Purnama, Cermin dan Rembulan

    • calendar_month 8 jam yang lalu
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 13
    • 0Komentar

    oleh: Alvares Keupung, dalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende. (sebelum lanjut membaca, mari berbagi di sini: https://saweria.co/pondokbacamataleza20 )   PURNAMA Jika hanya malam yang selalu membuat hatimu gelisah akan kujadikan diriku purnama bagimu agar kau tahu, aku punya alasan untuk menemanimu. Ende, 15 April 2026.   LOLONG Putih […]

  • Kamu Sedang Membaca Sebuah Kitab Yang Tak Suci

    Kamu Sedang Membaca Sebuah Kitab Yang Tak Suci

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 223
    • 0Komentar

    Oleh: Fian N Judul: Sebuah Kitab Yang Tak Suci Penulis: Puthut EA Tebal: vi + 88 hlm Penerbit: Mojok Cetakan: IV, 2017 ISBN: 978-602-1318-57-7 Sudah lama tidak ada derit berirama dari ranjang-ranjang kami. Ya, bahkan kami lupa bagaimana berciuman dengan baik. (Seseorang di Sebuah Sudut) Sepuluh kumpulan cerita yang terangkum dalam Sebuah Kitab Yang Tak […]

  • Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    Puisi Aprianus Jebarus: Rumah, Rasa yang Tak Sampai, Hilang dan Untuk Apa Berdua

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Oleh: Aprianus Jebarus, Pengajar di PKBM Pelita Insan Lestari Rumah Di sudut ini hanya ada gumpalan asap yang menepi tanpa arah menemani ingatan yang perlahan menari di bawah langit yang tak lagi biru suaramu mengalun indah dalam imaji merajut kisah menjelma rindu tak berwujud setiap belaian rambut hitammu adalah inspirasi yang mengalun lembut dalam barisan […]

  • Saat AI Ikut Makan Bersama:  Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    Saat AI Ikut Makan Bersama: Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 232
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba (Mahasiswa Teologi-Wedabhakti-Sanata Dharma) Pendahuluan Meja makan bukan sekadar tempat untuk menyantap makanan. Dalam banyak budaya, meja makan sering diartikan sebagai ruang yang paling istimewa, tempat di mana keluarga berbagi cerita satu dengan yang lain. Tradisi makan bersama sudah berlangsung ribuan tahun sebagai perekat atau pelekat hubungan. Namun belakangan ada semacam  perubahan yang kelihatanya […]

expand_less