Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

  • account_circle Emil E Wakei
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 163
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan)

Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, dusun, dan masa depan anak cucu. Ketegasan itu lahir dari pengalaman. Ia tahu bagaimana izin turun tanpa musyawarah, bagaimana ekskavator datang sebelum persetujuan, dan bagaimana janji kesejahteraan berubah menjadi pos aparat.

Karena rekam jejaknya jelas, maka ketika tiba-tiba muncul sebuah video yang menunjukkan Mama Yosinta berubah sikap, kejanggalan itu langsung terasa. Orang yang sudah berjalan jauh demi sebuah penolakan tidak akan berbalik tanpa sebab. Sebab itu mudah dibaca. Pihak lain memanfaatkan dua celah yang paling rentan: kondisi ekonomi dan trauma. Hidup di kampung dengan beban keluarga tidak ringan. Harga barang naik, akses kesehatan mahal, anak harus sekolah. Dalam keadaan seperti itu, tawaran uang bukan sekadar angka. Ia adalah tekanan. Lalu ada trauma. Bertahun-tahun rakyat berhadapan dengan proses hukum yang melelahkan dan bayang-bayang pendekatan militer setiap kali bersuara. Trauma tidak hilang. Ia tidur di tubuh. Ketika dibangunkan dengan intimidasi halus, ia bisa membuat orang memilih diam atau mengucapkan kalimat yang diminta. Maka video yang beredar itu bukan bukti “kesadaran baru”. Ia adalah potret ketakutan yang dipaksa bicara.

Situasi ini tidak boleh dibiarkan menggantung. Cara melawannya hanya satu: ambil kembali kendali atas narasi. Ajak Mama Yosinta berdiri bersama beberapa tokoh adat yang terekam dalam film Pesta Babi. Berdiri di atas tanahnya sendiri, menatap kamera tanpa perantara, lalu nyatakan sikap bersama. Pertama, tegaskan bahwa seluruh isi film Pesta Babi adalah fakta. Film itu merekam perampasan ruang hidup di Merauke, pembukaan hutan di Boven Digoel, hilangnya dusun sagu karena konsesi, dan suara mama-mama yang menolak sejak hari pertama. Kedua, klarifikasi bahwa video Mama Yosinta yang sebelumnya beredar dibuat dalam situasi intimidasi. Sampaikan bahwa ada tekanan ekonomi yang dimanfaatkan dan ada rasa traumatik berhadapan dengan hukum serta aparat. Pernyataan kolektif penting karena satu suara mudah dibeli dan dipelintir. Suara bersama lebih sulit dibungkam. Ia menutup ruang bagi pihak yang mau mengadu domba tokoh dengan rakyatnya.

Apa yang terjadi pada Mama Yosinta adalah cermin dari pola lama yang masih dipakai hari ini. Inilah wajah baru kolonialisme: ia kalah bersaing di ranah fakta, maka ia bermain di ranah tekanan. Ia tidak bisa lagi menyebut Tanah Papua sebagai tanah kosong karena kamera sudah masuk ke kampung, data satelit sudah merekam deforestasi, dan mama-mama sudah bersaksi sampai ke MK. Ketika fakta tidak bisa dibantah, maka yang dibantah adalah orangnya. Tokoh dilemahkan, narasi diputar, dukungan palsu diciptakan. Tujuannya satu: agar proyek jalan terus, agar konsesi aman, agar tanah adat pindah tangan dengan stempel “persetujuan masyarakat”.

Karena itu sikap kita harus tegas sejak awal. Tanah Papua bukan tanah kosong. Di atasnya ada marga, ada sejarah, ada batas dusun, ada pohon yang ditanam tete nene. Jangan pernah lepaskan tanah adat kepada negara dalam bentuk dan kepentingan apa pun. Nama bisa berganti: PSN, food estate, investasi hijau, ketahanan pangan, HGU. Tetapi pola tetap sama: tanah diambil, rakyat dipinggirkan, janji tinggal di baliho. Sekali tanah lepas, yang kembali bukan kesejahteraan. Yang kembali hanya program CSR, pembagian sembako, dan penjagaan bersenjata.

Film Pesta Babi adalah dokumen. Ia bukan fitnah. Ia adalah arsip tentang apa yang sedang terjadi. Membiarkan film itu dibunuh dengan video klarifikasi rekayasa berarti membiarkan sejarah ditulis oleh pemodal. Membela Mama Yosinta berarti membela hak untuk berkata tidak. Jika hari ini Mama Yosinta ditekan, maka besok bisa siapa saja. Jika hari ini satu suara dibeli, maka besok satu kampung bisa disewa.

Jalan keluarnya ada di tangan kita. Hidupkan kembali fakta film itu di para-para adat, di gereja, di kelas, di diskusi kampus, di media sosial. Dampingi Mama Yosinta dan tokoh-tokoh lain agar tidak berjalan sendiri. Kawal setiap proses perizinan di kampung. Tolak tanda tangan di atas kertas kosong. Catat setiap nama yang datang membawa uang dan janji. Kolonialisme hanya menang kalau kita diam dan terpecah. Ia akan kalah kalau kita bersuara bersama dan menjaga tanah seperti menjaga napas. Kohao

Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan
Kokoda, 24 Mei 2026 || 03:09

 

Dukung Pondok Baca Mataleza Olakile dengan donasi ke sini

  • Penulis: Emil E Wakei
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Rasa: Jomlo Bukan Aib, yang Aib Itu Memaksa Semua Orang Hidup dengan Cara yang Sama

    Ruang Rasa: Jomlo Bukan Aib, yang Aib Itu Memaksa Semua Orang Hidup dengan Cara yang Sama

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 190
    • 3Komentar

    Ada satu pertanyaan yang diam-diam sering berkeliaran di kepala saya. Mengapa menjadi jomlo terasa seperti sedang memikul dosa yang tidak pernah dilakukan? Entah sejak kapan masyarakat menyepakati sebuah aturan tak tertulis bahwa seseorang dianggap “terlambat” ketika belum memiliki pasangan. Setiap pesta keluarga berubah menjadi ruang interogasi. Setiap reuni terasa seperti sidang terbuka. Bahkan, senyum yang […]

  • Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Beny K. Harman
    • visibility 342
    • 0Komentar

    Oleh: Benny K. Harman Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir. Pelarangan massal terhadap film ini bukan sekadar tindakan sensor birokratis yang kolot. Ini adalah ekspresi ketakutan […]

  • Saat AI Ikut Makan Bersama:  Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    Saat AI Ikut Makan Bersama: Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 434
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba (Mahasiswa Teologi-Wedabhakti-Sanata Dharma) Pendahuluan Meja makan bukan sekadar tempat untuk menyantap makanan. Dalam banyak budaya, meja makan sering diartikan sebagai ruang yang paling istimewa, tempat di mana keluarga berbagi cerita satu dengan yang lain. Tradisi makan bersama sudah berlangsung ribuan tahun sebagai perekat atau pelekat hubungan. Namun belakangan ada semacam  perubahan yang kelihatanya […]

  • Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    Sudut Pandang: Kritik Terhadap Ruang Publik Indonesia

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Roy Wujon
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Oleh: Roy Wujon Mahasiswa IFTK Ledalero Dalam sistem negara demokrasi seperti Indonesia, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers merupakan pilar penting yang patut dihargai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kecenderungan pembatasan kritik publik melalui media, baik media massa konvensional maupun platform digital. Pembatasan tersebut sering kali dilakukan dengan dalih menjaga stabilitas, mencegah hoaks, atau melindungi […]

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 499
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6     Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

  • Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    Gabriel Manek, Ketua Komite SMPSK KOTAGOA BOAWAE: 207 Mimpi yang Siap Terbang Tinggi

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus mengharukan. Dengan penuh rasa syukur, saya mengucapkan selamat kepada 207 cucu-cucuku yang cantik dan ganteng, Angkatan ke-72 SMPSK Kotagoa Boawae, yang hari ini dinyatakan lulus. Angka 207 ini terasa istimewa. Jika angka nol di tengah dihilangkan, lalu posisi angka 2 dan 7 ditukar, maka akan menjadi 72, sama […]

expand_less