Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

  • account_circle Emil E Wakei
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 121
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan)

Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, dusun, dan masa depan anak cucu. Ketegasan itu lahir dari pengalaman. Ia tahu bagaimana izin turun tanpa musyawarah, bagaimana ekskavator datang sebelum persetujuan, dan bagaimana janji kesejahteraan berubah menjadi pos aparat.

Karena rekam jejaknya jelas, maka ketika tiba-tiba muncul sebuah video yang menunjukkan Mama Yosinta berubah sikap, kejanggalan itu langsung terasa. Orang yang sudah berjalan jauh demi sebuah penolakan tidak akan berbalik tanpa sebab. Sebab itu mudah dibaca. Pihak lain memanfaatkan dua celah yang paling rentan: kondisi ekonomi dan trauma. Hidup di kampung dengan beban keluarga tidak ringan. Harga barang naik, akses kesehatan mahal, anak harus sekolah. Dalam keadaan seperti itu, tawaran uang bukan sekadar angka. Ia adalah tekanan. Lalu ada trauma. Bertahun-tahun rakyat berhadapan dengan proses hukum yang melelahkan dan bayang-bayang pendekatan militer setiap kali bersuara. Trauma tidak hilang. Ia tidur di tubuh. Ketika dibangunkan dengan intimidasi halus, ia bisa membuat orang memilih diam atau mengucapkan kalimat yang diminta. Maka video yang beredar itu bukan bukti “kesadaran baru”. Ia adalah potret ketakutan yang dipaksa bicara.

Situasi ini tidak boleh dibiarkan menggantung. Cara melawannya hanya satu: ambil kembali kendali atas narasi. Ajak Mama Yosinta berdiri bersama beberapa tokoh adat yang terekam dalam film Pesta Babi. Berdiri di atas tanahnya sendiri, menatap kamera tanpa perantara, lalu nyatakan sikap bersama. Pertama, tegaskan bahwa seluruh isi film Pesta Babi adalah fakta. Film itu merekam perampasan ruang hidup di Merauke, pembukaan hutan di Boven Digoel, hilangnya dusun sagu karena konsesi, dan suara mama-mama yang menolak sejak hari pertama. Kedua, klarifikasi bahwa video Mama Yosinta yang sebelumnya beredar dibuat dalam situasi intimidasi. Sampaikan bahwa ada tekanan ekonomi yang dimanfaatkan dan ada rasa traumatik berhadapan dengan hukum serta aparat. Pernyataan kolektif penting karena satu suara mudah dibeli dan dipelintir. Suara bersama lebih sulit dibungkam. Ia menutup ruang bagi pihak yang mau mengadu domba tokoh dengan rakyatnya.

Apa yang terjadi pada Mama Yosinta adalah cermin dari pola lama yang masih dipakai hari ini. Inilah wajah baru kolonialisme: ia kalah bersaing di ranah fakta, maka ia bermain di ranah tekanan. Ia tidak bisa lagi menyebut Tanah Papua sebagai tanah kosong karena kamera sudah masuk ke kampung, data satelit sudah merekam deforestasi, dan mama-mama sudah bersaksi sampai ke MK. Ketika fakta tidak bisa dibantah, maka yang dibantah adalah orangnya. Tokoh dilemahkan, narasi diputar, dukungan palsu diciptakan. Tujuannya satu: agar proyek jalan terus, agar konsesi aman, agar tanah adat pindah tangan dengan stempel “persetujuan masyarakat”.

Karena itu sikap kita harus tegas sejak awal. Tanah Papua bukan tanah kosong. Di atasnya ada marga, ada sejarah, ada batas dusun, ada pohon yang ditanam tete nene. Jangan pernah lepaskan tanah adat kepada negara dalam bentuk dan kepentingan apa pun. Nama bisa berganti: PSN, food estate, investasi hijau, ketahanan pangan, HGU. Tetapi pola tetap sama: tanah diambil, rakyat dipinggirkan, janji tinggal di baliho. Sekali tanah lepas, yang kembali bukan kesejahteraan. Yang kembali hanya program CSR, pembagian sembako, dan penjagaan bersenjata.

Film Pesta Babi adalah dokumen. Ia bukan fitnah. Ia adalah arsip tentang apa yang sedang terjadi. Membiarkan film itu dibunuh dengan video klarifikasi rekayasa berarti membiarkan sejarah ditulis oleh pemodal. Membela Mama Yosinta berarti membela hak untuk berkata tidak. Jika hari ini Mama Yosinta ditekan, maka besok bisa siapa saja. Jika hari ini satu suara dibeli, maka besok satu kampung bisa disewa.

Jalan keluarnya ada di tangan kita. Hidupkan kembali fakta film itu di para-para adat, di gereja, di kelas, di diskusi kampus, di media sosial. Dampingi Mama Yosinta dan tokoh-tokoh lain agar tidak berjalan sendiri. Kawal setiap proses perizinan di kampung. Tolak tanda tangan di atas kertas kosong. Catat setiap nama yang datang membawa uang dan janji. Kolonialisme hanya menang kalau kita diam dan terpecah. Ia akan kalah kalau kita bersuara bersama dan menjaga tanah seperti menjaga napas. Kohao

Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan
Kokoda, 24 Mei 2026 || 03:09

 

Dukung Pondok Baca Mataleza Olakile dengan donasi ke sini

  • Penulis: Emil E Wakei
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    Suka sibuk, di sekolah, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 210
    • 1Komentar

    suka sibuk pagi-pagi sekali di hari minggu, kami ke gereja. seperti orang-orang, kami berpakaian rapi. sebelum keluar pintu rumah, pastikan semua dalam keadaan siap, batin maupun pakaian. di pintu masuk gereja, semua mata mencari sumber bunyi kaki. lihat atas-bawah. di dalam gereja, ekaristi sebentar lagi mulai. masih ada yang sibuk menilai. sebentar sambut hosti, bikin […]

  • JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    JANGAN SALAH ALAMAT: MEMBACA PERUBAHAN SIKAP MAMA YASINTA

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)  Jangan caci-maki Mama Yasinta Moiwend. Jgn rubah konflik vertikal menjadi konflik horizontal antara sesama kita yang sama-sama terjepit. Siapa Mama Yasinta? Mama Yasinta adalah bagian dari masyarakat kecil. Hidupnya hanya di kampung dan hutan-hutan adat di Merauke. Pagi ke kebun, sore pulang bawa sagu. Tanah bagi Mama bukan sertifikat. […]

  • Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 519
    • 2Komentar

    Dalam karyanya “21 Pelajaran untuk Abad ke-21”, Yuval Hoah Harari mengatakan “jika masa depan umat manusia diputuskan tanpa melibatkan anda, kerena anda sibuk memberi makan dan memakaikan pakaian anak anda, tetap saja anda dan anak anda tidak bisa lepas dari konsekuensinya. Ini memang sungguh tidak adil, tetapi siapa bilang sejarah itu adil?” (Harari, 2023). Namun […]

  • Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 1.249
    • 7Komentar

    Sejarah peradaban selalu memberi kejutan yang melampaui batas imajinasi kita. Bagi umat manusia ribuan tahun lalu, membayangkan keberadaan kecerdasan buatan, mobil terbang, dan robot canggih seperti sekarang ini tentu mustahil. Pikiran mereka masih seputar cara berburuh, meramu makanan, dan membangun relasi sosial (Harari, 2017). Di luar itu, ada pertanyaan besar yang terus menghantui yaitu, apa […]

  • Siapakah Saya?

    Siapakah Saya?

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, banyak orang terjebak dalam rutinitas tanpa sempat berhenti sejenak untuk merenung. Kita sering sibuk mengejar prestasi, memenuhi ekspektasi orang lain, haus akan validasi atau sekadar bertahan dari tekanan sehari-hari, hingga lupa menanyakan hal yang paling mendasar: “Siapakah saya?” Pertanyaan sederhana namun mendalam ini sering kali […]

  • Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    Kotagoa Diamond Competition: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Menumbuhkan Mimpi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 97
    • 0Komentar

    8 Juni 2026 akan menjadi salah satu tanggal yang layak dikenang dalam perjalanan pendidikan di Boawae. Sore itu, Kotagoa Sport Area tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya pertandingan. Lapangan itu berubah menjadi panggung harapan, tempat lahirnya keberanian, kerja keras, dan mimpi-mimpi besar anak-anak. Sebanyak 27 tim dari berbagai Sekolah Dasar siap bertarung dalam cabang olahraga voli […]

expand_less