Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

  • account_circle Helena Lose Beraf
  • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
  • visibility 143
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ketika seorang bayi perempuan lahir, kalimat pertama yang paling sering terdengar bukan “Semoga ia tumbuh berani.” Bukan pula, “Semoga ia menjadi manusia yang bijaksana.” Yang keluar justru, “Cantik sekali .”

Lalu waktu berjalan, dan masyarakat melanjutkan pelajarannya. Perempuan cenderung diajari memakai bedak sebelum diajari berdebat, diajari bagaimana cara duduk anggun sebelum diajari menyampaikan pendapat. Diajari takut menjadi gelap, tetapi tidak diajari takut menjadi dangkal.

Mereka tumbuh di depan cermin,kulit harus cerah, tubuh ramping dan senyum harus selalu manis, bahkan ketika hatinya sedang tdk baik-baik saja.

Pelan-pelan mereka percaya bahwa cantik adalah “tiket” untuk dicintai. Padahal sebenarnya dunia sedang lupa mengajarkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar bertahan karena kecantikan.

Lalu industri mengambil alih.Perempuan dijual mimpi tentang kulit yang harus lebih putih, pinggang ramping, hidung mancung, pun bibir yang lebih penuh. Setiap hari mereka diyakinkan bahwa selalu ada yang salah dengan tubuhnya. Barangkali perempuan yang puas pada dirinya sendiri bukanlah “pasar yang menguntungkan”.

Yang lucu, industri kecantikan selalu berhasil menemukan kekurangan baru. Hari ini kulitmu terlalu gelap. Besok porimu terlalu besar.Minggu depan lehermu kurang cerah.Tahun depan mungkin siku pun harus dirawat dengan rangkaian skincare terbaru.

Kalau terus dituruti, barangkali sampai usia delapan puluh tahun pun perempuan masih dibuat merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Ironisnya, semakin banyak perempuan mengejar standar itu, semakin jauh mereka dari dirinya sendiri.

Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa menghabiskan berjam-jam memilih warna lipstik, tetapi tidak pernah sempat memilih buku yang sanggup mengubah cara berpikirnya. Kita menghafal kandungan serum, dan lupa bertanya siapa yang menulis undang-undang yang mengatur hidup kita. Kita rela mencicil wajah baru, tetapi enggan mencicil pengetahuan. Ini mungkin karena sejak lama perempuan dibuat percaya bahwa tampil menarik adalah prestasi. Padahal yang paling sering bermasalah bukan tubuh perempuan. Justru cara masyarakat memandang perempuan.

Aneh sekali.

Kita lebih heboh mengomentari perempuan yang berat badannya naik lima kilo ketimbang laki-laki yang kualitas pikirannya turun lima tingkat.

Mungkin karena kita memang lebih mudah mengagumi wajah daripada isi kepala.

Wajah bisa dinilai dalam tiga detik. Tapi pikiran membutuhkan percakapan. Padahal sejarah tidak pernah berubah karena wajah yang simetris.

Tak satu pun gagasan besar lahir dari sepasang bulu mata lentik. Pun ketidakadilan runtuh karena warna gincu.

Negara tidak menjadi lebih adil karena ada perempuan yang hidungnya mancung. Anak-anak tidak menjadi lebih cerdas hanya karena ibunya memakai serum seharga gaji sebulan.

Yang mengubah dunia selalu hal-hal yang tidak dijual di toko kosmetik : Pengetahuan, kecakapan.

keberanian, disiplin, empati, integritas, prinsip yang tidak dijual murah serta kebajikan.

Sebab kecantikan adalah musim yg datang, mekar, dan pelan² meninggalkan tubuh sebagaimana daun gugur ketika waktunya tiba.

Tidak ada bedak yang mampu menghentikan usia, atau gaun yang sanggup mengalahkan waktu.

Pun tidak ada mata yang selamanya memandang hanya karena wajah.

Tapi yang bertahan justru sesuatu yang tak pernah bisa dipoles oleh kosmetik. Pikiran yang merdeka.

Keberanian untuk berkata “tidak”, kecerdasan yang membuatmu mampu berdiri tanpa menggantungkan harga dirimu pada tepuk tangan siapapun.

Perempuan tidak dilahirkan untuk menjadi hiasan ruang tamu kehidupan. Bukan bunga yang sekadar dipuji karena kelopaknya. Tpi perempuan adalah akar yang mengikat tanah.

Adalah api yang menghangatkan sekaligus cahaya penunjuk arah.

Bukan berarti perempuan harus berhenti merawat diri.Merawat tubuh adalah bentuk penghormatan kepada diri sendiri. Berdandan juga bisa menjadi cara mencintai diri sendiri. Masalahnya muncul ketika seluruh tenaga, waktu, dan harga diri hanya dihabiskan untuk menjadi indah di mata orang lain.

Saat kecantikan berubah menjadi syarat agar seseorang merasa layak didengar. Sebenarnya kita sedang rugi besar . Kita seperti sibuk merawat sangkar, padahal burung di dalamnya mati pelan-pelan. Karena perempuan akhirnya menghabiskan terlalu banyak energi memperbaiki wajah, sementara dunia justru lebih membutuhkan perempuan yang berani memperbaiki keadaan.

Maka jangan terlalu takut ketika wajahmu tidak memenuhi ukuran-ukuran yang dibuat industri kecantikan. Takutlah jika suatu hari kamu kehilangan keberanian untuk berpikir; bila suaramu dibungkam hanya demi terlihat menyenangkan; takut jika kamu rela menukar keyakinan dengan penerimaan. Sebab sejarah tidak pernah mengingat perempuan hanya karena ia paling molek. Sejarah selalu mengingat mereka yang berani berdiri dan berbicara ketika yang lain dibungkam; yang menjaga nurani ketika dunia sibuk memperdagangkan nilai manusia.

Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara memuji perempuan.

Sesekali jangan berkata, “Kamu cantik sekali hari ini.” Cobalah berkata, “Cara berpikirmu menarik.”

“Aku suka karena kamu memegang prinsip.”

“Buku apa yang mengubah hidupmu?”

“Nilai apa yang akan kauwariskan kepada anak-anakmu?”

Karena cantik mungkin membuat seseorang menoleh sesaat. Tetapi kualitas diri membuat orang tinggal. Kecakapan membuat orang percaya. Kebijaksanaan membuat orang menghormati.

Nanti ketika tiba saatnya usia mengambil kecantikan, bertanyalah pada diri sendiri

Apakah kamu pernah menjadi manusia yang pikirannya lebih besar daripada cerminnya?

Ingatlah, dunia tdk membutuhkan perempuan yang utuh di hadapan cermin tpi utuh di dalam jiwanya. ; yang pikirannya lebih memesona daripada wajahnya, integritasnya lebih harum daripada parfumnya, ilmunya lebih bercahaya daripada perhiasannya, dan kasihnya lebih panjang daripada usia kecantikannya.

 

Helena Lose Beraf– Bidan, Guru, penulis, pecinta Sastra. Di tengah dunia yang terlalu gaduh berbicara, aku memilih tinggal di antara puisi, kesunyian, dan kata-kata yang masih memiliki jiwa.

  • Penulis: Helena Lose Beraf
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    Sudut Pandang: Membaca Perkara, Menahan Tafsir

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Wicaksono
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Oleh: Wicaksono Singkirkan dulu euforia kemenangan 2-0 Prancis atas Maroko di laga Piala Dunia dini hari tadi. Ada rangkaian peristiwa penting lain yang lebih menyita perhatian masyarakat, yaitu penggeledahan yang dilakukan Polri ke sejumlah tempat, pernyataan Kejaksaan Agung, dan penjelasan TNI. Peristiwa tersebut, meski penting dan menjadi perhatian publik, sebaiknya dibaca dengan hati-hati. Ini bukan […]

  • PERMEN: Roh Kudus: Bawa Pengetahuan Buka Pintu Komunikasi, Edisi Hari Raya Pentakosta

    PERMEN: Roh Kudus: Bawa Pengetahuan Buka Pintu Komunikasi, Edisi Hari Raya Pentakosta

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Inspirasi: Kis 2:1-11 /// Yoh 20:19-23 Kita buka renungan di Hari Raya ini dengan pantun: Maksud hati mengunjungi Om Strom, apa daya bertemu Veronika. ROH KUDUS menjadikan kita Strong. Di tengah situasi sedih dan terluka. Ketika Roh Kudus turun atas para Rasul, saat itu Gereja lahir. Gereja yang penuh dengan daya Roh Kudus, membuat Gereja […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 492
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • Ibu di Kota

    Ibu di Kota

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 333
    • 0Komentar

    Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang? Sebelum […]

  • Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Robertus Pitang
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan […]

  • DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    DEKONSTRUKSI NARASI KORBAN: KRITIK ATAS BIAS MASKULIN DAN OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM ARTIKEL “DILEMA LAKI-LAKI DI BALIK TUNTUTAN BELIS” KARYA AGUSTINUS S. SASMITA

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 774
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada kesempatan pertama, penulis mengapresiasi tulisan yang berjudul “Dilema Laki-laki di Balik Tuntutan Belis” karya Agustinus S. Sasmita. Agustinus mencoba membaca situasi yang sedang terjadi di NTT dengan kacamata yang tajam dan cukup menggugah eksistensi budaya belis. Tulisan ini juga menawarkan sebuah potret nyata yang melankolis mengenai “beban laki-laki NTT” dalam menghadapi ritual perkawinan […]

expand_less