Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

  • account_circle Redaksi Mataleza
  • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
  • visibility 109
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Halo, teman-teman. Apa kabar? Salam jumpa lagi bersama saya di Ruang Rasa. Pada kesempatan ini saya akan berbagi sebuah tulisan yang saya kembangkan dari salah satu postingan di Facebook. Sebelum teman-teman membaca tulisan di bawah ini lebih lanjut, perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini murni hanyalah respon atas postingan tersebut. Mungkin saja di luar sana ada yang mengalami hal yang sama, silakan dibaca dan semoga tidak menimbulkan memori kelam itu hadir kembali ke permukaan. Selamat membaca.

***

Aku adalah anak perempuan satu-satunya di keluargaku. Aku memiliki dua orang saudara laki-laki. Sejak kecil, aku tumbuh dengan dua wajah kasih sayang yang sangat berbeda.

Bapak adalah orang yang selalu berusaha memenuhi kebutuhanku. Apa pun yang kubutuhkan, sebisa mungkin ia usahakan ada. Di mataku yang masih kecil, itulah bentuk cinta seorang ayah. Aku merasa aman ketika berada di dekatnya.

Namun, semua itu tidak pernah kutemukan pada mama.

Entah mengapa, mama selalu tampak marah setiap kali melihatku. Aku lebih sering mendengar bentakan daripada kata-kata lembut. Tangannya tidak jarang mencubitku ketika melakukan kesalahan kecil. Bahkan, di depan teman-temanku, mama sering memakiku tanpa memedulikan rasa maluku. Setiap kali itu terjadi, aku hanya bisa menundukkan kepala sambil menahan air mata. Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa kesalahanku.

Sebagai seorang anak, aku terus bertanya-tanya dalam hati.

Mengapa mama begitu membenci aku?

Mengapa mama bisa begitu hangat kepada saudara-saudaraku, tetapi begitu dingin kepadaku?

Aku berkali-kali mencoba mencari jawabannya. Aku bahkan pernah berpikir mungkin aku memang anak yang nakal, anak yang tidak cukup baik, atau anak yang selalu mengecewakan. Maka aku terus berusaha menjadi anak yang lebih penurut, berharap suatu hari mama akan memelukku dan berkata bahwa ia juga menyayangiku.

Hari itu tidak pernah datang. Hingga aku duduk di bangku SMA, sebuah kenyataan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Oma memanggilku dan menceritakan semuanya.

Dengan suara yang pelan, ia mengatakan bahwa mama bukan ibu kandungku. Aku adalah anak yang lahir dari hubungan ayah dengan perempuan lain.

Oma juga mengatakan bahwa ketika aku lahir, mama tidak sanggup menerimaku. Bahkan, mama pernah ingin membuangku. Saat itulah bapak mengambilku dan memutuskan untuk merawatku sendiri. Sejak saat itu, aku dibesarkan di rumah yang sama, tetapi dengan luka yang tidak pernah benar-benar terlihat oleh siapa pun.

Mendengar cerita itu, rasanya seperti seluruh hidupku runtuh dalam sekejap. Semua pertanyaan yang selama bertahun-tahun memenuhi kepalaku akhirnya menemukan jawaban. Bentakan itu. Cubitan itu. Makian di depan orang lain. Tatapan dingin itu. Semuanya tiba-tiba terasa masuk akal. Aku akhirnya mengerti bahwa kebencian mama bukan benar-benar dimulai dariku.

Aku hanyalah pengingat hidup dari luka yang pernah menghancurkan rumah tangganya. Sejak mengetahui kenyataan itu, aku sering memandang diriku sendiri dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada bagian dalam diriku yang berkata bahwa mungkin memang pantas jika mama tidak pernah bisa menyayangiku. Aku hadir sebagai bukti pengkhianatan yang tidak pernah ia pilih. Aku adalah anak dari perempuan yang hampir menghancurkan keluarganya.

Tetapi di sisi lain, aku juga sadar bahwa saat semua itu terjadi, aku bahkan belum mampu memilih untuk dilahirkan. Aku tidak pernah meminta menjadi alasan seseorang menangis. Aku tidak pernah meminta menjadi bukti sebuah perselingkuhan. Aku tidak pernah memilih siapa ayah dan ibu yang akan melahirkanku. Aku hanya seorang anak. Seorang anak yang sejak kecil tidak mengerti mengapa pelukan seorang ibu terasa begitu jauh.

Sampai hari ini, aku masih belajar menerima kenyataan itu. Aku tidak bisa mengubah masa lalu, juga tidak bisa menghapus luka yang pernah dialami mama. Mungkin luka itu terlalu dalam sehingga setiap kali melihatku, yang ia lihat bukanlah seorang anak, melainkan kenangan tentang pengkhianatan yang pernah merobek hidupnya.

Namun, di balik semua itu, ada satu harapan yang masih kusimpan. Semoga suatu hari nanti, mama bisa melihatku bukan sebagai kesalahan orang dewasa, melainkan sebagai seorang anak yang sejak awal hanya ingin dicintai. Karena bagaimanapun, aku tidak pernah memilih dilahirkan dari kisah yang rumit ini. Aku hanya lahir dan sejak kecil, aku hanya ingin menjadi anak yang dipeluk oleh ibunya.

Fian N, Pondok Baca Mataleza Olakile 2026

  • Penulis: Redaksi Mataleza
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Memelihara Hati di Tengah Arus Digital:  Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    Memelihara Hati di Tengah Arus Digital: Pembacaan Teologis Kebijaksanaan Amsal 4:23 dan Psikologi Jonathan Haidt bagi Generasi Muda

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 428
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba,Β Frater OCD Dunia saat ini telah mengalami transformasi mendasar dalam cara manusia berinteraksi, berpikir, dan memaknai realitas. Bagi generasi Z dan Aplha, ekosistem digital bukan lagi sekadar alat bantu atau saluran komunikasi tambahan, melainkan lingkungan hidup utama tempat identitas dibentuk, relasi dijalin, dan makna kehidupan dicari. Kemudahan konektivitas yang ditawarkan oleh smartphone dan platform […]

  • 4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    4 Pertanyaan Horor ini tidak Boleh Ditanyakan Saat Reunian Bersama Teman-teman: Tidak Semua Canda Berakhir Tawa!

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 168
    • 4Komentar

    Apa yang paling kau takuti saat bertemu teman-teman lama? Ini pertanyaan pembuka yang saya coba ajukan untuk diri sendiri sebagai pemberi stimulus. Tujuannya adalah agar saya bisa menulisnya sampai tuntas! Tepatnya tidak ke luar dari ide besar yang sudah didapatakan melalui judul di atas. Senin, 09 Desember 2024 tepat di jam 17:27 saya ditelepon oleh […]

  • Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    Wujudkan Sekolah Vokasi Desa, Politeknik St. Wilhelmus Sukses Gelar Panen Perdana Wortel Organik di Desa Lajawajo

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Publikasi Politeknik St. Wilhelmus Boawae
    • visibility 192
    • 0Komentar

    NAGEKEO, 30 Maret 2026 – Politeknik St. Wilhelmus (PSW) mempertegas komitmennya dalam pembangunan masyarakat berbasis vokasi melalui kegiatan panen perdana wortel organik di Desa Lajawajo, Kabupaten Nagekeo, Senin (30/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Sekolah Vokasi Desa melalui pembuatan kebun percontohan (demplot) hortikultura di lahan milik desa. Sebagai desa binaan PSW, Desa Lajawajo menjadi […]

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 384
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

  • PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    PERMEN: Pesona Roh Kudus Dalam Komitmen Misioner, 11 Mei 2026

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 319
    • 11Komentar

    PERMEN edisi Senin Paskah ke-6 – 11 Mei 2026 – Pesona Roh Kudus dalam Komitmen Misioner Inspirasi: Kis 16:11-15; Yohanes 15:26-16:4a   Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Paulus begitu semangat untuk mencari dan menemui para pengikut Kristus. Hari-hari ini kita mendengar kisahnya bahwa Paulus ke sini-lah, ke sana-lah; ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, Makedonia-lah, […]

  • Prihartini

    Prihartini

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Alvianus Tay
    • visibility 437
    • 2Komentar

    Kunang-kunang beterbangan kian kemari, sesekali hinggap di meja makan tua dari kayu mahoni, sesekali mendarat di kepala Prihartini yang tengah tenggelam dalam lamunan. Kesedihan terukir jelas pada wajah mudanya. Matanya merah, serupa tumpahan air sirih pinang di pelataran teras. Tak ada hujan air mata, hanya perih yang melumat habis kesadarannya. Ia seolah meluruh, tak berdaya […]

expand_less