Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ruang Rasa: Aku Anak yang Tidak Pernah Dipilih

  • account_circle Redaksi Mataleza
  • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
  • visibility 85
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Halo, teman-teman. Apa kabar? Salam jumpa lagi bersama saya di Ruang Rasa. Pada kesempatan ini saya akan berbagi sebuah tulisan yang saya kembangkan dari salah satu postingan di Facebook. Sebelum teman-teman membaca tulisan di bawah ini lebih lanjut, perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini murni hanyalah respon atas postingan tersebut. Mungkin saja di luar sana ada yang mengalami hal yang sama, silakan dibaca dan semoga tidak menimbulkan memori kelam itu hadir kembali ke permukaan. Selamat membaca.

***

Aku adalah anak perempuan satu-satunya di keluargaku. Aku memiliki dua orang saudara laki-laki. Sejak kecil, aku tumbuh dengan dua wajah kasih sayang yang sangat berbeda.

Bapak adalah orang yang selalu berusaha memenuhi kebutuhanku. Apa pun yang kubutuhkan, sebisa mungkin ia usahakan ada. Di mataku yang masih kecil, itulah bentuk cinta seorang ayah. Aku merasa aman ketika berada di dekatnya.

Namun, semua itu tidak pernah kutemukan pada mama.

Entah mengapa, mama selalu tampak marah setiap kali melihatku. Aku lebih sering mendengar bentakan daripada kata-kata lembut. Tangannya tidak jarang mencubitku ketika melakukan kesalahan kecil. Bahkan, di depan teman-temanku, mama sering memakiku tanpa memedulikan rasa maluku. Setiap kali itu terjadi, aku hanya bisa menundukkan kepala sambil menahan air mata. Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa kesalahanku.

Sebagai seorang anak, aku terus bertanya-tanya dalam hati.

Mengapa mama begitu membenci aku?

Mengapa mama bisa begitu hangat kepada saudara-saudaraku, tetapi begitu dingin kepadaku?

Aku berkali-kali mencoba mencari jawabannya. Aku bahkan pernah berpikir mungkin aku memang anak yang nakal, anak yang tidak cukup baik, atau anak yang selalu mengecewakan. Maka aku terus berusaha menjadi anak yang lebih penurut, berharap suatu hari mama akan memelukku dan berkata bahwa ia juga menyayangiku.

Hari itu tidak pernah datang. Hingga aku duduk di bangku SMA, sebuah kenyataan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Oma memanggilku dan menceritakan semuanya.

Dengan suara yang pelan, ia mengatakan bahwa mama bukan ibu kandungku. Aku adalah anak yang lahir dari hubungan ayah dengan perempuan lain.

Oma juga mengatakan bahwa ketika aku lahir, mama tidak sanggup menerimaku. Bahkan, mama pernah ingin membuangku. Saat itulah bapak mengambilku dan memutuskan untuk merawatku sendiri. Sejak saat itu, aku dibesarkan di rumah yang sama, tetapi dengan luka yang tidak pernah benar-benar terlihat oleh siapa pun.

Mendengar cerita itu, rasanya seperti seluruh hidupku runtuh dalam sekejap. Semua pertanyaan yang selama bertahun-tahun memenuhi kepalaku akhirnya menemukan jawaban. Bentakan itu. Cubitan itu. Makian di depan orang lain. Tatapan dingin itu. Semuanya tiba-tiba terasa masuk akal. Aku akhirnya mengerti bahwa kebencian mama bukan benar-benar dimulai dariku.

Aku hanyalah pengingat hidup dari luka yang pernah menghancurkan rumah tangganya. Sejak mengetahui kenyataan itu, aku sering memandang diriku sendiri dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada bagian dalam diriku yang berkata bahwa mungkin memang pantas jika mama tidak pernah bisa menyayangiku. Aku hadir sebagai bukti pengkhianatan yang tidak pernah ia pilih. Aku adalah anak dari perempuan yang hampir menghancurkan keluarganya.

Tetapi di sisi lain, aku juga sadar bahwa saat semua itu terjadi, aku bahkan belum mampu memilih untuk dilahirkan. Aku tidak pernah meminta menjadi alasan seseorang menangis. Aku tidak pernah meminta menjadi bukti sebuah perselingkuhan. Aku tidak pernah memilih siapa ayah dan ibu yang akan melahirkanku. Aku hanya seorang anak. Seorang anak yang sejak kecil tidak mengerti mengapa pelukan seorang ibu terasa begitu jauh.

Sampai hari ini, aku masih belajar menerima kenyataan itu. Aku tidak bisa mengubah masa lalu, juga tidak bisa menghapus luka yang pernah dialami mama. Mungkin luka itu terlalu dalam sehingga setiap kali melihatku, yang ia lihat bukanlah seorang anak, melainkan kenangan tentang pengkhianatan yang pernah merobek hidupnya.

Namun, di balik semua itu, ada satu harapan yang masih kusimpan. Semoga suatu hari nanti, mama bisa melihatku bukan sebagai kesalahan orang dewasa, melainkan sebagai seorang anak yang sejak awal hanya ingin dicintai. Karena bagaimanapun, aku tidak pernah memilih dilahirkan dari kisah yang rumit ini. Aku hanya lahir dan sejak kecil, aku hanya ingin menjadi anak yang dipeluk oleh ibunya.

Fian N, Pondok Baca Mataleza Olakile 2026

  • Penulis: Redaksi Mataleza
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi, Renungan Harian Katolik 7 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 205
    • 4Komentar

    PERMEN edisi Kamis Paskah ke-5 – 07 MEI 2026 – Kasih: Tidak Ada Komunitas Tanpa Komunikasi Inspirasi: Kis 15:7-21 ; Yohanes 15:9-11 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Kurang baik apa lagi Tuhan kita, ajak kita untuk tinggal dalam kasih-Nya, supaya sukacita kita menjadi penuh. Yah, kasih memang menjadi ukuran sejati kematangan rohani. Kasih […]

  • Duka Pernikahan  dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Sella Suhardi
    • visibility 289
    • 5Komentar

    Duka Pernikahan (I) Aku pernah, pernah sekali mencintaimu Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar   Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap […]

  • Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    Penggali Sumur: Kembali ke Masa Lalu-Menata Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 355
    • 2Komentar

    “Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tetapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang utuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, om ingin menjadi penggali sumur.” Lima belas cerpen […]

  • Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 -Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 507
    • 6Komentar

    Permen edisi MINGGU 5 PASKAH -03 MEI 2026 Sejalan dengan Katolik; Searah dengan Kristus Inspirasi: Kis 6:1-7; I Ptr 2:4-9 ; Yohanes 14:1-12 Malu bertanya sesat di jalan, Rajin bertanya disangka wartawan // Selamat wahai umat beriman. Mari beri senyuman yang menawan. Sakramen Pembaptisan sudah buat kita sejalan dan searah dengan Tuhan. Tor monitor penikmat […]

  • PERMEN: Kenaikan Yesus: Jaminan Bagi Gereja, Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan, Edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

    PERMEN: Kenaikan Yesus: Jaminan Bagi Gereja, Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan, Edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle Rm. Laurensius Feto, P.r
    • visibility 243
    • 5Komentar

    PERMEN edisi Hari Raya Kenaikan Tuhan 14 Mei 2026 – Kenaikan Yesus: Jaminan bagi Gereja Rumah Tangga dalam Mencapai Kemuliaan Inspirasi: Kis 1:1-11, Ef 1:17-23, Matius 28:16-20 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Cerita-cerita tetang Yesus yang bangkit dari antara orang mati telah kita terima selama 40 hari. Yesus bangkit yang selanjutnya menampakkan diri, […]

  • BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    BURUH DUNIA YANG BUTUH SURGA: Permen Edisi Bulan Maria dan Hari Buruh

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 414
    • 0Komentar

    01 Mei 2026 Inspirasi: Kis 13:26-33; Yohanes 14:1-6     Penikmat Permen yang berhikmat dalam Tuhan. Dalam nada syukur penuh iman dan harapan, kita ucapkan selamat Hari Buruh Internasional alias May Day. Bersamaan dengan momen ini, umat Katolik merayakan pembukaan bulan Maria. Tidak sampai di situ, Gereja hari ini merenungkan Firman Suci dari penginjil Yohanes sebagai […]

expand_less