Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Di Kampung itu, Kani Pernah Menjadi Anak-anak

  • account_circle Monica Cinderela
  • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
  • visibility 15
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sebuah Feature tentang Kenangan, Kehilangan, dan Kampung Halaman

Ada masa ketika sebuah kampung kecil selalu ramai oleh suara anak-anak sejak subuh belum sepenuhnya pergi. Suara sandal berlarian di jalan tanah, tawa yang berderai di halaman rumah, dan bau embun pagi yang bercampur asap dapur nenek — semua itu dulu adalah bunyi sehari-hari yang begitu biasa, sampai tak seorang pun menyangka bahwa suatu hari nanti bunyi-bunyi itu akan menghilang satu per satu, digantikan oleh sunyi yang panjang.

Kampung itu bernama Kampung Kapartai, sebuah perkampungan kecil yang terletak di Desa Palakahembi, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Jauh dari hiruk-pikuk kota, Kampung Kapartai berdiri di antara hamparan ladang dan kebun yang mengelilingi rumah-rumah penduduknya. Kini, kampung itu tidak seramai dulu. Rumah-rumah masih berdiri di tempatnya, tetapi penghuninya telah pergi ke berbagai arah kehidupan. Yang tertinggal hanyalah kenangan — tentang seorang anak berusia enam tahun yang setiap pagi berjalan kaki ke sekolah bersama teman-temannya, tentang kakek dan nenek yang mengajarkan arti kerja keras lewat kandang ternak di belakang rumah, dan tentang dua kuburan yang kini menjadi satu-satunya tempat untuk pulang dan menyapa mereka yang telah tiada.

Cerita ini bukan tentang peristiwa besar yang mengguncang dunia. Ia hanya tentang satu keluarga kecil, satu kampung kecil, dan satu anak kecil yang tumbuh di antara ladang, kandang ternak, dan kasih sayang yang tidak pernah diucapkan dengan kata-kata muluk. Namun justru dari hal-hal kecil itulah, sebuah kehidupan yang utuh perlahan terbentuk — dan dari situ pula, kehilangan yang paling dalam kelak akan datang.

Potret Sebuah Kampung

Kampung Kapartai, Desa Palakahembi, Sumba Timur, bukanlah kampung besar. Tidak ada nama yang tercatat di peta wisata, tidak ada bangunan tinggi, apalagi keramaian pasar yang riuh setiap hari. Yang ada hanyalah deretan rumah panggung dan rumah papan yang saling berdekatan, jalan tanah berbatu yang berubah becek ketika hujan turun, serta ladang dan kebun yang mengelilingi hampir setiap sudutnya. Di sanalah, di antara rumah-rumah sederhana itu, masa kecilku tumbuh perlahan, seperti padi yang dibiarkan tumbuh mengikuti musim.

Setiap keluarga di Kampung Kapartai saling mengenal, bahkan hampir tidak ada rahasia yang benar-benar tersembunyi. Jika seorang anak menangis di ujung kampung, ibu-ibu di ujung yang lain sudah tahu sebelum berita itu sampai lewat mulut ke mulut. Kedekatan semacam itu membuat kampung terasa seperti satu keluarga besar — kakek dan nenekku bukan hanya orang tua dari orang tuaku, tetapi juga menjadi sosok yang dihormati oleh hampir seluruh tetangga, karena ketekunan mereka mengurus ladang dan ternak selama puluhan tahun.

Musim menjadi penanda waktu yang lebih nyata daripada kalender di dinding rumah. Ketika musim tanam tiba, hampir seluruh kampung sibuk turun ke sawah sejak pagi buta. Ketika musim panen datang, suara gotong royong terdengar di mana-mana — orang-orang saling membantu memanen padi milik tetangga sebelum mengurus ladang sendiri. Begitu pula ketika musim kemarau panjang melanda — sesuatu yang sudah sangat akrab di tanah Sumba Timur — seluruh kampung sama-sama merasakan sumur yang mengering dan ternak yang harus dicarikan air lebih jauh dari biasanya. Kesulitan-kesulitan itu, alih-alih memisahkan, justru semakin merekatkan hubungan antarwarga, termasuk keluarga kami.

Pagi yang Selalu Sama

Saat itu umurku baru enam tahun. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, aku sudah bangun untuk bersiap ke sekolah. Tidak ada kendaraan yang mengantar, tidak ada yang mengeluh soal jarak — aku dan teman-teman sekampung berjalan kaki bersama, melewati jalan yang sama setiap hari, sambil bercanda dan berlomba siapa yang sampai lebih dulu. Perjalanan yang mungkin terasa jauh bagi orang lain, bagi kami hanyalah bagian dari keseruan pagi hari.

Sepulang sekolah, dunia kami berubah menjadi taman bermain tanpa batas waktu. Kami bermain bersama sampai lupa jam, sampai lupa lapar, sampai orang tua memanggil dari kejauhan untuk pulang. Tidak ada gawai yang menyita perhatian, hanya tanah lapang, suara tawa, dan permainan yang diciptakan sendiri dari apa pun yang ada di sekitar kami. Masa kecil itu sederhana, tetapi terasa begitu utuh.

Kadang kami bermain petak umpet di antara semak dan pematang ladang, kadang berlarian mengejar layang-layang yang terbang jauh dari genggaman. Ketika sore mulai turun dan langit berubah jingga — langit sore Sumba yang kerap membakar cakrawala dengan warna-warna yang sulit dilukiskan — biasanya kami duduk berjejer di atas batang kelapa yang tumbang, sekadar bercerita atau membagi jajanan seadanya yang dibeli dari warung kecil di ujung kampung. Tidak ada yang istimewa dari kegiatan itu, tetapi justru dari kesederhanaan itulah kenangan paling hangat tersimpan.

Kandang yang Mengajarkan Kehidupan

Ketika usiaku menginjak sepuluh tahun, rutinitasku bertambah. Aku mulai membantu kakek, nenek, dan orang tua mengurus hewan ternak di rumah — babi, kambing, dan sapi yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga kami. Ternak memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sumba Timur — bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga lambang kehormatan dan bagian dari adat yang diwariskan turun-temurun. Setiap sore, seusai bermain, aku akan pergi memberi makan mereka satu per satu, memastikan air minumnya cukup, lalu menggiring mereka masuk ke kandang sebelum matahari benar-benar tenggelam.

Pekerjaan itu tidak pernah terasa seperti beban. Ia menjadi rutinitas yang kunantikan, semacam jembatan antara dunia bermain anak-anak dan dunia tanggung jawab yang perlahan diajarkan oleh kakek dan nenek tanpa banyak kata. Dari merekalah aku belajar bahwa kerja keras tidak selalu tentang hasil besar, tetapi tentang konsistensi kecil yang dilakukan setiap hari — memberi makan ternak, membersihkan kandang, dan pulang dengan tubuh lelah namun hati yang tenang.

Aku masih ingat bagaimana kakek selalu mengajariku cara mengikat tali kambing dengan simpul yang benar, supaya hewan itu tidak mudah lepas namun tetap nyaman bergerak. Nenek, di sisi lain, selalu memastikan aku mencuci tangan bersih-bersih begitu selesai dari kandang, sambil berkata bahwa kerja keras tidak ada gunanya jika tidak dibarengi dengan menjaga diri sendiri. Dua nasihat kecil itu, yang dulu terdengar biasa saja, kini menjadi salah satu kenangan yang paling sering kuputar ulang dalam ingatan.

Sosok yang Selalu Menunggu di Teras

Nenek adalah sosok yang paling sering kutemui setiap kali pulang dari kandang. Ia biasa duduk di teras rumah dengan sehelai kain yang dililitkan di pundak — kain tenun Sumba yang warnanya sudah memudar karena sering dipakai — menunggu sambil menganyam atau sekadar mengawasi langit sore. Begitu melihatku datang dengan tubuh berkeringat dan bau kandang yang menempel, ia akan tersenyum dan bertanya apakah semua hewan sudah makan, apakah pintu kandang sudah dikunci rapat, apakah aku lelah.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, yang diulang hampir setiap sore selama bertahun-tahun, menjadi semacam ritual yang tanpa sadar membentuk rasa aman dalam diriku. Ada seseorang yang menunggu, ada seseorang yang peduli pada hal-hal kecil yang kulakukan. Nenek tidak banyak berbicara tentang cita-cita atau masa depan, tetapi caranya menunggu di teras setiap sore mengajarkan bahwa kehadiran seseorang, sekecil apa pun bentuknya, bisa berarti sangat besar bagi orang lain.

Suara yang Selalu Mendorong dari Belakang

Jika nenek adalah sosok yang menunggu, kakek adalah sosok yang selalu mendorong dari belakang. Ia jarang memuji secara langsung, tetapi caranya menyemangati selalu terasa lewat tindakan — mengajakku ikut ke ladang meski hanya untuk melihat, membiarkanku mencoba mencangkul meski hasilnya masih berantakan, atau sekadar menepuk pundakku ketika pekerjaan di kandang selesai lebih cepat dari biasanya.

Kakek pernah berkata, dengan logat Sumba yang khas, bahwa hidup itu seperti ternak yang dipelihara — harus telaten, harus sabar, dan hasilnya tidak akan pernah mengkhianati usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kalimat sederhana itu terus terngiang, bahkan bertahun-tahun setelah suaranya tidak lagi terdengar di rumah.

Kehilangan yang Pertama

Tahun 2019 menjadi titik yang mengubah segalanya. Nenek, sosok yang selalu ada di setiap sore untuk menemani dan mengingatkanku bekerja, berpulang untuk selamanya. Kehilangan itu terasa begitu dalam — bukan hanya kehilangan seorang nenek, tetapi kehilangan seseorang yang selama ini menjadi alasan diam-diam mengapa aku selalu bersemangat menjalani rutinitas sore itu.

Untuk pertama kalinya, kandang ternak di Kampung Kapartai yang biasanya penuh suara dan kesibukan terasa sunyi. Tidak ada lagi suara nenek memanggil dari dapur, tidak ada lagi seseorang yang menunggu di teras sambil menanyakan apakah hewan-hewan sudah diberi makan. Ada ruang kosong yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.

Hari-hari setelah kepergian nenek terasa aneh. Aku tetap menjalankan rutinitas yang sama — memberi makan ternak, membersihkan kandang, menggiring hewan pulang sebelum gelap — tetapi semuanya terasa berbeda tanpa ada yang menunggu di teras. Aku sering menoleh ke arah teras rumah tanpa sadar, berharap melihat siluet nenek dengan kain tenun di pundaknya, sebelum akhirnya sadar bahwa teras itu kini kosong.

Rumah yang Kian Sepi

Beberapa tahun berselang, kakek pun menyusul. Kehilangan kedua ini terasa berbeda, namun sama-sama menyisakan luka yang dalam. Kakek adalah sosok yang selalu memotivasiku untuk bangkit, yang dengan caranya sendiri menanamkan semangat untuk terus bekerja meski lelah. Ketika ia pergi, tidak ada lagi orang yang menyemangati dari balik pintu kandang, tidak ada lagi nasihat singkat yang biasa diucapkan sambil tersenyum.

Rumah yang dulu ramai oleh suara keluarga besar kini terasa sunyi setiap hari. Yang tersisa hanyalah dua gundukan tanah di pemakaman Kampung Kapartai, tempat aku sesekali datang hanya untuk duduk sejenak, mengingat, dan menyapa mereka dalam diam.

Aku ingat betul, beberapa waktu setelah kakek pergi, aku masih sempat pergi ke kandang seperti biasa. Namun kandang yang dulu selalu ramai oleh bunyi kambing dan sapi yang menanti makan, kini terasa seperti bagian dari rumah yang ikut kehilangan jiwanya. Rutinitas yang dulu terasa hidup, perlahan berubah menjadi kegiatan yang dijalani dengan hati yang berat, karena tidak ada lagi kakek yang menepuk pundak setiap kali pekerjaan selesai.

Waktu itu, aku belajar bahwa kehilangan tidak datang sekali lalu selesai. Ia datang berulang-ulang, dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan kecil yang tiba-tiba kehilangan maknanya — pintu kandang yang biasa dikunci berdua, suara batuk kakek dari kamar sebelah, atau aroma masakan nenek yang biasa tercium dari dapur setiap sore.

Kampung yang Ditinggalkan

Waktu terus berjalan, dan aku bersama teman-teman masa kecil di Kampung Kapartai pun tumbuh dewasa. Satu per satu dari kami mulai memilih jalan hidup masing-masing — ada yang merantau untuk bekerja, ada pula yang merantau untuk melanjutkan kuliah, jauh dari Desa Palakahembi, jauh dari Sumba Timur. Jalan yang dulu selalu dipenuhi langkah kaki kami menuju sekolah kini sepi, hanya dilewati sesekali oleh anak-anak baru yang tidak mengenal cerita di baliknya.

Kampung Kapartai yang dulu riuh oleh suara anak-anak bermain hingga senja kini tinggal kenangan. Rumah-rumah masih ada, tetapi penghuninya tersebar ke berbagai kota, mengejar kehidupan yang berbeda-beda. Yang tersisa hanyalah bayangan tentang masa kecil yang penuh tawa, kerja keras, dan kehadiran orang-orang yang kini telah tiada.

Sesekali, ketika ada yang pulang kampung saat lebaran atau libur panjang, kami masih sempat berkumpul sebentar, bercerita tentang kehidupan masing-masing yang kini jauh berbeda dari dulu. Namun perkumpulan itu selalu terasa singkat, seperti mencoba menahan waktu yang sudah lama berjalan terlalu jauh untuk bisa diputar kembali. Setelah itu, kami kembali ke kesibukan masing-masing, dan Kampung Kapartai kembali sunyi seperti sebelumnya.

Yang Tersisa dari Sebuah Kampung

Kini, setiap kali aku memejamkan mata dan mengingat kampung halaman, yang muncul bukan hanya gambar rumah dan ladang di Palakahembi, melainkan rangkaian suara dan aroma yang begitu khas — suara sandal beradu dengan jalan tanah berbatu di pagi hari, aroma dapur nenek yang bercampur asap kayu bakar, dan suara kakek yang memanggil dari kejauhan ladang. Semua itu tidak pernah benar-benar hilang, hanya berpindah tempat — dari kenyataan menjadi kenangan.

Barangkali begitulah cara sebuah kampung bertahan — meski penghuninya satu per satu pergi, ia hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah dibesarkan di dalamnya. Setiap kali aku merindukan masa kecil, aku tidak perlu benar-benar pulang ke Kampung Kapartai; cukup menutup mata sejenak, dan semuanya kembali terasa dekat, seolah waktu tidak pernah benar-benar berlalu.

Kampung Kapartai, Desa Palakahembi, Sumba Timur, mungkin kini lebih sunyi, lebih sepi, dan lebih banyak menyimpan kenangan daripada suara. Namun, di balik kesunyian itu tersimpan cerita tentang bagaimana masa kecil membentuk diri kita hari ini: tentang pagi menuju sekolah, sore membantu di kandang ternak, serta pelajaran hidup yang diwariskan kakek dan nenek tanpa banyak kata. Kehilangan memang tidak pernah benar-benar hilang rasanya. Namun, dari kehilangan, kenangan menjadi sesuatu yang dijaga — bukan untuk diratapi, melainkan dirayakan sebagai bagian dari perjalanan hidup. Kampung bukan sekadar tempat kita lahir dan tumbuh, tetapi ruang dalam ingatan tempat kita pernah menjadi anak-anak dan selalu bisa kita pulangi melalui kenangan.

Mungkin, itulah warisan paling berharga dari kakek dan nenek: bukan harta atau ladang yang luas di tanah Sumba, melainkan nilai tentang kerja keras, kesederhanaan, dan kepedulian kepada sesama. Kampung boleh sunyi dan orang-orang boleh pergi, tetapi kenangan masa kecil akan selalu menjadi rumah yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Suatu hari nanti, aku mungkin akan menceritakan Kampung Kapartai ini kepada orang lain — tentang jalan tanah yang dulu ramai oleh anak-anak, kandang ternak yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, dan dua sosok yang meski telah tiada, tetap hadir dalam ingatan.

Sebab pada akhirnya, setiap orang membawa kampungnya masing-masing ke mana pun ia pergi. Bagiku, Kampung Kapartai di Desa Palakahembi, Sumba Timur, NTT, adalah tempat aku belajar berjalan, bekerja, mencintai, dan merelakan. Selama kenangan itu masih dijaga, kampung yang kini sunyi akan tetap hidup, seramai dulu, di dalam diriku.

Tentang Penulis: Monica Cinderela, asal Sumba.

  • Penulis: Monica Cinderela
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mataleza
    • visibility 373
    • 0Komentar

    Begitu tenang, membaca sastra adalah menakar keikhlasan. Ikhlas menimbang keadaan berdasakan elemen bahasa yang harus dipahami melalui ruang analisis itu. Hal ini jelas terlihat dan terdengar, ketika orang-orang begitu tabah melipat bahasa sastra ke dalam ruang teduh yang selalu menguji pemahaman. Hal ini senada dengan hasil proses kreatif yang ditunjukkan penulis sastra dan sastrawan Nusa […]

  • Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    Merayakan Kemiskinan Bersama Tuhan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Moh. Zaini Ratuloli, S. Pd
    • visibility 221
    • 0Komentar

    “Kamu galak seperti macan betina / Barangkali kamu akan gila / Tapi tak akan mati.” Sepenggal dialog tersebut menjadi pembuka yang menggugah dari pertunjukan Maria Zaitun yang dibawakan oleh Bengkel Seni Milenial (BSM), sebuah kelompok teater dari SMK Sura Dewa. Kelompok kecil ini secara konsisten menghidupkan ruang-ruang seni pertunjukan yang kerap sepi apresiasi. Namun, teater […]

  • Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan) Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, […]

  • Ruang Rasa: Pohon Mangga

    Ruang Rasa: Pohon Mangga

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Saya belum berjalan lagi ke beberapa sawah yang dulu begitu akrab dengan masa kecil saya: Pomaboa, Lodo Au, Lodo Wawo, dan Balejawa. Entah sudah berapa lama saya tidak menyusuri jalan-jalan kecil itu. Jalan tanah yang dulu saya kenal tanpa perlu berpikir, pematang sawah yang bisa saya lewati dengan langkah-langkah kecil, dan sudut-sudut tempat kami biasa […]

  • Masalah Pasti Datang, Tetap Tegang

    Masalah Pasti Datang, Tetap Tegang

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan kejutan. Ada masa di mana kita merasa dunia begitu ramah, memberi ruang lega untuk bernapas. Namun, ada pula saat di mana masalah datang bertubi-tubi, membuat langkah terasa berat dan hati dipenuhi rasa khawatir. Dalam situasi seperti itu, mudah sekali bagi kita untuk merasa tegang, panik, bahkan kehilangan kendali. […]

  • Puisi-Puisi Hyan Godho

    Puisi-Puisi Hyan Godho

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Hyand Godho
    • visibility 249
    • 0Komentar

    TUA JOSE [P. Yosef Wiese, SVD]   Opa Kumi kasi Tua Jose kuda besar Waktu ia datang ke Boanio Jauh-jauh dari Negeri Kincir Angin.   Nenek Tera kaget (istrinya Opa Kumi). “Orang Belanda, bukannya pegang senjata?” “Lalu curi kami pu rempah-rempah di ladang?”. “Juga Jagung, juga padi dan kelapa” tambahnya.   Tua Jose diam saja […]

expand_less