KEBANGKITAN SASTRA DI NUSA TENGGARA TIMUR: DARI DIALOG SASTRAWAN KE RUANG IMAJINATIF
- account_circle Mataleza
- calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
- visibility 255
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Begitu tenang, membaca sastra adalah menakar keikhlasan. Ikhlas menimbang keadaan berdasakan elemen bahasa yang harus dipahami melalui ruang analisis itu. Hal ini jelas terlihat dan terdengar, ketika orang-orang begitu tabah melipat bahasa sastra ke dalam ruang teduh yang selalu menguji pemahaman. Hal ini senada dengan hasil proses kreatif yang ditunjukkan penulis sastra dan sastrawan Nusa Tenggara Timur.
Dewasa ini, begitu banyak penulis yang bergerak di bidang sastra. Tak kalah juga, banyak yang lebih memilih kamar lain di rumah yang sama, dengan menjadi peneliti sastra dan kritikus sastra. Hal itu jelas terlihat, ketika beberapa karya dan hasil riset menapaki beranda akademis dan panggung komunitas.
Warisan yang dibagikan penulis dan sastrawan Indonesia menjadi modal dalam memaknai realita yang ada di NTT, sehingga jelas terlihat, lokalitas selalu menjadi objek dalam menulis sastra oleh penulis dan sastrawan NTT. Namun, di balik identitas itu, penulis muda NTT tak memiliki akses dalam menunjukkan identitas dan mendistribusikan karya-karya itu. Nyata, banyak penulis muda NTT dan karyanya tak tercatat di Perpustakaan Daerah Nusa Tenggara Timur dan Perpustakaan Daerah Kabupaten/Kota.
Sebagian Sejarah Sastra NTT
Jika dalam sejarah sastra Indonesia, kita menjamu bingkai periodisasi, melihat perkembangan sastra dari Angkatan Pujangga Baru sampai ke Angkatan Kontemporer. Namun, sejarah juga menuliskan, Nusa Tenggara Timur telah mencatat Gerson Poyk sebagai perintis sastra NTT, menulis dan mempublikasikan karya pertamanya sejak tahun 1955, serta pada tahun 1964 menerbitkan buku sastra untuk pertama kalinya. Tak sebatas itu, sejarah sastra NTT juga mencatat, Dami N. Toda dikenal sebagai kritikus sastra yang tergambar melalui karya-karyanya.
Sebelum dikenal sebagai Kritikus Sastra, putra asal Manggarai – Pongkor, Dami N. Toda, pada awalnya merintis karir di bidang sastra dengan menulis puisi berjudul “Sesando Negeri Savana” pada tahun 1969. Namun, kepenulisan puisi tak sebanding dengan menulis kritik sastra, sehingga beliau dinobatkan sebagai kritikus sastra daripada sebagai penyair. Bahkan, dalam kariernya, menjadi Kritikus NTT pertama yang menulis kritik sastra, sehingga disebut sebagai perintis penulisan kritik sastra (Sehandi, 6:2018).
Merujuk pada Makalah untuk Kongres Bahasa Indonesia yang ditulis oleh Yohanes Sehandi (2018), ada sejarah kebangkitan sastra NTT di tahun 2011 yang ditandai dengan jumlah penerbitan buku sastra NTT jauh melampaui jumlah penerbitan buku sastra tahun sebelumnya, bahkan setelah tahun 1955.
Adapun hal lain yang menguat sejarah kebangkitan sastra NTT ini, jumlah artikel opini sastra, cerpen, puisi, dan kritik sastra yang terus memuncak dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setelah itu, kebangkitan sastra NTT terus menjalar dan berlanjut.
Sejarah kebangkitan sastra NTT dirasakan oleh para penulis dan pembaca sastra NTT. Sehingga selalu terlihat, penulis dan sastrawan NTT, serta kehadiran komunitas sastra terus menghijau dan menguat kebangkitan sastra NTT masa kini.
Penulis dan Sastrawan NTT Masa Kini
Saya memulai dengan keterbatasan data tentang penulis dan sastrawan NTT masa kini, sehingga penyebutan ini murni dari karya yang dapat dijangkau. Pertama, Marsel Robot. Dikenal sebagai salah satu penulis dan sastrawan NTT yang sangat aktif menulis puisi dan esai sastra, serta beberapa buku dan opini yang membahas tentang NTT. Dua buku kumpulan puisinya berjudul “Nyanyian Pesisir” dan “Halaman 9”.
Marsel Robot juga menulis esai sastra yang berjudul “Kejahatan Sunyi Merindumu Itu Luka”. Buku ini masuk lima besar Nomine Penghargaan Sastra Indonesia tahun 2023 Kategori Esai Sastra dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Beberapa buku lain, yaitu “Ringkasan Kegelisahan di Aula Sejarah”, “Bila Pena Menusuk Jantung Rezim: 9 Hari Surat Kabar Indonesia Menjatuhkan Soeharto”, dan “Konstruksi Harmoni antara Salib dan Bulan Salib”.
Maria Matildis Banda, yang selalu menyumbang pemikiran dan membedah NTT melalui karya-karyanya. Karya fenomenal itu berupa novel yang yang berjudul “Pasola” dan “Doben”, dan berapa karya lain seperti “Surat-surat dari Dili” dan “Bugenvil di Tengah Karang” serta beberapa karya lain yang terus membekas di dalam ruang sastra NTT.
Mario F. Lawi, penulis dan sastrawan NTT yang aktif menulis puisi, esai, dan opini. Sebagai sastrawan muda NTT, Mario F. Lawi selalu mendistribusikan ide melalui karya-karyanya, seperti pada buku yang berjudul “Lelaki Bukan Malaikat”, “Keledai yang Mulia”, “Mendengarkan Coldplay”, “Homo Narrans”, dan “Menemukan Priamel di Bulan”, serta beberapa karya fenomenal lain.
Felix K. Nesi, penulis dan sastrawan NTT. Berapa karyanya menjadi bahan perbincangan masyarakat sastra dan pembaca pada umumnya. “Orang-orang Oetimu” novel ini dinobatkan sebagai pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2018, masuk dalam daftar panjang penghargaan sastra tertinggi (Nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa) 2020, dan menerima Penghargaan Sastra Badan Bahasa tahun 2021, “Kita Pernah Saling Mencinta”, “Kapten hanya Ingin ke Dili” dan “Usaha Membunuh Sepi” dan beberapa karya lain yang terus digenggam oleh para pembaca masa kini.
Prestasi penulis dan sastrawan NTT masa kini menjadi modal dalam membentuk dan menata ulang sistem yang berkaitan dengan literasi bahasa dan sastra Nusa Tenggara Timur. Terlihat juga, begitu banyak penulis dan sastrawan NTT yang turut mengambil bagian dalam mebangun sastra NTT dari masa ke masa, yaitu Fanny J. Poyk, Leo Kleden, Usman D. Ganggang, Mezra E. Pellondou, Robertus Fahik, Christo Ngasi, Buang Sine, Erlyn Lasar, Amance F.O. Ninu, Bara Pattyradja, dan penulis dan sastrawan NTT lain yang terus membangun dan memantapkan bingkai kesusastraan Nusa Tenggara Timur.
Dari jangkauan itu, kita dapat melihat kehadiran dan keberadaan penulis muda Nusa Tenggara Timur yang terus mengarungi dunia kepenulisan sastra. Dapat disebutkan, Ati D. dengan buku berjudul “Nyanyian Lontar” dan beberapa karya lain. Selain Ati, terlihat juga Siska Sainin dengan buku yang berjudul “Bukan Aku tetapi Air Mata” dan beberapa penulis lain, seperti Fian N, Yakobus A. Balimula, Herman S. Boli, Maria Amelia, Patris Jelalu, Cosmas Davison, Selvi Pandi, Alvy Jaimun, dan segenap penulis muda lain yang terus menatap langit sastra NTT melalui kenyamanan ruang imajinasinya.
Sejalan dengan itu, banyak ditemukan komunitas literasi yang bergerak di bidang kesusastraan. Nusa Tenggara Timur telah menghidupkan realita itu. Bahkan, dapat dijangkau, potretan komunitas ini jelas terlihat di lingkungan kampus dan di ruang publik pada umumnya. Namun, lagi-lagi, tak ada iuran apresiatif sebagai penguatan terhadap komunitas sastra yang sejatinya memiliki misi membangun literasi di Nusa Tenggara Timur.
Belajar dari Soekarno
Teringat pada karya fenomenal Soekarno, saat dirinya diasingkan ke Ende. Selama di Ende, ada beberapa catatan sejarah yang termuat dalam tonil-tonil (naskah drama). Karya ini dipentaskan Soekarno bersama rekan-rekanya dalam situasi saat itu.
Ada berapa hasil kajian, setelah membaca tonil yang ditulis Soekarno, memuat satu pandangan, bahwa Soekarno melawan penjajah melalui seni. Oleh karena itu, kehadiran seni dan sastra di Nusa Tenggara Timur begitu kuat, sebab ada warisan yang terus dibaca dan menjadi modal dalam membangun lokalitas yang ada di Nusa Tenggara Timur.
Tak dapat dibantah, hal itu menjadi sumber rujukan penulis dan sastrawan NTT. Sebab, literasi sastra bagi penulis dan sastrawan NTT berkembang akibat dari ketersediaan literatur sastra yang berbicara tentang Nusa Tenggara Timur dan Indonesia umumnya.
Dari hasil bacaan itu, sebagai pemerhati sastra NTT, saya begitu nyaman membaca dan mengolah pandangan terhadap keberadaan sastra dan sastrawan NTT. Hal yang paling dasar adalah walaupun jarang diberikan pengakuan terhadap karya yang telah dihasilkan, para penulis dan sastrawan terus melukis NTT masa kini untuk Nusa Tenggara Timur yang akan datang.
Oleh karena itu, persembahan saya terhadap sejarah kebangkitan sastra NTT dan sebagai cara mempertahankan, dengan menulis buku Kumpulan Puisi Gerobak Tak Berawak, Novel Kilo 7, dan Novel Corat-coret Revisi. karya ini sebagai wujud ejawantah terhadap nilai sastra yang ada di Nusa Tenggara Timur.
Hemat saya, pembangun literasi di NTT tidak terlepas dari sejarah panjang Nusa Tenggara Timur yang dapat dibaca dari berbagai bidang, salah satunya adalah bidang kesusastraan. Atas pandangan itu, model pembangunan literasi harus diperkuat dari bidang sastra. Sebab, membaca sastra adalah menghidupkan pikiran dan hati. Oleh karena itu, tradisi lisan yang masih ada kaitannya dengan sastra daerah masih menjadi modal utama dalam pembangunan literasi di Nusa Tenggara Timur.
Terlihat mengagetkan, Pemerintah Nusa Tenggara Timur seharusnya dapat memberikan penghargaan dan ruang khusus kepada penulis dan sastrawan NTT saat memperingati Hari Sastra NTT 16 Juni setiap tahun, sebagai cara paling mulia dalam membangun literasi sastra di Nusa Tenggara Timur.
Kupang, 2026
Gregorius Nggadung, Alumni Pascasarjana Undana Kupang
- Penulis: Mataleza

Saat ini belum ada komentar