Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

  • account_circle Robertus Pitang
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 90
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat

Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan sering berubah menjadi alat perebutan perhatian publik. Salah satu fenomena yang menunjukkan perubahan tersebut ialah maraknya pelecehan seksual digital terhadap konten kreator perempuan di media sosial. Tidak sedikit perempuan yang menerima komentar anonim bernada mesum atau seksual pada unggahan mereka. Menariknya, komentar tersebut sering kali diunggah kembali oleh korban ke beranda media sosial disertai kritik, kemarahan, atau sindiran terhadap pelaku. Ironisnya, unggahan itu justru memperoleh jutaan tayangan, ribuan komentar, dan dukungan luas dari publik digital. Fenomena ini memperlihatkan bahwa komunikasi digital modern tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai proses penyampaian pesan, tetapi juga sebagai proses produksi perhatian sosial.

Teori Lasswell dan Fungsi Komunikasi

Lasswell menjelaskan komunikasi melalui rumusan klasik: Who says what in which channel to whom with what effect. Melalui model tersebut, komunikasi dipahami sebagai proses yang melibatkan komunikator, pesan, saluran, penerima, dan efek sosial. Dalam konteks media sosial, model ini menunjukkan bahwa komunikasi tidak berhenti pada proses penyampaian pesan, tetapi selalu menghasilkan dampak sosial tertentu terhadap masyarakat. Pada awalnya, komunikasi memiliki fungsi utama untuk menciptakan pemahaman, membangun relasi sosial, dan menjaga keteraturan kehidupan bersama. Namun perkembangan media sosial memperlihatkan adanya pergeseran fungsi komunikasi, akibatnya, keberhasilan komunikasi di media sosial sering tidak diukur dari kualitas pesan, melainkan dari besarnya respons yang dihasilkan. Semakin emosional suatu pesan, semakin besar peluangnya menjadi viral.

Pelecehan Seksual Digital sebagai Bentuk Penyimpangan Komunikasi

Fenomena komentar mesum anonim menunjukkan terjadinya penyimpangan fungsi komunikasi dalam ruang digital. Dalam situasi tersebut, pelaku menggunakan komunikasi bukan untuk membangun relasi sosial yang sehat, tetapi sebagai alat dominasi seksual terhadap perempuan. Anonimitas media sosial memperkuat kondisi tersebut. Pelaku merasa bebas menyampaikan pesan vulgar tanpa tanggung jawab moral karena identitas mereka tersembunyi. Media sosial akhirnya menjadi ruang yang memungkinkan pelanggaran etika komunikasi dilakukan secara terbuka dan berulang. Dalam perspektif komunikasi, tindakan tersebut menunjukkan krisis tanggung jawab sosial dalam penggunaan bahasa digital. Komunikasi kehilangan dimensi etisnya karena manusia tidak lagi melihat lawan bicara sebagai pribadi yang memiliki martabat, melainkan sebagai objek konsumsi verbal dan hiburan digital. Masalah menjadi lebih kompleks ketika korban mengunggah ulang komentar tersebut ke ruang publik. Dalam posisi ini, korban tidak lagi hanya menjadi penerima pesan, tetapi berubah menjadi komunikator baru yang memproduksi ulang pesan tersebut kepada khalayak yang lebih luas. Akibatnya, pelecehan yang awalnya bersifat personal berubah menjadi komoditas viral. Korban menjadikan media sebagai tempat paling special untuk mencurahkan isi hati dan menggiring emosi stiap pengikutnya untuk mengungkapkan rasa empati terhadapnya. Semakin besar emosi yang ditampilkan, semakin besar pula perhatian yang diperoleh dari publik digital. Habermas menekankan bahwa komunikasi yang ideal harus menciptakan ruang diskusi rasional yang memungkinkan masyarakat mencapai pengertian bersama namun media sosial moderen justru bergerak ke arah sebaliknya. Dalam situasi tersebut komunikasi kehilangan fungsi kemanusiaannya yang dimana bahasa tidak lagi dipakai untuk membangun pengertian tetapi untuk mencapai perhatian dan validasi sosial. Lebih berbahayanya lagi ialah ketika masyarakat mulai terbiasa mengonsumsi penderitaan orang lain sebagai hiburan digital, pelecehan seksual akhirnya dipandang sebagai bagian dari siklus viralitas media sosial.

Budaya Viral dan Ekonomi Perhatian (attention economy)

Fenomena tersebut tidak dapat dilepaskan dari budaya attention economy atau ekonomi perhatian dalam media sosial modern. Dalam sistem digital, perhatian publik memiliki nilai sosial yang sangat tinggi. Viralitas dapat menghasilkan popularitas, pengaruh sosial, bahkan keuntungan ekonomi. Karena itu, media sosial cenderung mempromosikan konten yang mampu memancing emosi publik seperti kemarahan, konflik, atau sensasi. Algoritma platform bekerja dengan logika keterlibatan (engagement). Semakin ramai suatu unggahan diperdebatkan, semakin luas distribusinya. Hal ini menyebabkan komunikasi digital sering bergerak berdasarkan logika emosi dibandingkan logika refleksi. Publik lebih tertarik pada drama sosial daripada diskusi rasional. Banyak pengguna ikut berkomentar bukan karena memiliki kepedulian mendalam terhadap isu pelecehan seksual, tetapi karena menikmati sensasi keramaian digital. Dalam situasi tersebut, komunikasi berubah menjadi performa sosial. Orang tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga mempertontonkan kemarahan, penderitaan, atau identitas dirinya di hadapan publik digital. Bahkan rasa tersinggung dan konflik dapat berubah menjadi sumber eksistensi sosial. Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks komunikasi modern. Di satu sisi masyarakat mengecam pelecehan seksual digital, tetapi di sisi lain sistem media sosial justru memberi keuntungan perhatian terhadap konflik tersebut.

Krisis Makna Komunikasi di Era Digital

Fenomena pelecehan seksual digital dan budaya viral memperlihatkan bahwa masyarakat digital sedang mengalami krisis makna komunikasi. Teknologi memang membuat manusia semakin terhubung, tetapi tidak otomatis membuat manusia semakin memahami satu sama lain. Komunikasi di media sosial lebih banyak menghasilkan reaksi spontan daripada dialog yang reflektif. Orang berlomba memberikan opini, komentar, dan penilaian tanpa upaya memahami persoalan secara mendalam. Akibatnya, ruang digital berubah menjadi arena ledakan emosi kolektif. Dalam kondisi tersebut, komunikasi kehilangan fungsi kemanusiaannya. Bahasa tidak lagi dipakai untuk membangun pengertian dan solidaritas sosial, tetapi untuk mencari perhatian, validasi, dan dominasi simbolik di ruang publik. Padahal pada hakikatnya komunikasi bukan sekadar proses menyampaikan pesan. Komunikasi merupakan proses pengakuan terhadap martabat manusia. Oleh karena itu, komunikasi seharusnya membantu menciptakan kesadaran moral, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Melalui perspektif teori komunikasi Lasswell, fenomena pelecehan seksual digital menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah komunikasi menjadi arena perebutan perhatian, emosi, dan popularitas. Komentar mesum yang awalnya tampak sederhana dapat berkembang menjadi viralitas besar yang melibatkan publik luas. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi digital modern tidak lagi sekadar pertukaran pesan, tetapi juga proses produksi emosi sosial dan pembentukan eksistensi digital. Akibatnya, komunikasi sering kehilangan fungsi utamanya sebagai sarana membangun pemahaman antarmanusia. Karena itu, tantangan utama masyarakat digital saat ini bukan hanya mengurangi pelecehan seksual di media sosial, tetapi juga mengembalikan komunikasi pada fungsi dasarnya sebagai ruang etika, refleksi, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Maumere, 2026

  • Penulis: Robertus Pitang
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    Antara Rotasi Strategis dan Celah Lini Belakang serta Langkah Berani PSN Ngada

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 230
    • 0Komentar

    Kekalahan sering kali menjadi momok yang dihindari dalam dunia sepak bola. Namun, dalam kacamata strategi yang lebih luas, sebuah kekalahan adakalanya bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah bidak yang sengaja digeser demi memenangkan pertempuran yang lebih besar. Sudut pandang inilah yang menyeruak ketika penulis mencermati kekalahan 3-1 PSN Ngada dari Unaaha FC dalam laga pamungkas […]

  • Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    Puisi-puisi Aprianus Jebarus: Lara, Belum Usai dan Peluklah Dirimu

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Aprianus Jebarus
    • visibility 242
    • 1Komentar

    Lara Aku tak bermaksud menggodamu, aku hanya tak ingin mengabaikan kehadiran seseorang yang tidak sengaja aku temukan di ujung jalan. Salahkah aku, bila aku menuliskan cerita itu pada serangkai huruf menjelma kata, katakan saja. Jujur saja kamu itu bak fajar di pagi, hadir selalu dini dan pergi tanpa sepata kata Aku tahu bahwa kehadiranmu bukan […]

  • Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    Paskah, Masakan Mama, dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Maxi L. Sawung
    • visibility 281
    • 0Komentar

    Redup Aku akhirnya memilih agar tu(h)an ataupun siapa saja tidak merenggut luka milikku. Beberapa tangan datang mengetuk, beberapa tangan mencoba memeluk tapi tetap aku tutup pintu makam batu itu. Kau pernah sekali atau bahkan berkali-kali dengan buru-buru berlari agar lekas sampai ketika datang melayat lukaku. Sekadar menanyakan perihal masa penyembuhan atau bagaimana dengan bekas luka-luka […]

  • Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    Ruang Rasa: Ketika Kepercayaan Kehilangan Rumah

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Setiap perjumpaan adalah anugerah. Di sanalah dua hati belajar saling mengenal, saling menerima, lalu perlahan-lahan membangun sebuah rumah yang tak terlihat: rumah bernama kepercayaan. Kasih adalah fondasinya. Kejujuran adalah dindingnya. Sementara komunikasi menjadi jendela tempat keduanya saling memandang dunia. Namun, tidak semua rumah mampu bertahan dari badai. Ada badai yang datang bukan karena hadirnya orang […]

  • Kelulusan Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Menjaga Semangat Belajar

    Kelulusan Angkatan 72 SMPSK Kotagoa Boawae: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Menjaga Semangat Belajar

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Boawae – Suasana penuh syukur dan kebersamaan mewarnai pengumuman kelulusan peserta didik kelas IX SMPSK Kotagoa Boawae tahun pelajaran 2025/2026. Dalam sambutannya, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae, Bapak Yoman Kaju, menegaskan bahwa momen kelulusan bukanlah sekadar acara seremonial, melainkan puncak dari perjalanan panjang yang telah ditempuh para siswa selama tiga tahun terakhir. Menurutnya, kehadiran seluruh keluarga […]

  • PERMEN Kasih: Hati yang “Baku Rapat” Renungan Harian Katolik 8 Mei 2026

    PERMEN Kasih: Hati yang “Baku Rapat” Renungan Harian Katolik 8 Mei 2026

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 146
    • 1Komentar

    PERMEN edisi Jumat Paskah ke-5 – 08 MEI 2026 – Kasih: Hati yang “Baku Rapat” Inspirasi: Kis 15:22-31 ; Yohanes 15:12-17 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Yesus titip pesan penting ke setiap sanubari kita: “Kasihilah seorang akan yang lain”. Bersamaan dengan itu, dalam bacaan Pertama, tindakan kasih coba diterjemahkan oleh Paulus dan mereka […]

expand_less