Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sudut Pandang: Vitalitas dan Krisis Makna Pelecehan Seksual Digital: Analisis Perspektif Harold D. Lasswell

  • account_circle Robertus Pitang
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 117
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Robertus Pitang, Mahasiswa IFTK Ledalero, Prodi Filsafat

Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara radikal. Platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang produksi opini, emosi, bahkan popularitas. Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak selalu berfungsi sebagai sarana membangun pemahaman sosial, melainkan sering berubah menjadi alat perebutan perhatian publik. Salah satu fenomena yang menunjukkan perubahan tersebut ialah maraknya pelecehan seksual digital terhadap konten kreator perempuan di media sosial. Tidak sedikit perempuan yang menerima komentar anonim bernada mesum atau seksual pada unggahan mereka. Menariknya, komentar tersebut sering kali diunggah kembali oleh korban ke beranda media sosial disertai kritik, kemarahan, atau sindiran terhadap pelaku. Ironisnya, unggahan itu justru memperoleh jutaan tayangan, ribuan komentar, dan dukungan luas dari publik digital. Fenomena ini memperlihatkan bahwa komunikasi digital modern tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai proses penyampaian pesan, tetapi juga sebagai proses produksi perhatian sosial.

Teori Lasswell dan Fungsi Komunikasi

Lasswell menjelaskan komunikasi melalui rumusan klasik: Who says what in which channel to whom with what effect. Melalui model tersebut, komunikasi dipahami sebagai proses yang melibatkan komunikator, pesan, saluran, penerima, dan efek sosial. Dalam konteks media sosial, model ini menunjukkan bahwa komunikasi tidak berhenti pada proses penyampaian pesan, tetapi selalu menghasilkan dampak sosial tertentu terhadap masyarakat. Pada awalnya, komunikasi memiliki fungsi utama untuk menciptakan pemahaman, membangun relasi sosial, dan menjaga keteraturan kehidupan bersama. Namun perkembangan media sosial memperlihatkan adanya pergeseran fungsi komunikasi, akibatnya, keberhasilan komunikasi di media sosial sering tidak diukur dari kualitas pesan, melainkan dari besarnya respons yang dihasilkan. Semakin emosional suatu pesan, semakin besar peluangnya menjadi viral.

Pelecehan Seksual Digital sebagai Bentuk Penyimpangan Komunikasi

Fenomena komentar mesum anonim menunjukkan terjadinya penyimpangan fungsi komunikasi dalam ruang digital. Dalam situasi tersebut, pelaku menggunakan komunikasi bukan untuk membangun relasi sosial yang sehat, tetapi sebagai alat dominasi seksual terhadap perempuan. Anonimitas media sosial memperkuat kondisi tersebut. Pelaku merasa bebas menyampaikan pesan vulgar tanpa tanggung jawab moral karena identitas mereka tersembunyi. Media sosial akhirnya menjadi ruang yang memungkinkan pelanggaran etika komunikasi dilakukan secara terbuka dan berulang. Dalam perspektif komunikasi, tindakan tersebut menunjukkan krisis tanggung jawab sosial dalam penggunaan bahasa digital. Komunikasi kehilangan dimensi etisnya karena manusia tidak lagi melihat lawan bicara sebagai pribadi yang memiliki martabat, melainkan sebagai objek konsumsi verbal dan hiburan digital. Masalah menjadi lebih kompleks ketika korban mengunggah ulang komentar tersebut ke ruang publik. Dalam posisi ini, korban tidak lagi hanya menjadi penerima pesan, tetapi berubah menjadi komunikator baru yang memproduksi ulang pesan tersebut kepada khalayak yang lebih luas. Akibatnya, pelecehan yang awalnya bersifat personal berubah menjadi komoditas viral. Korban menjadikan media sebagai tempat paling special untuk mencurahkan isi hati dan menggiring emosi stiap pengikutnya untuk mengungkapkan rasa empati terhadapnya. Semakin besar emosi yang ditampilkan, semakin besar pula perhatian yang diperoleh dari publik digital. Habermas menekankan bahwa komunikasi yang ideal harus menciptakan ruang diskusi rasional yang memungkinkan masyarakat mencapai pengertian bersama namun media sosial moderen justru bergerak ke arah sebaliknya. Dalam situasi tersebut komunikasi kehilangan fungsi kemanusiaannya yang dimana bahasa tidak lagi dipakai untuk membangun pengertian tetapi untuk mencapai perhatian dan validasi sosial. Lebih berbahayanya lagi ialah ketika masyarakat mulai terbiasa mengonsumsi penderitaan orang lain sebagai hiburan digital, pelecehan seksual akhirnya dipandang sebagai bagian dari siklus viralitas media sosial.

Budaya Viral dan Ekonomi Perhatian (attention economy)

Fenomena tersebut tidak dapat dilepaskan dari budaya attention economy atau ekonomi perhatian dalam media sosial modern. Dalam sistem digital, perhatian publik memiliki nilai sosial yang sangat tinggi. Viralitas dapat menghasilkan popularitas, pengaruh sosial, bahkan keuntungan ekonomi. Karena itu, media sosial cenderung mempromosikan konten yang mampu memancing emosi publik seperti kemarahan, konflik, atau sensasi. Algoritma platform bekerja dengan logika keterlibatan (engagement). Semakin ramai suatu unggahan diperdebatkan, semakin luas distribusinya. Hal ini menyebabkan komunikasi digital sering bergerak berdasarkan logika emosi dibandingkan logika refleksi. Publik lebih tertarik pada drama sosial daripada diskusi rasional. Banyak pengguna ikut berkomentar bukan karena memiliki kepedulian mendalam terhadap isu pelecehan seksual, tetapi karena menikmati sensasi keramaian digital. Dalam situasi tersebut, komunikasi berubah menjadi performa sosial. Orang tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga mempertontonkan kemarahan, penderitaan, atau identitas dirinya di hadapan publik digital. Bahkan rasa tersinggung dan konflik dapat berubah menjadi sumber eksistensi sosial. Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks komunikasi modern. Di satu sisi masyarakat mengecam pelecehan seksual digital, tetapi di sisi lain sistem media sosial justru memberi keuntungan perhatian terhadap konflik tersebut.

Krisis Makna Komunikasi di Era Digital

Fenomena pelecehan seksual digital dan budaya viral memperlihatkan bahwa masyarakat digital sedang mengalami krisis makna komunikasi. Teknologi memang membuat manusia semakin terhubung, tetapi tidak otomatis membuat manusia semakin memahami satu sama lain. Komunikasi di media sosial lebih banyak menghasilkan reaksi spontan daripada dialog yang reflektif. Orang berlomba memberikan opini, komentar, dan penilaian tanpa upaya memahami persoalan secara mendalam. Akibatnya, ruang digital berubah menjadi arena ledakan emosi kolektif. Dalam kondisi tersebut, komunikasi kehilangan fungsi kemanusiaannya. Bahasa tidak lagi dipakai untuk membangun pengertian dan solidaritas sosial, tetapi untuk mencari perhatian, validasi, dan dominasi simbolik di ruang publik. Padahal pada hakikatnya komunikasi bukan sekadar proses menyampaikan pesan. Komunikasi merupakan proses pengakuan terhadap martabat manusia. Oleh karena itu, komunikasi seharusnya membantu menciptakan kesadaran moral, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Melalui perspektif teori komunikasi Lasswell, fenomena pelecehan seksual digital menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah komunikasi menjadi arena perebutan perhatian, emosi, dan popularitas. Komentar mesum yang awalnya tampak sederhana dapat berkembang menjadi viralitas besar yang melibatkan publik luas. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi digital modern tidak lagi sekadar pertukaran pesan, tetapi juga proses produksi emosi sosial dan pembentukan eksistensi digital. Akibatnya, komunikasi sering kehilangan fungsi utamanya sebagai sarana membangun pemahaman antarmanusia. Karena itu, tantangan utama masyarakat digital saat ini bukan hanya mengurangi pelecehan seksual di media sosial, tetapi juga mengembalikan komunikasi pada fungsi dasarnya sebagai ruang etika, refleksi, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Maumere, 2026

  • Penulis: Robertus Pitang
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    Ngada VS Alor itu Lebih dari Sekadar Tiga Poin, Ini Urusan Harga Diri!

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle John Lobo
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Senin (27/7) jam 14.00 waktu setempat, akan berlangsung pertandingan Piala Soeratin U-17 Zona NTT 2026 antara PSN Ngada berhadapan dengan Persap Alor. Laga kedua tim di Grup D adalah sebuah pertandingan bersejarah yang akan selalu diingat. Ini adalah panggung pertemuan dua kiblat, dua mazhab sepak bola yang telah mengakar dalam urat nadi masyarakat Flobamorata. Sejak […]

  • Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    Menempa Pemimpin Muda di Tengah Rimba Wolobobo

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle Mertin Lusi
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Di tengah hutan Wolobobo, jauh dari hiruk-pikuk ruang kelas, sebanyak 52 siswa baru SMAK St. Agustinus Langa memulai proses pembentukan diri melalui Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026. Mengusung konsep camping, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Alam menjadi ruang kelas, tenda menjadi tempat belajar kebersamaan, dan setiap tantangan […]

  • PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    PERMEN: Tuhan dan Remote Control Renungan Harian Katolik 9 Mei 2026

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rm Laurensius Feto, Pr
    • visibility 408
    • 8Komentar

    PERMEN edisi Sabtu Paskah ke-5 – 09 MEI 2026 – Tuhan dan Remote Control Inspirasi: Kis 16:1-10 ; Yohanes 15:18-21 Penikmat Permen yang penuh hikmat dalam Tuhan. Bacaan pertama menggambarkan Paulus yang di dalam benaknya penuh dengan idealisme dan gagasan-gagasan mengenai kerasulan dan perutusan. Mau ke Asia-lah, ke Bitinia-lah, pokoknya ide cemerlang dan itu sudah […]

  • Proyek Food Estate dalam Nalar The Othering of Nature

    Proyek Food Estate dalam Nalar The Othering of Nature

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Benyamin Chintyano Meo
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Oleh: Benyamin Chintyano Meo. Mahasiswa IFTK Ledalero Di tengah kecemasan global terhadap krisis iklim dan ancaman kelangkaan pangan, Indonesia mengambil langkah agresif melalui program Food Estate (Lumbung Pangan Nasional). Kebijakan ini digadang-gadang sebagai strategi hulu-hilir untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penanaman komoditas skala industri seperti padi, singkong, jagung, dan tebu. Namun, di balik narasi […]

  • Puisi-Puisi Hyan Godho

    Puisi-Puisi Hyan Godho

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Hyand Godho
    • visibility 249
    • 0Komentar

    TUA JOSE [P. Yosef Wiese, SVD]   Opa Kumi kasi Tua Jose kuda besar Waktu ia datang ke Boanio Jauh-jauh dari Negeri Kincir Angin.   Nenek Tera kaget (istrinya Opa Kumi). “Orang Belanda, bukannya pegang senjata?” “Lalu curi kami pu rempah-rempah di ladang?”. “Juga Jagung, juga padi dan kelapa” tambahnya.   Tua Jose diam saja […]

  • SDI Olaewa Juara Futsal Kotagoa Diamond Competition 2026 Usai Taklukkan SDK Natanage A 4-2

    SDI Olaewa Juara Futsal Kotagoa Diamond Competition 2026 Usai Taklukkan SDK Natanage A 4-2

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Kotagoa, 24 Juni 2026 – SDI Olaewa sukses menorehkan sejarah sebagai juara cabang futsal antar Sekolah Dasar pada Kotagoa Diamond Competition 2026. Gelar juara diraih setelah menaklukkan SDK Natanage A dengan skor meyakinkan 4-2 pada laga grand final yang berlangsung di Kotagoa Sport Area, Rabu (24/6/2026). Sejak peluit kick-off dibunyikan wasit utama, pertandingan langsung berlangsung […]

expand_less