Breaking News
light_mode
Trending Tags

Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

  • account_circle John Lobo
  • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
  • visibility 123
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang menjunjung tinggi spirit fair play. Laga krusial semifinal Liga 4 Nasional yang mempertemukan Pesik Kuningan dan PSN Ngada di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (8/7), seharusnya menjadi panggung pembuktian taktik dan talenta. Namun sayang seribu sayang, sorotan utama justru bergeser dari aksi heroik para pemain ke arah sosok pengadil lapangan.

Pertandingan yang berakhir imbang 1-1 di waktu normal dan disudahi dengan kemenangan penalti Pesik Kuningan 5-4 ini, menyisakan catatan kelam terkait kepemimpinan wasit yang dinilai berat sebelah. Alih-alih menjadi fasilitator pertandingan yang adil, sang pengadil justru menjelma sebagai pemain ke-12 yang merusak ritme dan mental bertanding.

Ada dua dosa taktis utama dari kepemimpinan wasit di laga ini yang patut dikritisi secara tajam, yaitu: Pertama, matinya kepekaan terhadap aturan keuntungan. Dalam sepak bola modern, aturan ini adalah instrumen krusial agar tim yang dilanggar tidak semakin dirugikan saat alur serangan mereka sedang mengalir. Namun, apa yang terjadi di Sriwedari justru sebaliknya.

Wasit tercatat menghentikan jalannya pertandingan sebanyak beberapa kali tepat saat PSN Ngada sedang membangun skema serangan balik cepat yang sangat berbahaya. Peluit ditiup untuk pelanggaran yang sudah lewat, mengabaikan fakta bahwa bola masih dikuasai penuh oleh pemain PSN Ngada dalam posisi menyerang.

Secara taktis, ini adalah sebuah bencana bagi PSN Ngada sekaligus napas buatan bagi Pesik Kuningan. Keputusan prematur tersebut memberikan waktu berharga bagi lini pertahanan Pesik untuk kembali merapatkan barisan. Sangat wajar jika Head Coach PSN Ngada, Cletus Marselinus Gabhe, meledak amarahnya di area teknis. Protes keras yang dilayangkannya bukanlah bentuk ketidakdewasaan, melainkan jeritan taktis seorang pelatih yang melihat peluang emas anak asuhnya dirampas oleh peluit yang buta momentum.

Kedua, penerapan standar ganda pada duel fisik. Tensi tinggi laga semifinal tentu melahirkan benturan-benturan sengit di lapangan. Di sinilah integritas dan objektivitas wasit kembali dipertanyakan. Setiap kali terjadi duel 50-50, peluit seolah jauh lebih ringan ditiup untuk memberikan keuntungan bagi Pesik Kuningan. Sebaliknya, ketika pemain PSN Ngada menunjukkan determinasi fisik yang sama, wasit kerap menutup mata atau bahkan memutarbalikkan fakta dengan menghukum pemain PSN.

Ketidakadilan semacam ini merupakan perampasan penguasaan bola secara tidak sah, dan meneror mental pemain. Sulit bagi pemain mana pun untuk tetap fokus ketika mereka merasa sedang bertanding melawan dua kubu sekaligus yakni tim lawan dan perangkat pertandingan. Protes beruntun dari Coach Cletus adalah upaya rasional untuk melindungi hak-hak dasar pemainnya agar bisa bertanding di atas lapangan yang datar.

Liga 4 Nasional adalah fondasi bagi masa depan sepak bola kita, sekaligus jembatan mimpi bagi klub-klub daerah. Jika di fase sepenting semifinal saja kualitas perangkat pertandingan masih diwarnai keputusan-keputusan ganjil, bagaimana kita bisa bermimpi membangun kompetisi nasional yang sehat, bersih, dan profesional?

Evaluasi total dari Komite Wasit PSSI mutlak diperlukan. Pertandingan yang mempertaruhkan keringat, persiapan berbulan-bulan, dan harapan puluhan ribu suporter daerah tidak boleh dirusak begitu saja dalam waktu 90 menit. Keadilan di Sriwedari mungkin telah tercederai, dan skor akhir 5-4 lewat adu penalti telah menjadi ketukan palu. Namun, laga ini harus menjadi teguran keras agar sepak bola kita berhenti tersandung di lubang inkompetensi yang sama.

Mojokerto, 8 Juli 2026

  • Penulis: John Lobo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    Membincang Turuk Empo dalam Budaya Manggarai dan Relevansinya dengan Perkawinan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Marselus Natar
    • visibility 513
    • 0Komentar

    Di tengah arus modernisasi dan pergeseran nilai-nilai tradisional, masyarakat Manggarai di Nusa Tenggara Timur masih mempertahankan sejumlah kearifan lokal yang sarat makna dan fungsi sosial. Salah satunya adalah konsep turuk empo, sebuah sistem genealogis yang menjadi penanda garis keturunan dalam masyarakat adat Manggarai. Konsep ini bukan sekadar alat penanda asal-usul, tetapi berperan besar dalam menjaga […]

  • Cerpen Pastor: I Love You Full!

    Cerpen Pastor: I Love You Full!

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Sr. Auxilia Damanik, SFD
    • visibility 224
    • 4Komentar

    Oleh: Sr. Auxilia Damanik, SFD (Penulis merupakan biarawati pada Kongregasi Suster-Suster Fransiskus Dina atau SFD. Saat ini tengah memasuki tahun yuniorat pertama) Sebelum lanjut membaca, mari berbagi kebaikan di sini Deru angin dari perbukitan berembus kencang, menggiring langkah kecilku berlari menapaki tanah berbatu. Langit sore tampak muram, tetapi bukit itu selalu menjadi tempat paling hidup […]

  • Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    Puisi-puisi Alvarez Keupung: Tiga Rindu, Roh, Menulis Diri, Jejak dan Sepi yang Berisik

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Alvarez Keupung
    • visibility 197
    • 0Komentar

    Oleh: Alvares Keupung adalah seorang pegiat entertain ( MC ) dengan brandnya “Sang Penutur”, berdomisili di Ende.   TIGA RINDU Rindu ini tiba – tiba datang Untuk ayah yang selalu tenang dalam diam Setelah wajahnya tak pernah kutemukan lagi Bahkan pada mimpi yang dihembuskan angin sekalipun Serasa aku kehilangan jejak pencarian ribuan tahun Rindu ini […]

  • Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    Bahaya Konservatisme yang Membudak: Jawaban atas Tanggapan Alvianus Tay

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Agustinus S. Sasmita
    • visibility 649
    • 2Komentar

    Dalam karyanya “21 Pelajaran untuk Abad ke-21”, Yuval Hoah Harari mengatakan “jika masa depan umat manusia diputuskan tanpa melibatkan anda, kerena anda sibuk memberi makan dan memakaikan pakaian anak anda, tetap saja anda dan anak anda tidak bisa lepas dari konsekuensinya. Ini memang sungguh tidak adil, tetapi siapa bilang sejarah itu adil?” (Harari, 2023). Namun […]

  • Duka Pernikahan  dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    Duka Pernikahan dan Puisi-puisi Lainnya Karya Sella Suhardi

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Sella Suhardi
    • visibility 329
    • 5Komentar

    Duka Pernikahan (I) Aku pernah, pernah sekali mencintaimu Sampai akhirnya mengambil sumpah mendebar Untuk meletakanmu dalam hati paling dasar   Membiarkan wajahmu mengendap di penghujung malam Tetapi sepertinya mencintaimu adalah luka paling dalam Kepergian adalah secangkir duka yang kau suguhkan di atas meja pernikahan Dan tiap teguknya melumur habis doa dan harapan yang gagal terucap […]

  • Ketika Cinta Menjadi Doa

    Ketika Cinta Menjadi Doa

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Fr. Rolandus Yosep Dosi, OCD
    • visibility 157
    • 3Komentar

    Minggu pagi selalu datang dengan kesunyian yang suci. Cahaya matahari menembus jendela kaca kapela SanJuan, memantulkan warna-warna lembut yang jatuh di lantai seperti doa yang menjelma menjadi cahaya. Denting lonceng memanggil umat untuk berkumpul, dan di antara bangku-bangku kayu yang tertata rapi, Frater Arda kembali menemukan sosok yang diam-diam mengisi ruang batinnya. Gadis itu selalu […]

expand_less