Breaking News
light_mode
Trending Tags

Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

  • account_circle John Lobo
  • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
  • visibility 83
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang menjunjung tinggi spirit fair play. Laga krusial semifinal Liga 4 Nasional yang mempertemukan Pesik Kuningan dan PSN Ngada di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (8/7), seharusnya menjadi panggung pembuktian taktik dan talenta. Namun sayang seribu sayang, sorotan utama justru bergeser dari aksi heroik para pemain ke arah sosok pengadil lapangan.

Pertandingan yang berakhir imbang 1-1 di waktu normal dan disudahi dengan kemenangan penalti Pesik Kuningan 5-4 ini, menyisakan catatan kelam terkait kepemimpinan wasit yang dinilai berat sebelah. Alih-alih menjadi fasilitator pertandingan yang adil, sang pengadil justru menjelma sebagai pemain ke-12 yang merusak ritme dan mental bertanding.

Ada dua dosa taktis utama dari kepemimpinan wasit di laga ini yang patut dikritisi secara tajam, yaitu: Pertama, matinya kepekaan terhadap aturan keuntungan. Dalam sepak bola modern, aturan ini adalah instrumen krusial agar tim yang dilanggar tidak semakin dirugikan saat alur serangan mereka sedang mengalir. Namun, apa yang terjadi di Sriwedari justru sebaliknya.

Wasit tercatat menghentikan jalannya pertandingan sebanyak beberapa kali tepat saat PSN Ngada sedang membangun skema serangan balik cepat yang sangat berbahaya. Peluit ditiup untuk pelanggaran yang sudah lewat, mengabaikan fakta bahwa bola masih dikuasai penuh oleh pemain PSN Ngada dalam posisi menyerang.

Secara taktis, ini adalah sebuah bencana bagi PSN Ngada sekaligus napas buatan bagi Pesik Kuningan. Keputusan prematur tersebut memberikan waktu berharga bagi lini pertahanan Pesik untuk kembali merapatkan barisan. Sangat wajar jika Head Coach PSN Ngada, Cletus Marselinus Gabhe, meledak amarahnya di area teknis. Protes keras yang dilayangkannya bukanlah bentuk ketidakdewasaan, melainkan jeritan taktis seorang pelatih yang melihat peluang emas anak asuhnya dirampas oleh peluit yang buta momentum.

Kedua, penerapan standar ganda pada duel fisik. Tensi tinggi laga semifinal tentu melahirkan benturan-benturan sengit di lapangan. Di sinilah integritas dan objektivitas wasit kembali dipertanyakan. Setiap kali terjadi duel 50-50, peluit seolah jauh lebih ringan ditiup untuk memberikan keuntungan bagi Pesik Kuningan. Sebaliknya, ketika pemain PSN Ngada menunjukkan determinasi fisik yang sama, wasit kerap menutup mata atau bahkan memutarbalikkan fakta dengan menghukum pemain PSN.

Ketidakadilan semacam ini merupakan perampasan penguasaan bola secara tidak sah, dan meneror mental pemain. Sulit bagi pemain mana pun untuk tetap fokus ketika mereka merasa sedang bertanding melawan dua kubu sekaligus yakni tim lawan dan perangkat pertandingan. Protes beruntun dari Coach Cletus adalah upaya rasional untuk melindungi hak-hak dasar pemainnya agar bisa bertanding di atas lapangan yang datar.

Liga 4 Nasional adalah fondasi bagi masa depan sepak bola kita, sekaligus jembatan mimpi bagi klub-klub daerah. Jika di fase sepenting semifinal saja kualitas perangkat pertandingan masih diwarnai keputusan-keputusan ganjil, bagaimana kita bisa bermimpi membangun kompetisi nasional yang sehat, bersih, dan profesional?

Evaluasi total dari Komite Wasit PSSI mutlak diperlukan. Pertandingan yang mempertaruhkan keringat, persiapan berbulan-bulan, dan harapan puluhan ribu suporter daerah tidak boleh dirusak begitu saja dalam waktu 90 menit. Keadilan di Sriwedari mungkin telah tercederai, dan skor akhir 5-4 lewat adu penalti telah menjadi ketukan palu. Namun, laga ini harus menjadi teguran keras agar sepak bola kita berhenti tersandung di lubang inkompetensi yang sama.

Mojokerto, 8 Juli 2026

  • Penulis: John Lobo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    Beny K. Harman: Pesta Babi yang Menakutkan?

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Beny K. Harman
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Oleh: Benny K. Harman Ketika aparat bergerak cepat membubarkan diskusi dan melarang pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Jaman Kita, sebuah pesan benderang sedang dikirimkan oleh penguasa kepada rakyatnya: kalian boleh hidup di negara ini, tapi kalian tidak boleh berpikir. Pelarangan massal terhadap film ini bukan sekadar tindakan sensor birokratis yang kolot. Ini adalah ekspresi ketakutan […]

  • Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    Sudut Pandang: Ada yang Ganjil dengan Cara Kita Memperlakukan Perempuan

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Helena Lose Beraf
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Ketika seorang bayi perempuan lahir, kalimat pertama yang paling sering terdengar bukan “Semoga ia tumbuh berani.” Bukan pula, “Semoga ia menjadi manusia yang bijaksana.” Yang keluar justru, “Cantik sekali .” Lalu waktu berjalan, dan masyarakat melanjutkan pelajarannya. Perempuan cenderung diajari memakai bedak sebelum diajari berdebat, diajari bagaimana cara duduk anggun sebelum diajari menyampaikan pendapat. Diajari […]

  • Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    Jika Cinta Lahir Dari Puisi dan Puisi-puisi Lainnya

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Yeremias Laba Lein
    • visibility 284
    • 4Komentar

    TAK INGIN SEDANGKAL ITU Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sedangkan mencintaimu saja aku harus menyelam sedalam-dalamnya lautan asmaramu, berenang seluas-luasnya samudra di hatimu, dan melewati pasang surutnya air matamu   Aku tak ingin jatuh cinta sedangkal itu sebab aku ingin berlayar sejauh mungkin di lautan asmaramu, menjala cinta dan kasih sayang sebanyak mungkin […]

  • 333 Calon Siswa Baru Resmi Ikuti MPLS Ramah Anak, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae: “Kalian adalah Angkatan Bersejarah”

    333 Calon Siswa Baru Resmi Ikuti MPLS Ramah Anak, Kepala SMPSK Kotagoa Boawae: “Kalian adalah Angkatan Bersejarah”

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Boawae, 14 Juli 2026 – Sebanyak 333 calon peserta didik baru resmi mengikuti Apel Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Anak Tahun Pelajaran 2026/2027 di SMPSK Kotagoa Boawae, Selasa (14/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi momen istimewa karena para peserta didik baru merupakan Angkatan ke-75, bertepatan dengan perayaan Pesta Intan (75 Tahun) SMPSK Kotagoa Boawae yang […]

  • Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    Sudut Pandang: TANAH BUKAN KOMODITAS: MEMBELA SUARA MAMA YOSINTA DAN FAKTA FILM PESTA BABI

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Emil E Wakei
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan) Mama Yosinta itu perempuan yang berdiri tegak menolak Proyek Strategis Nasional. Berkali- kali ia menempuh jarak ribuan kilometer ke Jakarta. Ia masuk ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi bukan untuk dirinya, melainkan untuk tanah adatnya. Di sana ia bicara dengan kalimat yang tidak ragu: PSN mencabut hidup dari hutan, sagu, […]

  • Saat AI Ikut Makan Bersama:  Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    Saat AI Ikut Makan Bersama: Apakah Kebersamaan Kita Akan Terhitung?

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Jefrianus Temba
    • visibility 351
    • 0Komentar

    Jefrianus Temba (Mahasiswa Teologi-Wedabhakti-Sanata Dharma) Pendahuluan Meja makan bukan sekadar tempat untuk menyantap makanan. Dalam banyak budaya, meja makan sering diartikan sebagai ruang yang paling istimewa, tempat di mana keluarga berbagi cerita satu dengan yang lain. Tradisi makan bersama sudah berlangsung ribuan tahun sebagai perekat atau pelekat hubungan. Namun belakangan ada semacam  perubahan yang kelihatanya […]

expand_less