Sudut Pandang: Anak Kecil dari Rosario
- account_circle Giorgio Babo Moggi
- calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
- visibility 57
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Giorgio Babo Moggi
Di sudut kota Rosario yang riuh dan berdebu, sebuah rumah sederhana berdiri tenang. Rumah itu tidak dibangun oleh arsitek terkenal, melainkan oleh tangan seorang ayah dan kakek yang percaya bahwa keluarga selalu membutuhkan tempat untuk pulang. Di sanalah, pada 24 Juni 1987, lahir seorang bocah bernama Lionel Andrés Messi, anak ketiga dari empat bersaudara dalam keluarga pekerja keras. Ayahnya, Jorge Messi, menghabiskan sebagian besar hidup di pabrik baja. Ibunya, Celia Cuccittini, membersihkan ruang-ruang mesin di sebuah bengkel elektromagnetik. Kehidupan mereka jauh dari kemewahan, tetapi rumah itu selalu dipenuhi kehangatan yang tidak pernah dapat dibeli oleh uang.
Rosario bukan kota yang membesarkan manusia dengan gemerlap. Kota itu tumbuh dari keringat para pekerja, dari jalan-jalan sempit yang dipenuhi tawa anak-anak, dari tembok-tembok tua yang dihiasi mural Newell’s Old Boys, dan dari lapangan-lapangan tanah yang menjadi ruang belajar bagi begitu banyak mimpi. Di tempat itulah Lionel kecil berlari mengejar bola plastik, dengan mata yang memantulkan harapan, seolah seluruh dunia dapat digenggam melalui sepasang kaki mungilnya.
Sepak bola telah lebih dahulu menjadi bagian dari kehidupan keluarganya. Rodrigo dan Matías, kedua kakaknya, hampir setiap hari mengajaknya bermain. Mereka bukan hanya saudara, tetapi juga lawan pertama yang mengajarkan bahwa kemenangan harus diperjuangkan. Sang adik, María Sol, menghadirkan kelembutan yang selalu menghangatkan rumah mereka. Di jalan yang sama, Maxi dan Emanuel, dua sepupunya, ikut memenuhi sore-sore Rosario dengan permainan yang seakan tidak pernah mengenal kata selesai. Di keluarga Messi, sepak bola bukan hanya permainan. Ia mengalir bersama darah, hadir dalam percakapan, tawa, dan impian yang diwariskan tanpa pernah diminta.
Namun, di atas semua itu, ada satu nama yang menempati ruang paling sunyi di hati Lionel. Celia, neneknya. Rumah perempuan itu hanya beberapa langkah dari rumah keluarga Messi. Dialah orang yang pertama kali melihat sesuatu yang belum mampu dibaca orang lain. Ketika dunia melihat seorang anak bertubuh kecil, sang nenek melihat masa depan. Karena itulah setiap kali Lionel mencetak gol, ia selalu menengadah dan menunjuk ke langit. Bukan untuk mencari tepuk tangan, melainkan untuk menyampaikan pesan yang tidak pernah berubah. “Untukmu, Nek.”
Di balik kelincahan yang memikat siapa pun yang melihatnya bermain, tubuh Lionel menyimpan sebuah perjuangan yang tidak banyak diketahui orang. Ketika usianya menginjak sepuluh tahun, tinggi badannya hanya sekitar 127 sentimeter. Saat teman-temannya tumbuh semakin tinggi, tubuhnya seakan berhenti melangkah. Pemeriksaan dokter kemudian menghadirkan kenyataan yang mengubah kehidupan keluarga itu. Lionel didiagnosis mengalami growth hormone deficiency, kekurangan hormon pertumbuhan yang membuat tubuhnya tidak berkembang sebagaimana mestinya.
Kabar itu datang seperti hujan di tengah langit yang telah lama mendung. Dokter menjelaskan bahwa Lionel harus menjalani terapi hormon setiap hari. Biayanya mencapai sekitar 1.500 dolar Amerika Serikat setiap bulan, jumlah yang terasa nyaris mustahil bagi keluarga pekerja seperti Jorge dan Celia. Namun, ada kalanya harapan bertahan bukan karena keadaan menjadi mudah, melainkan karena seseorang memilih untuk tidak menyerah.
Selama bertahun-tahun mereka menyusun hidup dari asuransi, pinjaman, dan keyakinan. Newell’s Old Boys sempat membantu biaya pengobatan, sebelum krisis ekonomi Argentina memaksa bantuan itu berhenti. Lionel menerima suntikan demi suntikan tanpa keluhan. Bertahun-tahun kemudian ia mengenang masa itu dengan kalimat yang sederhana. “Saya bahkan melakukan suntikan sendiri sebelum tidur.” Bekas jarum mungkin memudar dari kulitnya, tetapi ketidakpastian yang menyertainya menjadi bagian dari masa kecil yang tidak pernah benar-benar hilang.
Anehnya, rasa sakit tidak pernah mampu menjauhkan Lionel dari bola. Setiap kali keluar dari Klinik Endokrinologi Dr. Schwarzstein, bola tetap berada di tangannya. Ia datang sebagai seorang pasien, tetapi pulang sebagai anak kecil yang kembali mengejar mimpinya. Bahkan lorong-lorong rumah sakit tidak mampu menghapus kebiasaannya menendang bayangan bola di lantai.
Di rumah, kemenangan tidak pernah menjadi syarat untuk memperoleh kasih sayang. Jorge dan Celia hanya berharap anak mereka tumbuh menjadi manusia yang baik. Jorge tidak hanya menjadi pencari nafkah. Ia juga menjadi pelatih pertama Lionel di Grandoli, klub kecil yang kelak menjadi halaman pertama dari perjalanan panjang seorang legenda. Di lapangan berdebu itu, Jorge melihat sesuatu yang belum disadari siapa pun. Putranya tidak bermain melawan bola. Ia berbicara dengannya.
Di pinggir lapangan, Celia dan sang nenek hampir selalu hadir. Mereka bukan sekadar penonton yang menunggu pertandingan selesai. Mereka adalah tempat Lionel kembali menemukan keberanian setiap kali rasa takut datang menghampiri. Ketika nenek Celia meninggal dunia saat Lionel berusia sebelas tahun, satu kursi di tribun menjadi kosong untuk selamanya. Namun setiap gol yang lahir sesudah itu selalu diiringi gerakan yang sama. Lionel menunjuk ke langit, menjaga percakapan yang tidak pernah selesai dengan perempuan yang pertama kali mempercayai mimpinya.
Jorge pula yang kemudian membawa putranya menuju Spanyol. Perjalanan itu bukan hanya demi sepak bola, tetapi juga demi kehidupan. Barcelona sempat ragu menerima bocah bertubuh kecil tersebut. Hingga suatu sore, Carles Rexach mengambil selembar serbet restoran dan menuliskan kesepakatan yang kemudian mengubah sejarah. Terkadang, keputusan terbesar memang lahir bukan di ruang rapat yang megah, melainkan dari keyakinan seseorang terhadap bakat yang belum dilihat orang lain.
Suatu hari Jorge mengucapkan kalimat yang mungkin paling tepat menggambarkan putranya. “Yang paling membanggakan dari Leo bukan golnya, tetapi siapa dia sebagai manusia.”
Cinta pertama Lionel bukan sorak-sorai stadion. Bukan pula trofi atau penghargaan yang kelak memenuhi lemari. Cinta pertamanya adalah bola. Sejak berusia empat tahun ia telah mengenakan seragam Grandoli yang kebesaran untuk tubuh mungilnya. Beberapa pelatih meragukan kemampuannya karena ukuran badannya. Nenek Celia menolak keraguan itu. Ia meminta agar cucunya diberi kesempatan bermain. Lionel membalas kepercayaan tersebut dengan dua gol pada pertandingan pertamanya.
Di lapangan kecil itu, Lionel tidak tampak seperti anak yang sedang memainkan bola. Ia bergerak seperti seseorang yang sedang menulis puisi dengan kedua kakinya. Setiap sentuhan terasa lembut, setiap gerakan menghadirkan irama yang sulit dijelaskan. Bola seolah mengenali siapa pemilik sejatinya.
Saat berusia delapan tahun, Lionel bergabung dengan akademi Newell’s Old Boys. Dalam enam tahun ia mencetak hampir lima ratus gol dan menjadi bagian dari generasi yang dikenal sebagai The Machine of ’87. Sepak bola yang dimainkannya tidak lahir dari buku atau ruang kelas. Permainan itu tumbuh dari debu jalanan Rosario, dari lapangan tanah yang tidak rata, dari sorak tetangga setiap sore, dan dari sepasang mata seorang nenek yang tidak pernah berhenti percaya.
Lionel Messi tidak dilahirkan dengan tubuh yang menjulang. Bahkan tubuhnya pernah menolak untuk bertumbuh sebagaimana mestinya. Namun hidup selalu memiliki caranya sendiri untuk menjelaskan arti kebesaran. Dari sebuah rumah bata yang sederhana, dari keluarga yang mencintai tanpa syarat, dari lapangan tanah yang dipenuhi debu, dan dari seorang nenek yang terus hidup dalam ingatan, lahirlah seorang anak kecil yang kelak membuat seluruh dunia menengadah setiap kali namanya disebut.
#LionelMessi #Rosario #InspirasiHidup #SepakBola #Argentin
- Penulis: Giorgio Babo Moggi
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar