Sudut Pandang: Kursi yang kini Hanya Menyisakan Kenangan
- account_circle Marselina Ardia Simenes
- calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
- visibility 63
- comment 2 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tentang seorang ayah yang pendiam, sederhana, dan selalu punya cara untuk menunjukkan kasih sayang kepada anak perempuannya.
Ada banyak hal yang berubah setelah seseorang yang kita sayangi pergi. Rumah masih berada di tempat yang sama, aktivitas keluarga masih berjalan, dan hari-hari tetap berganti seperti biasanya. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda karena seseorang yang dahulu selalu ada kini tidak lagi bisa ditemui. Begitulah yang saya rasakan sejak ayah meninggal.
Dahulu, saya tidak pernah berpikir bahwa hal-hal sederhana bersama ayah suatu hari akan menjadi kenangan yang begitu berarti. Membuatkan kopi di pagi hari, bercanda bersama, mendengarkan cerita, atau sekadar melihat ayah berada di rumah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang saya jalani tanpa pernah membayangkan bahwa semuanya akan menjadi sesuatu yang sangat saya rindukan.
Ayah saya adalah sosok yang pendiam dan sederhana. Namun, di balik sifat pendiamnya, ayah merupakan orang yang banyak bercanda. Saya sering menghabiskan waktu dengan bercanda bersamanya. Hubungan saya dengan ayah terasa sangat dekat. Saya juga lebih sering bercerita kepada ayah dibandingkan kepada ibu.
Mungkin bagi orang lain, kedekatan seperti itu terlihat sederhana. Namun, bagi saya, hubungan dengan ayah merupakan salah satu bagian yang sangat berharga dalam hidup saya.
Ayah yang Tidak Pernah Membentak
Salah satu hal yang paling saya ingat dari ayah adalah cara beliau memperlakukan saya sebagai anak.
Ayah tidak pernah membantah saya dengan kasar. Saya juga tidak pernah mengingat beliau membentak atau mengeluarkan kata-kata kasar kepada saya. Meskipun ayah adalah sosok yang pendiam, saya merasa nyaman ketika berada di dekatnya.
Saya bisa bercanda tanpa merasa takut. Saya bisa bercerita tentang berbagai hal. Saya juga merasa bebas menjadi diri sendiri ketika bersama ayah.
Ada kenyamanan yang sulit dijelaskan dalam hubungan antara seorang ayah dan anak perempuannya. Ayah mungkin tidak selalu mengatakan secara langsung bahwa ia menyayangi saya, tetapi saya dapat merasakan perhatian itu dari caranya memperlakukan saya.
Setelah ayah tidak ada, saya justru semakin memahami bahwa sikap sederhana tersebut merupakan salah satu bentuk kasih sayang yang pernah saya terima.
Dahulu saya mungkin tidak terlalu memikirkannya. Sekarang saya sering mengingatnya.
Kue di Pagi Hari dan Secangkir Kopi
Kenangan tentang ayah tidak selalu berupa peristiwa besar. Justru kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari menjadi hal yang paling sulit dilupakan.
Setiap pagi, ayah selalu membeli kue untuk kami sekeluarga. Kebiasaan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi sekarang menjadi salah satu hal yang paling saya ingat ketika memikirkan beliau.
Ada juga kebiasaan lain yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatan saya. Ayah selalu meminta saya untuk membuatkan kopi panas untuknya.
Permintaannya sederhana. Saya membuatkan kopi, kemudian memberikannya kepada ayah.
Dulu, saya menganggap hal tersebut sebagai bagian dari rutinitas pagi. Tidak ada yang terasa istimewa karena sudah menjadi kebiasaan.
Namun, setelah ayah pergi, saya baru menyadari bahwa hal-hal kecil seperti itulah yang membuat sebuah rumah terasa hidup.
Sekarang tidak ada lagi permintaan untuk membuatkan kopi. Tidak ada lagi kebiasaan pagi seperti dahulu. Yang tersisa hanyalah ingatan tentang bagaimana saya pernah membuatkan kopi untuk ayah dan bagaimana kebiasaan sederhana tersebut kini menjadi sesuatu yang sangat saya rindukan.
Ayah Adalah Orang Pertama yang Saya Cari Ketika Sakit
Ketika seorang anak sedang sakit, biasanya ia akan mencari orang yang membuatnya merasa aman. Bagi saya, orang itu adalah ayah.
Ketika sakit, ayah menjadi salah satu orang pertama yang saya cari. Ada rasa nyaman ketika mengetahui bahwa ayah ada di dekat saya. Mungkin bukan karena ayah selalu memiliki jawaban untuk semua keadaan, tetapi karena keberadaannya sendiri sudah cukup membuat saya merasa diperhatikan.
Saya adalah anak perempuan satu-satunya. Karena itu, perhatian ayah kepada saya memiliki tempat yang khusus dalam ingatan saya.
Ayah memang bukan orang yang selalu menunjukkan kasih sayang melalui kata-kata. Ia tidak banyak mengungkapkan perasaannya. Namun, perhatian itu dapat saya rasakan melalui berbagai tindakan kecil yang dilakukannya.
Sekarang saya mengerti bahwa kasih sayang tidak selalu harus disampaikan melalui kalimat.
Terkadang, kasih sayang hadir melalui seseorang yang membelikan makanan untuk keluarganya, meminta dibuatkan kopi, tidak pernah membentak anaknya, dan selalu berusaha memastikan anaknya baik-baik saja.
Seorang Ayah dan Anak Perempuannya
Menjadi anak perempuan satu-satunya membuat hubungan saya dengan ayah memiliki tempat yang khusus dalam kehidupan saya.
Saya sering bercanda dengannya. Saya juga lebih banyak bercerita kepada ayah. Ada banyak hal yang terasa lebih mudah saya ceritakan ketika bersama beliau.
Ayah tidak selalu memberikan respons yang panjang. Terkadang ia hanya mendengarkan. Namun, saya merasa didengar.
Hubungan antara seorang ayah dan anak perempuan mungkin tidak selalu terlihat dari seberapa sering mereka mengatakan bahwa mereka saling menyayangi. Terkadang hubungan itu justru terlihat dari hal-hal kecil yang dilakukan tanpa banyak dipikirkan.
Saya tidak selalu membutuhkan ayah untuk mengatakan bahwa ia menyayangi saya. Saya bisa merasakannya dari cara ia memperlakukan saya, dari caranya bercanda, dari perhatiannya, dan dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dahulu saya anggap biasa.
Kini, semuanya menjadi kenangan yang sangat saya rindukan.
Kepergian yang Tidak Saya Saksikan
Ada satu hal tentang kepergian ayah yang sampai sekarang masih terasa berat bagi saya.
Ketika ayah mengembuskan napas terakhirnya, saya tidak berada di sana.
Karena saya sedang berkuliah di luar kota/Yogyakarta. Keadaan membuat saya tidak dapat berada di samping ayah pada saat-saat terakhirnya. Bahkan, saya juga tidak dapat mengikuti pemakaman ayah.
Sebagai seorang anak, tentu ada keinginan untuk berada di dekat orang tua ketika mereka pergi untuk selamanya. Saya ingin berada di sana. Saya ingin melihat ayah untuk terakhir kalinya. Saya ingin mengantarkan ayah ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Namun, saya tidak mendapatkan kesempatan tersebut.
Jarak membuat saya tidak dapat melakukan apa yang saya inginkan.
Karena itu, sampai sekarang terkadang masih muncul rasa bersalah dalam diri saya. Ada perasaan bahwa seharusnya saya berada di sana ketika ayah pergi untuk terakhir kalinya.
Namun, saya juga mulai memahami bahwa kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya tidak hanya ditentukan oleh keberadaannya pada hari terakhir.
Saya memang tidak berada di samping ayah ketika beliau mengembuskan napas terakhir. Saya juga tidak dapat mengikuti pemakamannya.
Tetapi saya memiliki begitu banyak kenangan bersamanya.
Dan kenangan tersebut tidak akan hilang hanya karena saya tidak dapat berada di sana pada hari terakhirnya.
Hal-Hal Kecil yang Sekarang Terasa Besar
Setelah ayah tidak ada, saya mulai melihat kembali berbagai kebiasaan yang dahulu saya jalani bersamanya.
Membuatkan kopi. Bercanda. Bercerita. Mendapatkan kue yang dibawa ayah setiap pagi.
Semua itu mungkin terlihat kecil bagi orang lain. Namun, bagi saya, semuanya merupakan bagian dari kehidupan yang pernah saya jalani bersama ayah.
Dulu saya mungkin tidak menyadari bahwa suatu hari saya akan merindukan hal-hal tersebut. Saya mengira masih akan ada hari berikutnya untuk kembali bercanda dengan ayah. Saya mengira masih akan ada waktu untuk bercerita.
Ternyata tidak.
Kepergian ayah membuat saya memahami bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu kapan waktu bersama seseorang akan menjadi kenangan terakhir.
Karena itu, sekarang saya belajar untuk lebih menghargai orang-orang yang masih ada dalam kehidupan saya.
Rindu yang Tidak Bisa Disampaikan Langsung
Saya sangat merindukan ayah.
Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan kepadanya. Ada banyak momen ketika saya berharap masih bisa mendengar suara ayah atau bercanda dengannya seperti dahulu.
Namun, sekarang saya hanya dapat menyampaikan kerinduan itu melalui doa dan kenangan.
Kadang saya membayangkan bagaimana jika ayah masih ada. Mungkin saya masih bisa membuatkan kopi untuknya. Mungkin kami masih bisa bercanda. Mungkin saya masih bisa menceritakan banyak hal tentang kehidupan saya sekarang.
Tetapi semua itu hanya kemungkinan yang tidak dapat lagi terjadi.
Yang dapat saya lakukan sekarang adalah menjaga kenangan tentang ayah, mengingat kebaikannya, mengingat perjuangannya untuk keluarga, dan mengingat bagaimana seorang ayah yang sederhana dapat memberikan rasa aman yang begitu besar kepada anak perempuannya.
Terima Kasih, Ayah
Ada banyak hal yang mungkin belum sempat saya katakan kepada ayah ketika beliau masih ada.
Salah satunya adalah terima kasih.
Terima kasih karena sudah menjadi ayah yang membuat saya merasa nyaman.
Terima kasih karena sudah menjadi tempat saya bercerita.
Terima kasih karena tidak pernah membentak saya dan selalu memperlakukan saya dengan baik.
Terima kasih untuk kue yang selalu dibawa setiap pagi.
Terima kasih untuk setiap kopi yang pernah saya buatkan.
Terima kasih untuk semua perhatian yang mungkin dahulu saya anggap sebagai sesuatu yang biasa.
Dan terima kasih karena telah menjadi bagian penting dalam kehidupan saya.
Saya mungkin tidak dapat lagi menyampaikan semua itu secara langsung. Namun, saya berharap doa yang saya panjatkan dapat menjadi salah satu cara untuk menyampaikan rasa terima kasih tersebut.
Kehilangan ayah membuat saya menyadari bahwa seseorang tidak harus selalu hadir secara fisik untuk tetap memiliki tempat dalam kehidupan kita.
Ayah memang sudah tidak ada di rumah. Saya tidak dapat lagi bercanda dengannya. Saya tidak dapat lagi bercerita kepadanya. Saya juga tidak dapat lagi membuatkan kopi panas untuknya setiap pagi.
Namun, semua kebiasaan itu masih tersimpan dalam ingatan saya.
Ayah adalah sosok yang pendiam, sederhana, dan tidak banyak menunjukkan kasih sayang melalui kata-kata. Namun, sebagai anak perempuannya, saya dapat merasakan kasih sayang itu melalui hal-hal kecil yang beliau lakukan.
Kini, ketika saya mengingat kembali semua kenangan tersebut, saya menyadari bahwa kebahagiaan bersama ayah tidak selalu hadir melalui sesuatu yang besar. Justru momen-momen sederhana yang dahulu saya jalani tanpa banyak berpikir kini menjadi kenangan yang paling saya rindukan.
Saya memang tidak berada di samping ayah ketika beliau mengembuskan napas terakhir. Saya juga tidak dapat mengantarkan beliau pada pemakamannya karena sedang berada di luar kota untuk menjalani pendidikan.
Hal itu mungkin akan selalu menjadi bagian dari rasa kehilangan yang saya bawa.
Namun, saya tidak ingin hanya mengingat ketidakhadiran saya pada hari terakhirnya. Saya ingin lebih banyak mengingat hari-hari ketika ayah hadir dalam hidup saya.
Hari ketika ayah membelikan kue untuk keluarga.
Pagi ketika saya membuatkan kopi untuknya.
Waktu ketika kami bercanda.
Dan saat-saat ketika saya bercerita kepadanya.
Sebab, pada akhirnya, seorang ayah tidak hanya dikenang dari hari terakhirnya. Ia dikenang dari seluruh kasih sayang yang pernah diberikan selama hidupnya.
Ayah telah pergi, tetapi kenangan tentangnya akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
Tentang penulis: Marselina Ardia Simenes
- Penulis: Marselina Ardia Simenes
- Editor: Redaksi Mataleza

Bahagia Dalam keabadian di Surga Bapa
19 September 2026 9:20 pmAminnn
19 September 2026 9:35 pm