Breaking News
light_mode
Trending Tags

Membaca Ulang “Heungbu dan Nolbu”: Benarkah si Miskin Selalu Suci dan si Kaya Selalu Jahat? 

  • account_circle Sanggi Na
  • calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
  • visibility 12
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Sanggi Na 

Bagi siapa pun yang tumbuh dengan cerita rakyat, dongeng “Heungbu dan Nolbu” adalah salah satu kisah klasik yang paling membekas di ingatan. Sejak kecil, kita disodorkan pada sebuah narasi hitam-putih yang sangat rapi: Heungbu adalah lambang kesucian hati yang terjebak dalam kemiskinan, sedangkan Nolbu adalah simbol keserakahan yang hidup bergelimang harta. Pesan moralnya pun dikemas dengan sangat instan—jadilah orang baik maka alam semesta akan membalasmu, dan jangan menjadi orang jahat jika tidak ingin tertimpa azab.

Sebagai anak-anak, kita menerima premis ini bulat-bulat. Namun, ketika kita tumbuh dewasa dan mulai berbenturan dengan realitas sosial serta kerumitan ekonomi sehari-hari, dongeng ini mulai terasa mengganjal. Jika kita berani membedah ulang karakter keduanya tanpa kacamata moralitas tradisional yang bias, cerita ini justru memunculkan pertanyaan yang cukup provokatif: benarkah Heungbu sebaik itu, dan benarkah Nolbu sejahat itu?

Mari kita mulai dengan menguliti karakter Heungbu. Selama ini, ia selalu diposisikan sebagai korban atau tokoh protagonis yang harus dikasihani. Namun, dari sudut pandang kehidupan modern, Heungbu sebenarnya adalah sosok kepala keluarga yang sangat bermasalah. Ia diceritakan memiliki banyak anak, tetapi ironisnya, ia tidak memiliki etos kerja yang memadai untuk memastikan keluarganya tidak kelaparan.

Kita sering diajarkan filosofi sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit untuk menggambarkan proses membangun kestabilan hidup melalui kerja keras yang konsisten. Namun, Heungbu tampaknya tidak mengenal konsep ini. Ia tidak berusaha membangun “bukit” finansialnya dari keringat dan usahanya sendiri. Sebaliknya, ia hanya berpasrah pada nasib, mengandalkan belas kasihan kakaknya, dan pada akhirnya, menggantungkan nasib pada keajaiban dari seekor burung walet. Kebaikan Heungbu—seperti menolong hewan yang terluka—memang patut dipuji. Tetapi, membiarkan anak istrinya hidup dalam garis kemiskinan ekstrem tanpa usaha yang rasional sebenarnya adalah bentuk ketidakbertanggungjawaban. Kebaikan hatinya, pada titik tertentu, hanyalah selimut yang menutupi kepasifan dan ketidakmampuannya bertahan hidup.

Di seberang sana, kita memiliki Nolbu. Ya, dia pelit, mulutnya tajam, dan tidak punya belas kasih. Namun, jika kita mencopot label “tokoh jahat” dari dahinya sejenak, Nolbu adalah representasi dari rasionalitas ekonomi. Keputusannya untuk menolak menampung atau terus-menerus memberikan hartanya kepada Heungbu sebenarnya adalah sikap yang sangat realistis. Mengapa ia harus mengorbankan kekayaannya untuk mensubsidi seorang adik yang malas dan menolak untuk mandiri?

Dalam kacamata finansial hari ini, Nolbu sekadar menetapkan batasan yang sehat (boundaries). Ia menyadari bahwa kekayaan tidak datang dari langit, melainkan dari pengelolaan yang rasional. Tentu saja, tindakan Nolbu di akhir cerita—sengaja mematahkan kaki burung walet agar bisa mendapat balasan harta—adalah sebuah keserakahan yang konyol. Tetapi, sikap awalnya yang menolak dieksploitasi oleh kemalasan adiknya adalah sikap yang masuk akal di dunia nyata.

Membongkar cerita ini membuat kita sadar bahwa dongeng tradisional sering kali mengandalkan penyederhanaan realitas. “Heungbu dan Nolbu” secara tidak sadar telah meninabobokan masyarakat dengan ilusi bahwa kemiskinan selalu beriringan dengan keluhuran budi, sementara kekayaan pasti lahir dari kelicikan. Lebih dari itu, dongeng ini menjual fantasi tentang kekayaan instan—bahwa jalan keluar dari kemiskinan bukanlah kerja keras, melainkan “jackpot” dari langit berkat perbuatan baik yang kebetulan.

Pada akhirnya, membaca ulang kisah ini di era modern memberikan kita pesan moral yang sama sekali baru. Kita tidak bisa hanya menjadi Heungbu yang baik hati tapi pasif, karena dunia nyata tidak akan mengirimkan burung walet ajaib saat tagihan menumpuk. Kita juga tidak boleh menjadi Nolbu yang rasional tapi kehilangan empati kemanusiaannya. Kunci dari bertahan hidup bukanlah memilih salah satu dari mereka, melainkan mengambil jalan tengah: milikilah hati nurani yang peduli pada sesama, tetapi sertai itu dengan kerja keras, tanggung jawab, dan kemandirian agar kita tidak menjadi beban bagi orang lain

 

  • Penulis: Sanggi Na
  • Editor: Redaksi Mataleza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    Barangkali, Melepaskan adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 271
    • 0Komentar

    Mencintai sesuatu yang belum pasti sering kali menjadi cara paling sunyi untuk menciptakan luka. Kita menggantungkan harapan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya, lalu diam-diam percaya bahwa kesungguhan hati akan cukup untuk mengubah segalanya. Padahal, tidak semua yang diperjuangkan akan berakhir menjadi kenyataan. Ada yang hanya singgah untuk mengajarkan kehilangan, lalu pergi meninggalkan penyesalan. Manusia […]

  • SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    SMPSK Kotagoa Boawae Pertahankan Piala Bergilir Kategori Futsal Setelah Kalahkan SMP St. Theresia Kupang di Turnamen SMATER NDAO CUP IV

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Mataleza
    • visibility 522
    • 0Komentar

    Malam itu, 26 April 2026,  Lapangan Mardiwiyata Ndao, Ende, bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjelma menjadi panggung drama, tempat keringat, harapan, dan harga diri dipertaruhkan hingga detik terakhir. Lampu-lampu menyinari lapangan dengan terang, tetapi sesungguhnya yang lebih menyala adalah semangat para pemain yang enggan pulang tanpa kemenangan. Di tengah riuh penonton yang tak henti bersorak, […]

  • Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    Piala Dunia: Lupakan Prancis Sejenak, Mari Nikmati Kopi dan Pisang Goreng

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Ada orang yang mencintai sebuah tim karena sedang menjadi juara. Ada yang memilih karena mengikuti teman. Ada pula yang mencintainya karena semua orang di kampung melakukan hal yang sama. Saya tidak. Cinta saya kepada Spanyol lahir dari sebuah kebetulan yang sederhana. Tahun 2006, ketika informasi sepak bola belum semudah hari ini, saya melihat sebuah poster […]

  • Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar

    Ruang Rasa: Suara Anak yang Tak Pernah Didengar

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Katharina Tasik Busa
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Aku tidak ingat bagaimana rasanya tumbuh dalam pelukan ayah dan ibu setiap hari. Sejak kecil, aku dibesarkan oleh opa dan oma dari pihak ayah. Dari merekalah aku mengenal arti rumah, kasih sayang, dan perjuangan. Mereka memberiku makan, menyekolahkanku, dan berusaha memenuhi kebutuhanku. Untuk semua itu, aku sungguh bersyukur. Namun, di balik rasa syukur itu, ada […]

  • Ruang Rasa: Adaptasi adalah Proses Belajar

    Ruang Rasa: Adaptasi adalah Proses Belajar

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Fian N
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Pelan-pelan beradaptasi dengan kenyataan baru bahwa ternyata hari ini bukanlah kemarin. Setiap yang sudah pernah terjadi hanyalah pengalaman, yang tak akan pernah terulang lagi. Pelan-pelan saya belajar beradaptasi dengan kenyataan baru bahwa hari ini sungguh bukanlah kemarin. Waktu bergerak tanpa pernah menoleh ke belakang, dan hidup pun menuntut saya untuk ikut melangkah, meski kadang hati […]

  • Tersingkirkan sebelum Prahara: Jejak Seni, Cinta dan Hilang tak kembali

    Tersingkirkan sebelum Prahara: Jejak Seni, Cinta dan Hilang tak kembali

    • calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
    • account_circle Vitus Eriksan Tambayong
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Oleh: Vitus Eriksan Tambayong Ada ironi dalam kisah Njoto. Ia membantu membangun sebuah partai yang pernah dihantam begitu keras setelah Madiun 1948, tetapi beberapa belas tahun kemudian partai itu justru membawanya ke pusat kekuasaan. Ia menjadi salah satu wajah intelektual PKI, duduk sebagai menteri dalam kabinet Sukarno, menulis di surat kabar, berbicara tentang kebudayaan, dan […]

expand_less