Pertentangan Pandangan Dunia dalam Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga Karya Kuntowijoyo: Kajian Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann
- account_circle Karyn Melody Ceria
- calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
- visibility 17
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Karyn Melody Ceria
Pernahkah kita merasa bahwa hidup seolah-olah hanya dinilai dari seberapa keras kita bekerja dan seberapa banyak yang berhasil kita hasilkan? Dalam kehidupan sehari-hari, kesibukan sering dianggap sebagai tanda tanggung jawab, sedangkan kegiatan yang tidak menghasilkan sesuatu secara langsung terkadang dipandang sebagai hal yang kurang penting. Padahal, kehidupan manusia tidak hanya terdiri atas pekerjaan dan kewajiban. Ada ketenangan, keindahan, serta pengalaman batin yang juga membuat kehidupan memiliki arti. Persoalan tersebut dapat ditemukan dalam cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo. Melalui tokoh Buyung, Ayah, dan Kakek, cerita ini menghadirkan pertentangan cara memandang kehidupan. Ayah menekankan pentingnya pekerjaan dan tanggung jawab, sedangkan Kakek memperkenalkan Buyung pada dunia bunga, keindahan, dan ketenangan batin.
Pertentangan itu membuat bunga-bunga dalam cerita bukan sekadar tanaman, melainkan bagian dari pengalaman yang mempertemukan Buyung dengan nilai-nilai kehidupan yang berbeda. Cerpen ini menarik dibaca melalui teori strukturalisme genetik Lucien Goldmann. Teori tersebut memandang karya sastra sebagai struktur bermakna yang memiliki hubungan dengan struktur sosial dan sejarah yang melatarbelakanginya. Artinya, karya sastra tidak cukup dipahami hanya melalui tokoh dan konfliknya. Pembaca juga perlu melihat bagaimana unsur-unsur cerita membentuk makna yang lebih luas serta bagaimana makna itu berhubungan dengan kehidupan masyarakat.
Salah satu konsep penting dalam pemikiran Goldmann adalah vision du monde atau pandangan dunia. Pandangan dunia bukan semata-mata pendapat pribadi seorang tokoh atau pengarang, melainkan cara suatu kelompok sosial memahami dan menanggapi kenyataan hidup. Melalui konsep ini, pertentangan dalam cerpen Kuntowijoyo dapat dibaca sebagai pintu masuk untuk memahami perbedaan nilai yang hidup dalam masyarakat. Cerita berpusat pada Buyung, seorang anak yang mulai mengenal pengalaman baru setelah bertemu dengan Kakek. Sebelumnya, kehidupan Buyung banyak dipengaruhi oleh cara pandang Ayah yang menempatkan pekerjaan dan kesibukan sebagai bagian penting dari kehidupan. Pertemuan dengan Kakek kemudian memperkenalkannya pada pengalaman yang berbeda, terutama melalui kecintaan terhadap bunga-bunga.
Bagi Kakek, bunga memberikan ruang untuk menikmati keindahan dan menemukan ketenangan. Aktivitas merawat bunga memperlihatkan bahwa kehidupan tidak harus selalu diukur melalui hasil pekerjaan. Ada pengalaman yang mungkin tidak menghasilkan keuntungan secara langsung, tetapi tetap berarti bagi manusia. Melalui Kakek, Buyung mulai mengenal sisi kehidupan yang sebelumnya tidak memperoleh banyak ruang dalam kesehariannya. Sebaliknya, Ayah menunjukkan sikap yang berbeda terhadap kecintaan Buyung pada bunga. Ketika kesukaan tersebut dianggap tidak sesuai dengan gambaran mengenai anak laki-laki yang seharusnya kuat dan sibuk bekerja, muncul pertentangan antara keinginan Buyung dan harapan Ayah.
Bunga-bunga yang bagi Buyung memiliki arti justru menjadi sesuatu yang dipersoalkan oleh Ayah. Jika dilihat dari struktur ceritanya, pertentangan tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan pengalaman Buyung. Ia berada di antara dua cara memahami kehidupan: kehidupan yang menekankan pekerjaan dan tanggung jawab, serta kehidupan yang memberikan tempat bagi keindahan dan ketenangan batin. Dengan demikian, konflik antartokoh bukan sekadar perbedaan kesukaan, melainkan konflik nilai yang memengaruhi cara Buyung memahami dunia di sekitarnya. Melalui konsep pandangan dunia Lucien Goldmann, pertentangan antara Ayah dan Kakek dapat dibaca lebih jauh daripada perbedaan karakter individual. Sikap Ayah memperlihatkan penekanan pada kerja, kesibukan, dan tanggung jawab, sedangkan Kakek menghadirkan pandangan yang memberi tempat bagi kehidupan batin. Kedua cara pandang tersebut membentuk ketegangan yang dialami Buyung sepanjang cerita.
Namun, penting untuk tidak langsung menyamakan Ayah dengan seluruh masyarakat yang mengutamakan pekerjaan atau Kakek dengan kelompok sosial tertentu tanpa bukti yang memadai. Dalam teori Goldmann, pandangan dunia berkaitan dengan kesadaran suatu kelompok sosial. Karena itu, analisis perlu menunjukkan bagaimana susunan konflik, hubungan antartokoh, dan nilai-nilai yang muncul dalam cerita membentuk suatu keseluruhan yang bermakna. Dalam cerpen ini, bunga-bunga memperoleh arti melalui hubungannya dengan tokoh dan konflik. Bunga tidak hanya menjadi objek yang disukai Buyung, tetapi juga memperlihatkan adanya ruang kehidupan yang tidak sepenuhnya dapat diukur melalui produktivitas. Ketika kecintaan terhadap bunga dipersoalkan, yang dipertentangkan sebenarnya adalah nilai yang dianggap penting dalam menjalani kehidupan.
Dari sini, pembaca dapat melihat bagaimana struktur cerita berhubungan dengan persoalan sosial yang lebih luas. Kehidupan yang menempatkan pekerjaan dan tanggung jawab sebagai ukuran utama dapat membuat pengalaman lain, seperti menikmati keindahan atau merawat ketenangan batin, tampak kurang berarti. Cerpen ini membuka ruang untuk mempertanyakan anggapan tersebut tanpa harus menolak pentingnya bekerja dan bertanggung jawab. Pembacaan semacam ini sejalan dengan cara kerja strukturalisme genetik yang bergerak dari struktur teks menuju struktur sosial-historis. Konflik dalam cerita menjadi titik awal untuk memahami makna karya, kemudian dihubungkan dengan nilai dan pandangan yang mungkin berkembang dalam kehidupan sosial. Hubungan tersebut perlu dibangun melalui bukti dari keseluruhan cerita, bukan hanya melalui satu tokoh atau satu peristiwa.
Judul Dilarang Mencintai Bunga-Bunga sendiri menghadirkan pertanyaan yang menarik. Mengapa sesuatu yang sederhana dan indah justru menjadi sesuatu yang dilarang? Kata “dilarang” menandakan adanya batas yang ditetapkan terhadap apa yang boleh disukai atau dilakukan. Sementara itu, bunga-bunga menjadi bagian dari pengalaman Buyung yang mempertemukannya dengan cara pandang berbeda. Dalam konteks cerita, larangan tersebut dapat dibaca sebagai persoalan mengenai siapa yang berhak menentukan nilai dan perilaku seseorang. Buyung tidak hanya berhadapan dengan perbedaan pendapat, tetapi juga dengan harapan yang dibebankan kepadanya. Pengalaman bersama Kakek memberinya kesempatan untuk mengenal kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, sedangkan sikap Ayah memperlihatkan kuatnya tuntutan mengenai bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup.
Meski demikian, cerita ini tidak harus dimaknai sebagai ajakan untuk memilih salah satu tokoh secara mutlak. Bekerja dan bertanggung jawab tetap merupakan bagian penting dari kehidupan. Yang menjadi persoalan adalah ketika satu cara pandang dianggap paling benar sehingga pengalaman lain tidak memperoleh tempat. Melalui pertentangan tersebut, cerpen Kuntowijoyo mengajak pembaca memikirkan kembali ukuran yang digunakan untuk menilai kehidupan manusia. Di sinilah konsep pandangan dunia Goldmann membantu pembaca memahami hubungan antara konflik dalam karya sastra dan nilai-nilai sosial. Cerita tidak sekadar menyampaikan pesan moral secara langsung, tetapi membangun pertanyaan melalui hubungan antartokoh dan perkembangan konflik. Makna muncul dari keseluruhan struktur cerita, lalu membuka kemungkinan pembacaan terhadap kehidupan masyarakat yang lebih luas.
DilarangMencintai Bunga-Bunga memperlihatkan bahwa pertentangan sederhana dalam keluarga dapat menyimpan persoalan yang lebih luas mengenai cara manusia memahami kehidupan. Melalui pengalaman Buyung bersama Ayah dan Kakek, Kuntowijoyo menghadirkan ketegangan antara tuntutan untuk bekerja dan kebutuhan untuk menghayati kehidupan secara lebih tenang. Dengan menggunakan konsep pandangan dunia Lucien Goldmann, konflik tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari struktur cerita yang bermakna dan memiliki kemungkinan hubungan dengan nilai-nilai sosial. Bunga-bunga menjadi penting karena melalui benda sederhana itu, cerita memperlihatkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya terdiri atas kewajiban dan hasil yang dapat diukur.
Pada akhirnya, cerpen ini mengajak pembaca untuk tidak terburu-buru menentukan satu ukuran bagi kehidupan yang baik. Bekerja, bertanggung jawab, menikmati keindahan, dan merawat ketenangan batin dapat menjadi bagian dari pengalaman manusia yang saling melengkapi. Sebab, kehidupan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita hasilkan, tetapi juga tentang bagaimana kita memahami dan menjalaninya.
- Penulis: Karyn Melody Ceria
- Editor: Redaksi Mataleza

Saat ini belum ada komentar